Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang
Setelah kita melihat keteraturan semesta, dan memahami bahwa kehidupan ditopang oleh hukum yang saling menjaga, Al-Fatihah kembali menegaskan satu hal yang sangat mendasar: Ar-Raḥmān Ar-Raḥīm.
Ini bukan pengulangan tanpa makna. Ini adalah penegasan esensi.
Pada bab sebelumnya, kita melihat bahwa kasih sayang adalah hukum yang menjaga kehidupan. Namun pada ayat ini, kita diajak memahami bahwa kasih sayang bukan hanya hukum.
Ia adalah sifat dasar dari realitas itu sendiri. Kasih sayang bukan hanya sesuatu yang bekerja di dalam sistem, tetapi sesuatu yang menjadi asal dari sistem itu.
Allah tidak diperkenalkan pertama kali sebagai Yang Maha Menghukum, atau Yang Maha Menguasai, tetapi sebagai: Ar-Raḥmān Ar-Raḥīm.
Ini menunjukkan bahwa: kasih sayang bukan sifat tambahan, bukan pilihan di antara banyak sifat, tetapi identitas utama.
Dengan kata lain, ketika kita berbicara tentang Allah, kita sedang berbicara tentang kasih sayang dalam bentuk yang paling sempurna. Kasih Sayang yang Meliputi Segalanya
Ar-Raḥmān menunjuk pada kasih sayang yang: meliputi semua, tanpa syarat, tanpa pengecualian. Ia hadir dalam: kehidupan yang diberikan, udara yang dihirup, dan kesempatan yang terus dibuka.
Ar-Raḥīm menunjuk pada kasih sayang yang: dekat, personal, dan dirasakan secara mendalam. Ia hadir dalam: ketenangan hati, pertolongan yang datang, dan jalan yang dibukakan.
Dua sifat ini menunjukkan bahwa kasih sayang: meliputi seluruh semesta, sekaligus menyentuh setiap jiwa.
Jika kita melihat lebih dalam, kita akan menemukan bahwa segala sesuatu yang hidup bergerak dalam satu arah yang sama: menjaga dan melanjutkan kehidupan.
Sel-sel dalam tubuh bekerja untuk mempertahankan hidup. Ekosistem menjaga keseimbangan. Makhluk hidup saling menopang.
Semua ini menunjukkan bahwa kehidupan tidak digerakkan oleh kehancuran, tetapi oleh sesuatu yang ingin menghidupkan. Itulah yang kita kenal sebagai kasih sayang.
Kasih sayang menghubungkan: manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam. Tanpa kasih sayang, segala sesuatu menjadi terpisah, terpecah, dan kehilangan makna.
Dengan kasih sayang, segala sesuatu menjadi: terhubung, hidup, dan saling menghidupkan.
Meskipun kasih sayang meliputi segalanya, tidak semua manusia merasakannya. Bukan karena kasih sayang itu tidak ada, tetapi karena manusia bisa menutup diri darinya.
Ketika manusia: dipenuhi kebencian, dikuasai ego, atau menjauh dari fitrahnya, ia seperti menutup pintu dari dalam. Kasih sayang tetap ada, tetapi tidak masuk.
Sebaliknya, ketika manusia: membuka diri, merendahkan hati, dan kembali kepada fitrahnya, ia akan merasakan bahwa kasih sayang itu selalu dekat.
Jika kasih sayang adalah esensi, maka tidak ada yang benar-benar terpisah darinya. Segala sesuatu: berasal darinya, berjalan dengannya, dan kembali kepadanya.
Ini berarti bahwa kehidupan pada dasarnya adalah satu kesatuan. Dan segala bentuk perpecahan yang kita lihat adalah hasil dari penyimpangan manusia dari esensi tersebut.
Namun di sinilah pertanyaan yang paling jujur muncul: jika kasih sayang adalah esensi segala sesuatu, mengapa manusia bisa hidup tanpa kasih sayang?
Mengapa manusia bisa: menyakiti, merusak, dan menghancurkan? Apa yang membuat manusia berbeda dari makhluk lainnya?
Di sinilah kita akan masuk ke pembahasan berikutnya—tentang manusia, dan kemampuannya untuk menyimpang dari fitrahnya sendiri.