Ada suatu masa di mana manusia merasa dirinya semakin maju, namun diam-diam semakin jauh.
Jauh dari alam yang dahulu ia dengarkan, jauh dari sesama yang dahulu ia
rangkul, dan yang paling sunyi—jauh dari dirinya sendiri.
Kita hidup di zaman di mana segala sesuatu menjadi cepat,
tetapi makna menjadi lambat.
Informasi melimpah, namun kebijaksanaan mengering. Manusia tahu banyak hal,
tetapi tidak lagi benar-benar memahami.
Ia mengenal dunia, tetapi kehilangan arah. Ia menguasai
teknologi, tetapi tidak lagi menguasai dirinya sendiri.
Dan di tengah hiruk-pikuk itu, ada sesuatu yang perlahan
menghilang—sesuatu yang dahulu menjadi penuntun langkah, penyeimbang jiwa, dan
penjaga kehidupan. Itulah kebijaksanaan.
Bukan kebijaksanaan yang diajarkan di ruang-ruang formal, melainkan
kebijaksanaan yang lahir dari perenungan panjang, dari kehidupan yang dijalani
dengan kesadaran, dari hubungan yang intim antara manusia, alam, dan Tuhan.
Kebijaksanaan yang tidak berisik, tetapi menuntun. Tidak
memaksa, tetapi menyadarkan.
Dan jika kita menoleh ke belakang—ke tanah yang kita pijak,
ke warisan yang kita miliki—
kita akan menemukan bahwa Nusantara sesungguhnya tidak pernah miskin akan
kebijaksanaan.
Di setiap sudutnya, dari Sabang hingga Merauke, dari
pegunungan hingga pesisir, terdapat suara-suara sunyi yang diwariskan oleh
leluhur dalam bentuk falsafah hidup.
Ungkapan-ungkapan sederhana—namun mengandung kedalaman yang
tak habis digali. Kalimat-kalimat singkat—namun mampu menuntun kehidupan yang
panjang.
“Urip iku urup.”
“Alam takambang jadi guru.”
“Siri’ na pacce.”
“Tat Twam Asi.”
“Silih asih, silih asah, silih asuh.”
Mereka bukan sekadar kata-kata. Mereka adalah kristalisasi
kesadaran. Ia lahir bukan dari teori, tetapi dari kehidupan.
Bukan dari ambisi, tetapi dari keheningan. Bukan dari keinginan untuk
menguasai, tetapi dari kerendahan hati untuk memahami.
Namun hari ini, banyak dari falsafah itu tinggal sebagai
hiasan. Dikutip, tetapi tidak dihayati. Dikenal, tetapi tidak dilakoni.
Kita mengaguminya sebagai warisan, tetapi tidak lagi
menjadikannya sebagai pedoman. Padahal di dalamnya tersimpan sesuatu yang
sangat kita butuhkan hari ini: arah.
Arah untuk kembali mengenali siapa diri kita. Arah untuk
memahami bagaimana seharusnya kita hidup. Arah untuk menemukan kembali
keseimbangan yang telah lama hilang.
Buku ini lahir dari kegelisahan itu. Dari kesadaran bahwa
kebangkitan tidak cukup hanya dengan membangun luar, tetapi harus dimulai dari
dalam. Dari keyakinan bahwa masa depan yang kokoh hanya bisa tumbuh dari akar
yang hidup.
“Kitab Kebijaksanaan Nusantara” bukanlah sekadar
kumpulan falsafah. Ia adalah upaya untuk menghidupkan kembali makna di
baliknya. Untuk menggali kedalaman yang tersembunyi di balik kesederhanaan
kata. Untuk menghadirkan kembali kebijaksanaan sebagai sesuatu yang hidup—bukan
hanya dikenang, tetapi dijalani.
Di dalamnya, setiap falsafah tidak hanya akan dijelaskan,
tetapi akan ditafsirkan—
dihubungkan dengan kehidupan, dengan kesadaran, dan dengan perjalanan batin
manusia. Karena pada akhirnya, kebijaksanaan sejati bukanlah sesuatu yang kita
baca,
melainkan sesuatu yang kita hidupi.
Dan mungkin…
di tengah perjalanan membaca kitab ini, bukan hanya pemahaman yang akan kamu
temukan, tetapi juga dirimu sendiri.
Sebab bisa jadi, yang selama ini kita cari di luar sana—sesungguhnya
adalah sesuatu yang sejak awal telah ditanamkan di dalam diri kita. Kita hanya
perlu kembali mendengarnya. Kembali merasakannya. Kembali menghidupkannya.
Dan dari situlah, hidup yang semula redup… perlahan akan
kembali menyala.