Bayangkan
sejenak… jika hidup benar-benar dimulai dari kasih sayang. Bukan dimulai dari
ketakutan. Bukan dari keinginan untuk menang. Bukan dari
dorongan untuk membuktikan diri. Tetapi dari satu kesadaran sederhana: aku
hadir untuk menghidupkan, bukan melukai.
Kita terbiasa
mengucapkan bismillāh di awal banyak hal. Namun jarang bertanya dengan
jujur: apakah yang sedang aku lakukan ini layak dilakukan atas nama kasih
sayang? Di sinilah
Basmallah berhenti menjadi lafaz, dan mulai menjadi cermin. Ia tidak
lagi sekadar diucapkan, tetapi menilai kita kembali.
Kasih sayang tidak menuntut kesempurnaan. Ia hanya menuntut kejujuran. Kejujuran untuk melihat:
- niat yang tersembunyi,
- dorongan yang tidak disadari,
- dan luka yang masih kita bawa.
Karena sering
kali, yang membuat hidup terasa berat bukanlah kenyataan itu sendiri,
melainkan jarak antara diri kita dan fitrah kasih sayang yang kita miliki.
melainkan jarak antara diri kita dan fitrah kasih sayang yang kita miliki.
Ketika kita: berkata
kasar, menutup mata terhadap penderitaan, atau menyakiti orang lain demi
kepentingan sendiri, di saat itulah jarak itu melebar. Dan jiwa… mulai lelah.
Kasih sayang
bukan sesuatu yang harus kita ciptakan. Ia sudah ada. Yang perlu kita lakukan
hanyalah: berhenti melawannya.
Berhenti
membenarkan kemarahan yang tidak perlu. Berhenti memelihara kebencian yang
melelahkan. Berhenti mempertahankan ego yang sebenarnya rapuh.
Karena itu,
mungkin pertanyaan terpenting bukanlah: apa yang harus aku lakukan
selanjutnya? melainkan: dari mana aku sedang memulai hidupku hari ini?
Jika jawabannya
bukan dari kasih sayang, maka tidak perlu menyalahkan diri. Cukup kembali. Karena
jalan ini tidak pernah benar-benar tertutup. Ia hanya menunggu untuk disadari
kembali.
Setelah ruang
hening ini, kita akan melihat keluar—bukan untuk mencari pembenaran,
tetapi untuk menyaksikan: apakah benar semesta ini juga berjalan di atas kasih sayang?
tetapi untuk menyaksikan: apakah benar semesta ini juga berjalan di atas kasih sayang?