Ada masa dalam perjalanan batin ketika kita berhenti berusaha. Bukan karena kita menyerah, tetapi karena kita akhirnya mengerti—bahwa tidak ada yang perlu diperbaiki dari hidup ini.
Kita telah lama hidup dalam perjuangan tanpa akhir: berusaha menjadi lebih baik, lebih suci, lebih berhasil, lebih damai, lebih dekat dengan Tuhan. Namun semakin kita berusaha, semakin jauh pula kita merasa dari kedamaian itu sendiri. Kita mengejar keutuhan seperti orang yang mencari langit—padahal langit itu selalu ada di atas kepala kita.
Pada titik tertentu, semua usaha spiritual terasa melelahkan. Doa tidak lagi menjadi permintaan, meditasi tidak lagi menjadi pelarian, dan kata "ikhlas" bukan lagi ajaran, tetapi keadaan. Di sanalah Letting Be mulai berbicara dalam diamnya.
Letting Be bukan tentang melupakan atau menyerah, melainkan mengizinkan segala sesuatu menjadi sebagaimana adanya. Ia adalah kesadaran lembut yang lahir setelah semua perlawanan terhadap hidup berhenti. Ketika kita tidak lagi memaksa dunia, tubuh, atau jiwa kita untuk berubah. Ketika kita berhenti memegang, berhenti menolak, berhenti menilai—dan hanya hadir.
Di ruang keheningan itu, kita mulai melihat sesuatu yang selama ini tersembunyi di balik keresahan kita: bahwa setiap hal telah berjalan sebagaimana mestinya. Bahwa kesedihan, kehilangan, luka, bahkan kesalahan—semuanya hanyalah gelombang kecil dalam samudra yang lebih luas.
Letting Be adalah undangan untuk hidup tanpa perlawanan. Untuk mencintai kehidupan tanpa syarat. Untuk melihat Tuhan bukan hanya dalam doa, tetapi dalam setiap hal yang ada—bahkan yang tampak tidak sempurna.
Ini bukan lagi jalan menuju ketenangan. Ini adalah ketenangan itu sendiri yang sedang berjalan melalui kita.
Latihan Kesadaran Awal
Tutup matamu sejenak.
Tarik napas perlahan, lalu hembuskan.
Rasakan tubuhmu apa adanya—tanpa ingin mengubah apa pun.
Jangan lawan rasa sakit, jangan kejar rasa nikmat.
Izinkan semuanya hadir sebagaimana adanya.
Bernafaslah dalam keadaan yang utuh, tanpa penilaian.
Ucapkan di dalam hati:
“Aku izinkan hidup ini menjadi sebagaimana adanya.”
“Aku izinkan diriku menjadi sebagaimana adanya.”
“Aku izinkan Tuhan hadir sebagaimana adanya.”
Diamlah sejenak.
Biarkan yang hadir… hadir.
Biarkan yang pergi… pergi.
Biarkan yang ada… menjadi.