Jika kasih sayang adalah esensi dari segala sesuatu, jika semesta berjalan dalam keteraturan yang menghidupkan, maka muncul pertanyaan yang tidak bisa dihindari: mengapa manusia bisa hidup bertentangan dengan semua itu?
Mengapa manusia bisa: menyakiti sesamanya, merusak alam, bahkan menghancurkan dirinya sendiri? Jawaban dari pertanyaan ini membawa kita kepada satu kenyataan yang mendasar: manusia adalah satu-satunya makhluk yang bisa menjauh dari fitrahnya.
Sejak awal, manusia diciptakan dengan potensi untuk mengenal dan menghidupi kasih sayang. Di dalam dirinya: ada dorongan untuk berbuat baik, ada kepekaan terhadap penderitaan, dan ada suara hati yang membedakan antara yang benar dan yang salah.
Ini bukan hasil belajar. Ini adalah fitrah. Namun fitrah ini tidak selalu menjadi arah hidup. Ia bisa tertutup.
Berbeda dengan makhluk lain yang berjalan dalam hukum yang tetap, manusia diberi kebebasan. Ia bisa: memilih untuk selaras, atau memilih untuk menyimpang.
Kebebasan ini adalah anugerah, tetapi juga menjadi sumber dari seluruh persoalan manusia. Karena dengan kebebasan itu, manusia bisa: mengetahui kebenaran, tetapi menolaknya, merasakan kasih sayang, tetapi mengabaikannya, memahami akibat, tetapi tetap melangkah ke arah yang salah.
Apa yang membuat manusia menyimpang? Di dalam diri manusia ada satu kecenderungan yang kuat: ego.
Ego ingin: diutamakan, diakui, dan dimenangkan. Ia tidak selalu terlihat sebagai sesuatu yang buruk. Kadang ia muncul sebagai: ambisi, keinginan untuk dihargai, atau dorongan untuk mempertahankan diri. Namun ketika ego menjadi pusat, kasih sayang mulai tersingkir.
Saat ego menjadi pusat: manusia mulai melihat orang lain sebagai alat, kepentingan pribadi mengalahkan kepentingan bersama, dan kebenaran ditentukan oleh apa yang menguntungkan dirinya.
Di titik ini, manusia tidak lagi hidup di atas nama kasih sayang, tetapi di atas nama diri sendiri. Dan dari sinilah: konflik muncul, ketidakadilan terjadi, dan kerusakan mulai meluas.
Sering kali manusia mengira bahwa penderitaan datang dari luar. Dari keadaan, dari orang lain, atau dari takdir. Namun jika dilihat lebih dalam, banyak penderitaan lahir dari jarak antara manusia dan fitrahnya sendiri.
Semakin jauh seseorang dari kasih sayang: semakin gelisah jiwanya, semakin sempit pandangannya, dan semakin berat hidupnya.
Sebaliknya, ketika seseorang kembali: kepada kejujuran, kepada kepedulian, kepada kebaikan, ia akan merasakan ketenangan—meskipun keadaan tidak selalu mudah.
Karena itu, manusia selalu berada di persimpangan: antara ego dan kasih sayang, antara kepentingan diri dan kebaikan bersama, antara penyimpangan dan keselarasan. Setiap keputusan, sekecil apa pun, adalah penentuan arah. Dan arah itu akan menentukan: kualitas hidup, hubungan dengan sesama, dan keadaan batin.
Kabar baiknya, meskipun manusia bisa menyimpang, ia juga selalu memiliki kemampuan untuk kembali. Kembali kepada: fitrah, kasih sayang, dan kesejatian dirinya.
Kembali ini tidak selalu mudah. Ia membutuhkan: kesadaran, kejujuran, dan keberanian untuk melepaskan. Namun jalan itu selalu terbuka.
Dari sini, satu hal menjadi sangat jelas: bahwa setiap pilihan manusia tidak pernah tanpa akibat. Ketika manusia selaras dengan fitrahnya, ia akan merasakan kehidupan yang menghidupkan. Namun ketika ia menyimpang, akan ada konsekuensi yang tidak bisa dihindari.
Dan di sinilah Al-Fatihah membawa kita pada ayat berikutnya—yang menegaskan bahwa kehidupan ini tidak hanya berjalan, tetapi juga diadili dengan keadilan yang sempurna.