Majelis Sejarah

Perpustakaan Digital

Menu Utama
Beranda Koleksi Buku Tentang Kami Kontak
Kategori
Sejarah Indonesia Sejarah Dunia Spiritual Agama Islam Psikologi Kesehatan Kajian Qur'an Filsafat Pancasila

Majelis Sejarah

Perpustakaan Digital

  • Home
  • Koleksi
  • Tentang
  • Kontak
 BAB 2: Shaum dan Puasa — Menahan untuk Mendekat

BAB 2: Shaum dan Puasa — Menahan untuk Mendekat

Di balik setiap ajaran yang bertahan lintas zaman, selalu ada hukum jiwa yang bekerja. Puasa adalah salah satunya. Ia tidak eksklusif milik satu agama, satu bangsa, atau satu masa. Ia hadir berulang kali dalam sejarah manusia karena menjawab kebutuhan yang sama: kebutuhan jiwa untuk kembali mendekat kepada sumbernya.

Al-Qur’an menggunakan istilah shaum—yang secara makna berarti menahan, mengendalikan, membatasi diri. Menariknya, masyarakat Nusantara sejak jauh sebelum kedatangan Islam telah mengenal praktik yang maknanya sepadan, yang kita sebut puasa. Dalam tradisi lama, puasa dikenal sebagai upavasa—sebuah laku untuk mendekat kepada Yang Maha Agung. Dalam bahasa Jawa, ia disebut pasa, yang berarti mengekang atau menahan.

Perjumpaan Islam dengan Nusantara tidak menghapus tradisi ini. Ia memurnikannya. Shaum dan puasa bertemu pada satu titik ruhani yang sama: menahan diri bukan untuk menyiksa, melainkan untuk mendekat.

Menahan sebagai Bahasa Jiwa

Menahan adalah bahasa yang dipahami jiwa jauh sebelum ia dipahami oleh pikiran. Ketika manusia menahan diri, ia sedang mengatakan “tidak” kepada dorongan sesaat, agar dapat mengatakan “ya” kepada sesuatu yang lebih hakiki.

Di sinilah puasa bekerja bukan sebagai aturan, tetapi sebagai pendidikan batin. Ia melatih manusia untuk tidak selalu mengikuti impuls. Ia membentuk jeda antara dorongan dan tindakan. Dan di dalam jeda itulah, kesadaran tumbuh.

Banyak orang mengira kebebasan adalah kemampuan melakukan apa saja yang diinginkan. Puasa mengajarkan kebebasan yang lebih dalam: kemampuan untuk tidak melakukan sesuatu, meski mampu dan diizinkan. Kebebasan semacam inilah yang menjadi fondasi kemerdekaan jiwa.

Dari Menahan Tubuh ke Menata Kesadaran

Puasa dimulai dari tubuh karena tubuh adalah pintu masuk paling dekat ke jiwa. Makan dan minum adalah kebutuhan dasar; ia menyentuh naluri bertahan hidup. Ketika kebutuhan ini ditahan dengan sadar, lapisan-lapisan reaksi otomatis mulai terlihat.

Dalam keadaan lapar, manusia belajar mengenali dirinya apa adanya. Emosi muncul lebih jujur. Kesabaran diuji tanpa topeng. Dari sini menjadi jelas: yang bergejolak bukanlah tubuh, melainkan ego.

Puasa tidak memusuhi tubuh. Ia justru mengajarinya untuk patuh pada kesadaran. Tubuh tetap dihormati, tetapi tidak dibiarkan menjadi penguasa. Dengan cara ini, puasa menata ulang hirarki diri: jiwa memimpin, pikiran mengelola, tubuh melaksanakan.

Mendekat kepada Yang Maha Agung

Makna terdalam dari puasa adalah mendekat. Mendekat bukan secara fisik, melainkan secara eksistensial. Mendekat berarti hidup dengan kesadaran bahwa seluruh keberadaan ini bergantung kepada Yang Maha Esa.

Dalam penahanan diri, ketergantungan palsu mulai runtuh. Ketergantungan pada kenikmatan, pengakuan, dan rasa aman semu perlahan melemah. Yang tersisa adalah satu sandaran yang sejati.

Puasa mengajarkan bahwa kedekatan dengan Tuhan tidak dicapai dengan penumpukan aktivitas, tetapi dengan pengosongan diri dari yang berlebihan. Semakin ego dilepas, semakin ruang batin terbuka. Dan di ruang inilah, kehadiran Ilahi terasa nyata.

Puasa sebagai Jembatan Budaya dan Wahyu

Pertemuan antara shaum Qur’ani dan puasa Nusantara menunjukkan satu hal penting: wahyu selalu berbicara melalui fitrah manusia. Ia tidak datang untuk memutus manusia dari akar budayanya, tetapi untuk mengarahkan kembali akar itu kepada sumber yang lurus.

Dengan memahami puasa sebagai laku menahan untuk mendekat, umat tidak lagi terjebak pada formalitas. Puasa menjadi pengalaman hidup, bukan sekadar kewajiban musiman. Ia menjadi jembatan antara langit dan bumi, antara wahyu dan kemanusiaan.

Di titik inilah, puasa berhenti menjadi sekadar ibadah tahunan. Ia menjelma menjadi jalan kesadaran, sebuah laku yang menuntun manusia pulang—perlahan, jujur, dan utuh.

Majelis Sejarah

Platform perpustakaan digital yang menyediakan koleksi buku-buku sejarah berkualitas untuk memperkaya pengetahuan dan wawasan Anda.

Tautan Cepat

  • Beranda
  • Koleksi Buku
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami

Kontak

  • Jl. Sejarah No. 123, Jakarta Pusat, Indonesia
  • +62 21 1234 5678
  • info@majelissejarah.id

Ikuti Kami

Bergabunglah dengan komunitas pecinta sejarah kami

© 2026 Majelis Sejarah. Hak Cipta Dilindungi.