Di balik setiap ajaran yang bertahan lintas zaman, selalu ada hukum jiwa yang bekerja. Puasa adalah salah satunya. Ia tidak eksklusif milik satu agama, satu bangsa, atau satu masa. Ia hadir berulang kali dalam sejarah manusia karena menjawab kebutuhan yang sama: kebutuhan jiwa untuk kembali mendekat kepada sumbernya.
Al-Qur’an
menggunakan istilah shaum—yang secara makna berarti menahan,
mengendalikan, membatasi diri. Menariknya, masyarakat Nusantara sejak jauh
sebelum kedatangan Islam telah mengenal praktik yang maknanya sepadan, yang
kita sebut puasa. Dalam tradisi lama, puasa dikenal sebagai upavasa—sebuah
laku untuk mendekat kepada Yang Maha Agung. Dalam bahasa Jawa, ia
disebut pasa, yang berarti mengekang atau menahan.
Perjumpaan Islam dengan Nusantara tidak menghapus tradisi ini. Ia memurnikannya. Shaum dan puasa bertemu pada satu titik ruhani yang sama: menahan diri bukan untuk menyiksa, melainkan untuk mendekat.
Menahan sebagai Bahasa Jiwa
Menahan adalah bahasa yang dipahami jiwa
jauh sebelum ia dipahami oleh pikiran. Ketika manusia menahan diri, ia sedang
mengatakan “tidak” kepada dorongan sesaat, agar dapat mengatakan “ya” kepada
sesuatu yang lebih hakiki.
Di sinilah puasa bekerja bukan sebagai
aturan, tetapi sebagai pendidikan batin. Ia melatih manusia untuk tidak
selalu mengikuti impuls. Ia membentuk jeda antara dorongan dan tindakan. Dan di
dalam jeda itulah, kesadaran tumbuh.
Banyak orang mengira kebebasan adalah
kemampuan melakukan apa saja yang diinginkan. Puasa mengajarkan kebebasan yang
lebih dalam: kemampuan untuk tidak melakukan sesuatu, meski mampu dan
diizinkan. Kebebasan semacam inilah yang menjadi fondasi kemerdekaan jiwa.
Dari Menahan Tubuh ke Menata Kesadaran
Puasa dimulai dari tubuh karena tubuh
adalah pintu masuk paling dekat ke jiwa. Makan dan minum adalah kebutuhan
dasar; ia menyentuh naluri bertahan hidup. Ketika kebutuhan ini ditahan dengan
sadar, lapisan-lapisan reaksi otomatis mulai terlihat.
Dalam keadaan lapar, manusia belajar
mengenali dirinya apa adanya. Emosi muncul lebih jujur. Kesabaran diuji tanpa
topeng. Dari sini menjadi jelas: yang bergejolak bukanlah tubuh, melainkan
ego.
Puasa tidak memusuhi tubuh. Ia justru
mengajarinya untuk patuh pada kesadaran. Tubuh tetap dihormati, tetapi tidak
dibiarkan menjadi penguasa. Dengan cara ini, puasa menata ulang hirarki diri:
jiwa memimpin, pikiran mengelola, tubuh melaksanakan.
Mendekat kepada Yang Maha Agung
Makna terdalam dari puasa adalah mendekat.
Mendekat bukan secara fisik, melainkan secara eksistensial. Mendekat berarti
hidup dengan kesadaran bahwa seluruh keberadaan ini bergantung kepada Yang Maha
Esa.
Dalam penahanan diri, ketergantungan
palsu mulai runtuh. Ketergantungan pada kenikmatan, pengakuan, dan rasa aman
semu perlahan melemah. Yang tersisa adalah satu sandaran yang sejati.
Puasa mengajarkan bahwa kedekatan dengan
Tuhan tidak dicapai dengan penumpukan aktivitas, tetapi dengan pengosongan
diri dari yang berlebihan. Semakin ego dilepas, semakin ruang batin
terbuka. Dan di ruang inilah, kehadiran Ilahi terasa nyata.
Puasa sebagai
Jembatan Budaya dan Wahyu
Pertemuan
antara shaum Qur’ani dan puasa Nusantara menunjukkan satu hal penting: wahyu
selalu berbicara melalui fitrah manusia. Ia tidak datang untuk memutus
manusia dari akar budayanya, tetapi untuk mengarahkan kembali akar itu kepada
sumber yang lurus.
Dengan
memahami puasa sebagai laku menahan untuk mendekat, umat tidak lagi terjebak
pada formalitas. Puasa menjadi pengalaman hidup, bukan sekadar kewajiban
musiman. Ia menjadi jembatan antara langit dan bumi, antara wahyu dan
kemanusiaan.
Di titik
inilah, puasa berhenti menjadi sekadar ibadah tahunan. Ia menjelma menjadi jalan
kesadaran, sebuah laku yang menuntun manusia pulang—perlahan, jujur, dan
utuh.