BLANTERORIONv101

MEMBANGUN DUNIA KEMBALI (Bahan Pokok ke V)

5 Desember 2023

KEPUTUSAN DEWAN PERTIMBANGAN AGUNG TENTANG PERINTJIAN PEDOMAN PELAKSANAAN MANIFESTO POLITIK REPUBLIK INDONESIA 

No. 2 /Kpts /Sd / I/61 


DEWAN PERTIMBANGAN AGUNG DALAM SIDANG I TANGGAL 19 DJANUARI 1961
 

MEMPERHATIKAN :
a. Isi keseluruhan dari pidato „ MEM BANGUN DUNIA KEMBALI” jang diutjapkan oleh P.J.M. Presiden / Panglima Tertinggi/ Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Karno dalam Sidang Madjelis Umum P.B.B. ke - XV . 

b. Ketetapan Madjelis Permusjawarat an Rakjat Sementara No. I /MPRS / 1960. 

c. Pendapat-pendapat dan saran-saran para anggauta Dewan Pertimbangan Agung. Perlu adanja perintjian daripada „MEMBANGUN DUNIA KEMBALI” jang diutjapkan oleh P.J.M. Presiden / Panglima Tertinggi /Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Karno dalam Sidang Madjelis Umum P.B.B. ke -XV. 

MENIMBANG : 
Perlu adanja perintjian daripada „MEMBANGUN DUNIA KEMBALI” jang diutjapkan oleh P.J.M. Presiden / Panglima Tertinggi /Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Karno dalam Sidang Madjelis Umum P.B.B. ke -XV.

BERPENDAPAT :
a . „MEMBANGUN DUNIA KEMBA. LI" ( To Build the Word Anew ) adalah garis- garis besar daripada politik Luar Negeri Republik Indonesia. 

b. Perlu disusun sistematika perintjian jang sedapat mungkin merupakan satu kesatuan tafsiran daripada dasar dan tudjuan pelaksanaan politik Luar Negeri Republik Indonesia. 

MEMUTUSKAN: 

a . Bahwa isi pidato „ MEMBANGUN DUNIA KEMBALI” itu adalah pedoman pelaksanaan Manifesto Politik Republik Indonesia dibidang politik Luar Negeri Republik Indonesia, jang telah diperkuat oleh Ketetapan MPRS No. I /MPRS / 1960 tanggal 19 Nopember 1960. 

b. Menjetudjui perintjian isi pidato „ MEMBANGUN DUNIA KEMBALI” jang dilampirkan bersama ini , sebagai satu kesatuan tafsiran dalam pelaksanaan politik Luar Negeri Republik Indonesia jang isinja sebagai berikut : 

I. PREAMBUL E. 

II . GARIS-GARIS BESAR POLITIK LUAR NEGERI REPU. BLIK INDONESIA : 

Dasar, sifat dan tudjuan politik Luar Negeri Republik Indonesia adalah : 

1. Berdasarkan U.U.D. '45.
2. Bersifat bebas dan aktif, anti imperialisme dan kolonial isme.
3. Bertudjuan : 

a . mengabdi pada perdjuangan untuk kemerdekaan Nasional Indonesia jang penuh
b. mengabdi pada perdjuangan untuk kemerdekaan Nasional dari seluruh Bangsa-bangsa didunia.
c. mengabdi pada perdjuangan untuk mem bela perdamaian dunia. 

III. PANTJA SILA SEBAGAI DASAR PIAGAM JANG UNI. VERSIL UNTUK KESEDJAHTERAAN UMMAT MANUSIA.

IV. USAHA- USAHA POKOK : 

1. Membebaskan Irian Barat dari imperialisme dan kolonial. isme Belanda.
2. Menjokong perdjuangan kemerdekaan negara-negara Asia, Afrika dan Amerika Latin.
3. Ko-eksistensi dan Perlutjutan Sendjata.
4. Retooling P.B.B. 

V. KESIMPULAN :

Perintjian tentang, I , II, III, IV dan V dilampirkan bersama ini. 


Djakarta, 19 Djanuari 1960. 




LAMPIRAN KEPUTUSAN DEWAN PERTIMBANGAN AGUNG TENTANG PERINTJIAN GARIS BESAR POLITIK LUAR NEGERI SEBAGAI PEDOMAN PELAKSANAAN MANIFESTO POLITIK REPUBLIK INDONESIA 


I. PREAMBULE

Dengan amat bahagia sekali bangsa Indonesia dalam perdjoangan menjelesaikan Revolusi Nasionalnja telah memiliki garis-garis besar haluan Negaranja jang tersimpul dalam Manifesto Politik jang diutjapkan oleh Presiden/Panglima Tertinggi/ Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Karno dalam Amanat Negara 17 Agustus 1959. 

Dengan demikian Rakjat dan Bangsa Indonesia sudah mempunjai Pedoman dalam meneruskan perdjuangannja untuk menjelesaikan Revolusi Indonesia dalam segala bidang. 

„ DJALANNJA REVOLUSI KITA” jang diutjapkan oleh Presiden / Panglima Tertinggi /Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Karno dalam Amanat 17 Agustus 1960 adalah merupakan Pedoman Pelaksanaan ke - I dari Manifesto Politik Republik Indo nesia, sehingga dengan demikian maka pelaksanaan Manifesto Poli tik dapat berdjalan setjara konsekwen revolusioner, terhindar dari penjelewengan-penjelewengan dan penjalah -gunaan. 

„ MEMBANGUN DUNIA KEMBALI” jang diutjapkan oleh Presiden /Panglima Tertinggi/ Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Karno dimuka Sidang Madjelis Umum P.B.B. ke-XV adalah Pedoman Pelaksanaan Manifesto Politik Republik Indonesia dalam bidang politik Luar Negeri Republik Indonesia jang bebas dan aktif anti imperialisme dan kolonialisme menudju pemben tukan satu dunia jang damai dan sedjahtera untuk seluruh ummat manusia berlandaskan adjaran Pantja Sila, sesuai dengan perkem bangan dunia dewasa ini . 

Seperti dinjatakan oleh Presiden/Panglima Tertinggi/ Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Karno dalam „MEMBANGUN DUNIA KEMBALI” sebagai berikut: 

„Sedjak perang kita telah menjaksikan tiga gedjala- gedjala besar jang permanen. 

Pertama ialah bangkitnja negara-negara sosialis. Hal ini tidak disangka dalam tahun sembilanbelas Empatpuluh Lima. 

Kedua ialah gelombang besar daripada pembebasan nasional dan emansipasi ekonomi jang melanda Asia dan Afrika serta saudara -saudara kita di Amerika Latin . Saja kira bahwa hanja kita, jang langsung terlibat didalamnja, dapat menduganja. 

Ketiga ialah kemadjuan ilmiah besar, jang semua bergerak dilapangan persendjataan dan peperangan, akan tetapi jang dewasa ini berpindah kelapangan rintangan dan perbatasan ruang angkasa. Siapakah jang dapat meramalkannja ketika itu ? 

„ Perspektip dan arus perkembangan dunia menundjukkan adanja arus sedjarah jang sedang menjapu segala imperialisme, sehingga kemenangan kemerdekaan dan nasionalisme adalah suatu kepastian ”. „ 

MEMBANGUN DUNIA KEMBALI” , pidato jang diutjapkan Presiden / Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Karno dalam Sidang Madjelis Umum P.B.B. ke-XV jang telah diperkuat oleh ketetapan Madjelis Permusjawaratan Rakjat Sementara No. I /MPRS/ 1960 tanggal 19 Nopember 1960 pasal III memutuskan bahwa: 

„ Amanat Presiden tanggal 17 Agustus jang terkenal dengan nama „ DJALANNJA REVOLUSI KITA” dan pidato Presiden tanggal 30 September 1960 dimuka Sidang Madjelis Umum P.B.B. ke- XV jang berdjudul " TO BUILD THE WORLD ANEW ” adalah pedoman pelaksanaan Manifesto Politik Re publik Indonesia ” . 

Karenanja ,,MEMBANGUN DUNIA KEMBALI" adalah merupakan pedoman pelaksanaan ke- II Manifesto Politik Republik Indonesia jang harus mendjadi pegangan dan pedoman Rakjat dan Bangsa Indonesia dalam mendjalankan Politik Luar Negeri Republik Indonesia. 

Singkatnja „MEMBANGUN DUNIA KEMBALI" memuat tiga pokok sebagai pelaksanaan Politik Luar Negeri jang terdiri dari:  

Pertama : Garis-garis Besar Politik Luar Negeri Republik Indonesia. 

Kedua: Pantja Sila sebagai Dasar Piagam jang Universil untuk kesedjahteraan Ummat Manusia. 

Ketiga: Usaha -usaha pokok.

II. GARIS-GARIS BESAR POLITIK LUAR NEGERI REPUBLIK INDONESIA 

Garis -garis besar politik Luar Negeri Republik Indonesia adalah berdasarkan Pembukaan U.U.D. '45 jang menjatakan sebagai berikut: 

„ Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia jang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memadjukan kese djahteraan umum, mentjerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia jang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, ......... 

Sifat politik Luar Negeri Republik Indonesia adalah bebas dan aktif, anti imperialisme dan kolonialisme, bertud juan:  

1. Mengabdi pada perd juangan untuk kemerdekaan Nasional Indonesia jang penuh. 

2. Mengabdi pada perd juangan untuk kemerdekaan Nasional dari seluruh Bangsa -bangsa didunia . 

3. Mengabdi pada perdjuangan untuk membela perdamaian dunia. 

Ketiga tudjuan politik Luar Negeri tersebut tidak bisa dipisah pisahkan satu dari jang lain , dalam perdjuangan untuk membangun dunia kembali, 

Tentang sifat dan tud juan politik Luar Negeri Republik Indonesia jang bebas dan aktif anti imperialisme dan kolonialisme, Manifesto Politik menund jukkan kewad jiban -kewad jiban revolusi Indonesia jang terpenting ialah membebaskan Indonesia dari semua imperialisme dan kolonialisme dan menegakkan tiga segi kerangka sebagai berikut: 

„Kesatu : Pembentukan satu Negara Republik Indonesia jang berbentuk Negara-Kesatuan dan Negara-Kebangsaan, jang demokra tis, dengan wilajah kekuasaan dari Sabang sampai ke Merauke. 

Kedua : Pembentukan satu masjarakat jang adil dan makmur materiil dan spirituil dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia itu . 

Ketiga: Pembentukan satu persahabatan jang baik antara Republik Indonesia dan semua negara didunia, terutama sekali dengan negara- negara Asia- Afrika, atas dasar hormat-menghormati satu sama lain, dan atas dasar bekerdja-bersama membentuk satu Dunia Baru jang bersih dari imperialisme dan kolonialisme, me nudju kepada Perdamaian Dunia jang sempurna” . ( Manipol hala man 146 ). 

Adapun tentang pengertian politik Luar Negeri Republik Indonesia bebas dan aktif dengan tandas telah did jelaskan oleh Presiden / Panglima Tertinggi / Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Karno dalam Pidato " Djarek” sebagai berikut : 

„ Dan bukan hanja untuk menghimpun segala kekuatan Nasio nal dan Internasional menentang imperialisme dan kolonialisme sadjalah politik Luar Negeri kita itu . Politik Luar Negeri kita, djuga kita tudjukan kepada persahabatan dengan semua bangsa, sesuai dengan adjaran Pantja Sila. 

„Ia kita tudjukan kepada menjumbang kepada terwudjudnja perdamaian dunia, sesuai pula dengan adjaran Pantja Sila. Ia, sebagaimana semua orang telah mengetahui, berwudjud satu politik- luar negeri jang diluar negeri orang namakan " independent policy ” atau " policy of non -alignment”. Kadang-kadang orang diluar-negeri menamakannja djuga " policy of neutralism ” , satu politik jang netral. Sebutan jang belakangan itu adalah sebutan jang tidak benar. Sebutan jang belakangan itu adalah sebutan jang salah dan melését sama sekali. Sebab kita tidak netral, kita tidak penonton kosong daripada kedjadian-kedjadian didunia ini, kita tidak tanpa prinsipe, kita tidak tanpa pendirian. Kita mendjalankan politik bebas itu tidak sekedar setjara „ tjutji tangan”, tidak sekedar setjara defensif, tidak sekedar setjara apologetis. Kita aktif, kita ber-prinsipe, kita berpendirian! Prinsipe kita ialah terang Pantja Sila, pendirian kita ialah aktif menudju kepada perdamaian dan kesedjahteraan dunia, aktif menudju kepada persahabatan segala bangsa, aktif menudju kepada lenjаpnja exploitation de l'homme par l'homme, aktif menentang dan menghantam segala matjam imperialisme dan kolonialisme dimanapun dia berada . 

Pendirian kita jang „ bebas dan aktif” itu, setjara aktif pula setapak demi setapak harus ditjerminkan dalam hubungan ekonomi dengan luar-negeri, agar supaja tidak berat sebelah ke Barat atau ke Timur. Manakala pada saat sekarang ini keberat- sebelahan itu nampaknja masih ada, maka usaha kita ialah untuk menghilangkan keberat-sebelahan itu . Hanja djikalau kita tidak berat-sebelah , maka kita benar-benar boleh menuliskan Pantja Sila diatas dada kita, dan kita dipertjajai orang dalam usaha kita mendamaikan dunia. Hanja djikalau kita benar-benar tidak „pilih-kasih”, „maka kita bisa menghindarkan tanahair kita jang tjantik -molek, kaja-raja, strategis ini, didjadikan padang perebutan pengaruh politik internasional, didjadikan arena perang- dingin dan mungkin arena perang-panas dari dunia luaran !” (Djarek halaman 231 ). 

Karenanja kebidjaksanaan politik Luar Negeri Republik Indo nesia harus berdiri diatas dasar tjita - tjita Rakjat Indonesia sebagaimana terkandung didalam tiga segi kerangka tersebut diatas. Keharusan untuk melen japkan imperialisme dan kolonialisme dari muka bumi menud ju kepada perdamaian dunia jang sempurna adalah tugas seluruh ummat manusia. 

Tentang hal ini Presiden /Panglima Tertinggi /Pemimpin Besar Revolusi Indonesia - Bung Karno dalam " MEMBANGUN DUNIA KEMBALI” menegaskan sebagai berikut : 

„Kedaulatan dari bangsa jang paling baru atau bangsa jang paling ketjil sama berharganja, sama tidak dapat dilanggarnja, se perti kedaulatan bangsa jang paling besar atau bangsa jang paling tua. Dan selain daripada itu, sesuatu pelanggaran terhadap ke daulatan sesuatu bangsa merupakan suatu antjaman potensiil terhadap kedaulatan semua bangsa ”. (M.D.K. halaman 307). 

„Kenjataan ini ( zaman pembangunan bangsa D.P.A. ) djauh lebih penting daripada adanja sendjata - sendjata nuklir, lebih eksplosif daripada bom-bom hidrogin, dan mempunjai harga potensiil jang lebih besar untuk dunia daripada pemetjahan atom ” . (M.D.K. halaman 307-308). 

„Dibanjak tempat terdapat ketegangan-ketegangan dan sum ber-sumber sengketa potensiil. Perhatikanlah tempat-tempat itu dan tuan akan djumpai, bahwa hampir tanpa perketjualian, impe rialisme dan kolonilaisme didalam salah satu dari banjak manifes tasinja adalah sumber ketegangan atau sengketa itu. Imperialisme dan kolonialisme dan pemisahan terus -menerus setjara paksa dari bangsa -bangsa merupakan sumber dari hampir semua kedjahatan internasional jang mengantjam didunia kita ini” . (M.D.K. hala man 308 ). 

„ Imperialisme, dan perdjuangan untuk mempertahankannja, merupakan kedjahatan jang terbesar didunia kita ini”. (M.D.K. halaman 308 ). 

„ Singkirkan pengekangan terhadap kemerdekaan dan eman sipasi, dan antjaman terhadap perdamaian akan lenjap. Tumbang kan imperialisme, dan segera dengan sendirinja dunia akan men djadi suatu tempat jang lebih bersih suatu tempat jang lebih baik dan suatu tempat jang lebih aman ” . (M.D.K. halaman 312 ). 

1. Tentang Mengabdi pada Perdjuangan untuk Kemerdekaan Nasional Indonesia jang penuh. 

Dalam melaksanakan politik Luar Negeri jang mengabdi pada perd juangan kemerdekaan Nasional Indonesia jang penuh: 

Rakjat Indonesia berd juang dengan menggalang persatuan Nasional anti imperialisme-kolonialisme dan feodalisme didalam negeri, sebagai bagian daripada perd juangan untuk kepentingan ummat manusia didunia . Pengabdian kepada perd juangan kemer dekaan Nasional jang penuh itu tidak dapat dipisah -pisahkan dengan penggalangan kerdjasama internasional anti imperialisme kolonialisme. 

Terhadap pengabdian pada perd juangan kemerdekaan Nasional jang penuh dari Rakjat Indonesia tersebut, Presiden / Panglima Tertinggi /Pemimpin Besar Revolusi Indonesia - Bung Karno menegaskan dalam „ MEMBANGUN DUNIA KEMBALI” sebagai berikut : 

„Kita tidak boleh berhenti berdjuang pada saat ini , manakala kemenangan telah menampakkan diri, sebaliknja kita harus melipat- gandakan usaha kita. Kita telah berdjandji kepada masa depan dan djandji itu harus dipenuhi. Dalam hal ini kita tidak hanja berdjuang untuk kepentingan kita sendiri, melainkan kita berdjuang untuk kepentingan ummat manusia seluruhnja, ja, perdjuangan kita bahkan untuk kepentingan mereka jang kita tentang ". (M.D.K. halaman 299 ). 

„Ini saja kemukakan : bagi suatu bangsa jang baru lahir atau suatu bangsa jang baru lahir-kembali milik jang paling berharga adalah kemerdekaan dan kedaulatan " . (M.D.K. halaman 303 ). 

„ Banjak bangsa-bangsa didunia ini telah lama memiliki permata ini. Mereka telah biasa memilikinja, tetapi saja jakin, bahwa mereka masih tetap menganggapnja jang paling ditjintai diantara milik- miliknja, dan mereka akan lebih baik mati daripada me lepaskannja ”. (M.D.K. halaman 304). 

„ Betapa lebih berharga hal itu bagi kami, jang pernah suatu waktu memiliki permata kemerdekaan dan kedaulatan nasional itu , dan kemudian merasakan dirampasnja dari tangan kami oleh bandit-bandit jang bersendjata lengkap, dan jang kini telah kami rebut kembali !" ( M.D.K. halaman 304). 

„Saja tahu oleh karena bangsa saja sendiri melakukannja dalam perdjuangan kami untuk kemerdekaan. Kami telah ber djuang dengan menggunakan pisau dan bambu runtjing. Untuk mentjapai perdamaian, kita harus menjingkirkan sebab - sebab ketegangan dan sebab- sebab bentrokan itu. Itulah sebabnja saja berbitjara dari lubuk hati saja mengenai perlunja bekerdja-sama untuk menjebabkan matinja jang hina dari imperialisme” . (M.D.K. halaman 315) . 

2. Tentang Mengabdi pada Perdjuangan untuk Kemerdekaan Nasional dari Seluruh Bangsa-bangsa Didunia. 

Seperti ditegaskan dalam Manifesto Politik, Rakjat Indonesia menjokong perd juangan kemerdekaan seluruh bangsa -bangsa . Tentang hal ini ditegaskan oleh Presiden / Panglima Tertinggi / Pemimpin Besar Revolusi Indonesia - Bung Karno sebagai berikut : 

„ Rakjat dimana -mana dibawah kolong langit ini, tidak mau ditindas oleh bangsa lain , tidak mau dieksploatir oleh golongan golongan apapun , meskipun golongan itu adalah dari bangsanja sendiri ”. 

„Rakjat dimana-mana dibawah kolong langit ini menuntut kebebasan dari kemiskinan, dan kebebasan dari rasa takut, baik jang karena antjaman didalam -negeri, maupun jang karena antjam. an dari luar-negeri”. 

„Rakjat dimana-mana dibawah kolong langit ini menuntut kebebasan untuk menggerakkan setjara konstruktif iapunja aktivitet-sosial untuk mempertinggi kebahagiaan individu dan kebahagiaan masjarakat”. 

„ Rakjat dimana-mana dibawah kolong langit ini menuntut kebebasan untuk mengeluarkan pendapat, jaitu menuntut hak-hak jang lazimnja dinamakan Demokrasi ” . (Manipol halaman 118 ). 

Bahwasanja perd juangan kemerdekaan untuk bebas dari 'penindasan, bebas dari kemiskinan , bebas dari rasa takut, bebas setjara konstruktif menggerakkan aktivitet sosial dan bebas - mengeluarkan pendapat, serta perd juangan untuk perdamaian dunia terdapat djuga dalam peladjaran agama, jang mengharuskan hidup bersahabat diantarabangsa -bangsa , dan kenal-mengenal diantara sesama ummat manusia, ditegaskan oleh Presiden / Pang lima Tertinggi /Pemimpin Besar Revolusi Indonesia - Bung Karno sebagai berikut: 

„Kitab Sutji Islam mengamanatkan sesuatu kepada kita pada saat ini. Qur'an berkata : „ Hai, sekalian manusia, sesungguhnja Aku telah mendjadikan kamu sekalian dari seorang lelaki dan seorang perempuan , sehingga kamu berbangsa-bangsa dan bersuku - buku, agar kamu sekalian kenal-mengenal satu sama lain . Bahwasanja jang lebih mulia diantara kamu sekalian , ialah siapa jang lebih taqwa kepadaKu”. 

„ Dan djuga Kitab Indjil agama Nasrani beramanat pada kita : „Segala kemuliaan bagi Allah ditempat jang Mahatinggi, dan sedjahtera diatas bumi diantara orang jang diperkenanNja”. (M.D.K. halaman 295). 

Rakjat Indonesia telah ikut serta dan akan terus ambil bagian dalam memperkuat dan mengembangkan perd juangan Nasional bangsa- bangsa Asia - Afrika seperti ditegaskan oleh Presiden / Pang. lima Tertinggi /Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Karno dalam „ MEMBANGUN DUNIA KEMBALI” sebagai berikut : 

„Nasib ummat manusia tidak dapat lagi ditentukan oleh beberapa bangsa besar dan kuat. Djuga kami bangsa-bangsa jang lebih muda, bangsa jang sedang bertunas, bangsa-bangsa jang lebih ketjil, kamipun berhak bersuara dan suara itu pasti akan berka mandang disepandjang zaman. 

Jah, kami insaf akan pertanggungan -djawab kami terhadap masadepan semua bangsa, dan kami dengan gembira menerima per tanggungan -djawab itu. Bangsa saja berdjandji pada diri sendiri untuk bekerdja mentjapai suatu dunia jang lebih baik, suatu dunia jang bebas dari sengketa dan ketegangan, suatu dunia dimana anak anak kita dapat tumbuh dengan bangga dan bebas, suatu dunia dimana keadilan dan kesedjahteraan berlaku untuk semua orang". (M.D.K. halaman 306). 

Seterusnja ditegaskan lagi oleh Presiden /Panglima Tertinggi/ Pemimpin Besar Revolusi Indonesia - Bung Karno: 

.......tempatkanlah kewibawaan dan kekuatan moril dan Organisasi Negara-Negara ini dibelakang mereka jang ber . djuang untuk kemerdekaan ”. ( M.D.K. halaman 309). 

3. Tentang Mengabdi pada Perdjuangan untuk Membela Perdamaian Dunia. 

Bahwa masadepan dunia dimana perdamaian sebagai sumber hidup dan kehidupan manusia untuk mentjapai kebahagiaan dan kesed jahteraan, adalah perd juangan pokok Rakjat Indonesia dan seluruh Ummat Manusia seperti ditegaskan oleh Presiden / Panglima Tertinggi /Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Karno sebagai berikut: 

„ Madjelis Umum ini tentunja akan menghadapi banjak hal-hal jang penting. Tetapi tidaklah ada hal jang lebih penting daripada perdamaian". (M.D.K. halaman 308 ). 

„ Jang pasti adalah bahwa negara-negara jang baru lahir dan jang dilahirkan kembali tidak merupakan antjaman terhadap per damaian dunia . Kami tidak mempunjai ambisi-ambisi teritorial ; kamipun tidak mempunjai tudjuan-tudjuan ekonomi jang tidak bisa disesuaikan. Antjaman terhadap perdamaian tidak datang dari kami, tetapi malahan dari fihak negara -negara jang lebih tua, jang telah lama berdiri dan stabil itu" . (M.D.K. halaman 320-321). 

Selandjutnja dikatakan bahwa sumber ketegangan dan seng keta internasional jang mengantjam perdamaian dunia adalah imperialisme dan kolonialisme ditegaskan sebagai berikut: 

„Antjaman terhadap perdamaian berasal langsung dari adanja imperialisme dan kolonialisme itulah.

Singkirkan pengekangan terhadap kemerdekaan dan sipasi, dan antjaman terhadap perdamaian akan lenjap. Tumbang. kan imperialisme, dan segera dengan sendirinja dunia akan men djadi suatu tempat jang lebih bersih , suatu tempat jang lebih baik dan suatu tempat jang lebih aman”. (M.D.K. halaman 317). 

Untuk mentjapai perdamaian, sebab - sebab peperangan harus dilen japkan , ditegaskan sebagai berikut:

„ Lenjapkanlah sebab-sebab peperangan, dan kita akan merasa damai, Lenjapkanlah sebab- sebab ketegangan dan kita akan merasa tenang. Djangan ditunda- tunda. Waktunja singkat. Bahajanja besar” . (11.D.K. halaman 131). 

„ Tugas kita bukannja untuk mempertahankan dunia ini , akan tetapi untuk membangun dunia kembali! ” ( M.D.K. halaman 310). 

Untuk membitjarakan soal perdamaian dunia harus diikut. sertakan seluruh bangsa -bangsa didunia seperti ditegaskan oleh Presiden/Panglima Tertinggi / Pemimpin Besar Revolusi Indonesia — Bung Karno sebagai berikut : 

„ Empat Negara Besar itu sadja, tidak dapat menentukan masalah perang dan damai. Lebih tepat , barangkali, mereka mem punjai kekuatan untuk merusak perdamaian, tetapi mereka tidak mempunjai hak moril, baik setjara sendirian maupun bersama sama, untuk mentjoba menentukan haridepan dunia”. ( M.D.K. halaman 301). 

III. PANTJA SILA SEBAGAI DASAR PIAGAM JANG UNIVERSIL UNTUK KESEDJAHTERAAN UMMAT MANUSIA 

Kenjataan internasional ialah bahwa untuk mentjapai per djuangan nasional, tiap- tiap bangsa harus memiliki satu konsepsi nasionalnja sendiri, seperti ditegaskan oleh Presiden / Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Karno sebagai berikut: 

„ Arus sedjarah memperlihatkan dengan njata bahwa semua bangsa memerlukan sesuatu konsepsi dan tjita -tjita . Djika mereka tak memilikinja atau djika konsepsi dan tjita-tjita itu mendjadi kabur dan usang, maka bangsa itu adalah dalam bahaja. Sedjarah Indonesia kami sendiri memperlihatkannja dengan djelas, dan demikian pula halnja dengan sedjarah seluruh dunia”. (M.D.K. halaman 324). 

Pantja Sila tidak mengandung arti nasional sad ja, tetapi djuga mempunjai arti universil dan dapat digunakan setjara internasional, ditegaskan sebagai berikut : 

„ Ja, kami banjak beladjar dari Eropah dan Amerika. Kami telah mempeladjari sedjarah tuan -tuan dan penghidupan orang orang besar dari bangsa tuan . Kami telah mengikuti tjontoh dari tuan - tuan ; bahkan kami telah berusaha melebihi tuan - tuan . Kami berbitjara dalam bahasa -bahasa tuan - tuan dan membatja buku-buku tuan- tuan . Kami telah diilhami oleh Lincoln dan Lenin, oleh Cromwell dan Garibaldi. Dan memang masih banjak jang harus kami peladjari dari tuan - tuan dihanjak bidang. Tetapi pada dewasa ini bidang-bidang jang kami harus peladjari lebih banjak lagi dari tuan - tuan , adalah bidang tehnik dan ilmiah , dan bukan faham . faham atau gerakan jang didiktekan oleh ideologi”. (M.D.K. halaman 322) . 

„ Ahli filsafah Inggeris Bertrand Russell jang ulung itulah jang pernah berkata bahwa ummat manusia sekarang terbagai dalam dua golongan. Jang satu menganut adjaran Declaration of American Independence dari Thomas Jefferson. Golongan lainnja menganut adjaran Manifesto Komunis. 

Maafkan, Lord Russell, akan tetapi saja kira tuan melupakan sesuatu. Saja kira tuan melupakan adanja lebih daripada seribu djuta rakjat, rakjat Asia dan Afrika, dan mungkin pula rakjat rakjat Amerika Latin, jang tidak menganut adjaran Manifesto Komunis ataupun Declaration of Independence. Tjamkanlah kami mengagumi kedua adjaran itu , dan kami telah banjak beladjar dari keduanja itu dan kami telah diilhami oleh keduanja itu ” . (M.D.K. halaman 323) . 

„ Seperti saja katakan, kami telah membatja dan mempeladjari pandangan itu , dan konfrontasi itu membahajakan, tidak hanja untuk mereka jang saling berhadapan tetapi djuga untuk bagian dunia lainnja” . (M.D.K. halaman 323) . 

„ Seperti saja katakan, kami telah membatja dan mempeladjari kedua dokumen jang pokok itu. Dari masing- masing dokumen itu banjak jang telah kami ambil dan kami buang apa jang tak berguna bagi kami, kami jang hidup dibenua lain dan beberapa generasi kemudian. Kami telah mensintésekan apa jang kami perlukan dari kedua dokumen itu, dan ditindjau dari pengalaman serta dari pengetahuan kami sendiri, sintése itu telah kami saring dan kami sesuaikan . 

Djadi, dengan minta maaf kepada Lord Russell jang saja hormati sekali, dunia ini tidaklah seluruhnja terbagi dalam dua fihak seperti dikiranja. 

Meskipun kami telah mengambil sarinja, dan meskipun kami telah mentjoba mesintésekan kedua dokumen jang penting itu, kami tidak dipimpin oleh keduanja itu sadja. Kami tidak mengikuti konsepsi liberal ataupun konsepsi komunis. Apa gunanja ? Dari pengalaman kami sendiri dan dari sedjarah kami sendiri timbullah sesuatu jang lain, sesuatu jang djauh lebih sesuai, sesuatu jang djauh lebih baik tjotjok ”. (M.D.K. halaman 324). 

Pantja Sila mend jelaskan bahwa konsekwensi dari penerima annja adalah berdjuang melawan dan mengalahkan kolonialisme dan imperialisme, sedangkan dilapangan politik internasional berarti meletakkan hubungan antar-bangsa atas dasar toleransi terhadap pandangan filsafat masing-masing bangsa dan penolakan mutlak terhadap imperialisme dan kolonialisme, terhadap hubung an antar-negara jang tidak berdasar persamaan hak dan derad jat. Pantja Sila sebagai dasar piagam jang universil berarti membentuk suatu persahabatan antara semua bangsa didunia terutama di Asia Afrika dan Amerika Latin, atas dasar hormat-menghormati satu sama lain membentuk suatu dunia baru jang bersih dari imperial isme-kolonialisme menud ju kepada perdamaian dunia dan kese djahteraan ummat manusia jang sempurna. 

Pantja Sila sebagai konsepsi nasional oleh Presiden /Panglima Tertinggi / Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Karno ditegaskan sebagai berikut: 

„ Saja tidak dapat berbitjara atas nama negara - negara Asia dan Afrika lainnja -- saja tidak diberi kuasa untuk itu, dan bagai manapun djuga mereka sendiri tjakap untuk mengemukakan pan dangannja masing-masing. Akan tetapi saja diberi kuasa — bahkan ditugaskan - untuk berbitjara atas nama bangsa saja jang ber djumlah sembilanpuluh dua djuta itu”. (M.D.K. halaman 323). 

„ Sesuatu” itu kami namakan „ PANTJA SILA " . Ja, „ Pantja Sila” atau Lima Sendi Negara kami. Lima Sendi itu tidaklah lang sung berpangkal pada Manifesto Komunis ataupun Declaration of Independence. Memang, gagasan - gagasan dan tjita-tjita itu mungkin sudah ada sedjak berabad-abad, telah terkandung dalam bangsa kami. Dan memang tidak mengherankan bahwa faham-faham mengenai kekuatan jang besar dan kedjantanan itu telah timbul dalam bangsa kami selama duaribu tahun peradaban kami dan sela: ma berabad- abad kedjajaan bangsa , sebelum imperialisme meneng. gelamkan kami pada suatu saat kelemahan -nasional. 

Djadi berbitjara tentang Pantja Sila dihadapan tuan-tuan, saja mengemukakan inti-sari dari peradaban kami selama dua - ribu tahun. 

Apakah Lima Sendi itu ? Ia sangat sederhana : pertama Ketu hanan Jang Maha Esa, kedua Nasionalisme, ketiga Internasional isme, keempat Demokrasi dan Kelima Keadilan Sosial. 

Perkenankanlah saja sekarang menguraikan sekedarnja tentang kelima pokok itu. 

Pertama : Ketuhanan Jang Maha Esa. Bangsa saja meliputi orang- orang jang menganut berbagai matjam agama: ada jang Islam , ada jang Kristen, ada jang Buddha dan ada jang tidak menganut sesuatu agama. Meskipun demikian untuk delapanpuluh lima persen dari sembilanpuluh dua djuta rakjat kami, bangsa Indo nesia terdiri dari para pengikut Islam. Berpangkal pada kenjataan ini dan mengingat akan berbeda-beda tetapi bersatunja bangsa kami, kami menempatkan Ketuhanan Jang Maha Esa sebagai jang paling utama dalam filsafah hidup kami. Bahkan mereka jang tidak pertjaja kepada Tuhan-pun, karena toleransinja jang mendjadi pembawaan, mengakui bahwa kepertjajaan kepada Jang Maha Kuasa merupakan karakteristik dari bangsanja, sehingga mereka menerima Sila pertama ini. 

Kemudian sebagai nomor dua ialah Nasionalisme. Kekuatan jang membakar dari nasionalisme dan hasrat akan kemerdekaan mempertahankan hidup kami dan memberi kekuatan kepada kami sepandjang kegelapan pendjadjahan jang lama, dan selama berkobarnja perdjuangan kemerdekaan. Dewasa ini kekuatan jang membakar itu masih tetap menjala-njala didada kami dan tetap memberi kekuatan hidup kepada kami ! Akan tetapi nasionalisme kami sekali- kali bukanlah Chauvinisme. Kami sekali-kali tidak menganggap diri kami lebih unggul dari bangsa-bangsa lain. Kami sekali-kali tidak pula berusaha untuk memaksakan kehendak kami kepada bangsa-bangsa lain. Saja mengetahui benar-benar, bahwa istilah „ nasionalisme” ditjurigai, bahkan tidak dipertjajai dine gara- negara Barat. Hal ini disebabkan karena Barat telah memper kosa dan memutar-balikkan nasionalisme. Padahal nasionalisme jang sedjati masih tetap berkobar-kobar dinegara- negara Barat. Djika tidak demikian, maka Barat tidak akan menentang dengan sendjata chauvinisme Hitler jang agresif. 

Tidakkah nasionalisme sebutlah djika mau, patriotisme mempertahankan kelangsungan hidup semua bangsa ? Siapa jang berani menjangkal bangsa, jang melahirkan dia ? Siapa jang berani berpaling dari bangsa, jang mendjadikan dia ? Nasionalisme adalah mesin besar jang menggerakkan dan mengawasi semua kegiatan internasional kita ; nasionalisme adalah sumber besar dan inspirasi agung dari kemerdekaan. 

Nasionalisme kami di Asia dan Afrika tidaklah sama dengan jang terdapat pada sistim Negara- negara Barat. Di Barat, nasional isme berkembang sebagai kekuatan jang agresif jang mentjari ekspansi serta keuntungan bagi ekonomi nasionalnja. Nasionalisme di Barat adalah kakek dari imperialisme, jang bapaknja adalah kapitalisme. Di Asia dan Afrika, dan saja kira djuga di Amerika Latin , nasionalisme adalah gerakan pembebasan, suatu gerakan protes terhadap imperialisme dan kolonialisme, dan suatu djawab an terhadap penindasan nasionalisme-chauvinis jang bersumber di Eropah. Nasionalisme Asia dan Afrika serta nasionalisme Amerika Latin tidak dapat ditindjau tanpa memperhatikan inti sosialnja. Di Indonesia kami menganggap inti sosial itu sebagai pendorong untuk mentjapai keadilan dan kemakmuran. Bukankah itu tudjuan baik jang dapat diterima oleh semua orang ? Saja tidak berbitjara hanja tentang kami sendiri di Indonesia, djuga tidak hanja tentang saudara-saudara saja di Asia dan Afrika serta Amerika Latin . Saja berbitjara tentang seluruh dunia. Masjarakat jang adil dan makmur dapat merupakan tjita -tjita dan tudjuan semua orang. 

Mahatma Gandhi pernah berkata : „ Saja seorang nasionalis, akan tetapi nasionalisme saja adalah perikemanusiaan ”. Kamipun , berkata demikian. Kami nasionalis, kami tjinta kepada bangsa kami dan kepada semua bangsa. Kami nasionalis karena kami pertjaja bahwa bangsa -bangsa adalah sangat penting bagi dunia dimasa sekarang ini, dan kami akan tetap demikian, sedjauh mata dapat memandang kemasadepan. Karena kami nasionalis, maka kami mendukung dan mengandjurkan nasionalisme, dimana sadja kami djumpainja. 

Sila ketiga kami adalah Internasionalisme. Antara nasional isme dan internasionalisme tidak ada perselisihan atau perten tangan. Memang benar, bahwa internasionalisme tidak akan dapat tumbuh dan berkembang selain diatas tanah jang subur dari nasio nalisme. Bukanlah Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa itu merupakan bukti jang njata dari hal ini ? Dahulu ada Liga Bangsa- Bangsa. Kini ada Perserikatan Bangsa-Bangsa. Nama nama itu sendiri menundjukkan bahwa kedua- duanja tidak akan bisa berdiri tanpa adanja bangsa-bangsa dan nasionalisme. Djus tru adanja kedua organisasi itu menundjukkan bahwa bangsa bangsa mengingini dan membutuhkan suatu badan internasional, dimana setiap bangsa mempunjai kedudukan jang sederadjat. Internasionalisme sekali bukan kosmopolitanisme, jang merupakan penjangkalan terhadap nasionalisme, jang anti-nasio nal dan memang bertentangan dengan kenjataan. 

Sebetulnja internasionalisme jang sedjati adalah pernjataan dari nasionalisme jang sedjati, dimana setiap bangsa menghargai dan mendjaga hak-hak semua bangsa, baik jang besar maupun jang ketjil, jang lama maupun jang baru. Internasionalisme jang sedjati adalah tanda, bahwa suatu bangsa telah mendjadi dewasa dan bertanggung- djawab, telah meninggalkan sifat kekanak-kanak an mengenai rasa keunggulan nasional atau rasial, telah meninggal kan penjakit kekanak- kanakan tentang chauvinisme dan kosmo politanisme.

Sila keempat adalah Demokrasi. Demokrasi bukanlah monopoli atau penemuan dari aturan sosial Barat. Lebih tegas, demokrasi tampaknja merupakan keadaan asli dari manusia, meskipun diubah untuk disesuaikan dengan kondisi-kondisi sosial jang chusus. 

Selama beribu-ribu tahun dari peradaban Indonesia, kami telah mengembangkan bentuk-bentuk demokrasi Indonesia. Kami pertjaja, bahwa bentuk-bentuk ini mempunjai pertalian dan arti internasional. Ini adalah soal jang akan saja bitjarakan kemudian . 

Achirnja, Sila jang penghabisan dan jang terutama jalah Keadilan Sosial. Pada keadilan sosial ini kami rangkaikan kemak muran sosial, karena kami menganggap kedua hal ini tidak dapat dipisah- pisahkan. Benar, hanja suatu ' masjarakat jang makmur dapat merupakan masjarakat jang adil, meskipun kemakmuran itu sendiri bisa bersemajam dalam ketidak-adilan sosial. 

Demikianlah Pantja Sila kami. Ketuhanan Jang Maha Esa, Nasionalisme, Internasionalisme, Demokrasi dan Keadilan Sosial. 

Itulah dasar-dasar jang telah diterima sepenuhnja oleh bangsa saja dan jang dipergunakannja sebagai pedoman bagi segala kegiatan politik , ekonomi dan Sosial” . ( M.D.K. halaman 324-328). 

„Mereka bukannja menerima Pantja Sila semata -mata sebagai konsepsi ideologi belaka, melainkan sebagai suatu pedoman jang praktis sekali untuk bertindak. Mereka diantara bangsa saja jang berusaha mendjadi pemimpin tetapi menolak Pantja Sila, ditolak pula oleh bangsa Indonesia ” . (M.D.K. halaman 330-331). 

Bagaimanakah penggunaan setjara Internasional daripada Pantja Sila ? Bagaimana Pantja Sila itu dapat dipraktekkan ? Ten tang hal ini Presiden / Panglima Tertinggi/ Pemimpin Besar Revo lusi Indonesia - Bung Karno menegaskan sebagai berikut: 

„ Pertama : Ketuhanan Jang Maha Esa. Tidak seorangpun jang menerima Declaration of American Independence sebagai pedoman untuk hidup dan bertindak, akan menjangkalnja. Begitu pula tidak ada seorang pengikutpun dari Manifesto Komunis, dalam forum internasional ini kini akan menjangkal hak untuk pertjaja kepada Jang Maha Kuasa. Untuk pendjelasan lebih landjut menge 104 nai hal ini, saja persilahkan tuan - tuan jang terhormat bertanja kepada tuan Aidit, ketua Partai Komunis Indonesia, jang duduk dalam Delegasi saja dan jang menerima sepenuhnja baik Manifesto Komunis maupun Pantja Sila. 

Kedua : Nasionalisme. Kita semua adalah wakil-wakil bangsa bangsa. Bagaimana kita akan dapat menolak nasionalisme ? Djika kita menolak nasionalisme, maka kita harus menolak kebangsaan kita sendiri dan menolak pengorbanan-pengorbanan jang telah diberikan oleh generasi-generasi. Akan tetapi saja peringatkan tuan-tuan : djika tuan- tuan menerima prinsip nasionalisme, maka tuan-tuan harus menolak imperialisme. Tetapi pada peringatan itu saja ingin menambahkan peringatan lagi : djika tuan -tuan menolak imperialisme, maka setjara otomatis dan dengan segera tuan-tuan lenjapkan dari dunia jang dalam kesukaran ini sebab terbesar jang menimbulkan ketegangan dan bentrokan. 

Ketiga : Internasionalisme. Apakah perlu untuk berbitjara dengan pandjang lebar mengenai internasionalisme dalam badan internasional ini ? Tentu tidak ! Djika bangsa-bangsa kita tidak ’ In ternationally minded ” , maka bangsa-bangsa itu tidak akan men djadi anggauta organisasi ini. Akan tetapi, internasionalisme jang sedjati tidak selalu terdapat disini . Saja menjesal harus mengatakan demikian , akan tetapi hal ini adalah suatu kenjataan. Terlalu sering Perserikatan Bangsa- Bangsa dipergunakan sebagai forum untuk tudjuan- tudjuan nasional jang sempit atau tudjuan- tudjuan golong. an sadja. Terlalu sering pula tudjuan-tudjuan jang agung dan tjita tjita jang luhur dari piagam kita dikaburkan oleh usaha untuk mentjari keuntungan nasional atau prestige nasional. Internasional isme jang sedjati harus didasarkan atas kenjataan persamaan nasio nal. Internasionalisme jang sedjati harus didasarkan atas persamaan kehormatan, persamaan penghargaan dan atas dasar penggunaan setjara praktis daripada kebenaran , bahwa semua orang adalah saudara. Untuk mengutip Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dokumen jang seringkali dilupakan orang itu – internasionalisme itu harus „meneguhkan kembali kejakinan ............ berdasarkan hak- hak jạng sama bagi ......... bangsa-bangsa, baik besar maupun ketjil”. 

Achirnja, dan sekali lagi, internasionalisme akan berarti berachirnja imperialisme dan kolonialisme, sehingga dengan demi kian berachirnja banjak bahaja dan ketegangan. 

Keempat : Demokrasi. Bagi kami bangsa Indonesia, demo krasi mengandung tiga unsur jang pokok. Demokrasi mengandung pertama- tama prinsip jang kami sebut Mufakat ja’ni : kebulatan pendapat. Kedua, demokrasi mengandung prinsip Perwakilan. 

Achirnja demokrasi mengandung, bagi kami, prinsip Musja warah. Ja, demokrasi Indonesia mengandung ketiga prinsip itu, ja'ni : mufakat, perwakilan dan musjawarah antara wakil-wakil. 

Prinsip-prinsip daripada tjara kehidupan demokrasi kami ini dikandung sedalam-dalamnja oleh rakjat kami dan sudah ada sedjak berabad- abad lamanja. Prinsip- prinsip ini menguasai kehidupan demokrasi kami ketika suku- suku jang liar dan biadab masih mengembara di Eropah. Prinsip-prinsip ini membimbing kami ketika feodalisme mendjadikan dirinja kekuatan jang progresif dan jang memang revolusioner di Eropah . Prinsip- prinsip ini membe rikan kepada kami, ketika feodalisme melahirkan kapitalisme, dan ketika kapitalisme mendjadi bapak imperialisme jang memperbudak kami. Prinsip- prinsip ini memberi kekuatan kepada kami selama gerhana kegelapan pendjadjahan dan selama tahun-tahun jang berdjalan lambat, ketika bentuk-bentuk lain dan berbeda-beda dari praktek- praktek demokrasi timbul setjara perlahan -lahan di Eropah dan Amerika. 

Demokrasi kami tua, tetapi djaja dan kuat, sama djajanja dan kuatnja seperti bangsa Indonesia jang mendjadi sumbernja” . (M.D.K. halaman 331-333). 

„Achirnja didalam Pantja Sila terkandung Keadilan Sosial. Untuk dapat dilaksanakan dibidang internasional, mungkin hal ini akan mendjadi keadilan sosial internasional. Sekali lagi, menerima prinsip ini akan berarti menolak kolonialisme dan imperialisme. 

Selandjutnja, diterimanja oleh Perserikatan Bangsa -Bangsa keadilan sosial sebagai suatu tudjuan, akan berarti diterimanja pertanggungan-djawab dan kewadjiban -kewadjiban tertentu. 

Ini akan berarti usaha jang tegas dan berpadu untuk menge achiri banjak dari kedjahatan-kedjahatan sosial, jang menjusahkan dunia kita. Ini akan berarti bahwa bantuan kepada negara- negara jang belum madju dan bangsa-bangsa jang kurang beruntung akan disingkirkan dari suasana Perang Dingin. Ini akan berarti pula pengakuan jang praktis bahwa semua orang adalah saudara dan bahwa semua orang mempunjai tanggung-djawab terhadap saudara nja. 

Perkenankanlah saja sekali lagi mengulangi Lima Sila itu. Ketuhanan Jang Maha Esa ; Nasionalisme; Internasionalisme; Demokrasi ; Keadilan Sosial. 

Marilah kita selidiki apakah hal-hal ini sebenarnja merupakan suatu sintése jang dapat diterima oleh kita semua. Marilah kita bertanja pada diri sendiri, apakah penerimaan prinsip- prinsip itu akan memberikan suatu pemetjahan persoalan -persoalan jang dihadapi oleh organisasi ini". ( M.D.K. halaman 337). 

IV . USAHA -USAHA POKOK 

Usaha -usaha pokok dibidang Politik Luar Negeri adalah se bagai berikut: 

1. Membebaskan Irian Barat dari imperialisme dan kolonialisme.
2. Menjokong kemerdekaan negara -negara Asia, Afrika dan Amerika Latin.
3. Ko-eksistensi dan perlutjutan send jata .
4. Retooling P.B.B. 

1. Tentang Membebaskan Irian Barat dari Imperialisme dan Kolonialisme. 

Untuk membebaskan Irian Barat Rakjat Indonesia wadjib memobilisasi seluruh kekuatan nasional dan internasional jang anti imperialisme /kolonialisme dan mend jalankan politik kon frontasi baik dibidang politik, ekonomi maupun militer seperti jang ditegaskan oleh Presiden / Panglima Tertinggi / Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Karno sebagai berikut: 

„ Dimana terdapat imperialisme, dan dimana terdapat penju sunan kekuatan bersendjata jang serentak, maka keadaan memang berbahaja. Sekali lagi saja berbitjara berdasarkan pengalaman. Begitulah keadaannja di Irian Barat. Begitulah keadaannja di seperlima wilajah nasional kami jang pada dewasa ini masih tetap membungkuk dibawah belenggu imperialisme. 

Disanalah kami menghadapi imperialisme dan kekuatan bersendjata dari imperialisme. Diperbatasan daerah itu tentara kami berdjaga didarat maupun dilautan”. (M.D.K. halaman 310-311). 

,,Kami telah berusaha untuk menjelesaikan masalah Irian Barat. Kami telah berusaha dengan sungguh -sungguh dan dengan penuh kesabaran dan penuh toleransi dan penuh harapan ”. (M.D.K. halaman 321). 

„ Semuanja itu kini telah habis dan Belanda tidak memberi. kan alternatif lainnja, ketjuali memperkeras sikap kami”. (M.D.K. halaman 321) . 

„ Irian Barat merupakan pedang kolonial jang diantjamkan terhadap Indonesia . Pedang itu diarahkan pada djantung kami, akan tetapi disamping itu mengantjam pula perdamaian dunia. 

Usaha-usaha kami dewasa ini jang sungguh - sungguh untuk mentjapai penjelesaian dengan tjara- tjara kami sendiri, adalah bagian dari sumbangan kami kearah terdjaminnja perdamaian dunia ini . Ini adalah bagian dari usaha kami untuk mengachiri masalah dunia ini jang merupakan kedjahatan jang usang. Usaha kami adalah usaha pembedahan jang sungguh -sungguh untuk me njingkirkan kanker imperialisme dari daerah didunia, dimana kami hidup dan berada ” . (M.D.K. halaman 317) . 

2. Tentang menjokong kemerdekaan negara-negara Asia, Afrika dan Amerika Latin 

a. Masalah keanggautaan RRT di P.B.B. 

Untuk mendjadikan P.B.B. kuat dan universil Rakjat Indonesia menjokong sepenuhnja keanggautaan RRT dalam P.B.B. ditegaskan oleh Presiden /Panglima Tertinggi /Pemimpin Besar Revolusi Indonesia - Bung Karno sebagai berikut: 

„Organisasi bangsa -bangsa ini telah dilemahkan selama ia masih menolak perwakilan sesuatu bangsa, dan teristimewa suatu bangsa tua dan bidjaksana serta kuat. 

Saja maksudkan Tiongkok. Saja maksudkan jang sering disebut Tiongkok Komunis, jang bagi kami adalah satu-satunja Tiongkok jang sebenarnja . Organisasi bangsa-bangsa ini sangat dilemahkan , djustru karena ia menolak keanggautaan bangsa jang terbesar di dunia. 

Setiap tahun kami menjokong diterimanja Tiongkok kedalam Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai anggauta. Kami akan terus melakukannja. Kami tidak memberikan sokongan itu semata -mata karena kami mempunjai hubungan baik dengan negara tersebut. Dan pasti sokongan itu tidak kami berikan karena sesuatu alasan partisan . Tidak, pendirian kami mengenai persoalan ini dibimbing oleh realisme politik. Dengan setjara pitjik mengetjualikan suatu bangsa jang besar, bangsa agung dan kuat dalam arti kwantitet, kebudajaan, tjiri-tjiri suatu perabadan kuno, suatu bangsa jang penuh dengan kekuatan dan daja ekonomi, dengan mengetjualikan bangsa itu kita lebih melemahkan Organisasi internasional ini, dan. dengan demikian, lebih mendjauhkannja dari kebutuhan dan tjita tjita kita". (M.D.K. halaman 330). 

b. Masalah Vietnam, Korea dan Afrika. 

Rakjat Indonesia menjokong penuh perd juangan penjatuan kembali Rakjat jang terpet jah-belah setjara paksa oleh kaum imperialis seperti penjatuan kembali Korea, Vietnam dan Afrika seperti ditegaskan oleh Presiden / Panglima Tertinggi/ Pemimpin Besar Revolusi Indonesia - Bung Karno sebagai berikut:

 „ Kami di Asia tidak pernah mengenal keadaan damai ! Setelah perdamaian datang untuk Eropah, kami merasai akibat bom-bom atom . Kami merasai revolusi nasional kami sendiri di Indonesia. Kami merasai penjiksaan Vietnam. Kami menderita penganiajaan Korea Kami masih senantiasa menderita kepedihan Aldjazair. Apakah sekarang ini seharusnja giliran saudara- saudara kita di Afrika ? Apakah mereka harus disiksa, sedangkan luka- luka kami masih belum sembuh ? 

Toh masih sadja Barat dalam keadaan damai. Herankah tuan - tuan bahwa kami sekarang menuntut, ja, menuntut, batalnja siksaan terhadap kami? Herankah tuan - tuan, bahwa kini suara saja diperdengarkan sebagai protes ? 

Kami, jang dulu tidak bersuara, mempunjai tuntutan -tuntutan dan kebutuhan -kebutuhan ; kami berhak untuk didengar. Kami bukannja barang perdagangan, tetapi adalah bangsa -bangsa jang Iridup dan jang perkasa , jang mempunjai peranan didunia ini , dan jang harus memberikan sumbangannja. 

Saja pergunakan kata -kata jang keras, dan saja pergunakan kata - kata ini dengan sengadja, karena saja punja pendirian jang tegas mengenai soal ini . Dengan sengadja saja pergunakan kata- kata keras, karena saja berbitjara untuk bangsa saja dan karena saja berbitjara dimuka pemimpin -pemimpin bangsa-bangsa. 

Selain daripada itu , saja tahu bahwa saudara- saudara saja di Asia dan Afrika mempunjai pendirian jang sama tegasnja, walau pun saja tidak berani berbitjara atas nama mereka ” . (M.D.K. ha laman 307). 

c. Masalah kemerdekaan negara-negara djad jahan. 

Rakjat Indonesia menjokong sepenuhnja perd juangan kemer dekaan seluruh bangsa jang masih terd jad jah di Asia - Afrika dan Amerika Latin seperti ditegaskan oleh Presiden / Panglima Tertinggi/ Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Karno sebagai berikut: 

„ Banjak diantara tuan- tuan dalam Sidang ini tidak pernah mengenal imperialisme. Banjak diantara tuan- tuan lahir merdeka dan akan mati merdeka . Beberapa diantara tuan- tuan lahir dari bangsa -bangsa jang telah mendjalankan imperialisme terhadap jang lain , tetapi tidak pernah menderitain ja sendiri . Akan tetapi sauda ra -saudara saja di Asia dan Afrika telah mengenal tjambuk imperial isme. Mereka telah menderitanja. Mereka mengenal bahajanja dan kelitjikannja serta keuletannja. 

Kami di Indonesia mengenalnja djuga. Kami adalah ahli-ahli dalam soal ini ! Berdasarkan pengetahuan itu dan berdasarkan pengalaman itu, saja katakan pada tuan- tuan bahwa berlandjutnja imperialisme dalam setiap bentuknja merupakan suatu bahaja jang besar dan jang berlarut- larut" . ( M.D.K. halaman 308). 

...... perdjuangan untuk kemerdekaan senantiasa dibenarkan dan senantiasa benar. Mereka jang menentang gerak -madju jang tidak terelakkan dari kemerdekaan nasional dan hak menentukan nasib sendiri, adalah buta ; mereka jang berusaha untuk mengemba likan apa jang tidak dapat dikembalikan merupakan bahaja bagi mereka sendiri dan bagi dunia ". (M.D.K. halaman 309). 

„ Memang, saja tidak perlu membentangkan kepada tuan-tuan, bahwa kami dari Asia dan Afrika menentang kolonialisme dan imperialisme. Lebih daripada itu, siapakah dalam dunia sekarang ini masih akan membela hal- hal itu? Setjara universil hal-hal itu telah dikutuk, dan sudah sepantasnja, dan alasan -alasan sinis jang usang itu tidak terdengar lagi. Pertentangan sekarang berpusat pada persoalan kapankah daerah-daerah djadjahan akan merdeka, dan bukan pada persoalan apakah mereka akan merdeka. 

Tetapi saja hendak menegaskan soal ini. Oposisi kami terhadap kolonialisme dan imperialisme timbul baik dari hati maupun dari kepala kami. Kami menentangnja atas dasar kemanusiaan , dan kami menentangnja pula dengan alasan bahwa hal ini merupakan suatu antjaman jang besar dan makin besar lagi terhadap perda maian ” . (M.D.K. halaman 310-311). 

d. Masalah Kongo. 

Rakjat Indonesia menjokong penuh perd juangan kemerdekaan Rakjat Kongo menuntut dihormatin ja kedaulatan dan kemerdekaan Kongo dan menentang tjampur- tangan asing seperti ditegaskan oleh Presiden / Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Karno sebagai berikut : 

„Keadaan di Kongo jang sangat disesalkan adalah langsung disebabkan oleh imperialisme, dan tidak disebabkan oleh berachir. nja imperialisme itu . Imperialisme berusaha untuk mempertahan kan kedudukannja di Kongo, berusaha untuk dapat memutungkan dan melumpuhkan Negara baru itu . Itulah sebabnja Kongo berko bar”. (M.D.K. halaman 317-318). 

„ Masalah Kongo, jang merupakan masalah kolonialisme dan imperialisme, harus diselesaikan dengan menggunakan prinsip 111 e. prinsip jang telah saja uraikan tadi. Kongo adalah Negara jang berdaulat. Hendaknja kedaulatan itu dihormati. Ingatlah : kedau. latan Kongo tidak kurang daripada kedaulatan setiap bangsa jang diwakili dalam Madjelis ini, dan kedaulatan ini harus dihormati setjara sama. 

Dalam soal- soal dalam negeri Kongo tidak boleh ada tjampur tangan dan sama sekali tidak boleh ada bantuan, baik jang terang, terangan maupun jang tersembunji, untuk menghantjurkan negara ini" . (M.D.K. halaman 318). 

e. Masalah Aldjazair. 

Rakjat Indonesia menjokong sepenuhnja perd juangan kemer dekaan Rakjat Aldjazair seperti ditegaskan oleh Presiden / Pang lima Tertinggi / Pemimpin Besar Revolusi Indonesia — Bung Karno sebagai berikut : 

„ Sudah djelas sekali bahwa rakjat Aldjazair menghendaki kemerdekaan. 

Maka, adakanlah suatu plebisit dibawah pengawasan Perse rikatan Bangsa-Bangsa di Aldjazair untuk menentukan kehendak rakjat akan betapa akrab dan selaras hubungan-hubungan itu se harusnja. Plebisit itu hendaknja djangan mengenai soal kemerde kaan. Kemerdekaan itu sudah ditentukan dengan darah dan air. mata, dan pastilah akan berdiri suatu Aldjazair jang Merdeka". (M.D.K. halaman 320). 

f. Masalah Kuba dan Laos. 

Rakjat Indonesia menjokong perd juangan Rakjat Kuba dan Rakjat Laos untuk kemerdekaan dibidang politik dan ekonomi. 

3. Tentang Ko-eksistensi dan Perlutjutan Sendjata 

Rakjat Indonesia mendesak pelaksanaan ko -eksistensi untuk seluruh negara didunia dengan tidak memandang perbedaan filsafah hidup, sistim politik dan sosial jang telah dibuktikan selama limabelas tahun di Barat, seperti ditegaskan oleh Presiden / Panglima Tertinggi /Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Karno sebagai berikut: 

,,Selama limabelas tahun ini Barat telah mengenal perda. maian, atau sekurang- kurangnja ketiadaan perang. Tentu sadja, ada ketegangan-ketegangan. Memang, ada bahaja. Tetapi tetap merupa kan kenjataan, bahwa ditengah- tengah suatu revolusi jang meliputi tiga perempat dari dunia, Barat tetap dalam keadaan damai . Kedua blok besar, sebetulnja, telah berhasil mempraktekkan ko- eksistensi selama tahun -tahun itu, sehingga dengan demikian membantah mereka jang menjangkal kemungkinan adanja ko-eksistensi ” . (M.D.K. halaman 306-307). 

Dalam „ MEMBANGUN DUNIA KEMBALI” Presiden mene gaskan bahwa tidak ada hal jang lebih mendesak tentang perlutjutan send jata setjara umum dan mutlak sebagai hal jang sangat mendesak, tidak dapat diselesaikan oleh negara-negara besar sadja, tetapi harus mengikut- sertakan negara -negara non -blok seperti ditegaskan oleh Presiden /Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi Indonesia - Bung Karno sebagai berikut: 

„ Perlutjutan sendjata merupakan suatu keperluan jang men desak dalam dunia ini. Persoalan jang terpenting ini dari semua masalah harus dirundingkan dan dipetjahkan dalam rangka Orga nisasi ini . Namun bagaimana dapat tertjapai suatu persetud juan realistis mengenai perlutjutan sendjata, bila Tiongkok jang meru pakan salah satu negara terkuat dalam dunia ini, tidak diturut sertakan dalam musjawarah -musjawarah itu ? ” . (M.D.K. hala man. 306). 

„ Dewasa ini , kita banjak mendengar dan membatja mengenai perlutjutan sendjata. Perkataan itu biasanja dipakai dalam hubung an perlutjutan sendjata nuklir dan atom ” . (M.D.K. halaman 311). 

„Mengenai persoalan- persoalan peperangan nuklir, saja hanja seorang biasa sadja, mungkin seperti tetangga tuan atau seperti saudara tuan atau bahkan seperti ajah tuan . Saja ikut merasakan kengerian mereka, saja ikut merasakan ketakutan mereka. 

Saja ikut merasakan kengerian dan ketakutan , itu karena saja adalah bagian dari dunia ini . Saja punja anak -anak , dan haridepan mereka terantjam bahaja. Saja seorang Indonesia, dan bangsa itu terantjam bahaja ". (M.D.K. halaman 311-312). 

„ Djelaslah, bahwa masalah perlutjutan sendjata bukan hanja perselisihan pendapat tentang dasar-dasar tehnis jang sempit” . (M.D.K. halaman 313). 

„ Tidak sesuatupun lebih mendesak daripada hal ini. Dan persoalan ini adalah demikian vital bagi seluruh ummat manusia, sehingga seluruh ummat manusia harus diikut-sertakan dalam pemetjahannja. Saja kira pada saat ini kita boleh berkata, bahwa sebenarnja hanjalah desakan dan usaha dari negara- negara non blok akan memberikan hasil jang diperlukan seluruh dunia. Pem bitjaraan jang sungguh -sungguh tentang perlutjutan sendjata, dida lam rangka organisasi ini , dan didasarkan pada suatu harapan jang sungguh -sungguh akan suksesnja, adalah jang essensiil sekarang ini" . (M.D.K. halaman 314). 

Akibat tert ja pain ja perlut jutan send jata setjara umum dan mutlak bagi kesed jahteraan ummat manusia Presiden /Panglima Tertinggi /Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Karno menegaskan sebagai berikut: 

.,Renungkan, renungkan sedjenak, apa jang mungkin terdjadi djika kita dapat meletakkan suatu dasar bagi perlutjutan sendjata jang sedjati. Ingatlah akan dana -dana jang sangat besar jang dapat digunakan untuk perbaikan dunia dimana kita hidup ini . Ingatlah akan daja gerak jang maha hebat jang dapat diberikan kepada perkembangan mereka jang kurang madju, sekalipun hanja seba hagian sadja dari anggaran belandja pertahanan dari Negara Negara Besar disalurkan kearah itu . Ingatlah akan bertambahnja setjara hebat kebahagiaan manusia , produktivitet manusia dan kese djahteraan manusia , djika hal itu diselenggarakan .” (M.D.K. halaman 314). 

Rakjat Indonesia mengutuk dan menuntut dilarangnja pem buatan dan pertjobaan bom Atom dan bom Hydrogin , menud ju kepada perlut jutan send jata jang sungguh -sungguh seperti ditegas kan oleh Presiden / Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi Indonesia - Bung Karno sebagai berikut :

,,Tidak orang machlukpun berhak untuk menggunakan hak -hak prerogatif dari Tuhan Jang Maha Kuasa. Tidak seorang pun berhak mempergunakan bom- bom hydrogin . Tidak satu bang, sapun berhak untuk menjebabkan kemungkinan hantjurnja semua bangsa-bangsa. 

Tidak suatu sistim politik, tiada suatu organisasi ekonomi jang lajak untuk menjebabkan musnahnja dunia, termasuk sistim mau pun organisasi itu sendiri" . (M.D.K. halaman 134) . „ Kami bangsa Asia telah menderita akibat bom atom ” . (M.D.K. halaman 312). 

„ Djika ada suatu immoralitet jang lebih besar daripada mem peragakan sendjata-sendjata hydrogin, maka hal itu adalah mela kukan pertjobaan- pertjobaan dengan sendjata - sendjata tersebut” . (M.D.K. halaman 313). 

„ Pada dewasa ini pertjobaan -pertjobaan dengan sendjata sendjata nuklir ditangguhkan, — perhatikan tidak dilarang, tetapi hanja ditangguhkan. Maka, marilah kita pergunakan kenjataan ini sebagai permulaan. Marilah kita pergunakan kenjataan ini sebagai dasar untuk melarang pertjobaan, dan kemudian untuk perlutjutan sendjata jang sungguh-sungguh ”. (M.D.K. halaman 315). 

4. Tentang Retooling P.B.B. 

Rakjat Indonesia menaruh perhatian chusus terhadap P.B.B. sebagai satu -satun ju badan internasional jang mend jadi harapan bangsa- bangsa didunia untuk menjelesaikan masalah - masalah dan pertikaian -pertikaian internasional, guna mentjapai kemerdekaan bangsa- bangsa dan kesed jahteraan ummat manusia , seperti jang ditegaskan oleh Presiden /Panglima Tertinggi / Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Karno sebagai berikut: 

„ Mereka itu, dan rakjat Asia dan Afrika , rakjat - rakjat benua Amerika dan benua Eropah serta rakjat benua Australia, sedang memperhatikan dan mendengarkan serta mengharap -harap. Orga nisasi Perserikatan Bangsa- Bangsa ini bagi mereka merupakan suatu harapan akan masa -depan dan suatu kemungkinan -baik bagi zaman sekarang ini” . ( M.D.K. halaman 297). 

„ Kita bertekad untuk mendjadikan Perserikatan Bangsa Bangsa kuat dan universil serta mampu untuk memenuhi fungsinja jang lajak ” . (M.D.K. halaman 300). 

Perserikatan Bangsa- Bangsa tidak lagi merupakan badan seperti jang menandatangani Piagam limabelas tahun jang lalu. Dunia inipun tidak sama dengan jang dahulu. Mereka jang dengan kebidjaksanaan berdjerih - pajah untuk menghasilkan Piagam Orga nisasi ini, tidak dapat menjangka akan terdjelmanja bentuk jang sekarang ini. Diantara orang-orang jang bidjaksana dan djauh pandangannja itu, hanja beberapa jang sadar, bahwa achir imperial isme sudah tampak dan bahwa bila Organisasi ini harus hidup terus, maka ia mesti memberi kemungkinan kepada bangsa -bangsa baru dan bangsa-bangsa jang lahir kembali untuk masuk beramai ramai, berdujun -dujun dan bersemangat". (M.D.K. halaman 338-339). 

b. Rakjat Indonesia menghendaki supa ja P.B.B. menempatkan kewibawaan dan kekuatan moriln ja dibelakang perd juangan kemer dekaan bangsa -bangsa setjara tegas dan djelas, seperti jang ditegaskan oleh Presiden /Panglima Tertinggi / Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Karno sebagai berikut: 

„ Perserikatan Bangsa-Bangsa ini adalah suatu organisasi dari Negara- Negara Bangsa jang masing-masing menggenggam permata itu kuat-kuat sebagai sesuatu jang berharga . Kita semuanja telah berhimpun dengan sukarela, sebagai saudara dan sederadjat dalam Organisasi ini. Sebagai saudara dan sederad jat, karena kita semua. nja memiliki kedaulatan jang sederadjat, dan kita semua mengang. gap kedaulatan jang sederadjat itu sama-sama berharga” . (M.D.K. halaman 304). 

„Perserikatan Bangsa-Bangsa sekarang ini djuga berkesem patan untuk membangun bagi dirinja sendiri reputasi dan gensi jang besar. Mereka jang berdjuang untuk kemerdekaan akan men tjari sokongan dan sekutu -sekutu dimana sadja dapat diperolehnja ; alangkah baiknja bilamana mereka berpaling kepada badan ini dan kepada Piagam kita daripada kepada sesuatu kelompok atau bagian dari badan ini” . (M.D.K. halaman 309). 

,, Disini hendak saja kemukakan peringatan jang sangat serieus. Banjak anggauta organisasi ini dan banjak pedjabat organisasi ini, mungkin tak begitu menjadari perbuatan-perbuatan imperialisme dan kolonialisme.

Mereka tak pernah mengalaminja ; mereka tak mengenal keuletannja dan kebengisannja, dan banjaknja mukanja, dan kedja. hatannja. 

Kami dari Asia dan Afrika mengenalnja. Saja katakan pada tuan - tuan : Djanganlah bertindak sebagai alat jang tak- tahu apa- apa dari imperialisme. Djanganlah bertindak sebagai tangan kanan jang buta dari kolonialisme. Djika tuan bertindak demikian, maka tuan pasti akan membunuh Organisasi Perserikatan Bangsa- Bangsa ini, dan dengan begitu tuan akan membunuh harapan dari berdjuta djuta manusia jang tiada terhitung itu dan mungkin tuan akan menjebabkan hari- depan mati dalam kandungan ” . (M.D.K. hala man 319). 

Kita hidup ditengah- tengah Revolusi Tuntutan Jang Meningkat. Mereka jang dahulunja tanpa kemerdekaan, kini menuntut kemer dekaan. Mereka jang dahulunja tanpa suara, kini menuntut, agar suaranja didengar. 

Mereka jang dahulunja kelaparan, kini menuntut beras, banjak banjak dan setiap hari . Mereka jang dahulunja buta huruf, kini menuntut pendidikan. 

Seluruh dunia ini merupakan suatu sumber- sumber tenaga Revolusi jang besar, suatu gudang mesiu revolusioner jang besar. 

Tidak kurang dari tiga- perempat ummat manusia terlibat didalam Revolusi Tuntutan Jang Meningkat, dan ini adalah Revo lusi Mahahebat sedjak manusia untuk pertama kalinja berdjalan dengan tegak disuatu dunia jang murni dan menjenangkan. 

Berhasil atau gagalnja Organisasi ini akan dinilai dinilai dari hubungannja dengan Revolusi Tuntutan Jang Meningkat itu . Gene rasi - generasi jang akan datang akan memudji atau mengutuk kita atas djawaban kita terhadap tantangan ini” . (M.D.K. halaman 337-338). 

c. Rakjat Indonesia sangat kewatir terhadap P.B.B. dewasa ini jang tern jata tidak mampu menjelesaikan masalah -masalah inter nasional, tidak mampu menjelesaikan persengketaan -persengketaan internasional atas prinstp musjawarah, tidak mampu memenuhi tuntutan zaman pembangunan bangsa -bangsa, tidak mentjerminkan keadaan dunia sekarang ini seperti jang ditegaskan oleh Presiden / Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi Indonesia — Bung Karno sebagai berikut: 

„ Djanganlah memperlakukan masalah -masalah jang akan tuan tuan perbintjangkan sebagai masalah routine. Bila diperlakukan demikian, maka Organisasi ini jang telah memberikan kita suatu harapan untuk masa- depan, suatu kemungkinan- baik akan adanja persesuaian internasional, mungkin akan petjah. Ia mungkin akan lenjap perlahan -lahan dibawah gelombang pertikaian, sebagaimana dialami oleh organisasi jang digantikannja. Bila hal itu terdjadi, maka ummat manusia sebagai keseluruhan akan menderita, dan suatu impian jang agung, suatu tita -tjita jang agung, akan hantjur. Ingatlah bukanlah hanja kata-kata jang tuan- tuan hadapi. Bukan lah pion- pion diatas papan tjatur jang tuan - tuan hadapi. Jang tuan tuan hadapi adalah manusia, impian - impian manusia, tjita - tjita manusia, dan hari depan semua manusia ” . (M.D.K. halaman 301). 

,,Sedjak hari bersedjarah ditahun Sembilanbelas Empatpuluh Lima dunia telah berobah , dan dia telah berobah kearah perbaikan. Dari pembangunan bangsa -bangsa ini telah muntjul kemungkinan ja , keharusan akan suatu dunia jang bebas dari ketakutan, bebas dari kekurangan, bebas dari penindasan penindasan nasional” . (M.D.K. halaman 302). 

„ Pergolakan -pergolakan kolonial, perkembangan jang tjepat dari daerah -daerah jang belum madju dilapangan tehnis, dan mas alah perlutjutan sendjata, semuanja merupakan masalah -masalah jang tepat dan mendesak untuk kita pertimbangkan dan musjawa rahkan. Akan tetapi, telah mendjadi djelas, bahwa masalah- masalah jang vital ini tidak dapat dibitjarakan setjara memuaskan oleh Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa jang sekarang ini. Sedjarah badan ini menundjukkan kebenaran jang menjedihkan dan jang djelas daripada apa jang telah saja katakan ” . ( M.D.K. halaman 339). 

„ Kami memandangnja dengan kechawatiran besar, karena kami telah mengadjukan suatu masalah nasional jang besar, masa. lah Irian Barat, kehadapan Madjelis ini, dan tiada suatu penjele. zaman 118 saian dapat ditjapai . Kami memandangnja dengan kechawataran, karena Negara- Negara Besar didunia telah memasukkan permainan Perang Dingin mereka jang berbahaja itu kedalam ruangan - ruangannja ”. (M.D.K. halaman 341). 

d. Prinsip musjawarah bukanlah sesuatu jang idealistis, tetapi prinsip jang memang dapat dilaksanakan seperti ditegaskan oleh Presiden /Pangbima Tertinggi/ Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Karno sebagai berikut : 

,, Satu -satunja tjara bagi organisasi ini untuk dapat mendja lankan fungsinja setjara memuaskan, ialah dengan djalan mufakat jang diperoleh dalam musjawarah . Musjawarah harus dilakukan sedemikian rupa, sehingga tidak ada saingan antara pendapat-pen dapat jang bertentangan, tidak ada resolusi- resolusi dan resolusi resolusi balasan, tidak ada pemihakan- pemihakan, melainkan hanja usaha jang teguh untuk mentjari dasar umum dalam memetjahkan sesuatu masalah. Dari musjawarah sematjam ini timbullah permu fakatan, suatu kebulatan pendapat, jang lebih kuat daripada suatu resolusi jang dipaksakan melalui djumlah suara majoritet, suatu resolusi jang mungkin tidak diterima , atau jang mungkin tidak disukai minoritet”. (M.D.K. halaman 333). 

„ Kami mhu dari pengalaman jang sama pahitnja, sama prak. tisnja dan sama realistisnja, bahwa tjara-tjara musjawarah kami dapat pula diselenggarakan dibidang internasional. Dibidang itu tjara- tjara itu berdjalan sama baiknja seperti dibidang nasional”. (M.D.K. halaman 334). 

„ Konperensi Asia - Afrika diselenggarakan dengan tjara-tjara musjawarah. 

Dalam konperensi itu tidak terdapat majoritet dan minoritet . Tidak pula diadakan pemungutan suara. Dalam konperensi itu hanja terdapat musjawarah dan keinginan umum untuk mentjapai persetudjuan. Konperensi itu menghasilkan komuniké jang dibuat dengan suara bulat, komuniké jang merupakan salah suatu jang terpenting dalam windu ini atau mungkin salah satu dokumen jang terpenting dalam sedjarah ” . (M.D.K. halaman 335). 

„ Saja jakin bahwa pemakaian dengan tulus ichlas dari tjara tjara musjawarah demikian ini akan mempermudah pekerdjaan organisasi internasional ini. Ja, barangkali tjara ini akan memung. kinkan pekerdjaan jang sebenarnja dari organisasi ini. Tjara musja warah ini akan menundjukkan djalan untuk menjelesaikan banjak masalah -masalah jang makin bertumpuk bertahun - tahun . Tjara musjawarah ini akan memungkinkan terselesaikannja masalah. masalah jang tampaknja tidak terpetjahkan”. (M.D.K. halaman 335). 

c. Berhubung dengan kenjataan -ken jataan tersebut diatas Pre siden / Panglima Tertinggi /Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Karno mendesak : 

1. Supa ja Markas Besar P.B.B. dipindahkan ketempat jang bebas dari suasana perang -dingin seperti ditegaskan oleh Presiden Panglima Tertinggi / Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Karno sebagai berikut : 

„ Bahwasanja kedudukan Perserikatan Bangsa -Bangsa berada dalam wilajah salah satu negara jang terkemuka dalam Perang Dingin, berarti Perang Dingin telah merembes bahkan sampai kepe kerdjaan dan administrasi serta rumah -tangga Organisasi kita ini . Sedemikian luasnja perembesan itu, sehingga hadirnja pemimpin sesuatu bangsa jang besar dalam sidang Perserikatan Bangsa - Bangsa ini sadja sudah mendjadi persoalan Perang Dingin dan sendjata Perang Dingin, serta alat untuk mempertadjam tjara kehidupan jang berbahaja serta jang sia -sia itu. 

Marilah kita tindjau apakah tempat kedudukan Organisasi kita tidak perlu dipindahkan dari suasana Perang Dingin . Marilah kita tindjau apakah Asia atau Afrika atau Djenewa akan dapat memberi tempat jang permanen kepada kita, jang djauh dari Perang Dingin , tidak terikat pada salah suatu blok dan dimana para Delegasi dapat bergerak dengan leluasa dan bebas sekehendak mereka. Dengan demikian , mungkin akan diperoleh pengertian jang lebih luas ten tang dunia dan masalah -masalahnja. 

Saja jakin, bahwa suatu negara Asia atau Afrika, mengingat akan kejakinan dan kepertjajaannja, dengan senang akan mengun 120 djukkan kemurahan hatinja kepada Perserikatan Bangsa - Bangsa, mungkin dengan menjediakan suatu daerah jang tjukup luas, dima na Organisasi itu sendiri akan berdaulat dan dimana perundingan perundingan jang penting bagi pekerdjaan vital itu dapat dilaksa nakan setjara aman dan dalam suasana persaudaraan ”. (M.D.K. halaman 338). 

2. Supaja Piagam P.B.B. ditindjau kembali dan disesuaikan dengan tuntutan zaman pembangunan bangsa-bangsa dewasa ini berlandaskan kepada adjaran Pantja Sila seperti ditegaskan oleh Presiden / Panglima Tertinggi / Pemimpin Besar Revolusi Indonesia - Bung Karno sebagai berikut: 

„ Benar, Perserikatan Bangsa - Bangsa tidak hanja terdiri dari. pada Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa sadja. Meskipun demi kian, dokumen jang bersedjarah itu tetap merupakan bintang pembimbing dan ilham Organisasi ini . Dalam banjak hal Piagam mentjerminkan konstelasi politik dan kekuatan daripada saat dila hirkannja. Dalam banjak hal Piagam itu tidak mentjerminkan kenjataan- kenjataan masa sekarang. 

Oleh karena itu marilah kita pertimbangkan apakah Lima Sila jang telah saja kemukakan , dapat memperkuat dan memper baiki Piagam kita . 

Saja jakin, ja, saja jakin sejakin - jakinnja bahwa diterimanja kelima prinsip itu dan ditjantumkannja dalam Piagam , akan sangat memperkuat Perserikatan Bangsa- Bangsa . Saja jakin, bahwa Pantja Sila akan menempatkan Perserikatan Bangsa -Bangsa sedjadjar dengan perkembangan terachir dari dunia . Saja jakin bahwa Pantja Sila akan memungkinkan Perserikatan Bangsa - Bangsa untuk meng. hadapi hari kemudian dengan kesegaran dan kepertjajaan . Achir nja, saja jakin bahwa diterimanja Pantja Sila sebagai dasar Piagam , akan menjebabkan Piagam ini dapat diterima lebih ichlas, oleh semua anggauta , baik jang lama maupun jang baru ” . ( M.D.K. halaman 337). 

,,Sedjak perang kita telah menjaksikan tiga gedjala -gedjala besar jang permanen. 

Pertama ialah bangkitnja negara- negara Sosialis. Hal ini tidak disangka dalam tahun Sembilanbelas Empatpuluh Lima. Kedua ialah gelombang besar daripada pembebasan nasional dan emansi pasi ekonomi jang melanda Asia dan Afrika serta saudara-saudara kita di Amerika Latin. Saja kira bahwa hanja kita, jang langsung terkibat didalamnja, dapat menduganja. Ketiga ialah kemadjuan ilmiah besar, jang semua bergerak dilapangan persendjataan dan peperangan, akan tetapi jang dewasa ini berpindah kelapangan rintangan dan perbatasan ruang angkasa. Siapakah jang dapat meramalkannja ketika itu?

Benar, Piagam kita dapat dirobah . Saja menjadari, bahwa ada prosedure untuk melakukan hal ini dan akan tiba waktunja ini dapat dilakukan. Akan tetapi persoalan ini mendesak. Hal ini mungkin merupakan persoalan mati atau hidup bagi Perserikatan Bangsa- Bangsa. Djanganlah sampai pandangan legalistik jang pitjik dapat menghalangi dikerdjakannja usaha itu dengan segera ”. ( M.D.K. halaman 340-341). 

3. Supaja organisasi dan keanggautaan Dewan Keamanan dan Lembaga-Lembaga P.B.B. lainnja mentjerminkan bangkitn ja Negara- Negara Sosialis ataupun berkembangnja dengan tjepat ke merdekaan negara -negara Asia - Afrika seperti ditegaskan oleh Presiden /Panglima Tertinggi/ Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Karno sebagai berikut: 

„ Organisasi dan keanggautaan Dewan Keamanan badan jang terpenting itu — mentjerminkan peta ekonomi, militer dan kekuatan daripada dunia tahun Sembilanbelas Empatpuluh Lima, ketika Organisasi dilahirkan dari inspirasi dan angan - angan jang besar. 

Demikian pula halnja dengan sebagian besar be daripada Lembaga- Lembaga lainnja. Mereka itu tidak mentjerminkan bang kitnja negara- negara Sosialis ataupun berkembangnja dengan tjepat kemerdekaan Asia dan Afrika " . ( M.D.K. halaman 339-340).. 

„ Adalah sama pentingnja bahwa pembagian kursi dalam Dewan Keamanan dan badan -badan serta lembaga-lembaga lainnja harus dirobah . Dalam hal ini saja tidak berpikir dalam istilah blok 122 blokan, tetapi saja memikirkan betapa sangat perlunja Piagam dari Perserikatan Bangsa -Bangsa, dari badan - badan Perserikatan Bangsa- Bangsa dan Sekretariat Perserikatan Bangsa- Bangsa, semua nja itu mentjerminkan keadaan jang sebenarnja dari dunia kita sekarang ini" . (M.D.K. halaman 341) . 

4. Supa ja Sekretariat P.B.B. jang dipimpin Sekd jen diretool seperti ditegaskan oleh Presiden / Panglima Tertinggi /Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Karno sebagai berikut: 

„ Untuk memodernisir dan membuat efisien Organisasi kita, barangkali djuga Sekretariat dibawah pimpinan Sekretaris Djen dralnja, mungkin membutuhkan penindjauan kembali . Dengan mengatakan demikian, saja tidak -- sama sekali tidak - menge ritik atau mentjela dengan tjara apapun Sekretaris Djenderal jang sekarang , jang senantiasa berusaha, dalam keadaan -keadaan ng tak dapat diterima lagi, melakukan tugasnja dengan baik, jang kadang-kadang tampaknja tidak mungkin dilaksanakan. 

Djadi, bagaimanakah mereka bisa efisien ? Bagaimanakah ang. gauta -anggauta kedua golongan dalam dunia ini -- jakni golongan golongan jang merupakan suatu kenjataan dan jang harus diterima - bagaimanakah anggauta -anggauta kedua golongan itu bisa mera. sa tenang didalam Organisasi ini dan mempunjai kepertjajaan penuh jang diperlukan terhadapnja " . (M.D.K. halaman 340). 

Achirnja Presiden /Panglima Tertinggi /Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Karno - sebagai penjambung lidah rakjat Indonesia, men jatakan ijita - tjita ralejat Indonesia untuk membangun dunia baru sebagai berikut: 

„„Kami tidak berusaha mempertahankan dunia jang kami kenal ; kami berusaha membangun suatu dunia jang baru , jang lebih baik ! Kami berusaha membangun suatu dunia jang seha dan aman . Kami berusaha membangun suatu dunia, dimana setiap orang dapat hidup dalam suasana damai. Kami berusaha memba ngun suatu dunia, dimana terdapat keadilan dan kemakmuran untuk semua orang. Kami berusaha membangun suatu dunia, dima na kemanusiaan dapat mentjapai kedjajaannja jang penuh .." ( M.D.K. halaman 342)

,,Bangunlah dunia ini kembali ! Bangunlah dunia ini kokoh dan kuat dan sehat! Bangunlah suatu dunia dimana semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan . Bangunlah dunia jang sesuai dengan impian dan tjita - tjita ummat manusia. Putuskan sekarang hubungan dengan masa- lampau karena fadjar sedang menjingsing. Putuskan sekarang hubungan dengan masa - lampau, sehingga kita bisa mempertanggung -djawabkan diri terhadap masa-depan ”. ( M.D.K. halaman 345). 

V. KESIMPULAN 

1. Politik Luar Negeri Republik Indonesia mentjerminkan satu konsepsi nasional jang ber- azaskan Pantja Sila dengan tjita tjita internasionalisme untuk kesed jahteraan dunia, perda maian dunia, persaudaraan dunia jang didukung oleh seluruh Rakjat Indonesia. 

2. Politik Luar Negeri bebas dan aktif Republik Indonesia sebagaimana pokok- pokoknja diuraikan diatas adalah politik jang memihak , jaitu memihak kemerdekaan dan perdamaian melawan imperialisme-kolonialisme dan perang agresif. 

3. Politik Luar Negeri bebas dan aktif Republik Indonesia harus menghimpun semua kekuatan progresif didunia dalam satu front Internasional untuk kemerdekaan dan perdamaian melawan imperialisme-kolonialisme dan perang agresif. 

4. Politik Luar Negeri Republik Indonesia ialah perdjuangan untuk tertjapainja persamaan kedaulatan bagi semua bangsa dengan penggunaan hak - hak azasi manusia dan hak -hak azasi nasional. 

5. Pantja Sila sebagai dasar Politik Luar Negeri Republik Indonesia dapat dipakai sebagai dasar Piagam P.B.B. karena Pantja Sila memberikan djaminan kepada pemetjahan soal soal antara manusia dan manusia, bangsa dengan bangsa. 

6. Bahwa hanja dengan mengikut-sertakan rakjat Politik Luar Negeri Republik Indonesia seperti digariskan dalam „ MEMBANGUN DUNIA KEMBALI" akan sukses.

7. Untuk suksesnja pelaksanaan garis- garis Politik Luar Negeri Republik Indonesia seperti diuraikan oleh Presiden /Panglima Tertinggi/ Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Karno dalam „ MEMBANGUN DUNIA KEMBALI” , perlu diadakan retooling dalam dinas diplomatik Republik Indo nesia, terhadap aparatur-aparatur pelaksana Politik · Luar Negeri, jang suka berkompromi dengan imperialisme, birokrat birokrat jang berdjiwa kintel jang konservatif reaksioner dalam soal Politik Luar Negeri, jang tidak berdjiwa Manipol Usdek. 


Djakarta, 19 Djanuari 1961. 



MEMBANGUN DUNIA KEMBALI

(TO BUILD THE WORLD ANEW)

Pidato Presiden Soekarno di muka Majelis Umum PBB ke-15
pada siang hari tanggal 30 September 1960


Tuan Ketua,

Para Yang Mulia,

Para utusan dan Wakil yang terhormat,

Hari ini, dalam mengucapkan pidato kepada Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, saya merasa tertekan oleh suatu rasa tanggung jawab yang besar. Saya merasa rendah hati berbicara di hadapan rapat agung daripada negarawan-negarawan yang bijaksana dan berpengalaman dari Timur dan Barat, dari Utara dan Selatan, dari bangsa-bangsa tua dan dari bangsa-bangsa muda dan dari bangsa-bangsa yang baru bangkit kembali dari tidur yang lama.

Saya telah memanjatkan doa kepada Tuhan yang Maha Kuasa agar lidah saya dapat menemukan kata-kata yang tepat untuk menyatakan perasaan hati saya, dan saya juga telah berdoa agar kata-kata ini akan bergema dalam hati sanubari mereka yang mendengarnya.

Saya merasa gembira sekali dapat mengucapkan selamat kepada Tuan Ketua atas pengangkatannya dalam jabatannya yang tinggi dan konstruktif. Saya juga merasa gembira sekali untuk menyampaikan, atas nama bangsa saya, ucapkan selamat datang yang sangat mesra kepada ke-16 anggota baru dari Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Kitab Suci Islam mengamanatkan sesuatu kepada kita pada saat ini. Qur'an berkata: "Hai, sekalian manusia, sesungguhnya Aku telah menjadikan kamu sekalian dari seorang lelaki dan seorang perempuan, sehingga kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar kamu sekalian kenal-mengenal satu sama lain. Bahwasanya yang lebih mulia di antara kamu sekalian, ialah siapa yang lebih taqwa kepada-Ku".

Dan juga Kitab Suci Injil agama Nasrani beramanat pada kita: "Segala kemuliaan bagi Allah di tempat yang Mahatinggi, dan sejahtera di atas bumi di antara orang yang diperkenan-Nya". Saya sungguh-sungguh merasa sangat terharu melepaskan pandangan saya atas Majelis ini. Di sinilah buktinya akan kebenaran perjuangan yang berjalan bergenerasi. Di sinilah buktinya, bahwa pengorbanan dan penderitaan telah mencapai tujuannya. Di sinilah buktinya, bahwa keadilan mulai berlaku, dan bahwa beberapa kejahatan besar sudah dapat disingkirkan.

Selanjutnya, sambil melepaskan pandangan saya kepada Majelis ini, hati saya diliputi dengan suatu kegirangan yang besar dan hebat. Dengan jelas tampak di mata saya menyingsingnya suatu hari yang baru, dan bahwa matahari kemerdekaan dan emansipasi, matahari yang sudah lama kita impikan, sudah terbit di Asia dan Afrika.

Sekarang, hari ini, saya berbicara di hadapan para pemimpin bangsa-bangsa dan para pembangun bangsa-bangsa. Namun, secara tidak langsung, saya juga berbicara kepada mereka yang tuan-tuan wakili, kepada mereka yang telah mengutus tuan-tuan kemari, kepada mereka yang telah mempercayakan hari depan mereka di tangan tuan-tuan. Saya sangat menginginkan agar kata-kata saya akan bergema juga di dalam hati mereka itu, di dalam hati nurani umat manusia, di dalam hati besar yang telah mencetuskan demikian banyak teriakan kegembiraan, demikian banyak jeritan penderitaan dan putus harapan, dan demikian banyak cinta kasih dan tawa.

Hari ini, Presiden Soekarno lah yang berbicara di hadapan tuan-tuan. Namun lebih dari itu, ia adalah seorang manusia, Soekarno, seorang Indonesia, seorang suami, seorang bapak, seorang anggota keluarga umat manusia. Saya berbicara kepada tuan-tuan atas nama rakyat saya, mereka yang 92 juta banyaknya di suatu nusantara yang jauh dan luas, 92 juta jiwa yang telah mengalami hidup penuh dengan perjuangan dan pengorbanan, 92 juta jiwa yang telah membangun suatu negara di atas reruntuhan suatu Imperium.

Mereka itu, dan rakyat Asia dan Afrika, rakyat-rakyat benua Amerika dan benua Eropa serta rakyat benua Australia, sedang memperhatikan dan mendengarkan serta mengharap-harap. Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa ini bagi mereka merupakan suatu harapan akan masa depan dan suatu kemungkinan baik bagi zaman sekarang ini.

Keputusan untuk menghadiri Sidang Majelis Umum ini bukanlah merupakan suatu keputusan yang mudah bagi saya. Bangsa saya sendiri menghadapi banyak masalah, sedangkan waktu untuk memecahkan masalah-masalah itu selalu sangat terbatas. Akan tetapi sidang ini mungkin merupakan sidang Majelis yang terpenting yang pernah dilangsungkan dan kita semuanya mempunyai suatu tanggung jawab kepada dunia seluruhnya, di samping kepada bangsa-bangsa kita masing-masing.

Tak seorangpun di antara kita dapat menghindari tanggung jawab itu, dan pasti tak seorangpun ingin menghindarinya. Saya sangat yakin bahwa pemimpin-pemimpin dari negara-negara yang lebih muda dan negara-negara yang lahir kembali dapat memberikan sumbangannya yang sangat positif untuk pemecahan demikian banyak masalah-masalah yang dihadapi organisasi ini dan dunia pada umumnya. Memang, saya percaya bahwa orang akan mengatakan sekali lagi bahwa: "Dunia yang baru itu diminta untuk memperbaiki keseimbangan dunia yang lama".

Jelaslah bahwa pada dewasa ini segala masalah dunia kita saling berhubungan. Kolonialisme mempunyai hubungan dengan keamanan; keamanan mempunyai hubungan dengan persoalan perdamaian dan perlucutan senjata; perlucutan senjata berhubungan dengan perkembangan secara damai dari negara-negara yang belum maju. Ya, segala itu saling bersangkut-paut. Jika kita pada akhirnya berhasil memecahkan satu masalah, maka terbukalah jalan untuk penyelesaian masalah-masalah lainnya. Jika kita berhasil memecahkan, misalnya masalah perlucutan senjata, maka akan tersedialah dana-dana yang diperlukan untuk membantu bangsa-bangsa yang sangat memerlukan bantuan itu.

Akan tetapi, yang sangat diperlukan ialah bahwa masalah-masalah semuanya itu harus dipecahkan dengan penggunaan prinsip-prinsip yang telah disetujui. Setiap usaha untuk memecahkannya dengan mempergunakan kekerasan, atau dengan ancaman kekerasan, atau dengan pemilikan kekuasaan, tentu akan gagal, bahkan akan mengakibatkan masalah-masalah yang lebih buruk lagi. Dengan singkat, prinsip yang harus diikuti ialah prinsip persamaan kedaulatan bagi semua bangsa, hal mana tentunya tidak lain dan tidak bukan, merupakan penggunaan hak-hak asasi manusia dan hak-hak asasi nasional. Bagi semua bangsa-bangsa harus ada satu dasar, dan semua bangsa harus menerima dasar itu, demi perlindungan dirinya dan demi keselamatan umat manusia.

Bila saya boleh mengatakannya, kami dari Indonesia menaruh perhatian yang khusus sekali atas Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kami mempunyai keinginan yang sangat khusus agar Organisasi ini berkembang dan berhasil baik. Karena tindakan-tindakannya, perjuangan untuk kemerdekaan dan kehidupan nasional kami sendiri telah dipersingkat. Dengan berkepercayaan penuh saya mengatakan, bahwa perjuangan kami, bagaimana pun juga, akan berhasil baik, namun tindakan-tindakan Perserikatan Bangsa-Bangsa itu telah mempersingkat perjuangan dan telah mencegah banyak pengorbanan dan penderitaan serta kehancuran, baik di pihak kami maupun di pihak lawan-lawan kami.

Apakah sebabnya saya percaya bahwa perjuangan kami akan berhasil baik, dengan atau tanpa kegiatan Perserikatan Bangsa-Bangsa? Saya yakin akan hal itu karena dua sebab. Pertama, saya mengenal rakyat saya; saya mengetahui kehausan mereka yang tiada terhingga akan kemerdekaan nasional, dan saya mengetahui akan tekadnya. Kedua, saya yakin akan hal itu karena jalannya sejarah. Kita semua, di manapun di dunia ini, hidup di dalam zaman pembangunan bangsa-bangsa dan runtuhnya imperium-imperium. Inilah zaman bangkitnya bangsa-bangsa dan bergolaknya nasionalisme.

Menutup mata akan kenyataan ini adalah membuta terhadap sejarah, tidak mengindahkan takdir dan menolak kenyataan. Sekali lagi saya katakan, kita hidup di zaman pembangunan bangsa-bangsa.

Proses ini tidak dapat dielakkan dan merupakan sesuatu yang pasti; kadang-kadang lambat dan tidak dapat dielakkan, bagaikan lahar menuruni lereng sebuah gunung berapi di Indonesia; kadang-kadang cepat dan tidak terelakkan, bagaikan dobrakan air bah dari balik sebuah bendungan yang dibangun tidak sempurna. Lambat dan tak terelakkan, atau cepat dan tak terelakkan, kemenangan perjuangan nasional adalah suatu kepastian.

Bila perjalanan menuju ke kebebasan itu sudah selesai di seluruh dunia, maka dunia kita akan menjadi suatu tempat yang lebih baik; akan merupakan suatu tempat yang lebih bersih dan jauh lebih sehat. Kita tidak boleh berhenti berjuang pada saat ini, manakala kemenangan telah menampakkan diri, sebaliknya kita harus melipatgandakan usaha kita. Kita telah berjanji kepada masa depan dan janji itu harus dipenuhi. Dalam hal ini kita tidak hanya berjuang untuk kepentingan kita sendiri, melainkan kita berjuang untuk kepentingan umat manusia seluruhnya, ya, perjuangan kita bahkan untuk kepentingan mereka yang kita tentang.

Lima tahun yang lalu, 29 bangsa-bangsa Asia dan Afrika telah mengirimkan utusannya ke kota Bandung di Indonesia. Dua puluh sembilan bangsa Asia dan Afrika. Kini, berapakah jumlah bangsa yang merdeka di sana. Saya tidak akan menghitungnya, tetapi silahkan melihat di sekeliling Majelis ini sekarang! Dan katakanlah apakah saya benar, bila saya berkata, bahwa kinilah saatnya pembangunan bangsa, dan saat bangkitnya bangsa-bangsa. Kemarin Asia, dan itu merupakan suatu proses yang belum selesai. Kini Afrika, itupun merupakan suatu proses yang belum selesai.

Lagi pula, belum semua bangsa-bangsa Asia dan Afrika diwakili di sini. Organisasi bangsa-bangsa ini telah dilemahkan selama ia masih menolak perwakilan sesuatu bangsa, dan teristimewa suatu bangsa yang tua dan bijaksana serta kuat.

Saya maksudkan Tiongkok. Saya maksudkan yang sering disebut Tiongkok Komunis, yang bagi kami adalah satu-satunya Tiongkok yang sebenarnya. Organisasi bangsa-bangsa ini sangat dilemahkan, justru karena ia menolak keanggotaan bangsa yang terbesar di dunia.

Setiap tahun kami menyokong diterimanya Tiongkok ke dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai anggota. Kami akan terus melakukannya. Kami tidak memberikan sokongan itu semata-mata karena kami mempunyai hubungan baik dengan negara tersebut. Dan pasti sokongan itu tidak kami berikan karena sesuatu alasan partisan. Tidak, pendirian kami mengenai persoalan ini dibimbing oleh realisme politik. Dengan secara picik mengecualikan sesuatu bangsa yang besar, bangsa agung dan kuat dalam arti jumlah, kebudayaan, ciri-ciri suatu peradaban kuno, suatu bangsa yang penuh dengan kekuatan dan daya ekonomi, dengan mengecualikan bangsa itu, kita lebih melemahkan organisasi internasional ini, dan dengan demikian, menjauhkannya dari kebutuhan dan cita-cita kita.

Kita bertekad untuk menjadikan Perserikatan Bangsa-Bangsa kuat dan universal serta mampu untuk memenuhi fungsinya yang layak. Itulah sebabnya, mengapa kami senantiasa memberikan sokongan atas ikut sertanya Tiongkok dalam lingkungan kita. Lagi pula, perlucutan senjata merupakan suatu keperluan yang mendesak dalam dunia ini. Persoalan yang terpenting dari semua masalah ini harus dirundingkan dan dipecahkan dalam rangka organisasi ini. Namun bagaimana dapat tercapai suatu persetujuan realistis mengenai perlucutan senjata, bila Tiongkok yang merupakan salah satu negara terkuat dalam dunia ini, tidak diikutsertakan dalam musyawarah-musyawarah ini?

Diwakilinya Tiongkok dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa akan mengikutsertakan negara itu dalam masalah dunia yang konstruktif dan dengan demikian akan betul-betul memperkuat lembaga ini.

Di tahun sembilan belas enam puluh ini, Majelis Umum kembali berkumpul dalam sidang tahunannya. Namun Majelis Umum ini janganlah hanya dianggap sebagai suatu sidang rutin lainnya, dan bila dianggap demikian, bila dianggap sebagai suatu sidang rutin, maka kemungkinan besar organisasi internasional seluruhnya ini akan terancam dengan kehancuran.

Camkanlah kata-kata saya, itulah permohonan saya! Janganlah memperlakukan masalah-masalah yang akan tuan-tuan perbincangkan sebagai masalah rutin. Bila diperlakukan demikian, maka organisasi ini, yang telah memberikan kita suatu harapan untuk masa depan, suatu kemungkinan baik akan adanya persesuaian internasional, mungkin akan pecah. Ia mungkin akan lenyap perlahan-lahan di bawah gelombang pertikaian, sebagaimana dialami oleh organisasi yang digantikannya. Bila hal itu terjadi maka umat manusia sebagai keseluruhan akan menderita, dan suatu impian yang agung, suatu cita-cita yang agung, akan hancur. Ingatlah: bukanlah hanya kata-kata yang tuan-tuan hadapi. Bukanlah pion-pion di atas papan catur yang tuan-tuan hadapi. Yang tuan-tuan hadapi adalah manusia, impian-impian manusia, cita-cita manusia, dan hari depan semua manusia.

Dengan segala kesungguhan, saya katakan: kami bangsa-bangsa yang baru merdeka bermaksud berjuang untuk kepentingan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kami bermaksud memperjuangkan suksesnya dan menjadikannya efektif. Badan itu dapat dijadikan efektif, dan akan dijadikan efektif, hanya bila anggota-anggota seluruhnya mengakui tiada terelakkannya jalan sejarah. Badan itu hanya dapat menjadi efektif, bila badan tersebut mengikuti jalannya sejarah, dan tidak mencoba untuk membendung atau mengalihkan ataupun menghambat jalannya itu.

Telah saya katakan, bahwa inilah saat pembangunan bangsa-bangsa dan runtuhnya imperium-imperium. Itulah kebenaran yang sesungguhnya. Berapa banyaknya bangsa-bangsa yang telah memperoleh kemerdekaannya sejak terciptanya Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa? Berapa banyaknya bangsa-bangsa telah melemparkan rantai penindasan yang membelenggunya? Berapa banyaknya imperium-imperium yang dibangun atas penindasan manusia telah hancur-lebur? Kami yang tadinya tiada bersuara, tidak membisu lagi. Kami yang tadinya membisu di alam kesengsaraan imperialisme, tidak membisu lagi. Kami yang perjuangan hidupnya tertutup di bawah selubung kolonialisme, tidak tersembunyikan lagi.

Sejak hari bersejarah di tahun sembilan belas empat puluh lima dunia telah berubah, dan dia telah berubah ke arah perbaikan. Dari zaman pembangunan bangsa-bangsa ini telah muncul kemungkinan – ya, keharusan – akan suatu dunia yang bebas dari ketakutan, bebas dari kekurangan, bebas dari penindasan-penindasan nasional. Kini, saat ini juga, di Majelis Umum ini, kita dapat mempersiapkan diri untuk menempatkan diri kita di dunia masa depan itu, dunia yang telah kita pikirkan dan impikan serta bayangkan.

Hal itu dapat kita lakukan, tetapi hanya bila kita tidak memperlakukan sidang ini sebagai suatu sidang rutin. Kita harus mengakui, bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa menghadapi suatu penimbunan masalah-masalah, masing-masing mendesak, masing-masing mengandung kemungkinan ancaman terhadap perdamaian dan kemajuan secara damai.

Kita bertekad, bahwa nasib dunia, dunia kita, tidak akan ditentukan tanpa kita. Nasib itu akan ditentukan dengan ikut serta dan kerjasama kita. Keputusan-keputusan yang penting bagi perdamaian dan masa depan dunia dapat ditentukan di sini dan sekarang ini juga. Di sini berkumpul kepala-kepala Negara dan kepala-kepala Pemerintahan. Itulah rangka organisasi kita. Saya sangat mengharapkan agar soal-soal protokol yang kaku serta perasaan sakit hati yang picik, – perasaan-perasaan perorangan maupun nasional, – tidak akan menghalangi dipergunakannya kesempatan ini sebaik-baiknya. Kesempatan seperti ini tak akan sering ada. Hal itu harus dipergunakan sebaik-baiknya. Kita pada saat ini mempunyai kesempatan unik untuk menggabungkan diplomasi perseorangan dengan diplomasi umum. Marilah kita pergunakan kesempatan itu. Kesempatan itu mungkin tak akan kembali lagi!

Saya menyadari sedalam-dalamnya bahwa hadirnya demikian banyak Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan, menjauhi harapan berjuta-juta orang. Mereka itu dapat mengambil keputusan-keputusan yang vital untuk menentukan wajah baru bagi dunia kita ini, dengan sendirinya juga wajah baru Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Layaklah pada saat ini untuk mempertimbangkan kedudukan Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam hubungan dengan zaman pembangunan bangsa dan bangkitnya bangsa-bangsa baru ini.

Ini saya kemukakan: bagi suatu bangsa yang baru lahir atau suatu bangsa yang baru lahir kembali, milik yang paling berharga adalah kemerdekaan dan kedaulatan.

Mungkin – saya tidak tahu, tapi mungkin – bahwa rasa untuk memegang teguh permata kedaulatan dan kemerdekaan yang berharga ini, hanya terdapat di lingkungan bangsa-bangsa yang baru bangkit kembali. Mungkin setelah berlalunya beberapa generasi, perasaan kebanggaan dan tercapainya cita-cita itu menjadi pudar. Mungkin demikian, tetapi saya rasa tidak.

Bahkan sekarang ini, 200 tahun kemudian, adakah seorang Amerika yang tak tergetar jiwanya mendengarkan kata-kata Declaration of Independence? Adakah seorang Italia yang kini tidak menyambut panggilan Mazzini? Adakah seorang warga Amerika Latin yang tidak lagi mendengar gemanya suara San Martin?

Benar, adakah seseorang warga dunia yang tidak menyambut panggilan dan suara-suara itu? Kita semua tergetar, kita semua menyambut, karena suara-suara itu adalah universal, baik mengenai waktu maupun tempatnya. Suara-suara itu adalah suara umat manusia yang menderita, suara masa depan, dan kita masih mendengarnya, mendengung sepanjang zaman.

Tidak, saya yakin seyakin-yakinnya bahwa di dalam kedaulatan dan kemerdekaan nasional ada sesuatu yang kekal, sesuatu yang sekeras dan secemerlang permata dan jauh lebih berharga.

Banyak bangsa-bangsa di dunia ini telah lama memiliki permata ini. Mereka telah biasa memilikinya, tetapi saya yakin, bahwa mereka masih tetap menganggapnya yang paling dicintai di antara milik-miliknya, dan mereka akan lebih baik mati daripada melepaskannya.

Bukankah begitu? Apakah bangsa saudara sendiri akan pernah bersedia melepaskan kemerdekaannya? Setiap bangsa yang patut dinamakan bangsa, akan memilih mati! Setiap pemimpin yang patut disebut pemimpin dari bangsa manapun, juga akan memilih mati.

Betapa lebih berharga hal itu bagi kami, yang pernah suatu waktu memiliki permata kemerdekaan dan kedaulatan nasional itu, dan kemudian merasakan dirampasnya dari tangan kami oleh bandit-bandit yang bersenjata lengkap, dan yang kini telah kami rebut kembali!

Perserikatan Bangsa-Bangsa ini adalah suatu organisasi dari negara-negara bangsa yang masing-masing menggenggam permata itu kuat-kuat sebagai sesuatu yang berharga. Kita semuanya telah berhimpun dengan sukarela, sebagai saudara dan sederajat dalam organisasi ini, sebagai saudara dan sederajat, karena kita semuanya memiliki kedaulatan yang sederajat, dan kita semua menganggap kedaulatan yang sederajat ini sama-sama berharga.

Ini adalah suatu dalam badan internasional. Badan ini belumlah supernasional ataupun supranasional. Badan ini merupakan suatu organisasi negara-negara bangsa, dan hanya dapat bekerja sepanjang negara-negara bangsa menghendakinya.

Apakah kita semuanya dengan suara bulat telah menyetujui untuk menyerahkan suatu bagian dari kedaulatan kita kepada badan ini? Tidak, tidak pernah. Kita telah menerima baik Piagam, dan Piagam itu telah ditandatangani oleh negara-negara bangsa yang berdaulat penuh dan sederajat penuh.

Ada kemungkinan, bahwa badan ini harus mempertimbangkan, apakah anggota-anggotanya harus menyerahkan sesuatu bagian dari kedaulatan mereka kepada badan internasional ini. Tetapi jika keputusan yang semacam itu diambil, keputusan itu harus diambil secara bebas, dan dengan suara bulat, dan sederajat. Harus diputuskan sederajat oleh semua bangsa, yang kuno dan yang baru, bangsa yang baru muncul dan yang sudah lama ada, yang sudah maju dan yang belum maju.

Hal ini bukannya sesuatu yang dapat dipaksakan pada bangsa manapun juga. Selanjutnya, dasar satu-satunya yang mungkin bagi badan semacam ini, itu ialah persamaan yang sejati. Kedaulatan dari bangsa yang paling baru atau bangsa yang paling kecil sama berharganya, sama tidak dapat dilanggarnya, seperti kedaulatan bangsa yang paling besar atau bangsa yang paling tua. Dan selain daripada itu, sesuatu pelanggaran terhadap kedaulatan sesuatu bangsa merupakan suatu ancaman potensial terhadap kedaulatan semua bangsa.

Dalam gambaran dunia inilah, kita harus melihat dunia sekarang ini. Dunia kita yang satu ini terdiri dari negara-negara bangsa, masing-masing sama berdaulat dan masing-masing berketetapan hati menjaga kedaulatan itu, dan masing-masing berhak untuk menjaga kedaulatan itu. Dan sekali lagi saya katakan – dan saya ulangi ini karena merupakan dasar dari pengertian terhadap dunia dewasa ini – kita hidup dalam zaman pembangunan bangsa.

Kenyataan ini jauh lebih penting daripada adanya senjata-senjata nuklir, lebih eksplosif daripada bom-bom hidrogen, dan mempunyai harga potensial yang lebih besar untuk dunia daripada memecahkan bom atom.

Keseimbangan dunia telah berubah sejak hari itu bulan Juni, 15 tahun yang lalu, ketika Piagam ditandatangani di kota San Francisco di Amerika, pada saat manusia sedang bangkit kembali dari neraka peperangan.

Nasib umat manusia tidak dapat lagi ditentukan oleh beberapa bangsa besar dan kuat. Juga kami, bangsa-bangsa yang lebih muda, bangsa yang sedang bertunas, bangsa-bangsa yang lebih kecil, kami pun berhak bersuara dan suara itu pasti akan berkumandang di sepanjang zaman.

Ya, kami sadar akan pertanggungjawaban kami terhadap masa depan semua bangsa, dan kami dengan gembira menerima pertanggungjawaban itu. Bangsa saya berjanji kepada diri sendiri untuk bekerja mencapai suatu dunia yang lebih baik, suatu dunia yang bebas dari sengketa dan ketegangan, suatu dunia di mana anak-anak kita dapat tumbuh dengan bangga dan bebas, suatu dunia di mana keadilan dan kesejahteraan berlaku untuk semua orang. Adakah sesuatu bangsa akan menolak janji semacam itu? Beberapa bulan yang lalu, sesaat sebelum pemimpin pemimpin negara-negara Besar bertemu sesingkat itu di Paris, Tuan Khrushchev menjadi tamu kami di Indonesia. Saya jelaskan padanya sejelas-jelasnya, bahwa kami menyambut baik Konferensi Tingkat Tertinggi, yang kami skeptis.

Empat Negara Besar itu saja, tidak dapat menentukan masalah perang dan damai. Lebih tepat, barangkali, mereka mempunyai kekuatan untuk merusak perdamaian, tetapi mereka tidak mempunyai hak moril, baik secara sendirian maupun bersama-sama, untuk mencoba menentukan hari depan dunia.

Selama lima belas tahun ini Barat telah mengenal perdamaian, atau sekurang-kurangnya ketiadaan perang. Tentu saja ada ketegangan-ketegangan. Memang, ada bahaya. Tetapi tetap merupakan kenyataan, bahwa di tengah-tengah suatu revolusi yang meliputi tiga per empat bagian dunia, Barat tetap dalam keadaan damai. Kedua blok besar, sebetulnya, telah berhasil mempraktekkan ko-eksistensi selama tahun-tahun itu, sehingga dengan demikian membantah mereka yang menyangkal kemungkinan adanya ko-eksistensi.

Kami di Asia tidak pernah mengenal keadaan damai! Setelah perdamaian datang untuk Eropa, kami merasakan akibat bom atom. Kami merasakan revolusi nasional kami sendiri di Indonesia. Kami merasakan penyiksaan Vietnam. Kami menderita penganiayaan Korea. Kami masih senantiasa menderita kepedihan Aljazair. Apakah sekarang ini seharusnya giliran saudara-saudara kita di Afrika? Apakah mereka harus disiksa sedangkan luka-luka kami masih belum sembuh?

Toh masih saja Barat dalam keadaan damai. Herankah tuan-tuan bahwa kami sekarang menuntut, ya, menuntut, batalnya siksaan terhadap kami? Herankah tuan-tuan, bahwa kini suara saya diperdengarkan sebagai protes?

Kami, yang dulu tidak bersuara, mempunyai tuntutan-tuntutan dan kebutuhan-kebutuhan; kami berhak untuk didengar. Kami bukannya barang perdagangan, tetapi adalah bangsa-bangsa yang hidup dan yang perkasa, yang mempunyai peranan di dunia ini, dan yang harus memberikan sumbangannya. Saya pergunakan kata-kata yang keras, dan saya pergunakan kata-kata itu dengan sengaja, karena saya berpendirian yang tegas mengenai soal ini. Dengan sengaja saya pergunakan kata-kata keras, karena saya berbicara untuk bangsa saya dan karena saya berbicara di muka pemimpin-pemimpin bangsa-bangsa.

Selain daripada itu, saya tahu bahwa saudara-saudara saya di Asia dan Afrika mempunyai pendirian yang sama tegasnya, walaupun saya tidak berani berbicara atas nama mereka.

Majelis Umum ini tentunya akan menghadapi banyak hal-hal yang penting. Tetapi tidaklah ada hal yang lebih penting daripada perdamaian. Mengenai ini, saya pada saat ini tidak membicarakan soal-soal yang timbul antara Negara-negara Besar di dunia. Soal-soal sedemikian sangat vital bagi kami, dan saya nanti akan kembali pada soal-soal tersebut. Tetapi tengoklah sekeliling dunia kita ini. Di banyak tempat terdapat ketegangan-ketegangan dan sumber-sumber sengketa potensial. Perhatikanlah tempat-tempat itu dan tuan akan jumpai, bahwa tanpa perkecualian, imperialisme, dan kolonialisme di dalam salah satu dari banyak manifestasinya adalah sumber ketegangan atau sengketa itu. Imperialisme dan kolonialisme dan pemisahan terus-menerus secara paksa dari bangsa-bangsa merupakan sumber dari hampir semua kejahatan internasional yang mengancam di dunia kita ini.

Imperialisme, dan perjuangan untuk mempertahankannya, merupakan kejahatan yang terbesar di dunia kita ini. Banyak di antara tuan-tuan dalam sidang ini tidak pernah mengenal imperialisme. Banyak di antara tuan-tuan lahir merdeka dan akan mati merdeka. Beberapa di antara tuan-tuan lahir dari bangsa-bangsa yang telah menjalankan imperialisme terhadap yang lain, tetapi tidak pernah menderitanya sendiri. Akan tetapi saudara-saudara saya di Asia dan Afrika telah mengenal cambuk imperialisme. Mereka telah menderitanya. Mereka mengenal bahayanya dan kelicikannya serta keuletannya. Kami di Indonesia mengenalnya juga. Kami adalah ahli-ahli dalam soal ini! Berdasarkan pengetahuan itu dan berdasarkan pengalaman itu, saya katakan pada tuan-tuan bahwa berlanjutnya imperialisme dalam segala bentuknya merupakan suatu bahaya yang besar dan yang berlarut-larut.

Imperialisme belum lagi mati. Ya, sedang dalam keadaan sekarat; ya, arus sejarah melanda bentengnya dan menggerogoti fundamen-fundamennya; ya, kemenangan kemerdekaan dan nasionalisme sudah pasti. Akan tetapi – dan camkanlah perkataan saya ini – imperialisme yang sedang sekarat itu berbahaya, sama berbahayanya dengan seekor harimau yang luka di dalam rimba raya tropis.

Ini saya tegaskan kepada tuan-tuan – dan saya sadar bahwa saya sekarang berbicara untuk saudara-saudara saya di Asia dan Afrika – perjuangan untuk kemerdekaan senantiasa dibenarkan dan senantiasa benar. Mereka yang menentang gerak maju yang tidak terelakkan dari kemerdekaan nasional dan hak untuk menentukan nasib sendiri, adalah buta; mereka yang berusaha untuk mengembalikan apa yang tidak dapat dikembalikan merupakan bahaya bagi mereka sendiri dan bagi dunia.

Sebelum kenyataan-kenyataan ini – dan ini memang kenyataan-kenyataan – diakui, tidak akan ada perdamaian di dunia ini, dan tidak akan lenyaplah ketegangan. Saya serukan kepada tuan-tuan; tempatkanlah kewibawaan dan kekuatan moral dari Organisasi Negara-negara ini di belakang mereka yang berjuang untuk kemerdekaan. Lakukanlah itu secara jelas dan tegas. Lakukanlah itu sekarang! Lakukanlah dan tuan-tuan akan memperoleh dukungan bulat dan tulus ikhlas dari semua orang yang berkemauan baik. Lakukanlah sekarang, dan generasi-generasi yang akan datang akan menghargai tuan-tuan. Saya serukan kepada tuan-tuan, kepada semua anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa: bergeraklah bersama arusnya sejarah; jangan-lah mencoba membendung arus itu.

Perserikatan Bangsa-Bangsa sekarang ini juga berkesempatan untuk membangun bagi dirinya sendiri reputasi dan gengsi yang besar. Mereka yang berjuang untuk kemerdekaan akan mencari sokongan dan sekutu-sekutu di mana saja dapat diperolehnya; alangkah baiknya bilamana mereka berpaling kepada badan ini dan kepada Piagam kita daripada kepada sesuatu kelompok atau bagian dari badan ini.

Lenyapkanlah sebab-sebab peperangan, dan kita akan merasa damai. Lenyapkanlah sebab-sebab ketegangan dan kita akan merasa tenang. Jangan ditunda-tunda. Waktunya singkat. Bahayanya besar.

Umat manusia di seluruh dunia berteriak minta perdamaian dan ketenangan, dan hal-hal itu adalah dalam kekuasaan kita. Jangan mencegahnya, karena nanti badan ini akan dicemarkan namanya dan ditinggalkan. Tugas kita bukannya untuk mempertahankan dunia ini, akan tetapi untuk membangun dunia kembali! Hari depan – andaikata ada hari depan – akan menilai kita berdasarkan berhasilnya tugas kita ini.

Saya minta kepada bangsa-bangsa yang sudah lama berdiri, janganlah menganggap remeh kekuatan nasionalisme. Jika tuan menyangsikan kekuatannya, tengoklah di sekitar Majelis ini dan bandingkanlah dengan San Fransisco lima belas tahun yang lalu. Nasionalisme, nasionalisme yang mencapai kemenangan dengan gemilang, telah menyebabkan perubahan ini, dan ini adalah baik. Dewasa ini dunia diperkaya dan dimuliakan oleh kebijaksanaan dari para pemimpin-pemimpin bangsa-bangsa berdaulat yang baru dibentuk. Untuk menyebut enam dari banyak contoh-contoh, yakni seorang Norodom Sihanouk, seorang Nasser, seorang Nehru, seorang Sékou Touré, seorang Mao Zedong dan seorang Nkrumah. Bukankah dunia menjadi lebih baik, jika mereka berada di sini daripada mereka mempergunakan seluruh hidupnya dan seluruh kekuatannya untuk menggulingkan imperialisme yang membelenggu mereka? Dan bangsa-bangsa mereka pun sudah merdeka, dan bangsa saya merdeka, dan lebih banyak lagi bangsa yang merdeka. Bukankah dengan demikian dunia menjadi suatu tempat yang lebih baik dan lebih kaya?

Memang, saya tidak perlu membentangkan kepada tuan-tuan, bahwa kami dari Asia dan Afrika menentang kolonialisme dan imperialisme. Lebih daripada itu, siapakah dalam dunia sekarang ini masih akan membela hal-hal itu? Secara universal hal-hal itu telah dikutuk, dan sudah sepantasnya, dan alasan-alasan sinis yang usang itu tidak terdengar lagi. Pertentangan sekarang berpusat pada persoalan kapankah daerah-daerah jajahan akan merdeka, dan bukan pada persoalan apakah mereka akan merdeka.

Tetapi saya hendak menegaskan soal ini. Pertentangan kami terhadap kolonialisme dan imperialisme timbul baik dari hati maupun dari kepala kami. Kami menentangnya atas dasar kemanusiaan, dan kami menentangnya pula dengan alasan bahwa hal ini merupakan suatu ancaman yang besar dan makin besar lagi terhadap perdamaian.

Tiadanya persesuaian pendapat dengan kekuatan-kekuatan kolonial berkisar pada soal-soal waktu dan keamanan, karena sekarang setidak-tidaknya mereka beromong kosong tentang cita-cita kemerdekaan nasional.

Oleh karena itu renungkanlah dalam-dalam mengenai nasionalisme dan kemerdekaan, mengenai patriotisme dan mengenai imperialisme. Renungkanlah dalam-dalam, demikian permohonan saya, jangan sampai arus sejarah melanda tuan-tuan.

Dewasa ini, kita banyak mendengar dan membaca mengenai perlucutan senjata. Perkataan itu biasanya dipakai dalam hubungan perlucutan senjata nuklir dan atom. Maafkanlah saya. Saya seorang sederhana dan seorang yang cinta damai. Saya tidak dapat berbicara mengenai detail-detail perlucutan senjata. Saya tidak dapat memberikan penilaian mengenai pendapat-pendapat yang bersaingan tentang pengawasan, mengenai percobaan-percobaan di bawah tanah dan mengenai catatan-catatan seismografis.

Mengenai persoalan-persoalan imperialisme dan nasionalisme saya seorang ahli, sesudah seumur hidup mempelajarinya dan berjuang, dan mengenai soal-soal ini saya bicara dengan kewibawaan. Tetapi mengenai persoalan-persoalan peperangan nuklir, saya hanya seorang biasa saja, mungkin seperti tetangga tuan atau seperti saudara tuan atau bahkan seperti ayah tuan. Saya ikut merasakan ketakutan mereka.

Saya ikut merasakan kengerian dan ketakutan itu, karena saya adalah bagian dari dunia ini. Saya punya anak-anak, dan hari depan mereka terancam bahaya. Saya seorang Indonesia, dan bangsa itu terancam bahaya.

Mereka yang mempergunakan senjata penghancuran masal itu sekarang harus menghadapi hati nurani mereka sendiri, dan akhirnya, mungkin dalam keadaan hangus menjadi debu radioaktif, mereka harus menghadapi Al Khaliknya. Saya tidak iri terhadap mereka.

Mereka yang mempersoalkan perlucutan senjata nuklir jangan lupa bahwa kami, yang dalam hal ini sebelumnya tidak dapat bersuara, sedang memperhatikan dan mengharap-harap.

Kami sedang memperhatikan dan mengharap-harap, toh kami diliputi oleh kecemasan, karena jika perang nuklir menghancurkan dunia kita ini, kami juga ikut menderita.

Tidak seorang makhluk pun berhak untuk menggunakan hak-hak prerogatif dari Tuhan yang Maha Kuasa. Tidak seorang pun berhak menggunakan bom-bom hidrogen. Tidak satu bangsa pun berhak untuk menyebabkan kemungkinan hancurnya semua bangsa-bangsa.

Tiada suatu sistem politik, tiada suatu organisasi ekonomi yang layak untuk menyebabkan musnahnya dunia, termasuk sistem maupun organisasi itu sendiri.

Jika hanya negara-negara yang bersenjata hidrogen yang tersangkut dalam persoalan ini, maka kami bangsa-bangsa Asia dan Afrika tidak akan menghiraukannya. Kami hanya akan melihat saja sambil menjauhkan diri, dengan perasaan heran mengapa negara-negara, dari mana kami belajar demikian banyaknya itu, serta yang sangat kami kagumi itu, pada dewasa ini harus tenggelam dalam rawa amoralitas. Kami akan dapat berseru: "Terkutuklah kalian!", dan kami dapat kembali ke dalam dunia kami sendiri yang lebih berimbang dan damai.

Tetapi kami tidak dapat berbuat demikian. Kami bangsa Asia telah menderita akibat bom atom. Kami bangsa Asia terancam lagi, dan selain itu kami merasa sebagai suatu kewajiban moral untuk memberikan bantuan di mana mungkin. Kami bukanlah musuh Timur maupun Barat. Kami merupakan suatu bagian dari dunia ini dan kami ingin membantu.

Ini adalah suatu jeritan dari hati sanubari Asia. Biarkanlah kami membantu memecahkan masalah-masalah ini. Mungkin tuan-tuan memperhatikannya terlampau lama, dan tidak melihatnya lagi secara jelas. Biarkanlah kami membantu tuan-tuan, dan dalam membantu tuan-tuan, kami bantu diri kami sendiri, dan semua generasi yang akan datang di seluruh dunia ini.

Jelaslah, bahwa masalah perlucutan senjata bukan hanya perselisihan pendapat tentang dasar-dasar teknis yang sempit. Ini adalah pula persoalan saling mempercayai. Sebetulnya telah jelas, bahwa dalam bidang teknik dan dalam cara-cara berunding dan berdiplomasi, sesungguhnya antara kami dari Asia-Afrika dan kedua blok itu tidaklah banyak berbeda. Soalnya sebenarnya lebih merupakan soal saling tidak mempercayai. Ini adalah suatu masalah yang dapat dipecahkan dengan cara-cara itu. Negara-negara lain yang tidak tergabung dalam suatu blok, bisa memberi bantuan dalam hal ini! Kami tidak kurang pengalaman dan kepandaian untuk mengadakan pembicaraan-pembicaraan. Mungkin perantara kami dapat juga berharga. Mungkin kami dapat pula memberikan bantuan dalam mencari suatu penyelesaian. Mungkin – siapa tahu kami dapat memperlihatkan kepada tuan-tuan jalannya menuju ke arah satu-satunya perlucutan senjata yang sesungguhnya, yaitu perlucutan senjata di dalam hati manusia, perlucutan ketidakpercayaan dan kebencian manusia.

Tidak sesuatupun lebih mendesak daripada hal ini. Dan persoalan ini adalah demikian vital bagi seluruh umat manusia, sehingga seluruh umat manusia harus diikutsertakan dalam pemecahannya. Saya kira pada saat ini kita boleh berkata bahwa sebenarnya hanyalah desakan dan usaha dari negara-negara nonblok akan memberikan hasil yang diperlukan seluruh dunia. Pembicaraan yang sungguh-sungguh tentang perlucutan senjata, di dalam rangka organisasi ini, dan didasarkan pada suatu harapan yang sungguh-sungguh akan suksesnya, adalah yang esensial sekarang ini.

Saya tekankan "dalam rangka organisasi ini", karena hanya Majelis inilah yang mulai mendekati suatu cerminan yang sebenarnya dari dunia di mana kita hidup.

Renungkan, renungkan sejenak, apa yang mungkin terjadi jika kita dapat meletakkan suatu dasar bagi perlucutan senjata yang sejati. Ingatlah akan dana-dana yang sangat besar yang dapat digunakan untuk perbaikan dunia di mana kita hidup ini. Ingatlah akan daya gerak yang maha hebat yang dapat diberikan kepada perkembangan mereka yang kurang maju, sekalipun hanya sebagian saja dari anggaran belanja pertahanan dari negara-negara besar disalurkan ke arah itu. Ingatlah akan ber-tambahnya secara hebat kebahagiaan manusia, produktivitas manusia dan kesejahteraan manusia, jika hal ini diselenggarakan.

Perlu saya tambahkan sesuatu lagi pada hal ini. Jika ada suatu amoralitas yang lebih besar daripada memperagakan senjata-senjata hidrogen, maka hal itu adalah melakukan percobaan-percobaan dengan senjata-senjata tersebut. Saya tahu bahwa ada suatu perbedaan pendapat ilmiah tentang akibat genetik daripada percobaan-percobaan itu. Akan tetapi perbedaan ini hanya mengenai jumlah korban-korban. Tentang adanya akibat genetik yang buruk terdapat perseuaian pendapat. Pernahkah mereka yang mensahkan percobaan-percobaan itu membayangkan akibat-akibat perbuatan mereka? Pernahkah mereka melihat kepada anak-anak mereka sendiri dan merenungkan akibat-akibat itu? Pada dewasa ini percobaan-percobaan dengan senjata-senjata nuklir ditangguhkan, – perhatikan – tidak dilarang, tetapi hanya ditangguhkan. Maka, marilah kita pergunakan kenyataan ini sebagai permulaan. Marilah kita pergunakan kenyataan ini sebagai dasar untuk melarang percobaan dan kemudian untuk perlucutan senjata yang sungguh-sungguh.

Sebelum meninggalkan persoalan perlucutan senjata, saya hendak memberikan suatu ulasan lagi. Berbicara tentang perlucutan senjata memang baik. Tapi berusaha dengan sungguh-sungguh menyusun suatu persetujuan perlucutan senjata akan lebih baik. Dan yang terbaik adalah pelaksanaan daripada persetujuan perlucutan senjata itu.

Akan tetapi marilah kita realistis. Bahkan pelaksanaan daripada suatu persetujuan perlucutan senjata pun tidak akan merupakan jaminan bagi perdamaian di dunia yang dalam kesengsaraan dan kesukaran. Perdamaian hanya akan datang, jika sebab-sebab ketegangan dan bentrokan disingkirkan.

Jika ada suatu sebab untuk bentrokan, maka manusia akan berjuang dengan bambu runcing, jika tidak terdapat senjata lain. Saya tahu oleh karena bangsa saya sendiri melakukannya dalam perjuangan kami untuk kemerdekaan. Kami telah berjuang menggunakan pisau dan bambu runcing. Untuk mencapai perdamaian, kita harus menyingkirkan sebab-sebab ketegangan dan sebab-sebab bentrokan itu. Itulah sebabnya saya berbicara dari lubuk hati saya mengenai perlunya bekerja sama untuk menyebabkan matinya yang hina dari imperialisme.

Di mana terdapat imperialisme, dan di mana terdapat penyusunan kekuatan bersenjata yang serentak, maka keadaan memang berbahaya. Sekali lagi saya berbicara berdasarkan pengalaman. Begitulah keadaannya di Irian Barat. Begitulah keadaannya di seperlima wilayah nasional kami yang pada dewasa ini masih tetap membungkuk di bawah belenggu imperialisme.

Di sanalah kami menghadapi imperialisme dan kekuatan bersenjata imperialisme. Di perbatasan daerah itu tentara kami berjaga di darat maupun di lautan. Kedua kekuatan bersenjata itu merupakan suatu keadaan yang eksplosif. Belum lama berselang tentara di Irian Barat yang masih muda serta tersesat itu dan yang membela suatu faham yang telah ketinggalan zaman, diperkuat dengan datangnya kapal induk Karel Doorman dari tanah airnya yang jauh itu. Maka saat itulah keadaan menjadi betul-betul berbahaya.

Kepala Staf Angkatan Darat Indonesia duduk dalam Delegasi saya ini. Namanya Jenderal Nasution. Ia adalah prajurit profesional dan seorang prajurit yang ulung. Seperti halnya dengan anak buah yang dipimpinnya, dan seperti juga halnya dengan bangsa yang dibelanya, ia pertama-tama adalah seorang yang cinta damai. Tetapi lebih daripada itu, ia dan anak buahnya serta bangsa saya mengabdi untuk mempertahankan tanah air kami.

Kami telah berusaha untuk menyelesaikan masalah Irian Barat. Kami telah berusaha dengan sungguh-sungguh dan dengan penuh kesabaran dan penuh toleransi dan penuh harapan. Kami telah berusaha untuk mengadakan perundingan-perundingan bilateral. Kami telah berusaha dengan sungguh-sungguh dan bertahun-tahun. Kami telah berusaha dan tetap berusaha. Kami telah berusaha menggunakan alat-alat Perserikatan Bangsa-Bangsa dan kekuatan pendapat dunia yang dinyatakan di sini. Kami telah berusaha, dan dalam hal ini pun kami tetap berusaha.

Harapan lenyap; kesabaran hilang; bahkan toleransi pun mencapai batasnya. Semuanya itu kini telah habis dan Belanda tidak memberikan alternatif lainnya, kecuali memperkeras sikap kami. Jika mereka gagal untuk secara tepat menilai arus sejarah, maka kita tidaklah dapat dipersalahkan. Akan tetapi akibat daripada kegagalan mereka ialah timbulnya ancaman terhadap perdamaian dan, sekali lagi, hal ini menyangkut pula Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Irian Barat merupakan pedang kolonial yang diancamkan terhadap Indonesia. Pedang itu diarahkan pada jantung kami, akan tetapi di samping itu mengancam pula perdamaian dunia.

Usaha-usaha kami dewasa ini yang sungguh-sungguh untuk mencapai penyelesaian dengan cara-cara kami sendiri, adalah bagian dari sumbangan kami ke arah terjaminnya perdamaian dunia ini. Ini adalah bagian dari usaha kami untuk mengakhiri masalah dunia ini yang merupakan kejahatan yang usang. Usaha kami adalah usaha pembedahan yang sungguh-sungguh untuk menyingkirkan kanker imperialisme dari daerah di dunia, di mana kami hidup dan berada.

Saya katakan dengan segala kesungguhan bahwa keadaan di Irian Barat adalah keadaan yang berbahaya, suatu keadaan yang eksplosif; suatu hal yang merupakan sebab ketegangan dan suatu ancaman bagi perdamaian. Jenderal Nasution tidak bertanggung jawab atas hal itu. Tentara kami tidak bertanggung jawab atas hal itu. Soekarno tidak bertanggung jawab atas hal itu. Indonesia tidak bertanggung jawab atas hal itu. Tidak! Ancaman terhadap perdamaian berasal langsung dari adanya imperialisme dan kolonialisme itulah.

Singkirkan pengekangan terhadap kemerdekaan dan emansipasi, dan ancaman terhadap perdamaian akan lenyap. Tumbangkan imperialisme, dan segera dengan sendirinya dunia akan menjadi suatu tempat yang lebih bersih, suatu tempat yang lebih baik dan suatu tempat yang lebih aman.

Saya tahu bahwa jika saya kemukakan hal ini, banyak pikiran akan beralih kepada keadaan di Kongo. Tuan-tuan mungkin bertanya, bukankah imperialisme telah diusir dari Kongo dengan akibat bahwa di daerah itu sekarang terjadi persengketaan dan pertumpahan darah? Tidak demikian halnya! Keadaan di Kongo yang sangat disesalkan adalah langsung disebabkan oleh imperialisme, dan tidak disebabkan oleh berakhirnya imperialisme itu. Imperialisme berusaha untuk mempertahankan kedudukannya di Kongo, berusaha untuk dapat memutungkan dan melumpuhkan Negara baru itu. Itulah sebabnya Kongo berkobar.

Ya, di Kongo terdapat penderitaan. Akan tetapi penderitaan itu merupakan kesakitan kelahiran dari kemajuan dan kemajuan yang eksplosif senantiasa membawa kesakitan. Mencabut sampai ke akar-akarnya kepentingan nasional dan internasional yang sudah bercokol selalu menyebabkan kesakitan dan keguncangan.

Kami mengetahuinya. Kami mengetahui pula dari pengalaman-pengalaman kami sendiri bahwa perkembangan itu sendiri menimbulkan pergolakan. Suatu bangsa yang sedang bergolak membutuhkan pimpinan dan bimbingan, dan akhirnya akan menghasilkan pimpinan serta bimbingannya sendiri.

Kami bangsa Indonesia berbicara berdasarkan pengalaman-pengalaman yang pahit. Masalah Kongo, yang merupakan masalah kolonialisme dan imperialisme, harus diselesaikan dengan menggunakan prinsip-prinsip yang telah saya uraikan tadi. Kongo adalah Negara yang berdaulat. Hendaknya kedaulatan itu dihormati. Ingatlah: kedaulatan Kongo tidak kurang daripada kedaulatan setiap bangsa yang diwakili dalam Majelis ini, dan kedaulatan ini harus dihormati secara sama.

Dalam soal-soal dalam negeri Kongo tidak boleh ada campur tangan dan sama sekali tidak boleh ada bantuan, baik yang terang-terangan maupun yang tersembunyi, untuk menghancurkan negara ini.

Ya, memang bangsa itu akan membuat kesalahan-kesalahan, kita semua membuat kesalahan-kesalahan, dan kita semua belajar dari kesalahan-kesalahan. Ya, pergolakan akan timbul, akan tetapi itu pun biarlah berlangsung, karena ini merupakan tanda bagi pertumbuhan dan perkembangan yang tepat. Sampai mana pergolakan itu adalah soalnya bangsa itu sendiri.

Marilah kita, baik secara perseorangan, maupun secara bersama-sama, membantu di sana apabila kita diminta oleh pemerintah yang sah dari bangsa itu. Akan tetapi tiap-tiap bantuan semacam itu harus jelas didasarkan atas kedaulatan Kongo yang tidak boleh diganggu gugat.

Akhirnya taruhlah kepercayaan pada bangsa itu! Mereka sedang mengalami masa percobaan yang besar dan sedang sangat menderita. Taruhlah kepercayaan pada mereka sebagai bangsa yang batu merdeka, dan mereka akan menemukan jalannya sendiri ke arah penyelesaiannya sendiri daripada masalah-masalahnya sendiri.

Di sini hendak saya kemukakan peringatan yang sangat serius. Banyak anggota organisasi ini dan banyak pejabat organisasi ini, mungkin tak begitu menyadari perbuatan-perbuatan imperialisme dan kolonialisme.

Mereka tak pernah mengalaminya; mereka tak mengenal keuletannya dan kebengisannya, dan banyaknya mukanya, dan kejahatannya.

Kami dari Asia dan Afrika mengenalnya. Saya katakan pada tuan-tuan: Janganlah bertindak sebagai alat yang tak tahu apa-apa dari imperialisme. Jika tuan bertindak demikian, maka tuan pasti akan membunuh Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa ini dan dengan begitu tuan akan membunuh harapan dari berjuta-juta manusia yang tiada terhitung itu dan mungkin tuan akan menyebabkan hari depan mati dalam kandungan.

Sebelum meninggalkan persoalan-persoalan ini, saya hendak menyinggung pula suatu persoalan besar lain yang kira-kira sama sifatnya. Yang saya maksud ialah Aljazair. Di sini terdapat suatu gambaran yang menyedihkan, di mana kedua belah pihak sedang berlumuran darah dan dihancurkan karena ketiadaan penyelesaian. Itu merupakan suatu tragedi!

Sudah jelas sekali bahwa rakyat Aljazair menghendaki kemerdekaan. Hal ini tidak dapat dibantah lagi. Andaikata tidak demikian, maka perjuangan yang lama dan pahit dan berdarah itu sudah akan berakhir bertahun-tahun yang lalu. Kehausan akan kemerdekaan serta ketabahan untuk memperoleh kemerdekaan itu merupakan faktor-faktor pokok dalam situasi ini.

Apa yang belum ditentukan, hanyalah betapa akrab dan selaras suatu kerjasama di hari depan dengan Prancis seharusnya. Kerjasama yang sangat akrab dan selaras tidak akan sukar dicapai, bahkan pada taraf sekarang ini, meskipun barangkali akan bertambah sukar dicapainya dengan terus berlangsungnya perjuangan itu.

Maka, adakanlah suatu plebisit di bawah pengawasan Perserikatan Bangsa-Bangsa di Aljazair untuk menentukan kehendak rakyat akan betapa akrab dan selaras hubungan-hubungan itu seharusnya. Plebisit itu hendaknya jangan mengenai soal kemerdekaan. Kemerdekaan itu sudah ditentukan dengan darah dan air mata, dan pastilah akan berdiri suatu Aljazair yang Merdeka.

Plebisit seperti yang saya sarankan, jika diselenggarakan dalam waktu singkat, akan merupakan jaminan yang terbaik bahwa Aljazair merdeka dan Prancis akan terdapat suatu kerjasama yang akrab dan baik untuk keuntungan bersama. Sekali lagi saya berbicara berdasarkan pengalaman. Indonesia tadinya tidak mengandung niat untuk merusak hubungan-hubungan yang erat dan selaras dengan Belanda. Akan tetapi, rupa-rupanya bahkan dewasa ini, seperti generasi-generasi yang sudah-sudah, pemerintah bangsa itu berpegang teguh pada "memberi terlalu sedikit dan meminta terlampau banyak". Baru ketika hal itu tak tertahankan lagi, hubungan-hubungan tersebut diputuskan.

Izinkanlah saya sekarang beralih ke masalah yang lebih luas tentang perang dan damai di dunia kita ini. Yang pasti adalah bahwa negara-negara yang baru lahir dan yang dilahirkan kembali tidak merupakan ancaman terhadap perdamaian dunia. Kami tidak mempunyai ambisi-ambisi teritorial; kami pun tidak mempunyai tujuan-tujuan ekonomi yang tidak bisa disesuaikan. Ancaman terhadap perdamaian tidak datang dari kami, tetapi malahan dari pihak negara-negara yang lebih tua, yang telah lama berdiri dan stabil itu.

Oh, ya, di negara-negara kami terdapat pergolakan. Sebenarnya, pergolakan itu seakan-akan merupakan suatu fungsi dari jangka waktu pertama daripada kemerdekaan. Apakah itu mengherankan? Coba, marilah saya ambil contoh dari sejarah Amerika. Dalam satu generasi harus dialami Perang Kemerdekaan dan Perang Saudara antara Negara-negara Bagian. Selanjutnya dalam generasi itu juga harus dialami timbulnya perserikatan-perserikatan buruh yang militan, – massa dari Internasional Workers of the World (IWW), "Wobblies". Harus pula dialami hijrah ke Barat. Harus pula dialami Revolusi Industri dan, ya, bahkan masa "pedagang-pedagang aktentas". Harus pula diderita akibat orang-orang ala Benedict Arnold. Dan seperti sering saya katakan, kami desakkan banyak revolusi dalam satu revolusi dan banyak generasi dalam satu generasi.

Maka herankah tuan-tuan jika terdapat pergolakan pada kami? Bagi kami hal itu adalah biasa dan kami telah menjadi biasa untuk menunggang angin pusar. Saya mengerti benar bahwa untuk orang luaran hal itu seringkali tampak seperti gambaran kekacauan dan kerusuhan dan rebut-merebut kekuasaan. Bagaimanapun juga pergolakan itu adalah merupakan urusan kami sendiri dan tidak merupakan suatu ancaman bagi siapapun, meskipun hal itu sering memberi kesempatan-kesempatan untuk mencampuri urusan kami.

Meskipun demikian, kepentingan-kepentingan yang bertentangan dari Negara-negara Besar adalah soal lain. Dalam hal ini masalah-masalah dikaburkan oleh ancaman-ancaman dengan bom-bom hidrogen dan diulang-ulanginya slogan-slogan lama yang telah usang.

Kami tak mengabaikannya karena masalah-masalah itu mengancam kami. Toh, terlalu sering masalah-masalah itu mengancam kami. Toh, terlalu sering masalah-masalah tersebut nampak seakan-akan tidak sungguh. Dengan terus-terang dan tanpa ragu-ragu hendak saya katakan kepada tuan-tuan, bahwa kami menempatkan hari depan kami sendiri jauh di atas percekcokan-percekcokan di Eropa.

Ya, kami banyak belajar dari Eropa dan Amerika. Kami telah mempelajari sejarah tuan-tuan dan penghidupan orang-orang besar dari bangsa tuan. Kami telah mengikuti contoh dari tuan-tuan; bahkan kami telah berusaha melebihi tuan-tuan. Kami berbicara dalam bahasa tuan-tuan dan membaca buku-buku tuan-tuan. Kami telah diilhami oleh Lincoln dan Lenin, oleh Cromwell dan Garibaldi. Dan memang masih banyak yang harus kami pelajari dari tuan-tuan di banyak bidang. Tetapi pada dewasa ini bidang-bidang yang kami harus pelajari lebih banyak lagi dari tuan-tuan, adalah bidang teknik dan ilmiah, dan bukan paham-paham atau gerakan yang didiktekan oleh ideologi.

Di Asia dan Afrika pada dewasa ini masih hidup, masih berpikir, masih bertindak, mereka yang memimpin bangsanya kearah kemerdekaan, mereka yang mengembangkan teori-teori ekonomi yang agung dan membebaskan, mereka yang menumbangkan kelaliman, mereka yang mempersatukan bangsanya dan mereka yang menaklukkan perpecahan bangsanya. Oleh karena itu dan memang selayaknya, kami dari Asia-Afrika saling mendekati untuk memperoleh bimbingan dan inspirasi dan kami mencari pada diri sendiri pengalaman dan kebijaksanaan yang telah terhimpun pada bangsa-bangsa kami.

Apakah tuan-tuan tidak berpendapat bahwa Asia dan Afrika mungkin mempunyai suatu amanat dan suatu cara untuk seluruh dunia?

Ahli filsafat Inggris Bertrand Russell yang ulung itulah yang pernah berkata bahwa "umat manusia sekarang terbagi dalam dua golongan". Yang satu menganut ajaran Declaration of American Independence dari Thomas Jefferson. Golongan lainnya menganut ajaran Manifesto Komunis.

Maafkan, Lord Russell, akan tetapi saya kira tuan melupakan sesuatu. Saya kira tuan melupakan adanya lebih daripada seribu juta rakyat Asia dan Afrika, dan mungkin pula rakyat-rakyat Amerika Latin, yang tidak menganut ajaran Manifesto Komunis maupun Declaration of Independence. Camkanlah, kami mengagumi kedua ajaran itu, dan kami telah banyak belajar dari keduanya dan kami telah diilhami oleh keduanya itu.

Siapakah yang tidak akan dapat ilham dari kata-kata dan semangat Declaration of Independence itu! Kami menganggap kebenaran-kebenaran ini sebagai suatu yang tidak dapat disangkal lagi: "bahwa manusia diciptakan dengan hak yang sama, bahwa mereka diberikan oleh Al-Khalik hak-hak tertentu yang tak dapat diganggu gugat, dan bahwa di antara hak-hak itu terdapat hak untuk hidup, hak kemerdekaan dan hak mengejar kebahagiaan". Siapakah yang terlibat dalam perjuangan untuk kehidupan dan kemerdekaan nasional, tak akan diilhami! Dan sekali lagi, siapakah di antara kita, yang berjuang menegakkan suatu masyarakat yang adil dan makmur di atas puing-puing kolonialisme, tak akan diilhami oleh bayangan kerjasama dan perkembangan ekonomi yang dicetuskan oleh Marx dan Engels! Sekarang telah terjadi suatu konfrontasi di antara kedua pandangan itu, dan konfrontasi itu membahayakan, tidak hanya untuk mereka yang saling berhadapan tetapi juga untuk bagian dunia lainnya.

Saya tidak dapat berbicara atas nama negara-negara Asia dan Afrika lainnya – saya tidak diberi kuasa untuk itu, dan bagaimanapun juga mereka sendiri cakap untuk mengemukakan pandangannya masing-masing. Akan tetapi, saya diberi kuasa – bahkan ditugaskan – untuk berbicara atas nama bangsa saya yang berjumlah sembilan puluh juta itu.

Seperti saya katakan, kami telah membaca dan mempelajari kedua dokumen yang pokok itu. Dari masing-masing dokumen itu banyak yang telah kami ambil dan kami buang apa saja yang tak berguna bagi kami, kami yang hidup di benua lain dan beberapa generasi kemudian. Kami telah mensintesiskan apa yang kami perlukan dari kedua dokumen itu, dan ditinjau dari pengalaman serta pengetahuan kami sendiri, sintesis itu telah kami saring dan kami sesuaikan.

Jadi dengan minta maaf kepada Lord Russell yang saya hormati sekali, dunia ini tidaklah seluruhnya terbagi dalam dua pihak seperti dikiranya.

Meskipun kami telah mengambil sarinya, dan meskipun kami telah mencoba mensintesiskan kedua dokumen yang penting itu, kami tidak dipimpin oleh keduanya itu saja. Kami tidak mengikuti konsepsi liberal ataupun konsepsi komunis. Apa gunanya? Dari pengalaman kami sendiri dan dari sejarah kami sendiri tumbuhlah sesuatu yang lain, sesuatu yang jauh lebih sesuai, sesuatu yang lebih cocok.

Arus sejarah memperlihatkan dengan nyata bahwa semua bangsa memerlukan suatu konsepsi dan cita-cita. Jika mereka tak memilikinya atau jika konsepsi dan cita-cita itu menjadi kabur dan usang, maka bangsa itu adalah dalam bahaya. Sejarah Indonesia kami sendiri memperlihatkannya dengan jelas dan demikian pula halnya dengan sejarah seluruh dunia.

"Sesuatu" itu kami namakan "Pancasila". Ya, Pancasila atau Lima Sendi Negara kami. Lima sendi itu tidaklah langsung berpangkal pada Manifesto Komunis ataupun Declaration of Independence. Memang, gagasan-gagasan dan cita-cita itu mungkin sudah ada sejak berabad-abad, telah terkandung dalam bangsa kami. Dan memang tidak mengherankan bahwa paham-paham mengenai kekuatan yang besar dan kejantanan itu telah timbul dalam bangsa kami selama dua ribu tahun peradaban kami dan selama berabad-abad kejayaan bangsa, sebelum imperialisme menenggelamkan kami pada suatu saat kelemahan nasional.

Jadi, berbicara tentang Pancasila di hadapan tuan-tuan, saya mengemukakan intisari dari peradaban kami selama 2.000 tahun.

Apakah Lima Sendi itu? Ia sangat sederhana: pertama; Ketuhanan yang Maha Esa, kedua; Nasionalisme, ketiga; Internasionalisme, keempat; Demokrasi, kelima; Keadilan Sosial.

Perkenankanlah saya sekarang menguraikan sekadarnya tentang kelima pokok itu.

Pertama: Ketuhanan yang Maha Esa.

Bangsa saya meliputi orang-orang yang menganut berbagai macam agama: ada yang Islam, ada yang Kristen, dan ada yang Budha dan ada yang tidak menganut sesuatu agama. Meskipun demikian untuk delapan puluh lima persen dari sembilan puluh dua juta rakyat kami, bangsa Indonesia terdiri dari pengikut Islam. Berpangkal pada kenyataan ini dan mengingat akan berbeda-beda tetapi bersatunya bangsa kami, kami menempatkan Ketuhanan yang Maha Esa sebagai yang paling utama dalam falsafah hidup kami. Bahkan mereka yang tidak percaya kepada Tuhan pun, karena toleransinya yang menjadi pembawaan, mengakui bahwa kepercayaan kepada Yang Maha Kuasa merupakan karakteristik dari bangsanya, sehingga mereka menerima Sila pertama ini.

Kemudian sebagai nomor dua adalah Nasionalisme. Kekuatan yang membakar nasionalisme dan hasrat akan kemerdekaan mempertahankan hidup kami dan memberi kekuatan kepada kami sepanjang kegelapan penjajahan yang lama, dan selama berkobarnya perjuangan kemerdekaan. Dewasa ini kekuatan yang membakar itu masih tetap menyala-nyala di dada kami dan tetap memberikan kekuatan hidup kepada kami! Akan tetapi nasionalisme kami sekali-kali bukanlah chauvinisme. Kami sekali-kali tidak menganggap diri kami lebih unggul dari bangsa-bangsa lain. Kami sekali-kali tidak pula berusaha untuk memaksakan kehendak kami kepada bangsa-bangsa lain. Saya mengetahui benar-benar, bahwa istilah "nasionalisme" dicurigai, bahkan tidak dipercayai di negara-negara Barat. Hal ini disebabkan karena Barat telah memperkosa dan memutarbalikkan nasionalisme. Padahal nasionalisme yang sejati masih tetap berkobar-kobar di negara-negara Barat. Jika tidak demikian, maka Barat tidak akan menantang dengan senjata chauvinisme Hitler yang agresif.

Tidakkah nasionalisme – sebutlah jika mau, patriotisme – mempertahankan kelangsungan hidup semua bangsa? Siapa yang berani menyangkal bangsa, yang melahirkan dia? Siapa yang berani berpaling dari bangsa, yang menjadikan dia? Nasionalisme adalah mesin besar yang menggerakkan dan mengawasi semua kegiatan internasional kita; nasionalisme adalah sumber besar dan inspirasi agung dari kemerdekaan.

Nasionalisme kami di Asia dan Afrika tidaklah sama dengan yang terdapat pada sistem Negara-negara Barat. Di Barat, nasionalisme berkembang sebagai kekuatan yang agresif yang mencari ekspansi serta keuntungan bagi ekonomi nasionalnya. Nasionalisme di Barat adalah kakek dari imperialisme, yang bapaknya adalah kapitalisme. Di Asia dan Afrika, dan saya kira juga di Amerika Latin, nasionalisme adalah gerakan pembebasan, suatu gerakan protes terhadap imperialisme dan kolonialisme, dan suatu jawaban terhadap penindasan nasionalis-chauvinis yang bersumber di Eropa. Nasionalisme Asia dan Afrika serta nasionalisme Amerika Latin tidak dapat ditinjau tanpa memperhatikan inti sosialnya.

Di Indonesia kami menganggap inti sosial itu sebagai pendorong untuk mencapai keadilan dan kemakmuran. Bukankah itu tujuan baik yang dapat diterima oleh semua orang? Saya tidak berbicara hanya tentang kami sendiri di Indonesia, juga tidak hanya tentang saudara-saudara saya di Asia dan Afrika serta Amerika Latin. Saya berbicara tentang seluruh dunia. Masyarakat yang adil dan makmur dapat merupakan cita-cita dan tujuan semua orang.

Mahatma Gandhi pernah berkata: "Saya seorang nasionalis, akan tetapi nasionalisme saya adalah perikemanusiaan". Kami pun berkata demikian. Kami nasionalis, kami cinta kepada bangsa kami dan kepada semua bangsa. Kami nasionalis karena kami percaya bahwa bangsa-bangsa adalah sangat penting bagi dunia di masa sekarang ini, dan kami akan tetap demikian, sejauh mata dapat memandang ke masa depan. Karena kami nasionalis, maka kami mendukung dan menganjurkan nasionalisme, di mana saja kami jumpainya.

Sila ketiga kami adalah Internasionalisme.

Antara nasionalisme dan internasionalisme tidak ada perselisihan atau pertentangan. Memang benar, bahwa internasionalisme tidak akan dapat tumbuh dan berkembang selain di atas tanah yang subur dari nasionalisme. Bukankah organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa itu merupakan bukti yang nyata dari hal ini? Dahulu ada Liga Bangsa-Bangsa. Kini ada Perserikatan Bangsa-Bangsa. Nama-nama itu sendiri menunjukkan bahwa kedua-duanya tidak akan bisa berdiri tanpa adanya bangsa-bangsa dan nasionalisme. Justru adanya kedua organisasi itu menunjukkan bahwa bangsa-bangsa mengingini dan mem-butuhkan suatu badan intemasional, di mana setiap bangsa mempunyai kedudukan yang sederajat. Internasionalisme sama sekali bukan kosmopolitanisme, yang merupakan penyangkalan terhadap nasionalisme, yang anti-nasional dan memang bertentangan dengan kenyataan.

Sebetulnya internasionalisme yang sejati adalah pernyataan dari nasionalisme yang sejati, di mana setiap bangsa menghargai dan menjaga hak-hak semua bangsa, baik yang besar mau pun yang kecil, yang lama maupun yang baru. Internasionalisme yang sejati adalah tanda, bahwa suatu bangsa telah menjadi dewasa dan bertanggung jawab, telah meninggalkan sifat kekanak-kanakan mengenai rasa keunggulan nasional atau rasial, telah meninggalkan penyakit kekanak-kanakan tentang chauvinisme dan kosmopolitanisme.

Sila keempat adalah Demokrasi.

Demokrasi bukanlah monopoli atau penemuan dari aturan sosial Barat. Lebih tegas, demokrasi tampaknya merupakan keadaan asli dari manusia, meskipun diubah untuk disesuaikan dengan kondisi-kondisi sosial yang khusus.

Selama beribu-ribu tahun dari peradaban Indonesia, kami telah mengembangkan bentuk-bentuk demokrasi Indonesia. Kami percaya, bahwa bentuk-bentuk ini mempunyai pertalian dan arti internasional. Ini adalah soal yang akan saya bicarakan kemudian.

Akhirnya, Sila yang penghabisan dan yang terutama ialah Keadilan Sosial. Pada Keadilan Sosial ini kami rangkaikan kemakmuran sosial, karena kami menganggap kedua hal ini tidak dapat dipisah-pisahkan. Benar, hanya suatu masyarakat yang makmur dapat merupakan masyarakat yang adil, meskipun kemakmuran itu sendiri bisa bersemayam dalam ketidakadilan sosial.

Demikian Pancasila kami. Ketuhanan yang Maha Esa, Nasionalisme, Internasionalisme, Demokrasi dan Keadilan Sosial.

Itulah dasar-dasar yang telah diterima sepenuhnya oleh bangsa saya dan yang dipergunakannya sebagai pedoman bagi segala kegiatan politik, ekonomi dan sosial.

Tidaklah termasuk tugas saya hari ini untuk menguraikan bagaimana kami berusaha dalam kehidupan dan urusan nasional kami, menggunakan dan melaksanakan Pancasila. Jika saya menguraikan hal ini, maka ini akan mengganggu keramahtamahan badan internasional ini.

Akan tetapi saya sungguh-sungguh percaya, bahwa Pancasila mengandung lebih banyak daripada arti nasional saja. Pancasila mempunyai arti universal dan dapat digunakan secara internasional.

Tidak seorang pun akan membantah unsur kebenaran dalam pandangan yang dikemukakan oleh Bertrand Russell itu. Sebagian besar dari dunia telah terbagi menjadi golongan yang menerima gagasan dan prisnsip-prinsip Declaration of American Independence dan golongan yang menerima gagasan dan prinsip-prinsip Manifesto Komunis. Mereka yang menerima gagasan yang satu menolak gagasan yang lain, dan terdapatlah bentrokan atas dasar ideologis maupun praktis.

Kita semuanya terancam oleh bentrokan ini dan kita merasa khawatir karena bentrokan ini. Apakah tidak ada sesuatu tindakan yang dapat diambil terhadap ancaman ini? Apakah hal ini harus berlangsung terus dari generasi ke generasi, dengan kemungkinan pada akhirnya akan meletus menjadi lautan api yang akan menelan kita semuanya? Apakah tidak ada suatu jalan keluar?

Jalan keluar harus ada. Jika tidak ada, maka semua musyawarah kita, semua harapan kita, semua perjuangan kita akan sia-sia belaka.

Kami bangsa Indonesia tidak bersedia bertopang dagu, sedangkan dunia menuju ke jurang keruntuhannya. Kami tidak bersedia bahwa fajar cerah dari kemerdekaan kami diliputi oleh awan radioaktif. Tidak satu pun di antara bangsa-bangsa Asia atau Afrika akan bersedia menerima hal itu. Kami memikul pertanggungan jawab terhadap dunia, dan kami siap menerima serta memenuhi pertanggungan jawab itu. Jika itu berarti turut campur dalam apa yang tadinya merupakan urusan-urusan Negara-negara Besar yang dijauhkan dari kami, maka kami akan bersedia melakukannya. Tidak ada bangsa Asia dan Afrika manapun juga yang akan menyingkirkan tugas itu.

Bukankah jelas, bahwa bentrokan itu timbul terutama karena ketidakadilan? Di dalam suatu bangsa, adanya yang kaya dan yang miskin, yang diisap dan yang mengisap, menimbulkan bentrokan. Hilangkan pengisapan, dan bentrokan itu akan lenyap, karena sebab yang menimbulkan bentrokan itu telah tidak ada.

Di antara bangsa-bangsa, jika ada yang kaya dan yang miskin, yang menghisap dan yang diisap, akan pula ada bentrokan. Hilangkan sebab yang menimbulkan bentrokan, dan bentrokan itu akan lenyap. Hal ini berlaku, baik internasional maupun di dalam suatu bangsa. Dilenyapkannya imperialisme dan kolonialisme meniadakan pengisapan demikian dari bangsa oleh bangsa.

Saya percaya, bahwa ada jalan keluar daripada konfrontasi ideologi-ideologi ini. Saya percaya bahwa jalan keluar itu terletak pada dipakainya Pancasila secara universal!

Siapakah di antara tuan-tuan menolak Pancasila? Apakah wakil-wakil yang terhormat dari bangsa Amerika yang besar yang menolaknya? Apakah wakil-wakil dari bangsa Rusia yang besar yang menolaknya? Ataukah wakil-wakil yang terhormat dari Inggris atau Polandia, atau Prancis atau Cekoslowakia? Ataukah memang ada di antara mereka yang agaknya telah mengambil posisi yang statis dalam Perang Dingin antara gagasan-gagasan dan praktik-praktik, dan yang berusaha tetap berakar sedalam-dalamnya sedangkan dunia menghadapi kekacauan-kekacauan?

Lihat, lihatlah delegasi yang mendukung saya! Delegasi itu bukan terdiri dari pegawai-pegawai negeri atau politikus-politikus profesional. Delegasi ini mewakili bangsa Indonesia. Dalam Delegasi ini ada prajurit-prajurit. Mereka menerima Pancasila, ada seorang ulama Islam yang besar, yang merupakan sokoguru bagi agamanya. Ia menerima Pancasila. Selanjutnya ada pemimpin Partai Komunis Indonesia yang kuat. Ia menerima Pancasila. Seterusnya ada wakil-wakil dari golongan-golongan Katolik dan Protestan, dari Partai Nasionalis dan organisasi-organisasi buruh dan tani, ada pula wanita-wanita, kaum cendekiawan dan pejabat-pejabat pemerintahan. Semuanya, ya semuanya, menerima Pancasila.

Mereka bukannya menerima Pancasila semata-mata sebagai konsepsi ideologi belaka, melainkan sebagai suatu pedoman yang praktis sekali untuk bertindak. Mereka, di antara bangsa saya yang berusaha menjadi pemimpin tetapi menolak Pancasila, ditolak pula oleh bangsa Indonesia.

Bagaimanakah penggunaan secara internasional daripada Pancasila? Bagaimana Pancasila itu dapat dipraktikkan? Marilah kita tinjau kelima pokok itu satu demi satu.

Pertama: Ketuhanan yang Maha Esa.

Tidak seorang pun yang menerima Declaration of American Independence sebagai pedoman untuk hidup dan bertindak, akan menyangkalnya. Begitu pula tidak ada seorang pengikut pun dari Manifesto Komunis, dalam forum internasional ini kini akan menyangkal hak untuk percaya kepada Yang Maha Kuasa. Untuk penjelasan lebih lanjut mengenai hal ini, saya persilakan tuan-tuan yang terhormat bertanya kepada Tuan Aidit, ketua Partai Komunis Indonesia, yang duduk dalam Delegasi saya dan yang menerima sepenuhnya baik Manifesto Komunis maupun Pancasila.

Kedua: Nasionalisme.

Kita semua adalah wakil-wakil bangsa-bangsa. Bagaimana kita akan dapat menolak nasionalisme? Jika kita menolak nasionalisme, maka kita harus menolak kebangsaan kita sendiri dan menolak pengorbanan-pengorbanan yang telah diberikan oleh generasi-generasi. Akan tetapi saya peringatkan tuan-tuan: jika tuan-tuan menerima prinsip-prinsip nasionalisme, maka tuan-tuan harus menolak imperialisme. Tetapi pada peringatan itu saya ingin menambahkan peringatan lagi: jika tuan-tuan menolak imperialisme, maka secara otomatis dan dengan segera tuan-tuan lenyapkan dari dunia yang dalam kesukaran ini sebab terbesar yang menimbulkan ketegangan dan bentrokan.

Ketiga: Internasionalisme.

Apakah perlu untuk berbicara dengan panjang lebar mengenai internasionalisme dalam badan internasional ini? Tentu tidak! Jika bangsa-bangsa kita tidak international-minded, maka bangsa-bangsa itu tidak akan menjadi anggota organisasi ini. Akan tetapi, internasionalisme yang sejati tidak selalu terdapat di sini. Saya menyesal harus mengatakan demikian, akan tetapi hal ini adalah suatu kenyataan. Terlalu sering Perserikatan Bangsa-Bangsa digunakan sebagai forum untuk tujuan-tujuan nasional yang sempit atau tujuan-tujuan golongan saja. Terlalu sering pula tujuan-tujuan yang agung dan cita-cita yang luhur dari piagam kita dikaburkan oleh usaha untuk mencari keuntungan nasional atau prestige nasional. Internasionalisme yang sejati harus didasarkan atas kenyataan persamaan nasional. Internasionalisme yang sejati harus didasarkan atas persamaan kehormatan, persamaan penghargaan dan atas dasar penggunaan secara praktis daripada kebenaran, bahwa semua orang adalah saudara. Untuk mengutip piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dokumen yang seringkali dilupakan orang itu – internasionalisme itu harus "meneguhkan kembali keyakinan berdasarkan hak hak yang sama bagi bangsa-bangsa, baik besar maupun kecil".

Akhirnya, dan sekali lagi, internasionalisme akan berarti berakhirnya imperialisme dan kolonialisme, sehingga dengan demikian berakhirnya banyak bahaya dan ketegangan.

Keempat: demokrasi.

Bagi kami bangsa Indonesia, demokrasi mengandung tiga unsur yang pokok. Demokrasi mengandung pertama-tama prinsip yang kami sebut Mufakat yakni: kebulatan pendapat.

Kedua, demokrasi mengandung prinsip Perwakilan.

Akhirnya demokrasi mengandung, bagi kami prinsip Musyawarah. Ya, demokrasi Indonesia mengandung ketiga prinsip itu, yakni mufakat, perwakilan dan musyawarah antar wakil-wakil.

Prinsip-prinsip daripada cara kehidupan demokrasi kami ini dikandung sedalam-dalamnya oleh rakyat kami dan sudah ada sejak berabad-abad lamanya. Prinsip ini menguasai kehidupan demokrasi kami ketika suku-suku yang liar dan biadab masih mengembara di Eropa. Prinsip-prinsip ini membimbing kami ketika feodalisme menjadikan dirinya kekuatan yang progresif yang memang revolusioner di Eropa. Prinsip-prinsip ini memberikan kekuatan kepada kami, ketika feodalisme melahirkan kapitalisme, dan ketika kapitalisme menjadi bapak imperialisme yang memperbudak kami. Prinsip-prinsip ini memberikan kekuatan kepada kami selama gerhana kegelapan penjajahan dan selama tahun-tahun yang berjalan lambat, ketika bentuk-bentuk lain dan berbeda-beda dari praktik-praktik demokrasi timbul secara perlahan-lahan di Eropa dan Amerika.

Demokrasi kami tua, tetapi jaya dan kuat, sama jayanya dan kuatnya seperti bangsa Indonesia yang menjadi sumbernya.

Perhatikanlah. Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa ini adalah organisasi dari bangsa-bangsa yang sederajat, organisasi dari negara-negara yang mempunyai kedaulatan yang sederajat, kemerdekaan yang sederajat dan rasa bangsa yang sederajat tentang kedaulatan serta kemerdekaan. Satu-satunya cara bagi organisasi ini untuk dapat menjalankan fungsinya secara memuaskan, ialah dengan jalan mufakat yang diperoleh dalam musyawarah. Musyawarah harus dilakukan sedemikian rupa, sehingga tidak ada saingan antara pendapat-pendapat yang bertentangan, tidak ada resolusi-resolusi dan resolusi-resolusi balasan, tidak ada pemihakan-pemihakan, melainkan hanya usaha yang teguh untuk mencari dasar umum dalam memecah-kan suatu masalah. Dari musyawarah semacam ini timbullah permufakatan, suatu kebulatan pendapat, yang lebih kuat daripada suatu resolusi yang dipaksakan melalui jumlah suara mayoritas, suatu resolusi yang mungkin tidak diterima, atau yang mungkin tidak disukai oleh minoritas.

Apakah saya berbicara idealistis? Apakah saya memimpikan dunia yang ideal dan romantis?

Tidak! Kedua kaki saya dengan teguh berpijak di tanah! Betul saya menengadah ke langit untuk mendapatkan inspirasi, akan tetapi pikiran saya tidak berada di awang-awang. Saya tegaskan bahwa cara-cara musyawarah demikian ini dapat dilaksanakan. Cara-cara itu bagi kami dapat dijalankan. Cara-cara itu dapat dijalankan dalam Dewan Perwakilan Rakyat kami, cara-cara itu dapat dijalankan dalam Dewan Pertimbangan Agung kami, cara-cara itu dapat dijalankan dalam Kabinet kami.

Cara musyawarah ini dapat dijalankan, karena wakil-wakil bangsa kami berkeinginan agar cara-cara itu dapat berjalan. Kaum Komunis menginginkannya, kaum nasionalis menginginkannya, golongan Islam menginginkannya, dan golongan Kristen menginginkannya. Tentara menginginkannya, baik warga kota maupun rakyat di desa-desa yang terpencil menginginkannya, kaum cendekiawan menginginkannya dan orang yang berusaha sekuat tenaga memberantas buta huruf menginginkannya. Semua menginginkannya, karena semua menginginkan tercapainya tujuan jelas dari Pancasila, dan tujuan yang jelas itu ialah masyarakat adil dan makmur.

Tuan-tuan boleh berkata: "Ya, kita akan menerima kata-kata Presiden Soekarno dan kita akan menerima bukti-bukti yang kita lihat dalam susunan delegasinya di Perserikatan Bangsa-Bangsa pada hari ini, akan tetapi kita adalah kaum realis dalam dunia yang kejam. Cara satu-satunya untuk menyelenggarakan pertemuan internasional ialah cara yang dipergunakan dalam menyelenggarakan Perserikatan Bangsa-Bangsa, yaitu dengan resolusi-resolusi, amandemen-amandemen, suara-suara mayoritas dan minoritas".

Perkenankanlah saya menegaskan sesuatu. Kami tahu dari pengalaman yang sama pahitnya, sama praktisnya dan sama realistisnya, bahwa cara-cara musyawarah kami dapat pula diselenggarakan di bidang internasional. Di sidang ini cara-cara itu berjalan sama baiknya seperti bidang nasional.

Seperti tuan-tuan ketahui, belum begitu lama berselang wakil-wakil dari dua puluh sembilan bangsa-bangsa dari Asia dan Afrika berkumpul di Bandung. Pemimpin-pemimpin bangsa-bangsa itu bukan pemimpin pengelamun yang tidak praktis. Jauh dari itu! Mereka adalah pemimpin-pemimpin yang keras dan realistis dari rakyat dan bangsa-bangsa, sebagian besar di antara mereka lulus dari perjuangan kemerdekaan nasional, semuanya mengetahui benar akan kenyataan-kenyataan daripada kehidupan serta kepemimpinan baik politik maupun internasional.

Mereka mempunyai pandangan politik yang berbeda-beda, dari ekstrem kanan sampai ekstrem kiri.

Banyak orang di negara-negara Barat tidak dapat dipercaya bahwa konferensi semacam itu dapat menghasilkan sesuatu yang berguna. Banyak orang bahkan berpendapat bahwa konferensi itu akan bubar dalam keadaan kacau dan saling tuduh-menuduh, terpecah-belah di atas karang perbedaan faham politik.

Konferensi Asia-Afrika diselenggarakan dengan cara-cara musyawarah.

Dalam konferensi itu tidak terdapat mayoritas dan minoritas. Tidak pula diadakan pemungutan suara. Dalam konferensi itu hanya terdapat musyawarah dan keinginan umum untuk mencapai persetujuan. Konferensi itu menghasilkan komunike yang dibuat dengan suara bulat, komunike yang merupakan salah suatu yang terpenting dalam windu ini atau mungkin salah satu dokumen yang terpenting dalam sejarah.

Apakah tuan-tuan masih sangsi terhadap faedah dan efisiensi daripada cara musyawarah semacam itu?

Saya yakin bahwa pemakaian dengan tulus ikhlas dari caracara musyawarah demikian ini akan mempermudah pekerjaan organisasi internasional ini. Ya, barangkali cara ini akan memungkinkan pekerjaan yang sederhana dari organisasi ini. Cara musyawarah ini akan menunjukkan jalan untuk menyelesaikan banyak masalah-masalah yang mungkin bertumpuk bertahun-tahun. Cara musyawarah ini akan memungkinkan terselesaikannya masalah-masalah yang tampaknya tidak terpecahkan.

Dan saya minta dengan hormat, hendaknya tuan-tuan ingat bahwa sejarah memperlakukan mereka yang gagal tanpa mengenal ampun.

Siapakah yang sekarang ini ingat kepada mereka yang membanting tulang dalam Liga Bangsa-Bangsa? Kita hanya ingat kepada mereka yang telah menghancurkan badan internasional itu! Akan tetapi mereka hanya menghancurkan suatu organisasi negara-negara dari sebagian dunia saja. Kita tidak bersedia bertopang dagu dan melihat organisasi ini, organisasi kita sendiri, dihancurkan karena tidak fleksibel, atau karena lambat menyambut keadaan dunia yang berubah.

Apakah tidak patut dicoba? Jika tuan-tuan berpendapat tidak, maka tuan-tuan harus bersedia untuk mempertanggungjawabkan keputusan tuan-tuan di hadapan mahkamah sejarah.

Akhirnya, dalam Pancasila terkandung Keadilan Sosial. Untuk dapat dilaksanakan di bidang internasional, mungkin hal ini akan menjadi keadilan sosial internasional. Sekali lagi, menerima prinsip ini akan berarti menolak kolonialisme dan imperialisme.

Selanjutnya, diterimanya oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa keadilan sosial sebagai suatu tujuan, akan berarti diterimanya pertanggungan jawab dan kewajiban-kewajiban tertentu.

Ini akan berarti usaha yang tegas dan berpadu untuk mengakhiri banyak dari kejahatan-kejahatan sosial, yang menyusahkan dunia kita. Ini akan berarti bahwa bantuan kepada negara-negara yang belum maju dan bangsa-bangsa yang kurang beruntung akan disingkirkan dari suasana Perang Dingin. Ini akan berarti pula pengakuan yang praktis bahwa semua orang adalah saudara dan bahwa semua orang mempunyai tanggung jawab terhadap saudaranya.

Apakah ini bukan tujuan mulia? Apakah ada yang berani menyangkal kemuliaan dan keadilan daripada tujuan ini? Jika ada yang berani menyangkalnya, maka suruhlah ia menghadapi kenyataan! Suruh ia menghadapi si lapar, suruh ia menghadapi si buta huruf, suruh ia menghadapi si sakit dan suruhlah ia kemudian membenarkan sangkalannya!

Perkanankanlah saya sekali lagi mengulangi lima sila itu. Ketuhanan yang Maha Esa, Nasionalisme, Internasionalisme, Demokrasi, Keadilan Sosial.

Marilah kita selidiki apakah hal-hal itu sebenarnya merupakan suatu sintesis yang dapat diterima oleh kita semua. Marilah kita bertanya kepada diri sendiri, apakah penerimaan prinsip-prinsip itu akan memberikan suatu pemecahan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh organisasi ini.

Benar, Perserikatan Bangsa-Bangsa tidak hanya terdiri dari pada piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa saja. Meskipun demikian dokumen yang bersejarah itu tetap merupakan bintang pembimbing dalam ilham organisasi ini.

Dalam banyak hal piagam mencerminkan konstelasi politik dan kekuatan pada saat dilahirkannya. Dalam banyak hal piagam itu tidak mencerminkan kenyataan-kenyataan masa sekarang.

Oleh karena itu marilah kita pertimbangkan apakah Lima Sila yang telah saya kemukakan, dapat memperkuat dan memperbaiki piagam kita.

Saya yakin, ya, saya yakin seyakin-yakinnya bahwa diterimanya kelima prinsip itu dan dicantumkannya dalam piagam, akan sangat memperkuat Perserikatan Bangsa-Bangsa. Saya yakin, bahwa Pancasila akan menempatkan Perserikatan Bangsa-Bangsa sejajar dengan perkembangan terakhir dari dunia. Saya yakin bahwa Pancasila akan memungkinkan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk menghadapi hari kemudian dengan kesegaran dan kepercayaan. Akhirnya, saya yakin bahwa diterimanya Pancasila sebagai dasar piagam, akan menyebabkan piagam ini akan diterima lebih ikhlas oleh semua anggota, baik yang lama maupun yang baru.

Saya akan ajukan satu soal lagi dalam hubungan ini. Adalah suatu kehormatan besar bagi suatu negara bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa berkedudukan di dalam wilayahnya. Kita semua benar-benar bersyukur bahwa Amerika Serikat telah memberi tempat yang tetap bagi Organisasi kita. Tetapi, mungkin dapat dipersoalkan apakah itu memang tepat.

Dengan segala hormat, saya kemukakan bahwa itu mungkin tidak tepat. Bahwasanya kedudukan Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam wilayah salah satu negara yang terkemuka dalam Perang Dingin, berarti Perang Dingin telah merembes bahkan sampai ke pekerjaan dan administrasi serta rumah tangga organisasi kita ini. Sedemikian luasnya perembesan itu, sehingga hadirnya pemimpin suatu bangsa yang besar dalam sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa ini saja sudah menjadi persoalan Perang Dingin dan senjata perang Dingin, serta alat untuk mempertajam cara kehidupan yang berbahaya serta sia-sia itu.

Marilah kita tinjau apakah tempat kedudukan Organisasi kita tidak perlu dipindahkan dari suasana Perang Dingin. Marilah kita tinjau apakah Asia atau Afrika atau Jenewa akan dapat memberi tempat yang permanen kepada kita, yang jauh dari Perang Dingin, tidak terikat pada salah satu blok dan di mana para Delegasi dapat bergerak dengan leluasa dan bebas sekehendak mereka. Dengan demikian, mungkin akan diperoleh pengertian yang lebih luas tentang dunia dan masalah-masalahnya.

Saya yakin, bahwa suatu negara Asia atau Afrika, mengingat akan keyakinan dan kepercayaannya, dengan senang akan menunjukkan kemurahan hatinya kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa, mungkin dengan menyediakan suatu daerah yang cukup luas, di mana organisasi itu sendiri akan berdaulat dan di mana perundingan-perundingan yang penting bagi pekerjaan vital itu dapat dilaksanakan secara aman dan dalam suasana persaudaraan.

Perserikatan Bangsa-Bangsa tidak lagi merupakan badan seperti yang menandatangani Piagam 15 tahun yang lalu. Dunia ini pun tidak sama dengan yang dahulu. Mereka yang dengan kebijaksanaan berjerih payah untuk menghasilkan Piagam Organisasi ini, tidak dapat menyangka akan terjelmanya bentuk yang sekarang ini. Di antara orang-orang yang bijaksana dan jauh pandangannya itu, hanya beberapa yang sadar, bahwa akhir imperialisme sudah tampak dan bahwa bila Organisasi ini harus hidup terus, maka ia mesti memberi kemungkinan kepada bangsa-bangsa baru dan bangsa-bangsa yang lahir kembali untuk masuk beramai-ramai, berduyun-duyun dan bersemangat.

Tujuan Perserikatan Bangsa-Bangsa seharusnya ialah memecahkan masalah-masalah. Untuk menggunakannya sebagai forum perdebatan belaka, atau sebagai saluran propaganda, atau sebagai sambungan dari politik dalam negeri, berarti memutar-balikkan cita-cita mulia yang seharusnya meresap di dalam badan ini.

Pergolakan-pergolakan kolonial, perkembangan yang cepat dari daerah-daerah yang belum maju di lapangan teknis, dan masalah perlucutan senjata, semuanya merupakan masalah-masalah yang tepat dan mendesak untuk kita pertimbangkan dan musyawarahkan. Akan tetapi, telah menjadi jelas, bahwa masalah-masalah yang vital ini tidak dapat dibicarakan secara memuaskan oleh organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang sekarang ini. Sejarah badan ini menunjukkan kebenaran yang menyedihkan dan yang jelas daripada apa yang telah saya katakan.

Sungguh tidak mengherankan bahwa demikianlah jadinya. Kenyataannya ialah bahwa organisasi kita mencerminkan dunia tahun 1945, dan bukan dunia zaman sekarang. Demikianlah halnya dengan semua badan-badannya kecuali satu-satunya Majelis yang agung ini – dan dengan semua lembaga-lembaganya.

Organisasi dan keanggotaan Dewan Keamanan – badan yang terpenting itu – mencerminkan peta ekonomi, militer dan kekuatan dari dunia tahun 1945, ketika organisasi ini dilahirkan dari inspirasi dan angan-angan yang besar. Demikian pula halnya dengan sebagian besar daripada lembaga-lembaga lainnya. Mereka itu tidak mencerminkan bangkitnya negara-negara sosialis ataupun berkembangnya dengan cepat kemerdekaan Asia dan Afrika.

Untuk memodernkan dan membuat efisien organisasi kita, barangkali juga Sekretariat di bawah pimpinan Sekretariat Jenderal-nya, mungkin membutuhkan peninjauan kembali. Dengan mengatakan demikian, saya tidak – sama sekali tidak – mengkritik atau mencela dengan cara apapun Sekretaris Jenderal yang sekarang, yang senantiasa berusaha, dalam keadaan-keadaan yang tak dapat diterima lagi, melakukan tugasnya dengan baik, yang kadang-kadang tampaknya tidak mungkin dilaksanakan.

Jadi, bagaimanakah mereka bisa efisien? Bagaimanakah anggota-anggota kedua golongan dalam dunia ini – yakni golongan-golongan yang merupakan suatu kenyataan dan yang harus diterima – bagaimanakah anggota-anggota kedua golongan itu bisa merasa tenang di dalam Organisasi ini dan mempunyai kepercayaan penuh yang diperlukan terhadapnya.

Sejak perang kita telah menyaksikan tiga gejala-gejala besar yang permanen.

Pertama ialah bangkitnya negara-negara sosialis. Hal ini tidak disangka dalam tahun Sembilanbelas Empatpuluh Lima. Kedua ialah gelombang besar daripada pembebasan nasional dan emansipasi ekonomi yang melanda Asia dan Afrika serta saudara-saudara kita di Amerika Latin. Saya kira bahwa hanya kita, yang langsung terlibat di dalamnya dapat menduganya. Ketiga ialah kemajuan ilmiah besar, yang semua bergerak di lapangan persenjataan dan peperangan, akan tetapi yang dewasa ini berpindah ke lapangan rintangan dan perbatasan ruang angkasa. Siapakah yang dapat meramalkannya ketika itu?

Benar, Piagam kita dapat dirubah. Saya menyadari, bahwa ada prosedur untuk melakukan hal ini dan akan tiba waktunya ini dapat dilakukan. Akan tetapi persoalan ini mendesak.

Hal ini mungkin merupakan persoalan mati atau hidup bagi Perserikatan Bangsa-Bangsa. Janganlah sampai pandangan legalistik yang picik dapat menghalangi dikerjakannya usaha itu dengan segera.

Adalah sama pentingnya bahwa pembagian kursi dalam Dewan Keamanan dan badan-badan serta lembaga-lembaga lainnya harus dirubah. Dalam hal ini saya tidak berpikir dalam istilah blok-blokan, tetapi saya memikirkan betapa sangat perlunya Piagam dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, dari badan-badan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Sekretariat Perserikatan Bangsa-Bangsa, semuanya itu mencerminkan keadaan yang sebenarnya dari dunia kita sekarang ini.

Kami dari Indonesia memandang Organisasi ini dengan harapan yang besar, tetapi juga dengan kekhawatiran yang besar. Kami memandangnya dengan harapan besar, karena pernah berfaedah bagi kami dalam perjuangan untuk kehidupan nasional kami. Kami memandangnya dengan harapan besar, karena kami percaya bahwa hanya organisasi semacam inilah dapat memberikan rangka bagi dunia yang sehat dan aman sebagaimana kami rindukan.

Kami memandangnya dengan kekhawatiran besar, karena kami telah mengajukan suatu masalah nasional yang besar, masalah Irian Barat, ke hadapan Majelis ini, dan tiada suatu penyelesaian dapat dicapai. Kami memandangnya dengan kekhawatiran, karena negara-negara besar di dunia telah memasukkan permainan Perang Dingin mereka yang berbahaya itu ke dalam ruangan-ruangannya.

Kami memandangnya dengan kekhawatiran, kalau-kalau Majelis ini akan menemui kegagalan dan akan mengikuti jejak organisasi yang digantikannya, dan dengan demikian melenyapkan dari pandangan mata umat manusia suatu gambaran daripada suatu masa depan yang aman dan bersatu.

Marilah kita hadapi kenyataan bahwa organisasi ini, dengan cara-cara yang dipergunakannya sekarang ini dan dalam bentuknya sekarang, adalah suatu hasil sistem negara Barat. Maafkan saya, tetapi saya tidak menjunjung tinggi sistem itu. Bahkan saya tidak dapat memandangnya dengan rasa kasih, meskipun saya sangat menghargainya.

Imperialisme dan kolonialisme adalah keturunan dari sistem negara Barat itu, dan seperasaan dengan sebagian besar dari organisasi ini, saya benci imperialisme, saya jijik pada kolonialisme, dan saya khawatir akan akibat-akibat perjuangan hidupnya yang terakhir yang dilakukan dengan sengitnya. Dua kali di dalam masa hidup saya sendiri, sistem negara Barat itu telah merobek-robek dirinya sendiri dan pernah sekali hampir saja menghancurkan dunia dalam suatu bentrokan yang sengit.

Herankah tuan-tuan, bahwa banyak di antara kami memandang organisasi yang juga merupakan hasil sistem negara Barat itu dengan penuh pertanyaan? Janganlah tuan-tuan salah mengerti. Kami menghormati dan mengagumi sistem itu. Kami telah diilhami oleh kata-kata Lincoln dan Lenin, oleh perbuatan-perbuatan Washington dan oleh perbuatan-perbuatan Garibaldi. Bahkan, mungkin, kami melihat dengan iri kepada beberapa di antara hasil-hasil fisik yang dicapai oleh Barat. Tetapi kami bertekad bahwa bangsa-bangsa kami, dan dunia sebagai keseluruhan, tidak akan menjadi permainan dari suatu bagian kecil dari dunia.

Kami tidak berusaha mempertahankan dunia yang kami kenal; kami berusaha membangun suatu dunia yang baru, yang lebih baik!

Kami berusaha membangun suatu dunia yang sehat dan aman. Kami berusaha membangun suatu dunia, di mana setiap orang dapat hidup dalam suasana damai. Kami berusaha membangun suatu dunia, di mana terdapat keadilan dan kemakmuran untuk semua orang. Kami berusaha membangun suatu dunia, di mana kemanusiaan dapat mencapai kejayaannya yang penuh.

Telah dikatakan bahwa kita hidup di tengah-tengah suatu Revolusi Harapan Yang Meningkat. Ini tidak benar! Kita hidup di tengah-tengah Revolusi Tuntutan Yang Meningkat. Mereka yang dahulunya tanpa kemerdekaan, kini menuntut kemerdekaan. Mereka yang dahulunya tanpa suara, kini menuntut, agar suaranya didengar.

Mereka yang dahulunya kelaparan, kini menuntut beras, banyak-banyak dan setiap hari. Mereka yang dahulunya buta huruf, kini menuntut pendidikan.

Seluruh dunia ini merupakan suatu sumber-sumber tenaga Revolusi yang besar, suatu gudang mesiu revolusioner yang besar.

Tidak kurang dari tiga per empat umat manusia terlibat di dalam revolusi Tuntutan yang Meningkat, dan ini adalah Revolusi Mahahebat sejak manusia untuk pertama kalinya berjalan dengan tegak di suatu dunia yang murni dan menyenangkan.

Berhasil atau gagalnya Organisasi ini akan dinilai dari hubungannya dengan Revolusi Tuntutan Yang Meningkat itu. Generasi-generasi yang akan datang akan memuji atau mengutuk kita atas jawaban kita terhadap tantangan ini.

Kita tidak berani gagal. Kita tidak berani membelakangi sejarah. Jika kita berani, kita sungguh tidak akan tertolong lagi. Bangsa saya bertekad tidak akan gagal. Saya tidak berbicara kepada tuan-tuan karena lemah; saya berbicara karena kuat. Saya sampaikan kepada tuan-tuan salam dari sembilan puluh juta rakyat dan saya sampaikan kepada tuan-tuan tuntutan bangsa itu. Kita mempunyai kesempatan untuk bersama-sama membangun suatu dunia yang lebih baik, suatu dunia yang lebih aman. Kesempatan ini mungkin tidak akan ada lagi. Maka peganglah, genggamlah kuat-kuat dan pergunakanlah kesempatan itu.

Tidak seorang pun yang mempunyai kemauan baik dan kepribadian, akan menolak harapan-harapan dan keyakinan-keyakinan yang telah saya kemukakan atas nama bangsa saya, dan sesungguhnya atas nama seluruh umat manusia. Maka marilah kita berusaha, sekarang juga dengan tidak menunda lagi, mewujudkan harapan-harapan itu menjadi kenyataan.

Sebagai suatu langkah praktis ke arah ini, maka merupakan kehormatan dan tugas bagi saya untuk menyampaikan suatu Rancangan Resolusi kepada Majelis Umum ini.

Atas nama Delegasi-delegasi Ghana, India, Republik Persatuan Arab, Yugoslavia dan Indonesia, saya sampaikan dengan ini resolusi sebagai berikut.

"MAJELIS UMUM,

"MERASA SANGAT CEMAS berkenaan dengan memburuknya hubungan-hubungan internasional akhir-akhir ini, yang mengancam dunia dengan konsekuensi-konsekuensi berat;

"MENYADARI harapan besar dari dunia ini bahwa Majelis ini akan membantu dalam menolong mempersiapkan jalan ke arah keredaan ketegangan dunia;

"MENYADARI tanggung jawab yang berat dan mendesak yang terletak di atas bahu Perserikatan Bangsa-Bangsa, untuk mengambil inisiatif dalam usaha-usaha yang dapat membantu;

"Minta sebagai langkah pertama yang mendesak, agar Presiden Amerika Serikat dan Ketua Dewan Menteri Uni Republik-Republik Sosialis Soviet untuk memperbarui kontak mereka yang telah terputus baru-baru ini, sehingga kesediaan yang telah mereka nyatakan untuk mencari dengan perundingan-perundingan pemecahan masalah-masalah yang terkatung-katung, dapat dilaksanakan secara progresif.""

Tuan Ketua, perkenankan saya memohon, atas nama delegasi-delegasi kelima negara tersebut di atas, supaya Resolusi ini mendapat pertimbangan Tuan yang segera. Sepucuk surat dengan maksud itu, ditandatangani oleh para Ketua delegasi-delegasi dari Ghana, India, Republik Persatuan Arab, Yugoslavia, dan Indonesia, telah disampaikan kepada Sekretariat.

Saya sampaikan Rancangan Resolusi ini atas nama kelima Delegasi itu dan atas nama jutaan rakyat yang hidup di negara-negara itu.

Menerima Resolusi ini merupakan suatu langkah yang mungkin dan langsung dapat diselenggarakan. Maka hendaknya Majelis Umum ini menerima Resolusi ini secepat-cepatnya. Marilah kita mengambil langkah praktis itu ke arah peredaan ketegangan dunia yang membahayakan. Marilah kita menerima Resolusi ini dengan suara bulat, sehingga segenap tekanan dari kepentingan dunia dapat dirasakan. Marilah kita mengambil langkah pertama ini, dan marilah kita bertekad untuk melanjutkan kegiatan dan desakan kita sampai tercapainya dunia yang lebih baik dan lebih aman seperti yang kita bayangkan. Ingatlah apa yang terjadi sebelumnya. Ingatlah akan perjuangan dan pengorbanan yang dialami oleh kami, anggota-anggota baru dari Organisasi ini. Ingatlah bahwa usaha keras kita telah disebabkan dan diperpanjang oleh penolakan dasar-dasar Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kami bertekad agar hal itu tidak akan terjadi lagi.

Bangunlah dunia ini kembali! Bangunlah dunia ini kokoh dan kuat dan sehat! Bangunlah suatu dunia di mana semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan. Bangunlah dunia yang sesuai dengan impian dan cita-cita umat manusia. Putuskan sekarang hubungan dengan masa lampau, karena fajar sedang menyingsing. Putuskan sekarang hubungan dengan masa lampau, sehingga kita bisa mempertanggungjawabkan diri terhadap masa depan.

Saya memanjatkan doa hendaknya Yang Maha Kuasa memberi Rahmat dan Bimbingan kepada Permusyawaratan Majelis ini.

Terima kasih!

Komentar