Ada satu kerinduan purba yang diam-diam hidup di setiap manusia: kerinduan untuk pulang.
Bukan pulang ke rumah masa kecil, bukan
pula pulang ke kampung halaman, melainkan pulang ke keadaan asli—ke
titik ketika jiwa belum terbelah, ketika hidup belum dikendalikan oleh
ketakutan, ambisi, dan kepalsuan. Kerinduan ini sering tak bernama, namun
terasa sebagai kegelisahan yang terus berulang: lelah yang tak selesai oleh
hiburan, lapar yang tak kenyang oleh kepemilikan, sunyi yang tak terisi oleh
keramaian.
Agama datang bukan untuk menambah beban hidup manusia, melainkan untuk menunjukkan jalan pulang. Dan di antara seluruh jalan itu, puasa adalah salah satu yang paling sunyi sekaligus paling jujur.
Puasa tidak meminta manusia melakukan sesuatu yang spektakuler. Ia hanya meminta satu hal yang tampak sederhana namun sesungguhnya sangat mendalam: menahan diri. Menahan makan dan minum. Menahan dorongan. Menahan reaksi. Menahan ego. Dalam penahanan inilah, sesuatu yang selama ini bising mulai melemah, dan sesuatu yang lama terpendam mulai terdengar.Selama ini, banyak orang menjalankan
puasa dengan tubuhnya, tetapi tidak dengan jiwanya. Lapar dijalani, tetapi
kesadaran tidak bertumbuh. Ritual dikerjakan, tetapi batin tidak berubah. Maka
tak mengherankan jika Ramadhan datang dan pergi, sementara kegelisahan tetap
tinggal. Puasa selesai, tetapi manusia tidak kembali.
Padahal puasa tidak pernah dimaksudkan
sebagai sekadar kewajiban ritual. Ia adalah proses pemulihan. Pemulihan
arah hidup. Pemulihan kedaulatan diri. Pemulihan hubungan manusia dengan Tuhan,
dengan sesama, dan dengan dirinya sendiri.
Ketika Al-Qur’an menyatakan bahwa puasa
diwajibkan agar manusia bertakwa, yang dimaksud bukanlah sekadar agar manusia
menjadi lebih patuh secara moral. Takwa adalah keadaan batin—saat
manusia hidup dengan kesadaran penuh di hadapan Tuhan, ketika jiwa sejati
memimpin dan ego tidak lagi berkuasa. Takwa adalah saat manusia kembali hidup
selaras dengan fitrahnya.
Dalam kerangka inilah, puasa harus
dipahami. Puasa bukan penindasan terhadap tubuh, melainkan pembebasan jiwa.
Bukan pembunuhan nafsu, melainkan penjinakan. Bukan pelarian dari dunia,
melainkan cara menempatkan dunia di posisi yang benar.
Ramadhan pun bukan tujuan akhir. Ia
adalah laboratorium kesadaran—ruang intensif tempat manusia dilatih
untuk menjalani hidup yang lebih jujur, lebih sadar, dan lebih merdeka. Sebulan
puasa hanyalah pintu masuk; jalan sesungguhnya terbentang sepanjang hayat.
Buku ini tidak ditulis untuk menambah
pengetahuan tentang puasa, tetapi untuk meluruskan arah. Ia mengajak
pembaca untuk melihat puasa sebagai jalan pulang kepada fitrah, sebagai proses
pembebasan dari kepalsuan, dan sebagai latihan kedaulatan jiwa. Di sini, puasa
tidak berhenti pada menahan lapar dan dahaga, tetapi berlanjut menjadi cara
hidup: hidup yang menahan diri dari keserakahan, melepaskan keterikatan,
melapangkan hati untuk memberi, dan memerdekakan jiwa untuk mencintai.
Jika setelah membaca buku ini seseorang
menjalani puasa dengan kesadaran yang lebih jernih, hati yang lebih lapang, dan
hidup yang lebih lembut, maka tujuan penulisan ini telah tercapai. Karena
sejatinya, puasa bukan tentang seberapa lama kita menahan diri, melainkan sejauh
mana kita kembali menjadi manusia.
Dan itulah makna terdalam dari
kemenangan: ketika jiwa pulang ke rumahnya.