edysuryadi.link

Berilmu Berbudi Berbakti

Menu Utama
Beranda Koleksi Buku Tentang Kami
Kategori
Sejarah Indonesia Sejarah Dunia Spiritual Agama Islam Psikologi Kesehatan Kajian Qur'an Filsafat Pancasila

edyuryadi.link

Berilmu Berbudi Berbakti

  • Home
  • Koleksi
  • Tentang
  • Kontak

KEPUTUSAN DEWAN PERTIMBANGAN AGUNG TENTANG PERINTJIAN PEDOMAN PELAKSANAAN MANIFESTO POLITIK REPUBLIK INDONESIA

KEPUTUSAN DEWAN PERTIMBANGAN AGUNG TENTANG PERINTJIAN PEDOMAN PELAKSANAAN MANIFESTO POLITIK REPUBLIK INDONESIA 

No. 2 /Kpts /Sd / I/61 


DEWAN PERTIMBANGAN AGUNG DALAM SIDANG I TANGGAL 19 DJANUARI 1961
 

MEMPERHATIKAN :
a. Isi keseluruhan dari pidato „ MEM BANGUN DUNIA KEMBALI” jang diutjapkan oleh P.J.M. Presiden / Panglima Tertinggi/ Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Karno dalam Sidang Madjelis Umum P.B.B. ke - XV . 

b. Ketetapan Madjelis Permusjawarat an Rakjat Sementara No. I /MPRS / 1960. 

c. Pendapat-pendapat dan saran-saran para anggauta Dewan Pertimbangan Agung. Perlu adanja perintjian daripada „MEMBANGUN DUNIA KEMBALI” jang diutjapkan oleh P.J.M. Presiden / Panglima Tertinggi /Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Karno dalam Sidang Madjelis Umum P.B.B. ke -XV. 

MENIMBANG : 
Perlu adanja perintjian daripada „MEMBANGUN DUNIA KEMBALI” jang diutjapkan oleh P.J.M. Presiden / Panglima Tertinggi /Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Karno dalam Sidang Madjelis Umum P.B.B. ke -XV.

BERPENDAPAT :
a . „MEMBANGUN DUNIA KEMBA. LI" ( To Build the Word Anew ) adalah garis- garis besar daripada politik Luar Negeri Republik Indonesia. 

b. Perlu disusun sistematika perintjian jang sedapat mungkin merupakan satu kesatuan tafsiran daripada dasar dan tudjuan pelaksanaan politik Luar Negeri Republik Indonesia. 

MEMUTUSKAN: 

a . Bahwa isi pidato „ MEMBANGUN DUNIA KEMBALI” itu adalah pedoman pelaksanaan Manifesto Politik Republik Indonesia dibidang politik Luar Negeri Republik Indonesia, jang telah diperkuat oleh Ketetapan MPRS No. I /MPRS / 1960 tanggal 19 Nopember 1960. 

b. Menjetudjui perintjian isi pidato „ MEMBANGUN DUNIA KEMBALI” jang dilampirkan bersama ini , sebagai satu kesatuan tafsiran dalam pelaksanaan politik Luar Negeri Republik Indonesia jang isinja sebagai berikut : 

I. PREAMBUL E. 

II . GARIS-GARIS BESAR POLITIK LUAR NEGERI REPU. BLIK INDONESIA : 

Dasar, sifat dan tudjuan politik Luar Negeri Republik Indonesia adalah : 

1. Berdasarkan U.U.D. '45.
2. Bersifat bebas dan aktif, anti imperialisme dan kolonial isme.
3. Bertudjuan : 

a . mengabdi pada perdjuangan untuk kemerdekaan Nasional Indonesia jang penuh
b. mengabdi pada perdjuangan untuk kemerdekaan Nasional dari seluruh Bangsa-bangsa didunia.
c. mengabdi pada perdjuangan untuk mem bela perdamaian dunia. 

III. PANTJA SILA SEBAGAI DASAR PIAGAM JANG UNI. VERSIL UNTUK KESEDJAHTERAAN UMMAT MANUSIA.

IV. USAHA- USAHA POKOK : 

1. Membebaskan Irian Barat dari imperialisme dan kolonial. isme Belanda.
2. Menjokong perdjuangan kemerdekaan negara-negara Asia, Afrika dan Amerika Latin.
3. Ko-eksistensi dan Perlutjutan Sendjata.
4. Retooling P.B.B. 

V. KESIMPULAN :

Perintjian tentang, I , II, III, IV dan V dilampirkan bersama ini. 


Djakarta, 19 Djanuari 1960. 




LAMPIRAN KEPUTUSAN DEWAN PERTIMBANGAN AGUNG TENTANG PERINTJIAN GARIS BESAR POLITIK LUAR NEGERI SEBAGAI PEDOMAN PELAKSANAAN MANIFESTO POLITIK REPUBLIK INDONESIA 


I. PREAMBULE

Dengan amat bahagia sekali bangsa Indonesia dalam perdjoangan menjelesaikan Revolusi Nasionalnja telah memiliki garis-garis besar haluan Negaranja jang tersimpul dalam Manifesto Politik jang diutjapkan oleh Presiden/Panglima Tertinggi/ Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Karno dalam Amanat Negara 17 Agustus 1959. 

Dengan demikian Rakjat dan Bangsa Indonesia sudah mempunjai Pedoman dalam meneruskan perdjuangannja untuk menjelesaikan Revolusi Indonesia dalam segala bidang. 

„ DJALANNJA REVOLUSI KITA” jang diutjapkan oleh Presiden / Panglima Tertinggi /Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Karno dalam Amanat 17 Agustus 1960 adalah merupakan Pedoman Pelaksanaan ke - I dari Manifesto Politik Republik Indo nesia, sehingga dengan demikian maka pelaksanaan Manifesto Poli tik dapat berdjalan setjara konsekwen revolusioner, terhindar dari penjelewengan-penjelewengan dan penjalah -gunaan. 

„ MEMBANGUN DUNIA KEMBALI” jang diutjapkan oleh Presiden /Panglima Tertinggi/ Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Karno dimuka Sidang Madjelis Umum P.B.B. ke-XV adalah Pedoman Pelaksanaan Manifesto Politik Republik Indonesia dalam bidang politik Luar Negeri Republik Indonesia jang bebas dan aktif anti imperialisme dan kolonialisme menudju pemben tukan satu dunia jang damai dan sedjahtera untuk seluruh ummat manusia berlandaskan adjaran Pantja Sila, sesuai dengan perkem bangan dunia dewasa ini . 

Seperti dinjatakan oleh Presiden/Panglima Tertinggi/ Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Karno dalam „MEMBANGUN DUNIA KEMBALI” sebagai berikut: 

„Sedjak perang kita telah menjaksikan tiga gedjala- gedjala besar jang permanen. 

Pertama ialah bangkitnja negara-negara sosialis. Hal ini tidak disangka dalam tahun sembilanbelas Empatpuluh Lima. 

Kedua ialah gelombang besar daripada pembebasan nasional dan emansipasi ekonomi jang melanda Asia dan Afrika serta saudara -saudara kita di Amerika Latin . Saja kira bahwa hanja kita, jang langsung terlibat didalamnja, dapat menduganja. 

Ketiga ialah kemadjuan ilmiah besar, jang semua bergerak dilapangan persendjataan dan peperangan, akan tetapi jang dewasa ini berpindah kelapangan rintangan dan perbatasan ruang angkasa. Siapakah jang dapat meramalkannja ketika itu ? 

„ Perspektip dan arus perkembangan dunia menundjukkan adanja arus sedjarah jang sedang menjapu segala imperialisme, sehingga kemenangan kemerdekaan dan nasionalisme adalah suatu kepastian ”. „ 

MEMBANGUN DUNIA KEMBALI” , pidato jang diutjapkan Presiden / Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Karno dalam Sidang Madjelis Umum P.B.B. ke-XV jang telah diperkuat oleh ketetapan Madjelis Permusjawaratan Rakjat Sementara No. I /MPRS/ 1960 tanggal 19 Nopember 1960 pasal III memutuskan bahwa: 

„ Amanat Presiden tanggal 17 Agustus jang terkenal dengan nama „ DJALANNJA REVOLUSI KITA” dan pidato Presiden tanggal 30 September 1960 dimuka Sidang Madjelis Umum P.B.B. ke- XV jang berdjudul " TO BUILD THE WORLD ANEW ” adalah pedoman pelaksanaan Manifesto Politik Re publik Indonesia ” . 

Karenanja ,,MEMBANGUN DUNIA KEMBALI" adalah merupakan pedoman pelaksanaan ke- II Manifesto Politik Republik Indonesia jang harus mendjadi pegangan dan pedoman Rakjat dan Bangsa Indonesia dalam mendjalankan Politik Luar Negeri Republik Indonesia. 

Singkatnja „MEMBANGUN DUNIA KEMBALI" memuat tiga pokok sebagai pelaksanaan Politik Luar Negeri jang terdiri dari:  

Pertama : Garis-garis Besar Politik Luar Negeri Republik Indonesia. 

Kedua: Pantja Sila sebagai Dasar Piagam jang Universil untuk kesedjahteraan Ummat Manusia. 

Ketiga: Usaha -usaha pokok.

II. GARIS-GARIS BESAR POLITIK LUAR NEGERI REPUBLIK INDONESIA 

Garis -garis besar politik Luar Negeri Republik Indonesia adalah berdasarkan Pembukaan U.U.D. '45 jang menjatakan sebagai berikut: 

„ Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia jang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memadjukan kese djahteraan umum, mentjerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia jang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, ......... 

Sifat politik Luar Negeri Republik Indonesia adalah bebas dan aktif, anti imperialisme dan kolonialisme, bertud juan:  

1. Mengabdi pada perd juangan untuk kemerdekaan Nasional Indonesia jang penuh. 

2. Mengabdi pada perd juangan untuk kemerdekaan Nasional dari seluruh Bangsa -bangsa didunia . 

3. Mengabdi pada perdjuangan untuk membela perdamaian dunia. 

Ketiga tudjuan politik Luar Negeri tersebut tidak bisa dipisah pisahkan satu dari jang lain , dalam perdjuangan untuk membangun dunia kembali, 

Tentang sifat dan tud juan politik Luar Negeri Republik Indonesia jang bebas dan aktif anti imperialisme dan kolonialisme, Manifesto Politik menund jukkan kewad jiban -kewad jiban revolusi Indonesia jang terpenting ialah membebaskan Indonesia dari semua imperialisme dan kolonialisme dan menegakkan tiga segi kerangka sebagai berikut: 

„Kesatu : Pembentukan satu Negara Republik Indonesia jang berbentuk Negara-Kesatuan dan Negara-Kebangsaan, jang demokra tis, dengan wilajah kekuasaan dari Sabang sampai ke Merauke. 

Kedua : Pembentukan satu masjarakat jang adil dan makmur materiil dan spirituil dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia itu . 

Ketiga: Pembentukan satu persahabatan jang baik antara Republik Indonesia dan semua negara didunia, terutama sekali dengan negara- negara Asia- Afrika, atas dasar hormat-menghormati satu sama lain, dan atas dasar bekerdja-bersama membentuk satu Dunia Baru jang bersih dari imperialisme dan kolonialisme, me nudju kepada Perdamaian Dunia jang sempurna” . ( Manipol hala man 146 ). 

Adapun tentang pengertian politik Luar Negeri Republik Indonesia bebas dan aktif dengan tandas telah did jelaskan oleh Presiden / Panglima Tertinggi / Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Karno dalam Pidato " Djarek” sebagai berikut : 

„ Dan bukan hanja untuk menghimpun segala kekuatan Nasio nal dan Internasional menentang imperialisme dan kolonialisme sadjalah politik Luar Negeri kita itu . Politik Luar Negeri kita, djuga kita tudjukan kepada persahabatan dengan semua bangsa, sesuai dengan adjaran Pantja Sila. 

„Ia kita tudjukan kepada menjumbang kepada terwudjudnja perdamaian dunia, sesuai pula dengan adjaran Pantja Sila. Ia, sebagaimana semua orang telah mengetahui, berwudjud satu politik- luar negeri jang diluar negeri orang namakan " independent policy ” atau " policy of non -alignment”. Kadang-kadang orang diluar-negeri menamakannja djuga " policy of neutralism ” , satu politik jang netral. Sebutan jang belakangan itu adalah sebutan jang tidak benar. Sebutan jang belakangan itu adalah sebutan jang salah dan melését sama sekali. Sebab kita tidak netral, kita tidak penonton kosong daripada kedjadian-kedjadian didunia ini, kita tidak tanpa prinsipe, kita tidak tanpa pendirian. Kita mendjalankan politik bebas itu tidak sekedar setjara „ tjutji tangan”, tidak sekedar setjara defensif, tidak sekedar setjara apologetis. Kita aktif, kita ber-prinsipe, kita berpendirian! Prinsipe kita ialah terang Pantja Sila, pendirian kita ialah aktif menudju kepada perdamaian dan kesedjahteraan dunia, aktif menudju kepada persahabatan segala bangsa, aktif menudju kepada lenjаpnja exploitation de l'homme par l'homme, aktif menentang dan menghantam segala matjam imperialisme dan kolonialisme dimanapun dia berada . 

Pendirian kita jang „ bebas dan aktif” itu, setjara aktif pula setapak demi setapak harus ditjerminkan dalam hubungan ekonomi dengan luar-negeri, agar supaja tidak berat sebelah ke Barat atau ke Timur. Manakala pada saat sekarang ini keberat- sebelahan itu nampaknja masih ada, maka usaha kita ialah untuk menghilangkan keberat-sebelahan itu . Hanja djikalau kita tidak berat-sebelah , maka kita benar-benar boleh menuliskan Pantja Sila diatas dada kita, dan kita dipertjajai orang dalam usaha kita mendamaikan dunia. Hanja djikalau kita benar-benar tidak „pilih-kasih”, „maka kita bisa menghindarkan tanahair kita jang tjantik -molek, kaja-raja, strategis ini, didjadikan padang perebutan pengaruh politik internasional, didjadikan arena perang- dingin dan mungkin arena perang-panas dari dunia luaran !” (Djarek halaman 231 ). 

Karenanja kebidjaksanaan politik Luar Negeri Republik Indo nesia harus berdiri diatas dasar tjita - tjita Rakjat Indonesia sebagaimana terkandung didalam tiga segi kerangka tersebut diatas. Keharusan untuk melen japkan imperialisme dan kolonialisme dari muka bumi menud ju kepada perdamaian dunia jang sempurna adalah tugas seluruh ummat manusia. 

Tentang hal ini Presiden /Panglima Tertinggi /Pemimpin Besar Revolusi Indonesia - Bung Karno dalam " MEMBANGUN DUNIA KEMBALI” menegaskan sebagai berikut : 

„Kedaulatan dari bangsa jang paling baru atau bangsa jang paling ketjil sama berharganja, sama tidak dapat dilanggarnja, se perti kedaulatan bangsa jang paling besar atau bangsa jang paling tua. Dan selain daripada itu, sesuatu pelanggaran terhadap ke daulatan sesuatu bangsa merupakan suatu antjaman potensiil terhadap kedaulatan semua bangsa ”. (M.D.K. halaman 307). 

„Kenjataan ini ( zaman pembangunan bangsa D.P.A. ) djauh lebih penting daripada adanja sendjata - sendjata nuklir, lebih eksplosif daripada bom-bom hidrogin, dan mempunjai harga potensiil jang lebih besar untuk dunia daripada pemetjahan atom ” . (M.D.K. halaman 307-308). 

„Dibanjak tempat terdapat ketegangan-ketegangan dan sum ber-sumber sengketa potensiil. Perhatikanlah tempat-tempat itu dan tuan akan djumpai, bahwa hampir tanpa perketjualian, impe rialisme dan kolonilaisme didalam salah satu dari banjak manifes tasinja adalah sumber ketegangan atau sengketa itu. Imperialisme dan kolonialisme dan pemisahan terus -menerus setjara paksa dari bangsa -bangsa merupakan sumber dari hampir semua kedjahatan internasional jang mengantjam didunia kita ini” . (M.D.K. hala man 308 ). 

„ Imperialisme, dan perdjuangan untuk mempertahankannja, merupakan kedjahatan jang terbesar didunia kita ini”. (M.D.K. halaman 308 ). 

„ Singkirkan pengekangan terhadap kemerdekaan dan eman sipasi, dan antjaman terhadap perdamaian akan lenjap. Tumbang kan imperialisme, dan segera dengan sendirinja dunia akan men djadi suatu tempat jang lebih bersih suatu tempat jang lebih baik dan suatu tempat jang lebih aman ” . (M.D.K. halaman 312 ). 

1. Tentang Mengabdi pada Perdjuangan untuk Kemerdekaan Nasional Indonesia jang penuh. 

Dalam melaksanakan politik Luar Negeri jang mengabdi pada perd juangan kemerdekaan Nasional Indonesia jang penuh: 

Rakjat Indonesia berd juang dengan menggalang persatuan Nasional anti imperialisme-kolonialisme dan feodalisme didalam negeri, sebagai bagian daripada perd juangan untuk kepentingan ummat manusia didunia . Pengabdian kepada perd juangan kemer dekaan Nasional jang penuh itu tidak dapat dipisah -pisahkan dengan penggalangan kerdjasama internasional anti imperialisme kolonialisme. 

Terhadap pengabdian pada perd juangan kemerdekaan Nasional jang penuh dari Rakjat Indonesia tersebut, Presiden / Panglima Tertinggi /Pemimpin Besar Revolusi Indonesia - Bung Karno menegaskan dalam „ MEMBANGUN DUNIA KEMBALI” sebagai berikut : 

„Kita tidak boleh berhenti berdjuang pada saat ini , manakala kemenangan telah menampakkan diri, sebaliknja kita harus melipat- gandakan usaha kita. Kita telah berdjandji kepada masa depan dan djandji itu harus dipenuhi. Dalam hal ini kita tidak hanja berdjuang untuk kepentingan kita sendiri, melainkan kita berdjuang untuk kepentingan ummat manusia seluruhnja, ja, perdjuangan kita bahkan untuk kepentingan mereka jang kita tentang ". (M.D.K. halaman 299 ). 

„Ini saja kemukakan : bagi suatu bangsa jang baru lahir atau suatu bangsa jang baru lahir-kembali milik jang paling berharga adalah kemerdekaan dan kedaulatan " . (M.D.K. halaman 303 ). 

„ Banjak bangsa-bangsa didunia ini telah lama memiliki permata ini. Mereka telah biasa memilikinja, tetapi saja jakin, bahwa mereka masih tetap menganggapnja jang paling ditjintai diantara milik- miliknja, dan mereka akan lebih baik mati daripada me lepaskannja ”. (M.D.K. halaman 304). 

„ Betapa lebih berharga hal itu bagi kami, jang pernah suatu waktu memiliki permata kemerdekaan dan kedaulatan nasional itu , dan kemudian merasakan dirampasnja dari tangan kami oleh bandit-bandit jang bersendjata lengkap, dan jang kini telah kami rebut kembali !" ( M.D.K. halaman 304). 

„Saja tahu oleh karena bangsa saja sendiri melakukannja dalam perdjuangan kami untuk kemerdekaan. Kami telah ber djuang dengan menggunakan pisau dan bambu runtjing. Untuk mentjapai perdamaian, kita harus menjingkirkan sebab - sebab ketegangan dan sebab- sebab bentrokan itu. Itulah sebabnja saja berbitjara dari lubuk hati saja mengenai perlunja bekerdja-sama untuk menjebabkan matinja jang hina dari imperialisme” . (M.D.K. halaman 315) . 

2. Tentang Mengabdi pada Perdjuangan untuk Kemerdekaan Nasional dari Seluruh Bangsa-bangsa Didunia. 

Seperti ditegaskan dalam Manifesto Politik, Rakjat Indonesia menjokong perd juangan kemerdekaan seluruh bangsa -bangsa . Tentang hal ini ditegaskan oleh Presiden / Panglima Tertinggi / Pemimpin Besar Revolusi Indonesia - Bung Karno sebagai berikut : 

„ Rakjat dimana -mana dibawah kolong langit ini, tidak mau ditindas oleh bangsa lain , tidak mau dieksploatir oleh golongan golongan apapun , meskipun golongan itu adalah dari bangsanja sendiri ”. 

„Rakjat dimana-mana dibawah kolong langit ini menuntut kebebasan dari kemiskinan, dan kebebasan dari rasa takut, baik jang karena antjaman didalam -negeri, maupun jang karena antjam. an dari luar-negeri”. 

„Rakjat dimana-mana dibawah kolong langit ini menuntut kebebasan untuk menggerakkan setjara konstruktif iapunja aktivitet-sosial untuk mempertinggi kebahagiaan individu dan kebahagiaan masjarakat”. 

„ Rakjat dimana-mana dibawah kolong langit ini menuntut kebebasan untuk mengeluarkan pendapat, jaitu menuntut hak-hak jang lazimnja dinamakan Demokrasi ” . (Manipol halaman 118 ). 

Bahwasanja perd juangan kemerdekaan untuk bebas dari 'penindasan, bebas dari kemiskinan , bebas dari rasa takut, bebas setjara konstruktif menggerakkan aktivitet sosial dan bebas - mengeluarkan pendapat, serta perd juangan untuk perdamaian dunia terdapat djuga dalam peladjaran agama, jang mengharuskan hidup bersahabat diantarabangsa -bangsa , dan kenal-mengenal diantara sesama ummat manusia, ditegaskan oleh Presiden / Pang lima Tertinggi /Pemimpin Besar Revolusi Indonesia - Bung Karno sebagai berikut: 

„Kitab Sutji Islam mengamanatkan sesuatu kepada kita pada saat ini. Qur'an berkata : „ Hai, sekalian manusia, sesungguhnja Aku telah mendjadikan kamu sekalian dari seorang lelaki dan seorang perempuan , sehingga kamu berbangsa-bangsa dan bersuku - buku, agar kamu sekalian kenal-mengenal satu sama lain . Bahwasanja jang lebih mulia diantara kamu sekalian , ialah siapa jang lebih taqwa kepadaKu”. 

„ Dan djuga Kitab Indjil agama Nasrani beramanat pada kita : „Segala kemuliaan bagi Allah ditempat jang Mahatinggi, dan sedjahtera diatas bumi diantara orang jang diperkenanNja”. (M.D.K. halaman 295). 

Rakjat Indonesia telah ikut serta dan akan terus ambil bagian dalam memperkuat dan mengembangkan perd juangan Nasional bangsa- bangsa Asia - Afrika seperti ditegaskan oleh Presiden / Pang. lima Tertinggi /Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Karno dalam „ MEMBANGUN DUNIA KEMBALI” sebagai berikut : 

„Nasib ummat manusia tidak dapat lagi ditentukan oleh beberapa bangsa besar dan kuat. Djuga kami bangsa-bangsa jang lebih muda, bangsa jang sedang bertunas, bangsa-bangsa jang lebih ketjil, kamipun berhak bersuara dan suara itu pasti akan berka mandang disepandjang zaman. 

Jah, kami insaf akan pertanggungan -djawab kami terhadap masadepan semua bangsa, dan kami dengan gembira menerima per tanggungan -djawab itu. Bangsa saja berdjandji pada diri sendiri untuk bekerdja mentjapai suatu dunia jang lebih baik, suatu dunia jang bebas dari sengketa dan ketegangan, suatu dunia dimana anak anak kita dapat tumbuh dengan bangga dan bebas, suatu dunia dimana keadilan dan kesedjahteraan berlaku untuk semua orang". (M.D.K. halaman 306). 

Seterusnja ditegaskan lagi oleh Presiden /Panglima Tertinggi/ Pemimpin Besar Revolusi Indonesia - Bung Karno: 

.......tempatkanlah kewibawaan dan kekuatan moril dan Organisasi Negara-Negara ini dibelakang mereka jang ber . djuang untuk kemerdekaan ”. ( M.D.K. halaman 309). 

3. Tentang Mengabdi pada Perdjuangan untuk Membela Perdamaian Dunia. 

Bahwa masadepan dunia dimana perdamaian sebagai sumber hidup dan kehidupan manusia untuk mentjapai kebahagiaan dan kesed jahteraan, adalah perd juangan pokok Rakjat Indonesia dan seluruh Ummat Manusia seperti ditegaskan oleh Presiden / Panglima Tertinggi /Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Karno sebagai berikut: 

„ Madjelis Umum ini tentunja akan menghadapi banjak hal-hal jang penting. Tetapi tidaklah ada hal jang lebih penting daripada perdamaian". (M.D.K. halaman 308 ). 

„ Jang pasti adalah bahwa negara-negara jang baru lahir dan jang dilahirkan kembali tidak merupakan antjaman terhadap per damaian dunia . Kami tidak mempunjai ambisi-ambisi teritorial ; kamipun tidak mempunjai tudjuan-tudjuan ekonomi jang tidak bisa disesuaikan. Antjaman terhadap perdamaian tidak datang dari kami, tetapi malahan dari fihak negara -negara jang lebih tua, jang telah lama berdiri dan stabil itu" . (M.D.K. halaman 320-321). 

Selandjutnja dikatakan bahwa sumber ketegangan dan seng keta internasional jang mengantjam perdamaian dunia adalah imperialisme dan kolonialisme ditegaskan sebagai berikut: 

„Antjaman terhadap perdamaian berasal langsung dari adanja imperialisme dan kolonialisme itulah.

Singkirkan pengekangan terhadap kemerdekaan dan sipasi, dan antjaman terhadap perdamaian akan lenjap. Tumbang. kan imperialisme, dan segera dengan sendirinja dunia akan men djadi suatu tempat jang lebih bersih , suatu tempat jang lebih baik dan suatu tempat jang lebih aman”. (M.D.K. halaman 317). 

Untuk mentjapai perdamaian, sebab - sebab peperangan harus dilen japkan , ditegaskan sebagai berikut:

„ Lenjapkanlah sebab-sebab peperangan, dan kita akan merasa damai, Lenjapkanlah sebab- sebab ketegangan dan kita akan merasa tenang. Djangan ditunda- tunda. Waktunja singkat. Bahajanja besar” . (11.D.K. halaman 131). 

„ Tugas kita bukannja untuk mempertahankan dunia ini , akan tetapi untuk membangun dunia kembali! ” ( M.D.K. halaman 310). 

Untuk membitjarakan soal perdamaian dunia harus diikut. sertakan seluruh bangsa -bangsa didunia seperti ditegaskan oleh Presiden/Panglima Tertinggi / Pemimpin Besar Revolusi Indonesia — Bung Karno sebagai berikut : 

„ Empat Negara Besar itu sadja, tidak dapat menentukan masalah perang dan damai. Lebih tepat , barangkali, mereka mem punjai kekuatan untuk merusak perdamaian, tetapi mereka tidak mempunjai hak moril, baik setjara sendirian maupun bersama sama, untuk mentjoba menentukan haridepan dunia”. ( M.D.K. halaman 301). 

III. PANTJA SILA SEBAGAI DASAR PIAGAM JANG UNIVERSIL UNTUK KESEDJAHTERAAN UMMAT MANUSIA 

Kenjataan internasional ialah bahwa untuk mentjapai per djuangan nasional, tiap- tiap bangsa harus memiliki satu konsepsi nasionalnja sendiri, seperti ditegaskan oleh Presiden / Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Karno sebagai berikut: 

„ Arus sedjarah memperlihatkan dengan njata bahwa semua bangsa memerlukan sesuatu konsepsi dan tjita -tjita . Djika mereka tak memilikinja atau djika konsepsi dan tjita-tjita itu mendjadi kabur dan usang, maka bangsa itu adalah dalam bahaja. Sedjarah Indonesia kami sendiri memperlihatkannja dengan djelas, dan demikian pula halnja dengan sedjarah seluruh dunia”. (M.D.K. halaman 324). 

Pantja Sila tidak mengandung arti nasional sad ja, tetapi djuga mempunjai arti universil dan dapat digunakan setjara internasional, ditegaskan sebagai berikut : 

„ Ja, kami banjak beladjar dari Eropah dan Amerika. Kami telah mempeladjari sedjarah tuan -tuan dan penghidupan orang orang besar dari bangsa tuan . Kami telah mengikuti tjontoh dari tuan - tuan ; bahkan kami telah berusaha melebihi tuan - tuan . Kami berbitjara dalam bahasa -bahasa tuan - tuan dan membatja buku-buku tuan- tuan . Kami telah diilhami oleh Lincoln dan Lenin, oleh Cromwell dan Garibaldi. Dan memang masih banjak jang harus kami peladjari dari tuan - tuan dihanjak bidang. Tetapi pada dewasa ini bidang-bidang jang kami harus peladjari lebih banjak lagi dari tuan - tuan , adalah bidang tehnik dan ilmiah , dan bukan faham . faham atau gerakan jang didiktekan oleh ideologi”. (M.D.K. halaman 322) . 

„ Ahli filsafah Inggeris Bertrand Russell jang ulung itulah jang pernah berkata bahwa ummat manusia sekarang terbagai dalam dua golongan. Jang satu menganut adjaran Declaration of American Independence dari Thomas Jefferson. Golongan lainnja menganut adjaran Manifesto Komunis. 

Maafkan, Lord Russell, akan tetapi saja kira tuan melupakan sesuatu. Saja kira tuan melupakan adanja lebih daripada seribu djuta rakjat, rakjat Asia dan Afrika, dan mungkin pula rakjat rakjat Amerika Latin, jang tidak menganut adjaran Manifesto Komunis ataupun Declaration of Independence. Tjamkanlah kami mengagumi kedua adjaran itu , dan kami telah banjak beladjar dari keduanja itu dan kami telah diilhami oleh keduanja itu ” . (M.D.K. halaman 323) . 

„ Seperti saja katakan, kami telah membatja dan mempeladjari pandangan itu , dan konfrontasi itu membahajakan, tidak hanja untuk mereka jang saling berhadapan tetapi djuga untuk bagian dunia lainnja” . (M.D.K. halaman 323) . 

„ Seperti saja katakan, kami telah membatja dan mempeladjari kedua dokumen jang pokok itu. Dari masing- masing dokumen itu banjak jang telah kami ambil dan kami buang apa jang tak berguna bagi kami, kami jang hidup dibenua lain dan beberapa generasi kemudian. Kami telah mensintésekan apa jang kami perlukan dari kedua dokumen itu, dan ditindjau dari pengalaman serta dari pengetahuan kami sendiri, sintése itu telah kami saring dan kami sesuaikan . 

Djadi, dengan minta maaf kepada Lord Russell jang saja hormati sekali, dunia ini tidaklah seluruhnja terbagi dalam dua fihak seperti dikiranja. 

Meskipun kami telah mengambil sarinja, dan meskipun kami telah mentjoba mesintésekan kedua dokumen jang penting itu, kami tidak dipimpin oleh keduanja itu sadja. Kami tidak mengikuti konsepsi liberal ataupun konsepsi komunis. Apa gunanja ? Dari pengalaman kami sendiri dan dari sedjarah kami sendiri timbullah sesuatu jang lain, sesuatu jang djauh lebih sesuai, sesuatu jang djauh lebih baik tjotjok ”. (M.D.K. halaman 324). 

Pantja Sila mend jelaskan bahwa konsekwensi dari penerima annja adalah berdjuang melawan dan mengalahkan kolonialisme dan imperialisme, sedangkan dilapangan politik internasional berarti meletakkan hubungan antar-bangsa atas dasar toleransi terhadap pandangan filsafat masing-masing bangsa dan penolakan mutlak terhadap imperialisme dan kolonialisme, terhadap hubung an antar-negara jang tidak berdasar persamaan hak dan derad jat. Pantja Sila sebagai dasar piagam jang universil berarti membentuk suatu persahabatan antara semua bangsa didunia terutama di Asia Afrika dan Amerika Latin, atas dasar hormat-menghormati satu sama lain membentuk suatu dunia baru jang bersih dari imperial isme-kolonialisme menud ju kepada perdamaian dunia dan kese djahteraan ummat manusia jang sempurna. 

Pantja Sila sebagai konsepsi nasional oleh Presiden /Panglima Tertinggi / Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Karno ditegaskan sebagai berikut: 

„ Saja tidak dapat berbitjara atas nama negara - negara Asia dan Afrika lainnja -- saja tidak diberi kuasa untuk itu, dan bagai manapun djuga mereka sendiri tjakap untuk mengemukakan pan dangannja masing-masing. Akan tetapi saja diberi kuasa — bahkan ditugaskan - untuk berbitjara atas nama bangsa saja jang ber djumlah sembilanpuluh dua djuta itu”. (M.D.K. halaman 323). 

„ Sesuatu” itu kami namakan „ PANTJA SILA " . Ja, „ Pantja Sila” atau Lima Sendi Negara kami. Lima Sendi itu tidaklah lang sung berpangkal pada Manifesto Komunis ataupun Declaration of Independence. Memang, gagasan - gagasan dan tjita-tjita itu mungkin sudah ada sedjak berabad-abad, telah terkandung dalam bangsa kami. Dan memang tidak mengherankan bahwa faham-faham mengenai kekuatan jang besar dan kedjantanan itu telah timbul dalam bangsa kami selama duaribu tahun peradaban kami dan sela: ma berabad- abad kedjajaan bangsa , sebelum imperialisme meneng. gelamkan kami pada suatu saat kelemahan -nasional. 

Djadi berbitjara tentang Pantja Sila dihadapan tuan-tuan, saja mengemukakan inti-sari dari peradaban kami selama dua - ribu tahun. 

Apakah Lima Sendi itu ? Ia sangat sederhana : pertama Ketu hanan Jang Maha Esa, kedua Nasionalisme, ketiga Internasional isme, keempat Demokrasi dan Kelima Keadilan Sosial. 

Perkenankanlah saja sekarang menguraikan sekedarnja tentang kelima pokok itu. 

Pertama : Ketuhanan Jang Maha Esa. Bangsa saja meliputi orang- orang jang menganut berbagai matjam agama: ada jang Islam , ada jang Kristen, ada jang Buddha dan ada jang tidak menganut sesuatu agama. Meskipun demikian untuk delapanpuluh lima persen dari sembilanpuluh dua djuta rakjat kami, bangsa Indo nesia terdiri dari para pengikut Islam. Berpangkal pada kenjataan ini dan mengingat akan berbeda-beda tetapi bersatunja bangsa kami, kami menempatkan Ketuhanan Jang Maha Esa sebagai jang paling utama dalam filsafah hidup kami. Bahkan mereka jang tidak pertjaja kepada Tuhan-pun, karena toleransinja jang mendjadi pembawaan, mengakui bahwa kepertjajaan kepada Jang Maha Kuasa merupakan karakteristik dari bangsanja, sehingga mereka menerima Sila pertama ini. 

Kemudian sebagai nomor dua ialah Nasionalisme. Kekuatan jang membakar dari nasionalisme dan hasrat akan kemerdekaan mempertahankan hidup kami dan memberi kekuatan kepada kami sepandjang kegelapan pendjadjahan jang lama, dan selama berkobarnja perdjuangan kemerdekaan. Dewasa ini kekuatan jang membakar itu masih tetap menjala-njala didada kami dan tetap memberi kekuatan hidup kepada kami ! Akan tetapi nasionalisme kami sekali- kali bukanlah Chauvinisme. Kami sekali-kali tidak menganggap diri kami lebih unggul dari bangsa-bangsa lain. Kami sekali-kali tidak pula berusaha untuk memaksakan kehendak kami kepada bangsa-bangsa lain. Saja mengetahui benar-benar, bahwa istilah „ nasionalisme” ditjurigai, bahkan tidak dipertjajai dine gara- negara Barat. Hal ini disebabkan karena Barat telah memper kosa dan memutar-balikkan nasionalisme. Padahal nasionalisme jang sedjati masih tetap berkobar-kobar dinegara- negara Barat. Djika tidak demikian, maka Barat tidak akan menentang dengan sendjata chauvinisme Hitler jang agresif. 

Tidakkah nasionalisme sebutlah djika mau, patriotisme mempertahankan kelangsungan hidup semua bangsa ? Siapa jang berani menjangkal bangsa, jang melahirkan dia ? Siapa jang berani berpaling dari bangsa, jang mendjadikan dia ? Nasionalisme adalah mesin besar jang menggerakkan dan mengawasi semua kegiatan internasional kita ; nasionalisme adalah sumber besar dan inspirasi agung dari kemerdekaan. 

Nasionalisme kami di Asia dan Afrika tidaklah sama dengan jang terdapat pada sistim Negara- negara Barat. Di Barat, nasional isme berkembang sebagai kekuatan jang agresif jang mentjari ekspansi serta keuntungan bagi ekonomi nasionalnja. Nasionalisme di Barat adalah kakek dari imperialisme, jang bapaknja adalah kapitalisme. Di Asia dan Afrika, dan saja kira djuga di Amerika Latin , nasionalisme adalah gerakan pembebasan, suatu gerakan protes terhadap imperialisme dan kolonialisme, dan suatu djawab an terhadap penindasan nasionalisme-chauvinis jang bersumber di Eropah. Nasionalisme Asia dan Afrika serta nasionalisme Amerika Latin tidak dapat ditindjau tanpa memperhatikan inti sosialnja. Di Indonesia kami menganggap inti sosial itu sebagai pendorong untuk mentjapai keadilan dan kemakmuran. Bukankah itu tudjuan baik jang dapat diterima oleh semua orang ? Saja tidak berbitjara hanja tentang kami sendiri di Indonesia, djuga tidak hanja tentang saudara-saudara saja di Asia dan Afrika serta Amerika Latin . Saja berbitjara tentang seluruh dunia. Masjarakat jang adil dan makmur dapat merupakan tjita -tjita dan tudjuan semua orang. 

Mahatma Gandhi pernah berkata : „ Saja seorang nasionalis, akan tetapi nasionalisme saja adalah perikemanusiaan ”. Kamipun , berkata demikian. Kami nasionalis, kami tjinta kepada bangsa kami dan kepada semua bangsa. Kami nasionalis karena kami pertjaja bahwa bangsa -bangsa adalah sangat penting bagi dunia dimasa sekarang ini, dan kami akan tetap demikian, sedjauh mata dapat memandang kemasadepan. Karena kami nasionalis, maka kami mendukung dan mengandjurkan nasionalisme, dimana sadja kami djumpainja. 

Sila ketiga kami adalah Internasionalisme. Antara nasional isme dan internasionalisme tidak ada perselisihan atau perten tangan. Memang benar, bahwa internasionalisme tidak akan dapat tumbuh dan berkembang selain diatas tanah jang subur dari nasio nalisme. Bukanlah Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa itu merupakan bukti jang njata dari hal ini ? Dahulu ada Liga Bangsa- Bangsa. Kini ada Perserikatan Bangsa-Bangsa. Nama nama itu sendiri menundjukkan bahwa kedua- duanja tidak akan bisa berdiri tanpa adanja bangsa-bangsa dan nasionalisme. Djus tru adanja kedua organisasi itu menundjukkan bahwa bangsa bangsa mengingini dan membutuhkan suatu badan internasional, dimana setiap bangsa mempunjai kedudukan jang sederadjat. Internasionalisme sekali bukan kosmopolitanisme, jang merupakan penjangkalan terhadap nasionalisme, jang anti-nasio nal dan memang bertentangan dengan kenjataan. 

Sebetulnja internasionalisme jang sedjati adalah pernjataan dari nasionalisme jang sedjati, dimana setiap bangsa menghargai dan mendjaga hak-hak semua bangsa, baik jang besar maupun jang ketjil, jang lama maupun jang baru. Internasionalisme jang sedjati adalah tanda, bahwa suatu bangsa telah mendjadi dewasa dan bertanggung- djawab, telah meninggalkan sifat kekanak-kanak an mengenai rasa keunggulan nasional atau rasial, telah meninggal kan penjakit kekanak- kanakan tentang chauvinisme dan kosmo politanisme.

Sila keempat adalah Demokrasi. Demokrasi bukanlah monopoli atau penemuan dari aturan sosial Barat. Lebih tegas, demokrasi tampaknja merupakan keadaan asli dari manusia, meskipun diubah untuk disesuaikan dengan kondisi-kondisi sosial jang chusus. 

Selama beribu-ribu tahun dari peradaban Indonesia, kami telah mengembangkan bentuk-bentuk demokrasi Indonesia. Kami pertjaja, bahwa bentuk-bentuk ini mempunjai pertalian dan arti internasional. Ini adalah soal jang akan saja bitjarakan kemudian . 

Achirnja, Sila jang penghabisan dan jang terutama jalah Keadilan Sosial. Pada keadilan sosial ini kami rangkaikan kemak muran sosial, karena kami menganggap kedua hal ini tidak dapat dipisah- pisahkan. Benar, hanja suatu ' masjarakat jang makmur dapat merupakan masjarakat jang adil, meskipun kemakmuran itu sendiri bisa bersemajam dalam ketidak-adilan sosial. 

Demikianlah Pantja Sila kami. Ketuhanan Jang Maha Esa, Nasionalisme, Internasionalisme, Demokrasi dan Keadilan Sosial. 

Itulah dasar-dasar jang telah diterima sepenuhnja oleh bangsa saja dan jang dipergunakannja sebagai pedoman bagi segala kegiatan politik , ekonomi dan Sosial” . ( M.D.K. halaman 324-328). 

„Mereka bukannja menerima Pantja Sila semata -mata sebagai konsepsi ideologi belaka, melainkan sebagai suatu pedoman jang praktis sekali untuk bertindak. Mereka diantara bangsa saja jang berusaha mendjadi pemimpin tetapi menolak Pantja Sila, ditolak pula oleh bangsa Indonesia ” . (M.D.K. halaman 330-331). 

Bagaimanakah penggunaan setjara Internasional daripada Pantja Sila ? Bagaimana Pantja Sila itu dapat dipraktekkan ? Ten tang hal ini Presiden / Panglima Tertinggi/ Pemimpin Besar Revo lusi Indonesia - Bung Karno menegaskan sebagai berikut: 

„ Pertama : Ketuhanan Jang Maha Esa. Tidak seorangpun jang menerima Declaration of American Independence sebagai pedoman untuk hidup dan bertindak, akan menjangkalnja. Begitu pula tidak ada seorang pengikutpun dari Manifesto Komunis, dalam forum internasional ini kini akan menjangkal hak untuk pertjaja kepada Jang Maha Kuasa. Untuk pendjelasan lebih landjut menge 104 nai hal ini, saja persilahkan tuan - tuan jang terhormat bertanja kepada tuan Aidit, ketua Partai Komunis Indonesia, jang duduk dalam Delegasi saja dan jang menerima sepenuhnja baik Manifesto Komunis maupun Pantja Sila. 

Kedua : Nasionalisme. Kita semua adalah wakil-wakil bangsa bangsa. Bagaimana kita akan dapat menolak nasionalisme ? Djika kita menolak nasionalisme, maka kita harus menolak kebangsaan kita sendiri dan menolak pengorbanan-pengorbanan jang telah diberikan oleh generasi-generasi. Akan tetapi saja peringatkan tuan-tuan : djika tuan- tuan menerima prinsip nasionalisme, maka tuan-tuan harus menolak imperialisme. Tetapi pada peringatan itu saja ingin menambahkan peringatan lagi : djika tuan -tuan menolak imperialisme, maka setjara otomatis dan dengan segera tuan-tuan lenjapkan dari dunia jang dalam kesukaran ini sebab terbesar jang menimbulkan ketegangan dan bentrokan. 

Ketiga : Internasionalisme. Apakah perlu untuk berbitjara dengan pandjang lebar mengenai internasionalisme dalam badan internasional ini ? Tentu tidak ! Djika bangsa-bangsa kita tidak ’ In ternationally minded ” , maka bangsa-bangsa itu tidak akan men djadi anggauta organisasi ini. Akan tetapi, internasionalisme jang sedjati tidak selalu terdapat disini . Saja menjesal harus mengatakan demikian , akan tetapi hal ini adalah suatu kenjataan. Terlalu sering Perserikatan Bangsa- Bangsa dipergunakan sebagai forum untuk tudjuan- tudjuan nasional jang sempit atau tudjuan- tudjuan golong. an sadja. Terlalu sering pula tudjuan-tudjuan jang agung dan tjita tjita jang luhur dari piagam kita dikaburkan oleh usaha untuk mentjari keuntungan nasional atau prestige nasional. Internasional isme jang sedjati harus didasarkan atas kenjataan persamaan nasio nal. Internasionalisme jang sedjati harus didasarkan atas persamaan kehormatan, persamaan penghargaan dan atas dasar penggunaan setjara praktis daripada kebenaran , bahwa semua orang adalah saudara. Untuk mengutip Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dokumen jang seringkali dilupakan orang itu – internasionalisme itu harus „meneguhkan kembali kejakinan ............ berdasarkan hak- hak jạng sama bagi ......... bangsa-bangsa, baik besar maupun ketjil”. 

Achirnja, dan sekali lagi, internasionalisme akan berarti berachirnja imperialisme dan kolonialisme, sehingga dengan demi kian berachirnja banjak bahaja dan ketegangan. 

Keempat : Demokrasi. Bagi kami bangsa Indonesia, demo krasi mengandung tiga unsur jang pokok. Demokrasi mengandung pertama- tama prinsip jang kami sebut Mufakat ja’ni : kebulatan pendapat. Kedua, demokrasi mengandung prinsip Perwakilan. 

Achirnja demokrasi mengandung, bagi kami, prinsip Musja warah. Ja, demokrasi Indonesia mengandung ketiga prinsip itu, ja'ni : mufakat, perwakilan dan musjawarah antara wakil-wakil. 

Prinsip-prinsip daripada tjara kehidupan demokrasi kami ini dikandung sedalam-dalamnja oleh rakjat kami dan sudah ada sedjak berabad- abad lamanja. Prinsip- prinsip ini menguasai kehidupan demokrasi kami ketika suku- suku jang liar dan biadab masih mengembara di Eropah. Prinsip-prinsip ini membimbing kami ketika feodalisme mendjadikan dirinja kekuatan jang progresif dan jang memang revolusioner di Eropah . Prinsip- prinsip ini membe rikan kepada kami, ketika feodalisme melahirkan kapitalisme, dan ketika kapitalisme mendjadi bapak imperialisme jang memperbudak kami. Prinsip- prinsip ini memberi kekuatan kepada kami selama gerhana kegelapan pendjadjahan dan selama tahun-tahun jang berdjalan lambat, ketika bentuk-bentuk lain dan berbeda-beda dari praktek- praktek demokrasi timbul setjara perlahan -lahan di Eropah dan Amerika. 

Demokrasi kami tua, tetapi djaja dan kuat, sama djajanja dan kuatnja seperti bangsa Indonesia jang mendjadi sumbernja” . (M.D.K. halaman 331-333). 

„Achirnja didalam Pantja Sila terkandung Keadilan Sosial. Untuk dapat dilaksanakan dibidang internasional, mungkin hal ini akan mendjadi keadilan sosial internasional. Sekali lagi, menerima prinsip ini akan berarti menolak kolonialisme dan imperialisme. 

Selandjutnja, diterimanja oleh Perserikatan Bangsa -Bangsa keadilan sosial sebagai suatu tudjuan, akan berarti diterimanja pertanggungan-djawab dan kewadjiban -kewadjiban tertentu. 

Ini akan berarti usaha jang tegas dan berpadu untuk menge achiri banjak dari kedjahatan-kedjahatan sosial, jang menjusahkan dunia kita. Ini akan berarti bahwa bantuan kepada negara- negara jang belum madju dan bangsa-bangsa jang kurang beruntung akan disingkirkan dari suasana Perang Dingin. Ini akan berarti pula pengakuan jang praktis bahwa semua orang adalah saudara dan bahwa semua orang mempunjai tanggung-djawab terhadap saudara nja. 

Perkenankanlah saja sekali lagi mengulangi Lima Sila itu. Ketuhanan Jang Maha Esa ; Nasionalisme; Internasionalisme; Demokrasi ; Keadilan Sosial. 

Marilah kita selidiki apakah hal-hal ini sebenarnja merupakan suatu sintése jang dapat diterima oleh kita semua. Marilah kita bertanja pada diri sendiri, apakah penerimaan prinsip- prinsip itu akan memberikan suatu pemetjahan persoalan -persoalan jang dihadapi oleh organisasi ini". ( M.D.K. halaman 337). 

IV . USAHA -USAHA POKOK 

Usaha -usaha pokok dibidang Politik Luar Negeri adalah se bagai berikut: 

1. Membebaskan Irian Barat dari imperialisme dan kolonialisme.
2. Menjokong kemerdekaan negara -negara Asia, Afrika dan Amerika Latin.
3. Ko-eksistensi dan perlutjutan send jata .
4. Retooling P.B.B. 

1. Tentang Membebaskan Irian Barat dari Imperialisme dan Kolonialisme. 

Untuk membebaskan Irian Barat Rakjat Indonesia wadjib memobilisasi seluruh kekuatan nasional dan internasional jang anti imperialisme /kolonialisme dan mend jalankan politik kon frontasi baik dibidang politik, ekonomi maupun militer seperti jang ditegaskan oleh Presiden / Panglima Tertinggi / Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Karno sebagai berikut: 

„ Dimana terdapat imperialisme, dan dimana terdapat penju sunan kekuatan bersendjata jang serentak, maka keadaan memang berbahaja. Sekali lagi saja berbitjara berdasarkan pengalaman. Begitulah keadaannja di Irian Barat. Begitulah keadaannja di seperlima wilajah nasional kami jang pada dewasa ini masih tetap membungkuk dibawah belenggu imperialisme. 

Disanalah kami menghadapi imperialisme dan kekuatan bersendjata dari imperialisme. Diperbatasan daerah itu tentara kami berdjaga didarat maupun dilautan”. (M.D.K. halaman 310-311). 

,,Kami telah berusaha untuk menjelesaikan masalah Irian Barat. Kami telah berusaha dengan sungguh -sungguh dan dengan penuh kesabaran dan penuh toleransi dan penuh harapan ”. (M.D.K. halaman 321). 

„ Semuanja itu kini telah habis dan Belanda tidak memberi. kan alternatif lainnja, ketjuali memperkeras sikap kami”. (M.D.K. halaman 321) . 

„ Irian Barat merupakan pedang kolonial jang diantjamkan terhadap Indonesia . Pedang itu diarahkan pada djantung kami, akan tetapi disamping itu mengantjam pula perdamaian dunia. 

Usaha-usaha kami dewasa ini jang sungguh - sungguh untuk mentjapai penjelesaian dengan tjara- tjara kami sendiri, adalah bagian dari sumbangan kami kearah terdjaminnja perdamaian dunia ini . Ini adalah bagian dari usaha kami untuk mengachiri masalah dunia ini jang merupakan kedjahatan jang usang. Usaha kami adalah usaha pembedahan jang sungguh -sungguh untuk me njingkirkan kanker imperialisme dari daerah didunia, dimana kami hidup dan berada ” . (M.D.K. halaman 317) . 

2. Tentang menjokong kemerdekaan negara-negara Asia, Afrika dan Amerika Latin 

a. Masalah keanggautaan RRT di P.B.B. 

Untuk mendjadikan P.B.B. kuat dan universil Rakjat Indonesia menjokong sepenuhnja keanggautaan RRT dalam P.B.B. ditegaskan oleh Presiden /Panglima Tertinggi /Pemimpin Besar Revolusi Indonesia - Bung Karno sebagai berikut: 

„Organisasi bangsa -bangsa ini telah dilemahkan selama ia masih menolak perwakilan sesuatu bangsa, dan teristimewa suatu bangsa tua dan bidjaksana serta kuat. 

Saja maksudkan Tiongkok. Saja maksudkan jang sering disebut Tiongkok Komunis, jang bagi kami adalah satu-satunja Tiongkok jang sebenarnja . Organisasi bangsa-bangsa ini sangat dilemahkan , djustru karena ia menolak keanggautaan bangsa jang terbesar di dunia. 

Setiap tahun kami menjokong diterimanja Tiongkok kedalam Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai anggauta. Kami akan terus melakukannja. Kami tidak memberikan sokongan itu semata -mata karena kami mempunjai hubungan baik dengan negara tersebut. Dan pasti sokongan itu tidak kami berikan karena sesuatu alasan partisan . Tidak, pendirian kami mengenai persoalan ini dibimbing oleh realisme politik. Dengan setjara pitjik mengetjualikan suatu bangsa jang besar, bangsa agung dan kuat dalam arti kwantitet, kebudajaan, tjiri-tjiri suatu perabadan kuno, suatu bangsa jang penuh dengan kekuatan dan daja ekonomi, dengan mengetjualikan bangsa itu kita lebih melemahkan Organisasi internasional ini, dan. dengan demikian, lebih mendjauhkannja dari kebutuhan dan tjita tjita kita". (M.D.K. halaman 330). 

b. Masalah Vietnam, Korea dan Afrika. 

Rakjat Indonesia menjokong penuh perd juangan penjatuan kembali Rakjat jang terpet jah-belah setjara paksa oleh kaum imperialis seperti penjatuan kembali Korea, Vietnam dan Afrika seperti ditegaskan oleh Presiden / Panglima Tertinggi/ Pemimpin Besar Revolusi Indonesia - Bung Karno sebagai berikut:

 „ Kami di Asia tidak pernah mengenal keadaan damai ! Setelah perdamaian datang untuk Eropah, kami merasai akibat bom-bom atom . Kami merasai revolusi nasional kami sendiri di Indonesia. Kami merasai penjiksaan Vietnam. Kami menderita penganiajaan Korea Kami masih senantiasa menderita kepedihan Aldjazair. Apakah sekarang ini seharusnja giliran saudara- saudara kita di Afrika ? Apakah mereka harus disiksa, sedangkan luka- luka kami masih belum sembuh ? 

Toh masih sadja Barat dalam keadaan damai. Herankah tuan - tuan bahwa kami sekarang menuntut, ja, menuntut, batalnja siksaan terhadap kami? Herankah tuan - tuan, bahwa kini suara saja diperdengarkan sebagai protes ? 

Kami, jang dulu tidak bersuara, mempunjai tuntutan -tuntutan dan kebutuhan -kebutuhan ; kami berhak untuk didengar. Kami bukannja barang perdagangan, tetapi adalah bangsa -bangsa jang Iridup dan jang perkasa , jang mempunjai peranan didunia ini , dan jang harus memberikan sumbangannja. 

Saja pergunakan kata -kata jang keras, dan saja pergunakan kata - kata ini dengan sengadja, karena saja punja pendirian jang tegas mengenai soal ini . Dengan sengadja saja pergunakan kata- kata keras, karena saja berbitjara untuk bangsa saja dan karena saja berbitjara dimuka pemimpin -pemimpin bangsa-bangsa. 

Selain daripada itu , saja tahu bahwa saudara- saudara saja di Asia dan Afrika mempunjai pendirian jang sama tegasnja, walau pun saja tidak berani berbitjara atas nama mereka ” . (M.D.K. ha laman 307). 

c. Masalah kemerdekaan negara-negara djad jahan. 

Rakjat Indonesia menjokong sepenuhnja perd juangan kemer dekaan seluruh bangsa jang masih terd jad jah di Asia - Afrika dan Amerika Latin seperti ditegaskan oleh Presiden / Panglima Tertinggi/ Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Karno sebagai berikut: 

„ Banjak diantara tuan- tuan dalam Sidang ini tidak pernah mengenal imperialisme. Banjak diantara tuan- tuan lahir merdeka dan akan mati merdeka . Beberapa diantara tuan- tuan lahir dari bangsa -bangsa jang telah mendjalankan imperialisme terhadap jang lain , tetapi tidak pernah menderitain ja sendiri . Akan tetapi sauda ra -saudara saja di Asia dan Afrika telah mengenal tjambuk imperial isme. Mereka telah menderitanja. Mereka mengenal bahajanja dan kelitjikannja serta keuletannja. 

Kami di Indonesia mengenalnja djuga. Kami adalah ahli-ahli dalam soal ini ! Berdasarkan pengetahuan itu dan berdasarkan pengalaman itu, saja katakan pada tuan- tuan bahwa berlandjutnja imperialisme dalam setiap bentuknja merupakan suatu bahaja jang besar dan jang berlarut- larut" . ( M.D.K. halaman 308). 

...... perdjuangan untuk kemerdekaan senantiasa dibenarkan dan senantiasa benar. Mereka jang menentang gerak -madju jang tidak terelakkan dari kemerdekaan nasional dan hak menentukan nasib sendiri, adalah buta ; mereka jang berusaha untuk mengemba likan apa jang tidak dapat dikembalikan merupakan bahaja bagi mereka sendiri dan bagi dunia ". (M.D.K. halaman 309). 

„ Memang, saja tidak perlu membentangkan kepada tuan-tuan, bahwa kami dari Asia dan Afrika menentang kolonialisme dan imperialisme. Lebih daripada itu, siapakah dalam dunia sekarang ini masih akan membela hal- hal itu? Setjara universil hal-hal itu telah dikutuk, dan sudah sepantasnja, dan alasan -alasan sinis jang usang itu tidak terdengar lagi. Pertentangan sekarang berpusat pada persoalan kapankah daerah-daerah djadjahan akan merdeka, dan bukan pada persoalan apakah mereka akan merdeka. 

Tetapi saja hendak menegaskan soal ini. Oposisi kami terhadap kolonialisme dan imperialisme timbul baik dari hati maupun dari kepala kami. Kami menentangnja atas dasar kemanusiaan , dan kami menentangnja pula dengan alasan bahwa hal ini merupakan suatu antjaman jang besar dan makin besar lagi terhadap perda maian ” . (M.D.K. halaman 310-311). 

d. Masalah Kongo. 

Rakjat Indonesia menjokong penuh perd juangan kemerdekaan Rakjat Kongo menuntut dihormatin ja kedaulatan dan kemerdekaan Kongo dan menentang tjampur- tangan asing seperti ditegaskan oleh Presiden / Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Karno sebagai berikut : 

„Keadaan di Kongo jang sangat disesalkan adalah langsung disebabkan oleh imperialisme, dan tidak disebabkan oleh berachir. nja imperialisme itu . Imperialisme berusaha untuk mempertahan kan kedudukannja di Kongo, berusaha untuk dapat memutungkan dan melumpuhkan Negara baru itu . Itulah sebabnja Kongo berko bar”. (M.D.K. halaman 317-318). 

„ Masalah Kongo, jang merupakan masalah kolonialisme dan imperialisme, harus diselesaikan dengan menggunakan prinsip 111 e. prinsip jang telah saja uraikan tadi. Kongo adalah Negara jang berdaulat. Hendaknja kedaulatan itu dihormati. Ingatlah : kedau. latan Kongo tidak kurang daripada kedaulatan setiap bangsa jang diwakili dalam Madjelis ini, dan kedaulatan ini harus dihormati setjara sama. 

Dalam soal- soal dalam negeri Kongo tidak boleh ada tjampur tangan dan sama sekali tidak boleh ada bantuan, baik jang terang, terangan maupun jang tersembunji, untuk menghantjurkan negara ini" . (M.D.K. halaman 318). 

e. Masalah Aldjazair. 

Rakjat Indonesia menjokong sepenuhnja perd juangan kemer dekaan Rakjat Aldjazair seperti ditegaskan oleh Presiden / Pang lima Tertinggi / Pemimpin Besar Revolusi Indonesia — Bung Karno sebagai berikut : 

„ Sudah djelas sekali bahwa rakjat Aldjazair menghendaki kemerdekaan. 

Maka, adakanlah suatu plebisit dibawah pengawasan Perse rikatan Bangsa-Bangsa di Aldjazair untuk menentukan kehendak rakjat akan betapa akrab dan selaras hubungan-hubungan itu se harusnja. Plebisit itu hendaknja djangan mengenai soal kemerde kaan. Kemerdekaan itu sudah ditentukan dengan darah dan air. mata, dan pastilah akan berdiri suatu Aldjazair jang Merdeka". (M.D.K. halaman 320). 

f. Masalah Kuba dan Laos. 

Rakjat Indonesia menjokong perd juangan Rakjat Kuba dan Rakjat Laos untuk kemerdekaan dibidang politik dan ekonomi. 

3. Tentang Ko-eksistensi dan Perlutjutan Sendjata 

Rakjat Indonesia mendesak pelaksanaan ko -eksistensi untuk seluruh negara didunia dengan tidak memandang perbedaan filsafah hidup, sistim politik dan sosial jang telah dibuktikan selama limabelas tahun di Barat, seperti ditegaskan oleh Presiden / Panglima Tertinggi /Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Karno sebagai berikut: 

,,Selama limabelas tahun ini Barat telah mengenal perda. maian, atau sekurang- kurangnja ketiadaan perang. Tentu sadja, ada ketegangan-ketegangan. Memang, ada bahaja. Tetapi tetap merupa kan kenjataan, bahwa ditengah- tengah suatu revolusi jang meliputi tiga perempat dari dunia, Barat tetap dalam keadaan damai . Kedua blok besar, sebetulnja, telah berhasil mempraktekkan ko- eksistensi selama tahun -tahun itu, sehingga dengan demikian membantah mereka jang menjangkal kemungkinan adanja ko-eksistensi ” . (M.D.K. halaman 306-307). 

Dalam „ MEMBANGUN DUNIA KEMBALI” Presiden mene gaskan bahwa tidak ada hal jang lebih mendesak tentang perlutjutan send jata setjara umum dan mutlak sebagai hal jang sangat mendesak, tidak dapat diselesaikan oleh negara-negara besar sadja, tetapi harus mengikut- sertakan negara -negara non -blok seperti ditegaskan oleh Presiden /Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi Indonesia - Bung Karno sebagai berikut: 

„ Perlutjutan sendjata merupakan suatu keperluan jang men desak dalam dunia ini. Persoalan jang terpenting ini dari semua masalah harus dirundingkan dan dipetjahkan dalam rangka Orga nisasi ini . Namun bagaimana dapat tertjapai suatu persetud juan realistis mengenai perlutjutan sendjata, bila Tiongkok jang meru pakan salah satu negara terkuat dalam dunia ini, tidak diturut sertakan dalam musjawarah -musjawarah itu ? ” . (M.D.K. hala man. 306). 

„ Dewasa ini , kita banjak mendengar dan membatja mengenai perlutjutan sendjata. Perkataan itu biasanja dipakai dalam hubung an perlutjutan sendjata nuklir dan atom ” . (M.D.K. halaman 311). 

„Mengenai persoalan- persoalan peperangan nuklir, saja hanja seorang biasa sadja, mungkin seperti tetangga tuan atau seperti saudara tuan atau bahkan seperti ajah tuan . Saja ikut merasakan kengerian mereka, saja ikut merasakan ketakutan mereka. 

Saja ikut merasakan kengerian dan ketakutan , itu karena saja adalah bagian dari dunia ini . Saja punja anak -anak , dan haridepan mereka terantjam bahaja. Saja seorang Indonesia, dan bangsa itu terantjam bahaja ". (M.D.K. halaman 311-312). 

„ Djelaslah, bahwa masalah perlutjutan sendjata bukan hanja perselisihan pendapat tentang dasar-dasar tehnis jang sempit” . (M.D.K. halaman 313). 

„ Tidak sesuatupun lebih mendesak daripada hal ini. Dan persoalan ini adalah demikian vital bagi seluruh ummat manusia, sehingga seluruh ummat manusia harus diikut-sertakan dalam pemetjahannja. Saja kira pada saat ini kita boleh berkata, bahwa sebenarnja hanjalah desakan dan usaha dari negara- negara non blok akan memberikan hasil jang diperlukan seluruh dunia. Pem bitjaraan jang sungguh -sungguh tentang perlutjutan sendjata, dida lam rangka organisasi ini , dan didasarkan pada suatu harapan jang sungguh -sungguh akan suksesnja, adalah jang essensiil sekarang ini" . (M.D.K. halaman 314). 

Akibat tert ja pain ja perlut jutan send jata setjara umum dan mutlak bagi kesed jahteraan ummat manusia Presiden /Panglima Tertinggi /Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Karno menegaskan sebagai berikut: 

.,Renungkan, renungkan sedjenak, apa jang mungkin terdjadi djika kita dapat meletakkan suatu dasar bagi perlutjutan sendjata jang sedjati. Ingatlah akan dana -dana jang sangat besar jang dapat digunakan untuk perbaikan dunia dimana kita hidup ini . Ingatlah akan daja gerak jang maha hebat jang dapat diberikan kepada perkembangan mereka jang kurang madju, sekalipun hanja seba hagian sadja dari anggaran belandja pertahanan dari Negara Negara Besar disalurkan kearah itu . Ingatlah akan bertambahnja setjara hebat kebahagiaan manusia , produktivitet manusia dan kese djahteraan manusia , djika hal itu diselenggarakan .” (M.D.K. halaman 314). 

Rakjat Indonesia mengutuk dan menuntut dilarangnja pem buatan dan pertjobaan bom Atom dan bom Hydrogin , menud ju kepada perlut jutan send jata jang sungguh -sungguh seperti ditegas kan oleh Presiden / Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi Indonesia - Bung Karno sebagai berikut :

,,Tidak orang machlukpun berhak untuk menggunakan hak -hak prerogatif dari Tuhan Jang Maha Kuasa. Tidak seorang pun berhak mempergunakan bom- bom hydrogin . Tidak satu bang, sapun berhak untuk menjebabkan kemungkinan hantjurnja semua bangsa-bangsa. 

Tidak suatu sistim politik, tiada suatu organisasi ekonomi jang lajak untuk menjebabkan musnahnja dunia, termasuk sistim mau pun organisasi itu sendiri" . (M.D.K. halaman 134) . „ Kami bangsa Asia telah menderita akibat bom atom ” . (M.D.K. halaman 312). 

„ Djika ada suatu immoralitet jang lebih besar daripada mem peragakan sendjata-sendjata hydrogin, maka hal itu adalah mela kukan pertjobaan- pertjobaan dengan sendjata - sendjata tersebut” . (M.D.K. halaman 313). 

„ Pada dewasa ini pertjobaan -pertjobaan dengan sendjata sendjata nuklir ditangguhkan, — perhatikan tidak dilarang, tetapi hanja ditangguhkan. Maka, marilah kita pergunakan kenjataan ini sebagai permulaan. Marilah kita pergunakan kenjataan ini sebagai dasar untuk melarang pertjobaan, dan kemudian untuk perlutjutan sendjata jang sungguh-sungguh ”. (M.D.K. halaman 315). 

4. Tentang Retooling P.B.B. 

Rakjat Indonesia menaruh perhatian chusus terhadap P.B.B. sebagai satu -satun ju badan internasional jang mend jadi harapan bangsa- bangsa didunia untuk menjelesaikan masalah - masalah dan pertikaian -pertikaian internasional, guna mentjapai kemerdekaan bangsa- bangsa dan kesed jahteraan ummat manusia , seperti jang ditegaskan oleh Presiden /Panglima Tertinggi / Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Karno sebagai berikut: 

„ Mereka itu, dan rakjat Asia dan Afrika , rakjat - rakjat benua Amerika dan benua Eropah serta rakjat benua Australia, sedang memperhatikan dan mendengarkan serta mengharap -harap. Orga nisasi Perserikatan Bangsa- Bangsa ini bagi mereka merupakan suatu harapan akan masa -depan dan suatu kemungkinan -baik bagi zaman sekarang ini” . ( M.D.K. halaman 297). 

„ Kita bertekad untuk mendjadikan Perserikatan Bangsa Bangsa kuat dan universil serta mampu untuk memenuhi fungsinja jang lajak ” . (M.D.K. halaman 300). 

Perserikatan Bangsa- Bangsa tidak lagi merupakan badan seperti jang menandatangani Piagam limabelas tahun jang lalu. Dunia inipun tidak sama dengan jang dahulu. Mereka jang dengan kebidjaksanaan berdjerih - pajah untuk menghasilkan Piagam Orga nisasi ini, tidak dapat menjangka akan terdjelmanja bentuk jang sekarang ini. Diantara orang-orang jang bidjaksana dan djauh pandangannja itu, hanja beberapa jang sadar, bahwa achir imperial isme sudah tampak dan bahwa bila Organisasi ini harus hidup terus, maka ia mesti memberi kemungkinan kepada bangsa -bangsa baru dan bangsa-bangsa jang lahir kembali untuk masuk beramai ramai, berdujun -dujun dan bersemangat". (M.D.K. halaman 338-339). 

b. Rakjat Indonesia menghendaki supa ja P.B.B. menempatkan kewibawaan dan kekuatan moriln ja dibelakang perd juangan kemer dekaan bangsa -bangsa setjara tegas dan djelas, seperti jang ditegaskan oleh Presiden /Panglima Tertinggi / Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Karno sebagai berikut: 

„ Perserikatan Bangsa-Bangsa ini adalah suatu organisasi dari Negara- Negara Bangsa jang masing-masing menggenggam permata itu kuat-kuat sebagai sesuatu jang berharga . Kita semuanja telah berhimpun dengan sukarela, sebagai saudara dan sederadjat dalam Organisasi ini. Sebagai saudara dan sederad jat, karena kita semua. nja memiliki kedaulatan jang sederadjat, dan kita semua mengang. gap kedaulatan jang sederadjat itu sama-sama berharga” . (M.D.K. halaman 304). 

„Perserikatan Bangsa-Bangsa sekarang ini djuga berkesem patan untuk membangun bagi dirinja sendiri reputasi dan gensi jang besar. Mereka jang berdjuang untuk kemerdekaan akan men tjari sokongan dan sekutu -sekutu dimana sadja dapat diperolehnja ; alangkah baiknja bilamana mereka berpaling kepada badan ini dan kepada Piagam kita daripada kepada sesuatu kelompok atau bagian dari badan ini” . (M.D.K. halaman 309). 

,, Disini hendak saja kemukakan peringatan jang sangat serieus. Banjak anggauta organisasi ini dan banjak pedjabat organisasi ini, mungkin tak begitu menjadari perbuatan-perbuatan imperialisme dan kolonialisme.

Mereka tak pernah mengalaminja ; mereka tak mengenal keuletannja dan kebengisannja, dan banjaknja mukanja, dan kedja. hatannja. 

Kami dari Asia dan Afrika mengenalnja. Saja katakan pada tuan - tuan : Djanganlah bertindak sebagai alat jang tak- tahu apa- apa dari imperialisme. Djanganlah bertindak sebagai tangan kanan jang buta dari kolonialisme. Djika tuan bertindak demikian, maka tuan pasti akan membunuh Organisasi Perserikatan Bangsa- Bangsa ini, dan dengan begitu tuan akan membunuh harapan dari berdjuta djuta manusia jang tiada terhitung itu dan mungkin tuan akan menjebabkan hari- depan mati dalam kandungan ” . (M.D.K. hala man 319). 

Kita hidup ditengah- tengah Revolusi Tuntutan Jang Meningkat. Mereka jang dahulunja tanpa kemerdekaan, kini menuntut kemer dekaan. Mereka jang dahulunja tanpa suara, kini menuntut, agar suaranja didengar. 

Mereka jang dahulunja kelaparan, kini menuntut beras, banjak banjak dan setiap hari . Mereka jang dahulunja buta huruf, kini menuntut pendidikan. 

Seluruh dunia ini merupakan suatu sumber- sumber tenaga Revolusi jang besar, suatu gudang mesiu revolusioner jang besar. 

Tidak kurang dari tiga- perempat ummat manusia terlibat didalam Revolusi Tuntutan Jang Meningkat, dan ini adalah Revo lusi Mahahebat sedjak manusia untuk pertama kalinja berdjalan dengan tegak disuatu dunia jang murni dan menjenangkan. 

Berhasil atau gagalnja Organisasi ini akan dinilai dinilai dari hubungannja dengan Revolusi Tuntutan Jang Meningkat itu . Gene rasi - generasi jang akan datang akan memudji atau mengutuk kita atas djawaban kita terhadap tantangan ini” . (M.D.K. halaman 337-338). 

c. Rakjat Indonesia sangat kewatir terhadap P.B.B. dewasa ini jang tern jata tidak mampu menjelesaikan masalah -masalah inter nasional, tidak mampu menjelesaikan persengketaan -persengketaan internasional atas prinstp musjawarah, tidak mampu memenuhi tuntutan zaman pembangunan bangsa -bangsa, tidak mentjerminkan keadaan dunia sekarang ini seperti jang ditegaskan oleh Presiden / Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi Indonesia — Bung Karno sebagai berikut: 

„ Djanganlah memperlakukan masalah -masalah jang akan tuan tuan perbintjangkan sebagai masalah routine. Bila diperlakukan demikian, maka Organisasi ini jang telah memberikan kita suatu harapan untuk masa- depan, suatu kemungkinan- baik akan adanja persesuaian internasional, mungkin akan petjah. Ia mungkin akan lenjap perlahan -lahan dibawah gelombang pertikaian, sebagaimana dialami oleh organisasi jang digantikannja. Bila hal itu terdjadi, maka ummat manusia sebagai keseluruhan akan menderita, dan suatu impian jang agung, suatu tita -tjita jang agung, akan hantjur. Ingatlah bukanlah hanja kata-kata jang tuan- tuan hadapi. Bukan lah pion- pion diatas papan tjatur jang tuan - tuan hadapi. Jang tuan tuan hadapi adalah manusia, impian - impian manusia, tjita - tjita manusia, dan hari depan semua manusia ” . (M.D.K. halaman 301). 

,,Sedjak hari bersedjarah ditahun Sembilanbelas Empatpuluh Lima dunia telah berobah , dan dia telah berobah kearah perbaikan. Dari pembangunan bangsa -bangsa ini telah muntjul kemungkinan ja , keharusan akan suatu dunia jang bebas dari ketakutan, bebas dari kekurangan, bebas dari penindasan penindasan nasional” . (M.D.K. halaman 302). 

„ Pergolakan -pergolakan kolonial, perkembangan jang tjepat dari daerah -daerah jang belum madju dilapangan tehnis, dan mas alah perlutjutan sendjata, semuanja merupakan masalah -masalah jang tepat dan mendesak untuk kita pertimbangkan dan musjawa rahkan. Akan tetapi, telah mendjadi djelas, bahwa masalah- masalah jang vital ini tidak dapat dibitjarakan setjara memuaskan oleh Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa jang sekarang ini. Sedjarah badan ini menundjukkan kebenaran jang menjedihkan dan jang djelas daripada apa jang telah saja katakan ” . ( M.D.K. halaman 339). 

„ Kami memandangnja dengan kechawatiran besar, karena kami telah mengadjukan suatu masalah nasional jang besar, masa. lah Irian Barat, kehadapan Madjelis ini, dan tiada suatu penjele. zaman 118 saian dapat ditjapai . Kami memandangnja dengan kechawataran, karena Negara- Negara Besar didunia telah memasukkan permainan Perang Dingin mereka jang berbahaja itu kedalam ruangan - ruangannja ”. (M.D.K. halaman 341). 

d. Prinsip musjawarah bukanlah sesuatu jang idealistis, tetapi prinsip jang memang dapat dilaksanakan seperti ditegaskan oleh Presiden /Pangbima Tertinggi/ Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Karno sebagai berikut : 

,, Satu -satunja tjara bagi organisasi ini untuk dapat mendja lankan fungsinja setjara memuaskan, ialah dengan djalan mufakat jang diperoleh dalam musjawarah . Musjawarah harus dilakukan sedemikian rupa, sehingga tidak ada saingan antara pendapat-pen dapat jang bertentangan, tidak ada resolusi- resolusi dan resolusi resolusi balasan, tidak ada pemihakan- pemihakan, melainkan hanja usaha jang teguh untuk mentjari dasar umum dalam memetjahkan sesuatu masalah. Dari musjawarah sematjam ini timbullah permu fakatan, suatu kebulatan pendapat, jang lebih kuat daripada suatu resolusi jang dipaksakan melalui djumlah suara majoritet, suatu resolusi jang mungkin tidak diterima , atau jang mungkin tidak disukai minoritet”. (M.D.K. halaman 333). 

„ Kami mhu dari pengalaman jang sama pahitnja, sama prak. tisnja dan sama realistisnja, bahwa tjara-tjara musjawarah kami dapat pula diselenggarakan dibidang internasional. Dibidang itu tjara- tjara itu berdjalan sama baiknja seperti dibidang nasional”. (M.D.K. halaman 334). 

„ Konperensi Asia - Afrika diselenggarakan dengan tjara-tjara musjawarah. 

Dalam konperensi itu tidak terdapat majoritet dan minoritet . Tidak pula diadakan pemungutan suara. Dalam konperensi itu hanja terdapat musjawarah dan keinginan umum untuk mentjapai persetudjuan. Konperensi itu menghasilkan komuniké jang dibuat dengan suara bulat, komuniké jang merupakan salah suatu jang terpenting dalam windu ini atau mungkin salah satu dokumen jang terpenting dalam sedjarah ” . (M.D.K. halaman 335). 

„ Saja jakin bahwa pemakaian dengan tulus ichlas dari tjara tjara musjawarah demikian ini akan mempermudah pekerdjaan organisasi internasional ini. Ja, barangkali tjara ini akan memung. kinkan pekerdjaan jang sebenarnja dari organisasi ini. Tjara musja warah ini akan menundjukkan djalan untuk menjelesaikan banjak masalah -masalah jang makin bertumpuk bertahun - tahun . Tjara musjawarah ini akan memungkinkan terselesaikannja masalah. masalah jang tampaknja tidak terpetjahkan”. (M.D.K. halaman 335). 

c. Berhubung dengan kenjataan -ken jataan tersebut diatas Pre siden / Panglima Tertinggi /Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Karno mendesak : 

1. Supa ja Markas Besar P.B.B. dipindahkan ketempat jang bebas dari suasana perang -dingin seperti ditegaskan oleh Presiden Panglima Tertinggi / Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Karno sebagai berikut : 

„ Bahwasanja kedudukan Perserikatan Bangsa -Bangsa berada dalam wilajah salah satu negara jang terkemuka dalam Perang Dingin, berarti Perang Dingin telah merembes bahkan sampai kepe kerdjaan dan administrasi serta rumah -tangga Organisasi kita ini . Sedemikian luasnja perembesan itu, sehingga hadirnja pemimpin sesuatu bangsa jang besar dalam sidang Perserikatan Bangsa - Bangsa ini sadja sudah mendjadi persoalan Perang Dingin dan sendjata Perang Dingin, serta alat untuk mempertadjam tjara kehidupan jang berbahaja serta jang sia -sia itu. 

Marilah kita tindjau apakah tempat kedudukan Organisasi kita tidak perlu dipindahkan dari suasana Perang Dingin . Marilah kita tindjau apakah Asia atau Afrika atau Djenewa akan dapat memberi tempat jang permanen kepada kita, jang djauh dari Perang Dingin , tidak terikat pada salah suatu blok dan dimana para Delegasi dapat bergerak dengan leluasa dan bebas sekehendak mereka. Dengan demikian , mungkin akan diperoleh pengertian jang lebih luas ten tang dunia dan masalah -masalahnja. 

Saja jakin, bahwa suatu negara Asia atau Afrika, mengingat akan kejakinan dan kepertjajaannja, dengan senang akan mengun 120 djukkan kemurahan hatinja kepada Perserikatan Bangsa - Bangsa, mungkin dengan menjediakan suatu daerah jang tjukup luas, dima na Organisasi itu sendiri akan berdaulat dan dimana perundingan perundingan jang penting bagi pekerdjaan vital itu dapat dilaksa nakan setjara aman dan dalam suasana persaudaraan ”. (M.D.K. halaman 338). 

2. Supaja Piagam P.B.B. ditindjau kembali dan disesuaikan dengan tuntutan zaman pembangunan bangsa-bangsa dewasa ini berlandaskan kepada adjaran Pantja Sila seperti ditegaskan oleh Presiden / Panglima Tertinggi / Pemimpin Besar Revolusi Indonesia - Bung Karno sebagai berikut: 

„ Benar, Perserikatan Bangsa - Bangsa tidak hanja terdiri dari. pada Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa sadja. Meskipun demi kian, dokumen jang bersedjarah itu tetap merupakan bintang pembimbing dan ilham Organisasi ini . Dalam banjak hal Piagam mentjerminkan konstelasi politik dan kekuatan daripada saat dila hirkannja. Dalam banjak hal Piagam itu tidak mentjerminkan kenjataan- kenjataan masa sekarang. 

Oleh karena itu marilah kita pertimbangkan apakah Lima Sila jang telah saja kemukakan , dapat memperkuat dan memper baiki Piagam kita . 

Saja jakin, ja, saja jakin sejakin - jakinnja bahwa diterimanja kelima prinsip itu dan ditjantumkannja dalam Piagam , akan sangat memperkuat Perserikatan Bangsa- Bangsa . Saja jakin, bahwa Pantja Sila akan menempatkan Perserikatan Bangsa -Bangsa sedjadjar dengan perkembangan terachir dari dunia . Saja jakin bahwa Pantja Sila akan memungkinkan Perserikatan Bangsa - Bangsa untuk meng. hadapi hari kemudian dengan kesegaran dan kepertjajaan . Achir nja, saja jakin bahwa diterimanja Pantja Sila sebagai dasar Piagam , akan menjebabkan Piagam ini dapat diterima lebih ichlas, oleh semua anggauta , baik jang lama maupun jang baru ” . ( M.D.K. halaman 337). 

,,Sedjak perang kita telah menjaksikan tiga gedjala -gedjala besar jang permanen. 

Pertama ialah bangkitnja negara- negara Sosialis. Hal ini tidak disangka dalam tahun Sembilanbelas Empatpuluh Lima. Kedua ialah gelombang besar daripada pembebasan nasional dan emansi pasi ekonomi jang melanda Asia dan Afrika serta saudara-saudara kita di Amerika Latin. Saja kira bahwa hanja kita, jang langsung terkibat didalamnja, dapat menduganja. Ketiga ialah kemadjuan ilmiah besar, jang semua bergerak dilapangan persendjataan dan peperangan, akan tetapi jang dewasa ini berpindah kelapangan rintangan dan perbatasan ruang angkasa. Siapakah jang dapat meramalkannja ketika itu?

Benar, Piagam kita dapat dirobah . Saja menjadari, bahwa ada prosedure untuk melakukan hal ini dan akan tiba waktunja ini dapat dilakukan. Akan tetapi persoalan ini mendesak. Hal ini mungkin merupakan persoalan mati atau hidup bagi Perserikatan Bangsa- Bangsa. Djanganlah sampai pandangan legalistik jang pitjik dapat menghalangi dikerdjakannja usaha itu dengan segera ”. ( M.D.K. halaman 340-341). 

3. Supaja organisasi dan keanggautaan Dewan Keamanan dan Lembaga-Lembaga P.B.B. lainnja mentjerminkan bangkitn ja Negara- Negara Sosialis ataupun berkembangnja dengan tjepat ke merdekaan negara -negara Asia - Afrika seperti ditegaskan oleh Presiden /Panglima Tertinggi/ Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Karno sebagai berikut: 

„ Organisasi dan keanggautaan Dewan Keamanan badan jang terpenting itu — mentjerminkan peta ekonomi, militer dan kekuatan daripada dunia tahun Sembilanbelas Empatpuluh Lima, ketika Organisasi dilahirkan dari inspirasi dan angan - angan jang besar. 

Demikian pula halnja dengan sebagian besar be daripada Lembaga- Lembaga lainnja. Mereka itu tidak mentjerminkan bang kitnja negara- negara Sosialis ataupun berkembangnja dengan tjepat kemerdekaan Asia dan Afrika " . ( M.D.K. halaman 339-340).. 

„ Adalah sama pentingnja bahwa pembagian kursi dalam Dewan Keamanan dan badan -badan serta lembaga-lembaga lainnja harus dirobah . Dalam hal ini saja tidak berpikir dalam istilah blok 122 blokan, tetapi saja memikirkan betapa sangat perlunja Piagam dari Perserikatan Bangsa -Bangsa, dari badan - badan Perserikatan Bangsa- Bangsa dan Sekretariat Perserikatan Bangsa- Bangsa, semua nja itu mentjerminkan keadaan jang sebenarnja dari dunia kita sekarang ini" . (M.D.K. halaman 341) . 

4. Supa ja Sekretariat P.B.B. jang dipimpin Sekd jen diretool seperti ditegaskan oleh Presiden / Panglima Tertinggi /Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Karno sebagai berikut: 

„ Untuk memodernisir dan membuat efisien Organisasi kita, barangkali djuga Sekretariat dibawah pimpinan Sekretaris Djen dralnja, mungkin membutuhkan penindjauan kembali . Dengan mengatakan demikian, saja tidak -- sama sekali tidak - menge ritik atau mentjela dengan tjara apapun Sekretaris Djenderal jang sekarang , jang senantiasa berusaha, dalam keadaan -keadaan ng tak dapat diterima lagi, melakukan tugasnja dengan baik, jang kadang-kadang tampaknja tidak mungkin dilaksanakan. 

Djadi, bagaimanakah mereka bisa efisien ? Bagaimanakah ang. gauta -anggauta kedua golongan dalam dunia ini -- jakni golongan golongan jang merupakan suatu kenjataan dan jang harus diterima - bagaimanakah anggauta -anggauta kedua golongan itu bisa mera. sa tenang didalam Organisasi ini dan mempunjai kepertjajaan penuh jang diperlukan terhadapnja " . (M.D.K. halaman 340). 

Achirnja Presiden /Panglima Tertinggi /Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Karno - sebagai penjambung lidah rakjat Indonesia, men jatakan ijita - tjita ralejat Indonesia untuk membangun dunia baru sebagai berikut: 

„„Kami tidak berusaha mempertahankan dunia jang kami kenal ; kami berusaha membangun suatu dunia jang baru , jang lebih baik ! Kami berusaha membangun suatu dunia jang seha dan aman . Kami berusaha membangun suatu dunia, dimana setiap orang dapat hidup dalam suasana damai. Kami berusaha memba ngun suatu dunia, dimana terdapat keadilan dan kemakmuran untuk semua orang. Kami berusaha membangun suatu dunia, dima na kemanusiaan dapat mentjapai kedjajaannja jang penuh .." ( M.D.K. halaman 342)

,,Bangunlah dunia ini kembali ! Bangunlah dunia ini kokoh dan kuat dan sehat! Bangunlah suatu dunia dimana semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan . Bangunlah dunia jang sesuai dengan impian dan tjita - tjita ummat manusia. Putuskan sekarang hubungan dengan masa- lampau karena fadjar sedang menjingsing. Putuskan sekarang hubungan dengan masa - lampau, sehingga kita bisa mempertanggung -djawabkan diri terhadap masa-depan ”. ( M.D.K. halaman 345). 

V. KESIMPULAN 

1. Politik Luar Negeri Republik Indonesia mentjerminkan satu konsepsi nasional jang ber- azaskan Pantja Sila dengan tjita tjita internasionalisme untuk kesed jahteraan dunia, perda maian dunia, persaudaraan dunia jang didukung oleh seluruh Rakjat Indonesia. 

2. Politik Luar Negeri bebas dan aktif Republik Indonesia sebagaimana pokok- pokoknja diuraikan diatas adalah politik jang memihak , jaitu memihak kemerdekaan dan perdamaian melawan imperialisme-kolonialisme dan perang agresif. 

3. Politik Luar Negeri bebas dan aktif Republik Indonesia harus menghimpun semua kekuatan progresif didunia dalam satu front Internasional untuk kemerdekaan dan perdamaian melawan imperialisme-kolonialisme dan perang agresif. 

4. Politik Luar Negeri Republik Indonesia ialah perdjuangan untuk tertjapainja persamaan kedaulatan bagi semua bangsa dengan penggunaan hak - hak azasi manusia dan hak -hak azasi nasional. 

5. Pantja Sila sebagai dasar Politik Luar Negeri Republik Indonesia dapat dipakai sebagai dasar Piagam P.B.B. karena Pantja Sila memberikan djaminan kepada pemetjahan soal soal antara manusia dan manusia, bangsa dengan bangsa. 

6. Bahwa hanja dengan mengikut-sertakan rakjat Politik Luar Negeri Republik Indonesia seperti digariskan dalam „ MEMBANGUN DUNIA KEMBALI" akan sukses.

7. Untuk suksesnja pelaksanaan garis- garis Politik Luar Negeri Republik Indonesia seperti diuraikan oleh Presiden /Panglima Tertinggi/ Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Karno dalam „ MEMBANGUN DUNIA KEMBALI” , perlu diadakan retooling dalam dinas diplomatik Republik Indo nesia, terhadap aparatur-aparatur pelaksana Politik · Luar Negeri, jang suka berkompromi dengan imperialisme, birokrat birokrat jang berdjiwa kintel jang konservatif reaksioner dalam soal Politik Luar Negeri, jang tidak berdjiwa Manipol Usdek. 


Djakarta, 19 Djanuari 1961. 

edysuryadi.link

Berilmulah untuk berbudi, berbudilah untuk berbakti, dan berbaktilah untuk hidup yang penuh.

Tautan Cepat

  • Beranda
  • Koleksi Buku
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami

Kontak

  • Pondok Aren, Tangerang Selatan, Indonesia
  • +62 21 1234 5678
  • edysuryadi@live.com

Ikuti Kami

Bergabunglah dengan komunitas pecinta sejarah kami

© 2026 edysuryadi.link . Hak Cipta Dilindungi.