Setiap jiwa merindukan pulang. Namun yang sering tidak kita sadari, yang kita rindukan bukan tempat, bukan seseorang, bukan keadaan tertentu—melainkan hening.
Hening adalah ruang asal tempat jiwa pertama kali mengenal
kedamaian sebelum pikiran belajar berbicara terlalu banyak.
Sejak kecil kita dilatih untuk berpikir, menganalisis,
menjawab, menjelaskan. Bahkan dalam spiritualitas pun kita sering kali sibuk
dengan konsep, dalil, teori, dan penjelasan. Kita berbicara kepada Tuhan dengan
banyak kata, tetapi jarang benar-benar diam untuk mendengarkan.
Letting Be hanya dapat tumbuh di tanah yang hening.
Diam yang Tidak Pasif
Diam sering disalahpahami sebagai kelemahan atau ketiadaan
tindakan. Padahal diam yang sejati bukanlah pasif. Ia adalah kesadaran yang
tidak tergesa-gesa.
Diam bukan berarti berhenti bergerak, tetapi bergerak tanpa
kegaduhan batin.
Seseorang bisa tetap bekerja, berbicara, berkarya, dan
berjuang—namun di dalam dirinya ada ruang yang tidak berisik. Ruang itu tidak
menuntut hasil, tidak menolak keadaan, tidak sibuk membandingkan.
Di sanalah Letting Be menemukan akarnya.
Pikiran yang Sunyi adalah Pikiran yang Merdeka
Pikiran selalu ingin memegang kendali. Ia ingin menjelaskan
semuanya agar merasa aman. Namun semakin ia mencoba mengendalikan hidup,
semakin ia lelah.
Ketika kita duduk dalam keheningan dan menyaksikan pikiran
tanpa mengikutinya, sesuatu yang menarik terjadi: kita mulai menyadari bahwa
kita bukan pikiran itu sendiri.
Ada kesadaran yang lebih luas yang mampu menyaksikan pikiran
datang dan pergi. Seperti langit yang membiarkan awan melintas tanpa terganggu.
Di titik itu, kebebasan mulai terasa.
Hening sebagai Ruang Pertemuan
Dalam banyak perjalanan spiritual, perjumpaan terdalam
selalu terjadi dalam kesunyian. Bukan karena Tuhan hanya hadir di tempat sunyi,
tetapi karena dalam sunyi ego melembut.
Ketika ego melembut, jarak antara diri dan kehidupan
menyempit.
Kita mulai merasakan bahwa di balik segala suara dunia, ada
keheningan yang tidak pernah terganggu. Keheningan itu selalu ada—di balik
marah, di balik sedih, di balik bahagia.
Ia seperti dasar samudra yang tetap tenang meskipun
permukaannya bergelombang.
Mendengar Tanpa Kata
Hening mengajarkan kita mendengar tanpa bahasa.
Kadang jawaban tidak datang dalam bentuk kalimat, tetapi
dalam bentuk rasa lapang yang tiba-tiba muncul. Kadang tidak ada solusi instan,
tetapi ada ketenangan yang membuat kita mampu menghadapi apa pun.
Itulah bahasa kehidupan yang hanya bisa dipahami ketika kita
cukup sunyi.
Inti Kesadaran Bab 3
“Keheningan bukan ketiadaan suara.
Ia adalah ketiadaan perlawanan terhadap suara.”
“Ketika kamu cukup hening, kamu tidak lagi mencari Tuhan—
karena kamu menyadari bahwa kesadaran itu sendiri adalah tempat Ia hadir.”
Latihan Kesadaran – Satu Menit Hening
- Berhenti
sejenak dari aktivitasmu.
- Tutup
mata dan perhatikan napas masuk dan keluar.
- Biarkan
pikiran datang dan pergi tanpa ditahan atau diikuti.
- Rasakan
ruang di antara dua napas—di sanalah hening bersemayam.
- Buka
mata perlahan dan sadari: keheningan tidak pernah hilang, ia hanya
tertutup oleh kebisingan yang kita ciptakan sendiri.
Hening adalah jalan pulang. Dan pulang tidak pernah jauh—ia
hanya satu kesadaran dari sekarang.