Dalam sunyi yang tak bersuara,
pernah ada sebuah pengakuan—
pernah ada sebuah pengakuan—
bukan dengan kata,
bukan dengan bahasa,
melainkan dengan kesadaran yang utuh.
Sebuah “iya”
yang tidak keluar dari lisan,
tetapi terpatri dalam keberadaan.
yang tidak keluar dari lisan,
tetapi terpatri dalam keberadaan.
“Iya…”
bahwa hanya Dia yang nyata.
bahwa hanya Dia yang nyata.
“Iya…”
bahwa segala akan kembali kepada-Nya.
bahwa segala akan kembali kepada-Nya.
Namun ketika aku turun,
aku lupa.
aku lupa.
Bukan karena pengkhianatan,
melainkan karena perjalanan.
melainkan karena perjalanan.
Lupa adalah bagian dari jalan,
agar aku bisa menemukan kembali—
agar aku bisa menemukan kembali—
dengan sadar,
dengan utuh,
dengan pilihan.
dengan utuh,
dengan pilihan.