Ada masa dalam perjalanan kesadaran ketika kita belajar melepaskan. Kita melepaskan kenangan yang menyakitkan, hubungan yang tidak lagi selaras, penyesalan yang menekan dada. Kita belajar berkata, “Aku ikhlas.” Kita belajar berkata, “Aku lepaskan.”
Itu adalah tahap penting. Letting Go membebaskan kita dari
beban yang selama ini kita genggam terlalu erat. Namun di balik upaya
melepaskan itu, sering kali masih tersembunyi harapan halus: kita melepaskan
agar merasa lebih baik, agar hidup lebih ringan, agar Tuhan mengganti dengan
sesuatu yang lebih indah.
Selama masih ada “agar”, kita belum sepenuhnya bebas.
Letting Go: Melepaskan yang Digenggam
Letting Go adalah tindakan sadar untuk membuka tangan yang
menggenggam. Ia adalah keberanian untuk berkata, “Aku tidak bisa mengendalikan
semuanya.”
Namun Letting Go masih berpusat pada objek. Ada sesuatu yang
dilepaskan, dan ada seseorang yang melepaskan. Masih ada subjek dan objek.
Masih ada “aku” yang berusaha menjadi lebih ringan.
Kita berkata:
“Aku melepaskan masa laluku.”
“Aku melepaskan rasa sakitku.”
“Aku melepaskan orang yang pergi.”
Tetapi selama masih ada “aku” yang merasa sebagai pelaku
pelepasan, ego masih berdiri di tengah.
Letting Go adalah langkah pembebasan, tetapi belum
sepenuhnya penyatuan.
Letting Be adalah tahap ketika bahkan keinginan untuk
melepaskan ikut dilepaskan.
Ia tidak lagi berkata, “Aku melepaskan,” melainkan, “Aku
mengizinkan.”
Mengizinkan rasa hadir tanpa berusaha menyingkirkannya.
Mengizinkan kehilangan tanpa mencoba menggantinya. Mengizinkan kebahagiaan
tanpa takut kehilangannya.
Di titik ini, tidak ada lagi perjuangan untuk sembuh. Tidak
ada lagi dorongan untuk memperbaiki keadaan. Yang ada hanyalah kesadaran luas
yang mampu menampung semuanya.
Letting Be bukan tindakan, tetapi keadaan. Bukan usaha,
tetapi kehadiran.
Ketika Pelepasan Terjadi dengan Sendirinya
Menariknya, ketika kita berhenti memaksa diri untuk
melepaskan, pelepasan sejati justru terjadi dengan sendirinya.
Seperti tangan yang memegang batu terlalu lama. Ketika kita
menyadari bahwa genggaman itu membuat sakit, tangan terbuka dengan sendirinya.
Bukan karena diperintah, tetapi karena dipahami.
Demikian pula dengan luka batin. Ketika kita benar-benar
mengizinkan rasa itu hadir tanpa perlawanan, ia perlahan kehilangan
cengkeramannya. Bukan karena kita mengusirnya, tetapi karena kita tidak lagi
melawannya.
Itulah Letting Be: ruang luas tempat segala sesuatu datang
dan pergi tanpa perlu dipaksa.
Dimensi Spiritual Letting Be
Pada kedalaman tertentu, Letting Be adalah bentuk kepasrahan
tertinggi. Bukan kepasrahan karena lemah, tetapi karena sadar bahwa hidup
memiliki kebijaksanaan yang lebih luas dari rencana pribadi kita.
Kita tidak lagi berkata, “Ya Tuhan, jadikan ini sesuai
keinginanku,” tetapi mulai merasakan, “Ya Tuhan, jadikan aku selaras dengan
kehendak-Mu.”
Perbedaan ini halus namun mendasar. Yang satu berangkat dari
ego yang ingin mengatur. Yang lain lahir dari kesadaran yang ingin menyatu.
Inti Kesadaran Bab 2
“Letting Go adalah upaya menuju kebebasan.
Letting Be adalah kebebasan itu sendiri.”
Latihan Kesadaran – Dari Melepaskan ke Mengizinkan
- Ambil
satu hal yang sedang kamu coba lepaskan dalam hidupmu.
- Rasakan
dorongan untuk mengubah atau menghapusnya.
- Sekarang
ucapkan perlahan dalam hati: “Aku izinkan ini hadir.”
- Jangan
paksa dirimu untuk tenang. Biarkan rasa itu tetap ada.
- Perhatikan
perubahan kecil dalam dirimu ketika perlawanan mulai melunak.
Di sana kamu akan merasakan pergeseran halus: dari
mengendalikan hidup, menuju menjadi ruang bagi hidup itu sendiri.