Lalu entah bagaimana,
dalam keheningan yang sempurna itu,
muncul sebuah panggilan—
dalam keheningan yang sempurna itu,
muncul sebuah panggilan—
bukan paksaan,
bukan perintah,
melainkan undangan.
bukan perintah,
melainkan undangan.
Undangan untuk merasakan jarak,
untuk mengenal keterpisahan,
untuk mengalami menjadi “aku”.
untuk mengenal keterpisahan,
untuk mengalami menjadi “aku”.
Dan aku… menerimanya.
Mungkin bukan dengan berpikir,
melainkan dengan kepercayaan.
Mungkin bukan dengan berpikir,
melainkan dengan kepercayaan.
Bahwa meski aku akan lupa,
aku tidak akan benar-benar hilang.
aku tidak akan benar-benar hilang.
Bahwa meski aku akan terpisah,
aku tetap berasal dari satu.
aku tetap berasal dari satu.
Dan sejak saat itu,
perjalanan dimulai—
perjalanan dimulai—
perjalanan panjang
untuk kembali mengingat
apa yang sebenarnya
tidak pernah hilang.
untuk kembali mengingat
apa yang sebenarnya
tidak pernah hilang.