edysuryadi.link

Berilmu Berbudi Berbakti

Menu Utama
Beranda Koleksi Buku Tentang Kami Kontak
Kategori
Sejarah Indonesia Sejarah Dunia Spiritual Agama Islam Psikologi Kesehatan Kajian Qur'an Filsafat Pancasila

edyuryadi.link

Berilmu Berbudi Berbakti

  • Home
  • Koleksi
  • Tentang
  • Kontak

BAB 2 – Mengapa Umat Terus Berselisih?

Jika khilafah adalah sesuatu yang begitu penting, mengapa umat tidak pernah benar-benar sepakat tentangnya?

Pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menyentuh akar persoalan yang jauh lebih dalam. Karena perselisihan tentang khilafah bukanlah satu-satunya. Ia hanyalah salah satu dari sekian banyak perbedaan yang terus muncul di tengah umat. Perbedaan tentang kepemimpinan, tentang hukum, tentang mazhab, bahkan tentang hal-hal yang seharusnya bisa menjadi titik temu—semuanya seringkali berubah menjadi sumber perpecahan.

Seolah-olah, umat yang memiliki satu kitab, satu nabi, dan satu arah ibadah, justru terus terpecah dalam banyak arah. Mengapa hal ini terjadi?

Sebagian orang menjawab: karena perbedaan pemahaman. Sebagian yang lain mengatakan: karena kepentingan. Ada pula yang menyebut faktor politik, sejarah, atau bahkan konspirasi. Semua jawaban itu tidak sepenuhnya salah. Tetapi jika kita berhenti di sana, kita hanya menyentuh permukaan.

Karena di balik semua itu, ada sesuatu yang lebih mendasar: cara manusia melihat kebenaran.

Sejak awal, manusia tidak hanya membawa potensi untuk berbuat baik. Ia juga membawa potensi untuk merasa paling benar. Dan ketika perasaan itu tidak disertai dengan kerendahan hati, ia akan berubah menjadi sumber konflik.

Kebenaran yang seharusnya menyatukan, justru menjadi alat untuk memisahkan.

Setiap kelompok memegang sebagian dari kebenaran, tetapi memperlakukannya seolah-olah itu adalah keseluruhan. Setiap golongan melihat dari sudut pandangnya sendiri, tetapi menganggap sudut pandang itulah satu-satunya yang sah. Akibatnya, yang terjadi bukan lagi pencarian bersama, melainkan saling menegasikan.

Di titik ini, perselisihan tidak lagi tentang apa yang benar, tetapi tentang siapa yang merasa paling benar.

Dan ketika itu terjadi, dialog berubah menjadi perdebatan. Perbedaan berubah menjadi pertentangan. Dan pada akhirnya, persaudaraan berubah menjadi permusuhan.

Jika kita menelusuri lebih dalam, kita akan menemukan bahwa pola ini bukan sesuatu yang baru. Ia sudah hadir sejak awal sejarah manusia. Bahkan sejak generasi pertama.

Kisah tentang dua anak Adam seringkali dipahami sebagai kisah kecemburuan. Tetapi jika dilihat lebih dalam, ia juga mencerminkan sesuatu yang lain: ketidakmampuan menerima kenyataan bahwa kebenaran tidak selalu berpihak pada diri sendiri.

Dari sana, konflik pertama terjadi. Dan sejak saat itu, pola yang sama terus berulang dalam berbagai bentuk.

Para nabi datang membawa petunjuk. Mereka mengajak manusia kembali kepada satu sumber kebenaran. Mereka mengingatkan bahwa manusia berasal dari satu asal, dan karenanya seharusnya tidak saling bermusuhan. Namun seiring berjalannya waktu, ajaran itu kembali dipahami secara parsial. Diambil sebagian, ditinggalkan sebagian. Ditafsirkan sesuai kepentingan. Dan pada akhirnya, digunakan untuk membenarkan posisi masing-masing.

Maka tidak mengherankan jika umat yang seharusnya bersatu justru terpecah. Bukan karena mereka tidak memiliki kebenaran, tetapi karena mereka tidak melihatnya secara utuh.

Di sinilah kita mulai memahami bahwa perselisihan umat bukan sekadar persoalan perbedaan pendapat. Ia adalah cerminan dari sesuatu yang lebih dalam: ketidaksanggupan manusia untuk keluar dari dirinya sendiri.

Selama manusia masih melihat dunia dari sudut pandang egonya, selama itu pula ia akan cenderung mempertahankan dirinya, membela kelompoknya, dan menolak yang berbeda. Bahkan ketika yang dipertahankan itu hanya sebagian dari kebenaran.

Padahal, jalan kenabian tidak pernah dibangun di atas ego. Ia dibangun di atas ketundukan. Ketundukan kepada kebenaran yang lebih besar daripada diri sendiri.

Para nabi tidak datang untuk memenangkan kelompok tertentu. Mereka datang untuk meluruskan arah manusia. Mereka tidak mengajak manusia untuk saling mengalahkan, tetapi untuk saling memahami. Mereka tidak membangun peradaban di atas dominasi, tetapi di atas persatuan.

Namun ketika ajaran itu diwariskan tanpa kesadaran yang utuh, ia bisa berubah menjadi kebalikannya.

Di titik inilah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya dengan jujur:
apakah perselisihan yang kita lihat hari ini benar-benar karena perbedaan kebenaran, atau karena cara kita memperlakukan kebenaran itu sendiri?

Karena mungkin, yang selama ini kita pertahankan bukanlah kebenaran, tetapi identitas. Bukan prinsip, tetapi posisi. Bukan amanat, tetapi kepentingan.

Dan jika itu yang terjadi, maka seberapa pun kita memperdebatkan khilafah, kita tidak akan pernah benar-benar sampai pada maknanya.

Sebab khilafah yang lahir dari perselisihan tidak akan pernah membawa persatuan. Khilafah yang dibangun di atas ego tidak akan pernah melahirkan keadilan. Dan khilafah yang diperjuangkan dengan semangat saling menegasikan tidak akan pernah sejalan dengan jalan kenabian.

Di sinilah kita mulai melihat bahwa persoalannya bukan pada konsepnya, tetapi pada cara kita mendekatinya.

Selama kita masih membawa cara pandang yang terpecah, maka apa pun konsep yang kita bicarakan akan ikut terpecah. Bahkan konsep yang seharusnya menjadi pemersatu.

Karena itu, sebelum berbicara lebih jauh tentang bentuk, sistem, atau sejarah, ada satu hal yang harus lebih dulu kita lakukan: membersihkan cara kita melihat. 

Melihat tidak lagi dari sudut kelompok, tetapi dari sudut kebenaran yang utuh. Tidak lagi dari kepentingan, tetapi dari amanat. Tidak lagi dari ego, tetapi dari kerendahan hati untuk menerima bahwa kebenaran bisa lebih luas daripada yang kita pahami.

Dan mungkin, di titik itulah perselisihan mulai mereda.

Bukan karena semua perbedaan hilang, tetapi karena kita tidak lagi melihat perbedaan sebagai ancaman.

Dari sana, jalan menuju persatuan mulai terbuka.

edysuryadi.link

Berilmulah untuk berbudi, berbudilah untuk berbakti, dan berbaktilah untuk hidup yang penuh.

Tautan Cepat

  • Beranda
  • Koleksi Buku
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami

Kontak

  • Pondok Aren, Tangerang Selatan, Indonesia
  • +62 21 1234 5678
  • edysuryadi@live.com

Ikuti Kami

Bergabunglah dengan komunitas pecinta sejarah kami

© 2026 edysuryadi.link . Hak Cipta Dilindungi.