Dalam ayat sebelumnya, manusia berkata: Iyyāka na‘budu wa iyyāka nasta‘īn. Namun yang menarik, ia tidak berkata: “aku mengabdi”, melainkan: “kami mengabdi.”
Ini bukan pilihan kata yang kebetulan. Ini adalah perluasan kesadaran. Dari “Aku” ke “Kami” Sebagian besar perjalanan manusia dimulai dari “aku”: aku ingin, aku takut, aku butuh, aku harus.
Namun ketika kesadaran mulai tumbuh, “aku” tidak lagi cukup. Manusia mulai melihat bahwa: ia tidak hidup sendiri, ia tidak berdiri sendiri, dan hidupnya selalu terkait dengan yang lain. Di sinilah “aku” melebar menjadi “kami.”
Kasih sayang tidak bisa hidup dalam kesendirian. Ia selalu bersifat relasional. Ia hadir dalam: hubungan antar manusia, kepedulian terhadap sesama, dan tanggung jawab terhadap kehidupan.
Seseorang tidak bisa mengatakan ia hidup dalam kasih sayang jika hidupnya hanya berpusat pada dirinya sendiri. Karena itu, ketika Al-Fatihah berbicara tentang pengabdian, ia langsung mengarahkannya ke dalam bentuk kolektif: “kami mengabdi.”
Pengabdian kepada Allah tidak hanya diukur dari: ibadah pribadi, atau hubungan vertikal. Ia juga terlihat dari: bagaimana seseorang memperlakukan orang lain, bagaimana ia menjaga keadilan, dan bagaimana ia berkontribusi dalam kehidupan bersama.
Dengan kata lain, iman tidak lengkap tanpa kesadaran sosial. Ketika kesadaran kolektif tumbuh, manusia tidak lagi melihat sesamanya sebagai alat. Ia tidak lagi: menindas untuk keuntungan, memanfaatkan untuk kepentingan, atau mengorbankan orang lain demi dirinya.
Karena ia menyadari bahwa: kehidupan adalah satu kesatuan, dan merusak yang lain berarti merusak dirinya sendiri.
Jika kesadaran ini benar-benar hidup, maka kehidupan bersama akan berubah. Interaksi manusia tidak lagi didorong oleh: persaingan yang merusak, kepentingan yang sempit, atau kekuasaan yang menindas.
Tetapi oleh: saling menjaga, saling menghormati, dan saling menghidupkan.
Kasih sayang menjadi: bahasa bersama, nilai bersama, dan arah bersama.
Kasih sayang menjadi: bahasa bersama, nilai bersama, dan arah bersama.
Ada satu ukuran sederhana untuk melihat sejauh mana kesadaran ini hidup: apakah kita menghendaki kebaikan bagi orang lain sebagaimana kita menghendakinya untuk diri kita sendiri?
Jika iya, maka kasih sayang telah mulai hidup. Jika belum, maka perjalanan masih perlu dilanjutkan.
Jika iya, maka kasih sayang telah mulai hidup. Jika belum, maka perjalanan masih perlu dilanjutkan.
Ketika kesadaran ini tidak hanya hidup dalam satu orang, tetapi dalam banyak orang, maka ia akan membentuk sesuatu yang lebih besar: peradaban. Peradaban yang: adil, damai, dan sejahtera. Bukan karena dipaksakan, tetapi karena kesadaran yang sama.
Namun satu pertanyaan penting muncul: jika kesadaran ini sudah ada, bagaimana cara mewujudkannya dalam kehidupan nyata?
Bagaimana membentuk: sistem, aturan, dan cara hidup bersama yang benar-benar mencerminkan kasih sayang itu? Di sinilah manusia membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar niat. Ia membutuhkan jalan.