Jika khilafah adalah sesuatu yang begitu dirindukan, maka mengapa umat yang
merindukannya justru terus berada dalam perpecahan?
Pertanyaan ini tidak sederhana. Ia bukan hanya tentang perbedaan pendapat,
tetapi tentang kenyataan yang terus berulang dalam sejarah: manusia yang
memiliki kitab yang sama, nabi yang sama, bahkan tujuan yang sama—tetap saja
terpecah.
Perpecahan bukan fenomena baru. Ia bukan sesuatu yang muncul karena
perbedaan mazhab, organisasi, atau kepentingan politik modern. Ia jauh lebih
tua dari itu. Ia sudah ada sejak manusia pertama kali hidup di bumi. Dan di sinilah kita harus jujur melihat akar masalahnya.
Selama ini, kita sering menganggap bahwa perpecahan terjadi karena perbedaan pemahaman. Kita menyalahkan tafsir, menyalahkan metode, bahkan menyalahkan pihak lain sebagai penyebab utama konflik. Namun jika kita melihat lebih dalam, kita akan menemukan bahwa perbedaan itu sendiri bukanlah masalah.
Perbedaan adalah keniscayaan.
Manusia diciptakan dengan latar belakang yang berbeda, cara berpikir yang
berbeda, dan pengalaman hidup yang berbeda. Bahkan dalam satu keluarga pun,
tidak semua orang memiliki pandangan yang sama. Maka mengharapkan keseragaman
adalah sesuatu yang bertentangan dengan fitrah manusia itu sendiri.
Masalahnya bukan pada perbedaan.
Masalahnya adalah pada cara kita menyikapi perbedaan.
Masalahnya adalah pada cara kita menyikapi perbedaan.
Di sinilah perpecahan bermula.
Ketika perbedaan tidak lagi dilihat sebagai bagian dari keberagaman, tetapi
sebagai ancaman. Ketika identitas kelompok lebih diutamakan daripada kebenaran
yang lebih luas. Ketika manusia tidak lagi mencari titik temu, tetapi justru
mempertegas batas pemisah.
Perpecahan bukan lahir dari perbedaan pikiran, tetapi dari keterikatan
pada ego.
Setiap kelompok merasa paling benar. Setiap golongan merasa paling mewakili kebenaran. Dan dalam keyakinan itu, muncul kecenderungan untuk menilai yang lain sebagai salah, bahkan sesat. Dari sinilah jarak mulai terbentuk. Dari jarak, lahir prasangka. Dari prasangka, tumbuh konflik.
Setiap kelompok merasa paling benar. Setiap golongan merasa paling mewakili kebenaran. Dan dalam keyakinan itu, muncul kecenderungan untuk menilai yang lain sebagai salah, bahkan sesat. Dari sinilah jarak mulai terbentuk. Dari jarak, lahir prasangka. Dari prasangka, tumbuh konflik.
Sejarah menunjukkan pola yang sama berulang kali. Umat yang awalnya satu, perlahan terpecah. Yang awalnya bersatu dalam tujuan, berubah menjadi kelompok-kelompok yang
saling berhadapan. Yang awalnya membawa pesan rahmah, justru terjebak dalam pertentangan yang
tidak berujung.
Ini bukan sekadar masalah intelektual. Ini adalah masalah kesadaran.
Karena pada dasarnya, manusia tidak hanya berpikir dengan akalnya, tetapi
juga dengan kepentingannya. Ia tidak hanya mencari kebenaran, tetapi juga
mempertahankan identitas. Dan ketika identitas itu terancam, bahkan kebenaran
pun bisa dikorbankan.
Di titik ini, kita mulai melihat bahwa perpecahan bukan sekadar kesalahan
berpikir, tetapi penyimpangan dari tujuan awal kehidupan manusia itu sendiri. Manusia tidak diciptakan untuk saling meniadakan. Ia diciptakan untuk saling melengkapi.
Namun ketika orientasi berubah—dari mencari kebenaran bersama menjadi
memenangkan kelompok sendiri—maka perpecahan menjadi sesuatu yang tak
terhindarkan. Dan inilah yang terjadi hari ini.
Kita hidup di zaman di mana informasi begitu mudah diakses, tetapi pemahaman
semakin terpecah. Kita memiliki lebih banyak pengetahuan, tetapi tidak selalu
memiliki lebih banyak kebijaksanaan. Kita bisa berbicara tentang persatuan,
tetapi sering kali tidak mampu mempraktikkannya.
Dalam kondisi seperti ini, khilafah sering kali muncul sebagai solusi yang disederhanakan. Seolah-olah dengan menghadirkan satu sistem, semua masalah akan selesai. Padahal, jika akar perpecahan tidak diselesaikan, maka sistem apa pun yang dibangun hanya akan menjadi wadah baru bagi konflik yang sama.
Di sinilah kita harus kembali bertanya:
Apakah mungkin membangun persatuan tanpa memahami penyebab perpecahan?
Apakah mungkin menghadirkan keadilan tanpa membersihkan kecenderungan untuk mendominasi?
Apakah mungkin menghadirkan keadilan tanpa membersihkan kecenderungan untuk mendominasi?
Apakah mungkin menciptakan sistem yang benar, jika manusia yang
menjalankannya masih membawa ego yang sama? Pertanyaan-pertanyaan ini membawa kita pada satu kesimpulan yang tidak
selalu nyaman untuk diterima: Masalah utama umat bukan pada sistem yang belum sempurna, tetapi pada manusia yang belum selesai dengan dirinya sendiri.
Selama ego masih menjadi pusat, selama kepentingan kelompok lebih diutamakan
daripada kebenaran, dan selama perbedaan dilihat sebagai ancaman, maka
perpecahan akan terus berulang—dalam bentuk apa pun.
Dan karena itulah, solusi yang dibawa oleh para nabi tidak pernah berhenti
pada aturan lahiriah. Mereka tidak hanya mengatur hubungan antar manusia,
tetapi juga membentuk kesadaran manusia itu sendiri. Mereka tidak hanya
menawarkan sistem, tetapi juga membangun cara pandang.
Mereka mengajarkan bahwa persatuan bukanlah hasil dari pemaksaan, tetapi
dari pemahaman.
Bahwa keadilan bukan sekadar hukum, tetapi sikap batin. Dan bahwa rahmah bukan hanya konsep, tetapi cara hidup. Di sinilah kita mulai melihat arah yang sebenarnya.
Bahwa untuk keluar dari perpecahan, kita tidak cukup hanya dengan
memperbaiki sistem. Kita harus kembali kepada fondasi yang lebih dalam—kepada
cara kita memahami diri sendiri, memahami orang lain, dan memahami tujuan hidup
kita di dunia ini.
Dan dari sanalah, perjalanan menuju pemahaman yang lebih utuh akan dimulai.
Bab berikutnya akan membawa kita kepada kesalahan yang lebih mendasar lagi—kesalahan dalam memahami khilafah itu sendiri, yang selama ini menjadi sumber dari banyak kebingungan.
Dan dari sanalah, perjalanan menuju pemahaman yang lebih utuh akan dimulai.
Bab berikutnya akan membawa kita kepada kesalahan yang lebih mendasar lagi—kesalahan dalam memahami khilafah itu sendiri, yang selama ini menjadi sumber dari banyak kebingungan.