DJALANNJA REVOLUSI KITA
(DJAREK)
Amanat Presiden Republik Indonesia Pada Hari Proklamasi 17
Agustus 1960
Saudara-saudara sekalian!
Tiap-tiap 17 Agustus saya berhadapan muka dengan
Saudara-saudara yang berada di Jakarta. Tetapi melalui corong radio saya
berhadapan suara dengan sekalian Saudara di seluruh tanah-air
dan di luar tanah-air. Berhadapan suara dengan seluruh Rakyat Indonesia antara
Sabang dan Merauke, dan Rakyat Indonesia di luar-pagar Indonesia, – di
perantauan. Dan saya harap, bukan berhadapan suara saja, melainkan juga
berhadapan semangat, berhadapan batin. Dan oleh
karenanya, mencapai persatuan semangat, persatuan batin.
Persatuan semangat, persatuan batin untuk apa? Persatuan
semangat dan persatuan batin untuk mengabdi kepada tanah-air dan bangsa dan
Negara. Persatuan semangat dan persatuan batin untuk menyelesaikan Revolusi.
Tahun yang lalu, saya menamakan hari ulang tahun Proklamasi
satu hari yang unik. Satu hari yang istimewa, satu hari yang
menonjol, satu hari yang luar biasa. Sebabnya ialah: pada hari itu kita membuka
halaman baru dalam sejarah revolusi kita, dengan menemukan kembali
Revolusi kita, "rediscovery of our Revolution". Dan pada
hari itu saya sodorkan kepada Rakyat apa yang sekarang termasyhur dengan
nama Manifesto Politik. Satu ideologi dalam perjoangan kita,
satu ideologi yang tadinya dikabur-kaburkan orang dan malahan
dikhianati orang, dikabur-kaburkan agar supaya dilupakan oleh Rakyat, tetapi
yang pada hari 17 Agustus tahun yang lalu itu saya tonjolkan kembali di hadapan
Rakyat secara gamblang dan secara tegas. Sekarang, Alhamdulillah, Manifesto
Politik itu sudah dikenal oleh Rakyat di mana-mana, sudah dibenarkan dan
dicintai oleh Rakyat, meski masih ada saja orang-orang tertentu yang masih
gelagepan berusaha untuk mengkabur-kaburkannya atau mendêlêp-dêlêpkannya.
Tetapi Insya Allah, bukan Manifesto Politik yang akan kelelep, tetapi mereka
itu yang akan kelelep samasekali!
Sebetulnya tiap hari 17 Agustus adalah hari istimewa. Pada
hari 17 Agustus selalu kita memperingati Proklamasi Nasional. Pada hari 17
Agustus kita memperingati jasa-jasa pejoang kemerdekaan. Pada hari 17 Agustus
kita menundukkan kepala memohon berkat-rakhmat Tuhan bagi pahlawan-pahlawan
kita yang telah gugur. Pada hari 17 Agustus kita mengadakan introspeksi kepada
diri sendiri, sudahkah kita melakukan segala kewajiban-kewajiban yang harus
kita lakukan? Pada hari 17 Agustus kita menyelidiki apa yang sudah kita capai,
dan apa yang masih harus dikerjakan. Pendek-kata pada hari 17 Agustus kita
mengadakan balans daripada kita punya Perjoangan Nasional.
Tetapi 17 Agustus 1959, – tahun yang lalu -, adalah unik,
oleh karena kita, di samping segala hal yang saya sebutkan itu, telah (secara
Manifesto Politik) menonjolkan ke muka ideologi daripada perjoangan kita dewasa
ini.
Dan kita sekarang telah menginjak 17 Agustus 1960. Marilah
kita, sebelum saya meneruskan uraian yang lain-lain, secara kilat menengok
kembali ke belakang, kepada hal-hal yang telah lalu.
Saudara-saudara tentunya masih ingat kepada analisa saya
mengenai babak-babak Revolusi kita ini. Periodisasi yang saya buat ialah:
1945-1950: periode physical revolution;
1950-1955: periode survival;
1955-sekarang: periode investment. Investment of
human skill. Material investment. Mental investment. Dan belakangan ini saya
jelaskan dengan jelas: investment-investment itu semuanya adalah untuk socialist
construction, investment-investment itu semuanya adalah untuk
realisasi Amanat Penderitaan Rakyat.
Investment-investment itu kita kerjakan antara 1955 sampai
sekarang, dan harus kita teruskan lagi! Malahan, telah kita kerjakan pula buat
sebagian apa yang dengan tegas saya dengungkan tiga tahun yang lalu: bahwa
investment-investment itu hanya dapat kita lakukan dalam satu
suasana-politik yang cocok, yang favourable, bagi melakukan investment itu;
bahwa alam demokrasi liberal samasekali tak cocok, bahkan jahat, bagi
investment itu; bahwa demokrasi liberal dus harus kita bongkar
samasekali; bahwa Demokrasi Terpimpin harus kita pancangkan teguh-teguh di atas
puing-puingnya demokrasi liberal itu.
Ya!, kalau saya membicarakan tahun-tahun yang akhir ini,
saya mendengar dalam telinga saya gemuruh gugurnya batu-batu-lapuk daripada
gedung liberalisme di Indonesia, dan saya mendengar irama dentamnya palu-godam
pembangunan pandemèn gedung yang baru, yaitu Gedung Rakyat, Gedung Sosialisme
Indonesia, yang pandemènnya ialah investment-investment itu tadi. Dan
terdengarlah pula jerit-mecicilnya penghuni-penghuni gedung yang lama, yang
masih mau mempertahan-kan gedung yang lama itu: dewan-dewan partikelir, P.R.R.I.,
Permesta, R.P.I., Manguni, Liga ini, Liga itu, surat-kabar ini, surat-kabar
itu, risalah ini, risalah itu! Gégérlah jerit-mecicil mereka itu!
Ya! Tanpa tèdèng-aling-aling memang saya akui: kita
merombak, tetapi juga kita membangun! Kita membangun, dan untuk itu kita
merombak. Kita membongkar, kita mencabut, kita menjebol! Semua itu untuk dapat
membangun. Revolusi adalah menjebol dan membangun. Membangun dan menjebol.
Revolusi adalah "build tomorrow" and "reject yesterday".
Revolusi adalah "construct tomorrow", "pull down
yesterday". Saya sendiripun tidak mau dikatakan mandek. Saya ingin tetap
seirama dengan gelombangnya Revolusi. Revolusi adalah laksana gelombang samudra
yang selalu mengalir, laksana taufan yang selalu meniup. Ingatkah Saudara
semboyan Revolusi yang saya berikan tempohari: mandek-amblek, mundur-hancur?
Revolusi Amerika, Revolusi Perancis, Revolusi Rusia,
Revolusi Tiongkok, semuanya mempunyai penjebolan dan pembangunannya
sendiri-sendiri. Penjebolan-penjebolan dan pembangunan-pembangunan itu adalah
ibarat geloranya gelombang-gelombang Lautan yang Besar. Tidak seorangpun dapat
menentang gelombang-gelombang itu, sebab menentang gelombang berarti menentang
Lautan itu sendiri. Siapa menentang gelombang lautan, (dus menentang Lautan itu
sendiri), ia akan lenyap-binasa oleh dahsyatnya tenaga Lautan itu sendiri!
Ya, saya ulangi, saya ingin tetap seirama dengan
gelombangnya Revolusi. Karena itu saya tidak menentang gelombang, tetapi
sebaliknya saya malahan sebagai Presiden berusaha mengemudikan bahtera
Negara sehaluan dengan gelombangnya Revolusi. Dan haluan itu
adalah Haluan Negara yang terwedar dalam Manifesto Politik.
Kaum reaksioner yang saya sebut tadi itulah menentang
gelombang. Nasib mereka telah tertulis di atas dahi mereka masing-masing.
Sekarang mereka masih mencoba segala coba untuk merem Kereta Jagannatnya
Revolusi, tetapi nanti mereka akan digilas oleh Kereta Revolusi itu!
Mereka memang orang yang bukan-bukan! Dalam usahanya untuk
membelokkan Revolusi ke arah kepentingan mereka, mereka berkata bahwa Revolusi
Indonesia gagal. Saudara-saudara masih ingat apa yang dikatakan
oleh Kartosuwiryo dulu? Untuk membuat landasan bagi proklamasi daripada iapunya
N.I.I. ("Negara Islam Indonesia"), ia lebih dulu mengatakan bahwa
Revolusi Indonesia gagal! Nah persis demikian pulalah apa yang
diperbuat oleh penjerit-penjerit dan pemecicil-pemecicil model baru ini.
Mereka pun mengatakan bahwa Revolusi Indonesia gagal!
Apa yang gagal?!! Revolusi Indonesia tidak gagal, dan tidak
akan gagal, selama Rakyat Indonesia setia kepada tujuan Revolusi dan setia
kepada Amanat Penderitaan Rakyat. Revolusi Indonesia tidak gagal, karena kita
berjoang terus untuk melaksanakan cita-cita Revolusi Agustus '45, yakni untuk
Indonesia yang merdeka-penuh bersih dari imperialisme, – untuk Indonesia yang
demokratis bersih dari sisa-sisa feodalisme, – untuk Indonesia bersosialisme
Indonesia, bersih dari kapitalisme dan exploitation de l’homme par
l’homme".
Sekali lagi Revolusi Indonesia tidak gagal! Yang gagal
adalah orang-orang yang tidak mengenal tujuan Revolusi, orang-orang yang tidak
mengenal Amanat Penderitaan Rakyat, bahkan hendak menghalangi pelaksanaan
Amanat Penderitaan Rakyat. Yang gagal adalah mereka itulah, kaum reaksioner,
kaum sinis, kaum over-intellektualis, kaum yang kekayaannya sudah
”binnen", kaum "vested interest", kaum yang menjerit-jerit dan
matanya mecicil-mecicil karena segala kubu-kubu-kepentingannya dan segala kubu-kubu-pertahanannya
satu per satu ambruk dan gugur. Partai-partai mereka yang tidak mempunyai akal
wajar dalam masyarakat ambruk dan gugur; persekutuan-persekutuan mereka yang
berjiwa reaksioner dan bersekongkol dengan petualang-petualang asing dan
P.R.R.I./ Permesta/R.P.I. ambruk dan gugur; N.V. N.V. mereka yang menggendutkan
perut mereka dengan menggaruk kekayaan Rakyat, ambruk dan gugur;
lembaga-lembaga-pengetahuan dan lembaga-lembaga-persurat-kabaran mereka yang
penuh dengan blandisme dan textbook-thinking, ambruk dan gugur; – ambruk dan
gugur, runtuh berantakan karena gilasannya Kereta Jagannat Revolusi, gilasan
Rakyat yang Revolusioner, gilasan Rakyat yang berjiwa Manifesto Politik dan
USDEK.
Hanya bagi mereka yang ingin membangun kapitalisme dan
feodalisme di Indonesia-lah, Revolusi adalah gagal! Bagi kita, bagi
Rakyat-jelata Indonesia, bagi kita, Revolusi belum selesai, dan oleh karena
itu, kita berjalan terus untuk melaksanakan
cita-cita Proklamasi. Revolusi kita bisa gagal, kalau kita tidak
sungguh-sungguh melaksanakan cita-cita Proklamasi, tidak sungguh-sungguh
melaksanakan Manifesto Politik, tidak sungguh-sungguh melaksanakan Amanat
Penderitaan Rakyat!
Karena itu sebenarnya adalah amat gila, jika sekarang orang
sudah bicara tentang gagal atau tidak gagalnya Revolusi!
Ada yang menjawab: Toh sudah limabelas tahun Revolusi kita
ini? Tidakkah limabelas tahun cukup lama untuk membuat pernilaian?
Saudara-saudara! Dalam perjoangan penghidupan sesuatu
bangsa, dalam pertumbuhannya dan konsolidasinya, 15 tahun sebenarnya baru
merupakan suatu permulaan saja. Sering sudah saya katakan,
bahwa Revolusi jangan diukur dengan hari dan dengan tahun. Revolusi harus
diukur dengan windu-windu atau dengan penggandaan-penggandaan daripada windu.
Limabelas tahun barulah merupakan satu phase pertama, – paling-paling
merupakan akhirnya phase pertama, paling-paling "the end
of the beginning", – yang harus disusul dengan phase-phase lain yang tidak
kurang hebatnya dan dahsyatnya. Terus-menerus usaha Revolusi
itu berjalan, terus-menerus satu phase disusul oleh phase yang lain, sesuai
dengan ucapan saya bahwa "for a fighting nation there is no journey's
end".
Inilah yang tempohari saya namakan dinamikanya
Revolusi! Dan bagi siapa yang mengerti jalannya Revolusi, bagi siapa
yang ikut-serta dalam maha-arusnya secara aktif, bagi siapa yang secara positif
dan konstruktif memberi sumbangan kepadanya, (tidak menentangnya, atau
menghambatnya, atau gelagepan memutar-balikkannya, seperti kaum reaksioner itu
tadi), bagi mereka yang ikut-serta dalam maha-arus Revolusi itu tadi, maka
dinamika Revolusi itu menjadilah satu Romantik yang amat
menggiurkan jiwa, – menarik, menggandrungkan, inspirerend, fascinerend. Well,
dengan terus-terang saya berkata: saya tergolong dalam golongannya orang-orang
yang tergandrung oleh Romantik Revolusi itu, saya inspired olehnya, saya
fascinated olehnya, saya habis-habisan tergendam olehnya, – saya tergila-gila,
saya kranjingan Romantiknya Revolusi itu! Dan untuk itu saya
mengucapkan Alhamdulillah kepada Tuhan Seru Sekalian Alam!
Ada orang-orang yang tidak mengerti Logika
Revolusioner. Itulah orang-orang yang ditengah jalan berkata:
Revolusi sudah selesai. Padahal Revolusi belum selesai, dan
masih berjalan terus, terus dan sekali lagi terus. Logika Revolusioner ialah,
bahwa: sekali kita mencetuskan Revolusi, kita harus meneruskan Revolusi
itu sampai segala cita-citanya terlaksana. Ini secara mutlak
merupakan Hukum Revolusi, yang tak dapat dielakkan lagi dan tak
dapat ditawar-tawar lagi! Karena itu, jangan berkata "Revolusi sudah
selesai" padahal Revolusi sedang berjalan, dan jangan mencoba membendung
atau menentang atau menghambat sesuatu phase Revolusi padahal phase itu
adalah phase-kelanjutan daripada Revolusi!
Ada pula orang-orang yang yah mengerti dan setuju dengan
semua phase-phase, tetapi mereka bertanya: "Apakah perlu kita selalu
mengkobar-kobarkan saja semangat Revolusi, apakah perlu segala hal kok harus
dikerjakan secara revolusioner?" "Apakah tidak bisa dengan cara yang
lebih sabar, apakah tidak bisa dengan cara alon-alon asal kelakon?"
Amboi!, "alon-alon asal kelakon"! Ini tidak
mungkin! Ini tidak mungkin, kalau kita tidak mau digilas oleh Rakyat! Tahun
yang lalu sudah saya tegaskan: janganlah ada di antara kita yang mau
mengamendir atau memodulir dasar dan tujuan Revolusi.
Sekarang saya menegaskan lagi: janganlah ada di antara kita yang mau
mengamendir atau memodulir Semangat Revolusioner! Sekalipun
kita sudah 15 tahun dalam Revolusi, ya sekalipun kita nanti sudah 25 tahun atau
35 tahun atau 45 tahun dalam Revolusi, saya berkata: janganlah ada di antara
kita yang mau mengamendir atau memodulir Semangat Revolusioner!
Sekali lagi saya ulangi apa yang saya katakan tahun yang lalu, bahwa kesadaran
sosial daripada Rakyat dimana-mana, di seluruh muka bumi ini, adalah sama, dan
amat tinggi sekali. Jangan silap tentang hal itu, jangan selip tentang hal itu!
Kesadaran Rakyat inilah yang menuntut, mendesak, bahwa segala
keadaan atau perimbangan yang tidak adil harus dirombak dan diganti
secara tepat dan cepat, secara lekas,
secara revolusioner. Jika tidak dirombak dan diganti secara cepat
dan lekas, maka Kesadaran baru ini akan meledak laksana dinamit, meledak
laksana Gunung Rakata dalam tahun 1883, dan akan berkobar-kobar menjadi
pergolakan yang mahadahsyat, yang malahan dalam abad ke-XX ini mungkin pula
mengancam perdamaian dunia dan perimbangan ekwilibrium di seluruh dunia.
Lihat kejadian-kejadian di Asia Timur! Lihat
kejadian-kejadian di Amerika Latin! Lihat kejadian-kejadian di Afrika, itu
benua yang tadinya orang menyangka bahwa rakyatnya belum mempunyai kesadaran
samasekali!
Alangkah mlésétnya sangkaan itu!
Dalam pidato 17 Agustus 1959 itu, saya sudah berkata, bahwa
Rakyat di mana-mana ingin membebaskan diri secara revolusioner dari tiap
belenggu kolonialisme; bahwa Rakyat di mana-mana ingin secara revolusioner
menanamkan dasar-dasar materiil untuk satu kemakmuran yang lebih adil; bahwa
Rakyat di mana-mana secara revolusioner ingin melenyapkan segala
pertentangan-pertentangan sosial yang disebabkan oleh feodalisme dan
kapitalisme; bahwa Rakyat di mana-mana secara revolusioner ingin
memperkembangkan kepribadian Nasional; bahwa Rakyat di mana-mana secara
revolusioner ingin melenyapkan segala bahaya atau ancaman terhadap perdamaian
dunia, – menentang percobaan-percobaan bom atom, menentang pakta-pakta
peperangan, menentang Batista, menentang Menderes, menentang Syngman Rhee.
Dunia sekarang ini gudang mesiu revolusioner. Dunia sekarang
ini mengandung listrik revolusioner. Dunia sekarang ini "revolutionnair
geladen". Tiga-perempat dari seluruh umat manusia di muka bumi ini, kataku
dalam pidato tahun yang lalu, berada dalam alam revolusi. Belum pernah sejarah
umat manusia mengalami suatu Revolusi seperti sekarang ini, – mahahebat dan
mahadahsyat, mahaluas dan universil, – satu Revolusi Kemanusiaan yang secara
serentak-simultan menggelora menggelédék-mengguntur di hampir tiap pelosok dari
permukaan bumi.
Dan kita mau uler-kambang-uler-kambangan? Mau
"alon-alon asal kelakon"? Mau memetéti perkutut-manggung, sambil
minum air téh yang nasgitel, sebagai yang diémat-ématankan oleh itu orang-orang
yang mengadakan konkoers-konkoers burung perkutut?
Sadarlah hai kaum yang menderita revolusi-phobi! Kita ini
sedang dalam Revolusi, dan bukan satu Revolusi yang kecil-kecilan, melainkan
satu Revolusi yang lebih besar daripada Revolusi Amerika dahulu, atau Revolusi
Perancis dahulu, atau Revolusi Sovyet sekarang. Setahun yang lalu sudah saya
cetuskan bahwa Revolusi kita ini ya Revolusi Nasional, ya Revolusi politik, ya
Revolusi sosial, ya Revolusi Kebudayaan, ya Revolusi Kemanusiaan. Revolusi kita
kataku adalah satu Revolusi Pancamuka, satu Revolusi multi kompleks, satu
Revolusi yang "a summing up of many revolutions in one generation".
Satu tahun yang lalu saya berkata, bahwa dus kita harus bergerak-cepat, harus
lari laksana kranjingan, harus revolusioner-dinamis, harus terus-menerus
"tanpa ampun" memeras segala akal, segala daya-tempur, segala
daya-cipta, – segala atom keringat yang ada dalam tubuh kita ini, agar hasil
Revolusi kita itu dapat mengimbangi dinamik kesadaran-sosial yang bergelora
dalam kalbunya masyarakat umum.
Apalagi jika kita insyafi, bahwa Revolusi Indonesia ini
adalah merupakan bagian daripada Revolusi Besar yang
menghikmati ¾ daripada umat manusia itu! Apalagi jika kita melihat, bahwa
langit di Timur sudah Bang Wetan, di Barat sudah Bang Kulon, di Utara sudah
Bang Lor, bahwa langit-langit di sekitar kita itu semuanya sudah laksana
Kobong, maka haramlah bagi kita untuk uler-kambang-uler-kambangan, haram bagi
kita untuk "alon-alon asal kelakon", haram bagi kita untuk memelihara
revolusi-phobi!
Lihat dan perhatikan! Suatu Negara yang tidak bertumbuh
secara revolusioner, tidak saja akan digilas oleh Rakyatnya sendiri, tetapi
juga nanti akan disapu oleh Taufan Revolusi Universil yang merupakan phenomena
terpenting daripada dunia dewasa ini. Ini tidak hanya mengenai Indonesia, ini
juga tidak hanya mengenai bangsa-bangsa lain yang sedang berada dalam masa
peralihan dan pertumbuhan, – ini mengenai segala bangsa. Juga negara-negara dan
bangsa-bangsa yang sudah kawakan, juga negara-negara dan bangsa-bangsa yang
merasa dirinya sudah "gesettled", akhirnya nanti digempur oleh Taufan
Revolusi Universil itu, jika mereka tidak menyesuaikan dirinya dengan
perobahan-perobahan dan pergolakan-pergolakan ke arah pembentukan satu
Dunia-Baru, yang tiada kolonialisme di dalamnya, tiada exploitation de l'homme
par l'homme, tiada penindasan, tiada penghisapan, tiada diskriminasi warna
kulit, tiada dingkik-mendingkik satu sama lain dengan bom atom dan senjata
thermonuclear di dalam tangan.
Inilah sebabnya maka saya, yang diserahi tampuk pimpinan
perjoangan bangsa Indonesia, tidak jemu-jemu menyeru dan memekik: selesaikan
mas’alah nasional kita secara revolusioner, gelorakan terus semangat Revolusioner,
jagalah jangan sampai Api Revolusi kita itu padam atau suram walau sedetikpun
juga. Hayo kobar-kobarkanlah terus Api Unggun Revolusi itu, buatlah diri kita
menjadi sebatang kayu di dalam Api Unggun Revolusi itu!
Saudara-saudara!
Kita sekarang memasuki tahun yang ke – XVI dari Kehidupan
Nasional kita. Alangkah banyaknya dan beraneka warnanya pengalaman-pengalaman
kita dalam limabelas tahun yang lampau itu. Segala macam "rasa",
segala macam "keberuntungan" sudah kita alami. Kegembiraan,
kepedihan, kemajuan-kemajuan, harapan-harapan, kekecewaan-kekecewaan, rasa
pahit, rasa getir, rasa manis, rasa cemas, rasa sukses, rasa unggul, rasa
babak-bundas, semua sudah kita alami. Dan tiap tanggal 17 Agustus kita membuat
satu peninjauan-kembali daripada pengalaman-pengalaman itu. 17 Agustus sekarang
inipun satu saat baik untuk membuat balans daripada plus-plusnya dan
minus-minusnya tahun yang lalu.
Sebaiknya peninjauan saya itu saya lakukan dengan memakai
kacamata: a) apa yang merupakan pertumbuhan normal dalam Revolusi kita; b) apa
yang merupakan pertumbuhan abnormal-baik dalam Revolusi kita itu, sehingga
menjadi satu kebanggaan nasional; c) apa yang merupakan hal-hal yang kurang
memuaskan dalam perjoangan.
Saya tidak akan membuat penggolongan-penggolongan apa yang
masuk a, apa yang masuk b, dan apa yang masuk c,
tetapi dalam peninjauan kembali saya itu, saya akan memakai kaca-mata itulah.
Pertama saya hendak bicara lagi tentang Manifesto
Politik.
Dengan terus-terang harus diakui di sini, bahwa ketegasan
kita mengenai ideologi nasional ini agak lambat datangnya,
disebabkan oleh hal-hal di dalam negeri, dan hal-hal di
luar negeri.
Apa hal-hal yang melambatkan itu?
Di dalam negeri kita terganggu oleh kenyataan
bahwa tidak lama sesudah kita mengadakan Proklamasi, timbul dualisme dalam
pimpinan bangsa. Pimpinan Revolusi dipisahkan dari pimpinan Pemerintahan.
Pimpinan Revolusi malahan dilumpuhkan (di-verlamd-kan) oleh pimpinan
Pemerintahan. Ia kadang-kadang dijadikan sekadar "tukang stempel". Ia
sering sekali tabrakan faham dengan pimpinan Pemerintahan. Ia
di"trias-politica-kan" bukan saja, tapi dalam bagian eksekutif
daripada trias-politica itupun ia sekadar dijadikan semacam Togog. Ini, menurut
pentolan-pentolannya sistim itu, dinamakan "hoogste wijsheid" dalam
alam demokrasi. Ya!, demokrasinya liberalisme! Demokrasinya Belanda!
Demokrasinya negara-negara Barat, yang an sich demokrasi di sana itu adalah
anak-kandung dan ibu kandung daripada burgerlijk kapitalisme!
Dan apa akibat daripada dualisme itu? Bukan saja Rakyat
menjadi bingung, bukan saja Rakyat kadang-kadang menjadi putus-asa karena tak
mengerti mana pimpinan yang harus diikut, – misalnya di satu fihak dikatakan
Revolusi belum selesai, di lain fihak dikatakan Revolusi sudah selesai; di satu
fihak dikatakan Irian Barat harus diperjoangkan secara machtsaanwending yang
revolusioner, di lain fihak dikatakan Irian Barat harus diperjoangkan secara
”perundingan baik-baik” dengan Belanda – , bukan saja dualisme ini membuat
Rakyat menjadi bingung, tetapi lebih-lebih lagi keadaan semacam itu makin lama
makin membahayakan Revolusi sendiri.
Nah, untuk menyelamatkan Revolusi itulah, maka dualisme ini
harus selekas mungkin dihapuskan. Dan untuk menyelamatkan Revolusi itu juga,
maka satu ideologi nasional yang membakar menyala-nyala dalam
kalbu, perlu sekali ditegaskan. Untuk menyelamatkan Revolusi itulah maka
pimpinan Revolusi dan pimpinan Pemerintahan dipersatukan, untuk menyelamatkan
Revolusi itulah maka Manifesto Politik dengan intisari USDEK-nya,
didengung-dengungkan.
Ada orang menanya: "Kenapa Manifesto Politik?"
"Kan kita sudah mempunyai Pancasila?"
Manifesto Politik adalah pemancaran daripada
Pancasila! USDEK adalah pemancaran daripada Pancasila.
Manifesto Politik, USDEK, dan Pancasila adalah terjalin satu sama lain, –
Manifesto Politik, USDEK, dan Pancasila tak dapat dipisahkan satu sama lain.
Jika saya harus mengambil qias agama, – sekadar qias! -, maka saya katakan:
Pancasila adalah semacam Qur'annya, dan Manifesto Politik dan
USDEK adalah semacam Hadis-shahihnya. (Awas! saya tidak
mengatakan bahwa Pancasila adalah Qur'an, dan bahwa Manifesto
Politik-USDEK adalah Hadis!), Qur’an dan Hadis-shahih
merupakan satu kesatuan, maka Pancasila dan Manifesto Politik dan
USDEK pun merupakan satu kesatuan!
Masih saja ada orang yang menanya: "Apakah
Pancasila saja tidak cukup?"
Pertanyaan ini sama saja dengan pertanyaan: "Apakah
Qur'an saja tidak cukup?"
Qur'an dijelaskan dengan Hadis, Pancasila dijelaskan dengan
Manifesto Politik serta intisarinya yang bernama USDEK.
Kecuali daripada itu, sebagai akibat daripada dualisme yang
mendatangkan segala macam kompromis dan kelembekan dan kekurangtegasan dan
keulerkambangan dan kekhianatan dan ke Togogan itu tadi, maka Pancasila makin
lama makin dijadikan perkataan di bibir saja, tanpa isi yang membakar cinta,
tanpa arti yang menghidup-hidupkan semangat dan keyakinan, tanpa bezieling yang
membakar-menggempa-meledak-ledak dalam kalbu dan dalam jiwa. Ini berarti, bahwa
makin lama makin kita merasa kehilangan satu ideologi nasional, atau satu
Konsepsi Nasional, yang jelas, tegas. terperinci.
Selama kita masih dalam periode pertempuran, – periodenya
physical revolution, maka kurang tegasnya ideologi nasional dan Konsepsi
Nasional itu tidak begitu dirasakan. Tetapi sesudah kita memasuki periode
melaksanakan Amanat Penderitaan Rakyat, maka Konsepsi Nasional itu mutlak
diperlukan.
"Tanpa theori revolusioner, tak mungkin ada gerakan
revolusioner", kata seorang pemimpin besar. Tanpa Ideologi Nasional yang
terpapar jelas dan Konsepsi Nasional yang tegas, kita kata, tak mungkin sesuatu
bangsa memperjoangkan dan membina iapunya Hari Depan yang berencana. Di hadapan
Konstituante dulu pernah saya sitirkan: "Een revolutie kan ontketend
worden door een stelletje heethoofden, ze kan alleen voleindigd worden door
werkelijke revolutionnairen". "Suatu Revolusi bisa dicetuskan oleh
beberapa orang kepala-panas, – ia hanya dapat diselesaikan oleh orang-orang
revolusioner yang sejati". Nah, Revolusi kita itu dulu mungkin, pada
permulaannya, ikut-ikut dicetuskan oleh orang-orang yang
"kepala-panas". Sayang sekali ia kemudian zoogenaamd dipimpin oleh
orang-orang yang "kepalanya terlalu dingin", yang saking
dinginnya kepala, menjalankan segala macam kompromis dan
keulerkambangan! Sekarang, meski agak terlambat, tibalah saatnya yang
pimpinan Revolusi itu dilakukan oleh "orang-orang revolusioner yang
sejati" dengan berpegangan kepada Proklamasi '45, kepada Pancasila, kepada
Manifesto Politik, kepada USDEK.
Dengan pimpinan "orang-orang revolusioner sejati"
itu, maka Semangat Revolusi tetap dikobar-kobarkan, tiap hari, tiap jam, tiap
menit, tiap detik! Dengan pimpinan "orang-orang revolusioner sejati"
itu yang berpegangan tanpa pengkhianatan kepada Proklamasi, kepada Pancasila,
kepada Manifesto Politik, kepada: USDEK, maka kita selalu merasa hidup dan
berjoang dan bertumbuh di atas Rél Revolusi, di atas Rél
Ideologi dan Konsepsi Nasional dengan mengerti-jelas dan
mencintai mati-matian dan dus memperjoangkan mati-matian segala tujuan
Revolusi, – yaitu ya tujuan politik, ya tujuan ekonomi, ya tujuan sosial, ya
tujuan kebudayaan, – buat tingkatan yang sekarang, buat tingkatan-depan yang
dekat, buat tingkatan-depan yang terakhir, – tingkatan Finale, yang
Merdeka-Penuh, Makmur-Penuh, Adil-Penuh, Damai-Penuh, Sejahtera-Penuh, sesuai
dengan Amanat Penderitaan Rakyat, dan sesuai dengan ujaran-ujaran nénék-moyang
kita: "gemah-ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja"!
Camkanlah hai Rakyat Indonesia, camkan dalam dadamu dan
dalam fikiranmu: Suatu Revolusi hanya dapat berlangsung dan
berakhir secara baik, jika ada:
Satu pimpinan Revolusi yang revolusioner.
Satu Ideologi dan Konsepsi Nasional yang
revolusioner, jelas, tegas, terperinci.
Tanpa itu, jangan harap Revolusi bisa berjalan baik. Tanpa
itu, Revolusi pasti kandas di tengah jalan. Tanpa itu, malah
mungkin Revolusi lantas kembali kepada keadaan-keadaan sebelum Revolusi!
Tahukah Saudara-saudara apa yang dikatakan oleh seorang
bangsa asing waktu melihat Revolusi dipimpin oleh orang-orang ahli kompromis?
"Do not be afraid of that kind of revolution! It is just the prelude of
the pre-revolutionary days!" – "Janganlah takut kepada revolusi
semacam itu! Itu hanyalah babak-pertama saja daripada kembali kepada keadaan
sebelum revolusi!"
Jangan sampai Revolusi kita ini sekadar merupakan satu
permulaan saja daripada perkembalian kepada zaman sebelum Revolusi! Ada
orang-orang yang berjiwa kintel, yang menamakan zaman Belanda itu "zaman
normal", Oho! Sebutan "zaman normal" bagi zaman Belanda itu saja
sudah menggambarkan satu alam-fikiran yang baginya tak ada kata yang lebih
tepat daripada kata kintel!
Tetapi, -Alhamdulillah! Rakyat Indonesia bukan semuanya
kwalitet kintel. Kesadaran Revolusi masih hidup segar di dalam kalbu sebagian
besar daripada Rakyat Indonesia itu. Sejak tahun yang lalu, kita bukan saja
kembali kepada Rél Revolusi, tetapi kitapun telah menetapkan satu Konsepsi
Nasional yang bernama Manifesto Politik dengan USDEK-nya.
Dan saya sendiri kini merasa lega, bahwa selanjutnya kita
dapat menyeleng-garakan Revolusi kita itu dengan satu pegangan yang terang dan
tegas, menyelenggarakan Revolusi kita atas landasan Ideologi dan Konsepsi
Nasional yang benar-benar mencerminkan tekad-revolusionernya Rakyat, yaitu
Manifesto Politik dan USDEK. Dengan demikian, maka saya dapat memandang dengan
kepala tegak kepada semua Pimpinan Politik di semua negeri di luar pagar.
Apalagi karena, sebagai saya katakan barusan, Manifesto
Politik-USDEK itu "benar-benar mencerminkan tekad-revolusionernya Rakyat",
Manifesto Politik-USDEK adalah progresif-kiri, Manifesto Politik-USDEK adalah
mengabdi kepentingan masyarakat-banyak, Manifesto Politik- USDEK adalah
mengabdi kepada penyelenggaraan cita-cita ke-Rakyatan, Manifesto Politik-USDEK
mengabdi kepada panggilan abad ke-XX, yang sebagai saya katakan tadi penuh
menggeletar dengan aliran listrik!
Yang belakangan inipun membuat hati kita mongkok dan besar.
Kita menduduki tempat terhormat dalam Revolusi Universil yang kini bergelora di
muka bumi! Kita bahkan menduduki salah satu tempat kepemimpinan dalam Revolusi
Universil itu, kita menduduki salahsatu "leading position" dalam
"this great Revolution of Mankind".
Ahli sejarah dan ahli fikir berkata: "The superior
peoples are those who understand the times", "Bangsa unggul adalah
bangsa yang mengerti kehendaknya zaman". Saya bangga, bahwa bangsa
Indonesia mengerti kehendaknya zaman. Meski kita belum bisa membanggakan
kemajuan teknik, meski kita belum dapat mempertunjukkan kekuatan ekonomi
Indonesia, meski kita belum menduduki satu leading position dalam hal-hal
materiil, saya toh bangga bahwa bangsa Indonesia merasa dirinya unggul karena
mengerti tuntutan zaman dan mengabdi kepada tuntutan zaman!
Saya tadi mengatakan, bahwa terlambatnya perkembangan
Ideologi dan Konsepsi Nasional itu disebabkan oleh faktor-faktor di dalam
negeri dan di luar negeri.
Di dalam negeri disebabkan oleh dualisme dan
kompromisme, di luar negeri disebabkan oleh apa?
Beberapa tahun sesudah Proklamasi Kemerdekaan kita, maka
terjadilah di luar negeri, – kemudian juga meniup di angkasa kita – , apa yang
dinamakan "perang dingin". Perang dingin ini sangat memuncak pada
kira-kira tahun 1950, malah hampir-hampir saja memanas menjadi perang panas. Ia
amat menghambat pertumbuhan-pertumbuhan progresif di berbagai negara. Tadinya,
segera sesudah selesainya Perang Dunia yang ke-II, aliran-aliran progresif di
mana-mana mulailah berjalan pesat. Tetapi pada kira-kira tahun 1950, sebagai
salah satu penjelmaan daripada perang dingin yang menghebat itu, aliran-aliran
progresif mudah sekali dicap "Komunis". Segala apa saja yang menuju
kepada angan-angan baru dicap "Komunis". Anti kolonialisme – Komunis.
Anti exploitation de l'homme par l'homme – Komunis. Anti feodalisme-Komunis.
Anti kompromis – Komunis. Konsekwen revolusioner – Komunis. Ini banjak sekali
mempengaruhi fikiran orang-orang, terutama sekali fikirannya orang-orang yang
memang jiwanya kintel. Dan inipun terus dipergunakun (diambil manfaatnya) oleh
orang-orang Indonesia yang memang jiwanya jiwa kapitalis, feodalis, federalis,
kompromis, blandis, dan lain-lain sebagainya.
Dus: Orang-orang yang jiwanya negatif menjadilah menderita
penyakit "takut kalau-kalau disebut kiri", "takut kalau-kalau
disebut Komunis". Kiri-phobi dan komunisto-phobi membuat mereka menjadi
konservatif dan reaksioner dalam soal-soal politik dan soa1-soal pembangunan
sosia1-ekonomis. Dan, orang-orang yang jiwanya memang obyektif ingin menegakkan
kapitalisme dan feodalisme, mengucapkan selamat datang kepada
peng-capan kiri dan peng-capan Komunis yang dipropagandakan oleh satu fihak
daripada perang dingin itu.
Sampai sekarang masih saja ada orang-orang yang tidak bisa
berfikir secara bebas apa yang baik bagi Rakyat Indonesia
dan apa keinginan Rakjat Indonesia, melainkan à priori telah
benci dan menentang segala apa saja yang mereka sangka adalah
kiri dan adalah "Komunis".
Dua sebab subyektif dan obyektif itu membuat beberapa
golongan dari Rakyat Indonesia menjadi konservatif dan reaksioner,
anti-progresif dan anti revolusioner.
Itulah sebabnya, maka pada sebenarnya, kita dulu itu tidak
bisa begitu saja lekas-lekas menjelmakan Manifesto Politik dan
USDEK, melainkan harus menebus penjelmaan Manifesto Politik
dan USDEK itu lebih dulu dengan darah, dengan harta banyak, dengan
korbanan-korbanan yang maha pedih. Lahirnya Manifesto Politik dan USDEK dilambatkan dan dihambat oleh
sebab-sebab yang saya sebutkan tadi itu. Pemberontakan P.R.R.I./ Permesta –
antara lain – adalah buatan dari sebab-sebab obyektif dan subyektif itu, dan
menjadi ajang dari peranan kekuasaan asing, oleh karena
kekuasaan asing itu mengetahui bahwa kita ini hendak menjalankan
politik-ekonomi yang progresif.
Bagi kita sekarang sudah jelas:
Progresif, itulah mengabdi kepada kepentingan Rakyat
banyak.
Konservatif-kompromistis-reaksioner, itulah mengabdi
kepada kepentingan segolongan-kecil saja, – atau menjadi kakitangan kepentingan
asing.
Sekarang, Saudara-saudara! sekali lagi dan sekali lagi:
pelajarilah dengan cermat jiwa dan isi daripada Manifesto
Politik itu. Mempelajari adalah syarat mutlak untuk mengerti akan isinya. Dan
pengertian itu adalah syarat mutlak pula untuk usaha pelaksanaannya.
Dalam mempelajari dan melaksanakan Manifesto
Polilik itu semua tidak boleh setengah-setengah. Aparatur Pemerintah, alat-alat
Negara, Departemen-departemen, Universitas-universitas, Rakyat seluruhnya,
semua, semua, tidak boleh setengah-setengah. Sebab Manifesto Politik adalah
Program Perjoangan Negara, Program Perjoangan Masyarakat,
Program Perjoangan Kita Semua. Dan Program Perjoangan Besar tidak
bisa menjadi realitet jika dilayani dengan jiwa yang setengah-setengah.
Momentum-momentum besar dalam sejarah Dunia adalah justru momentum-momentum,
yang di situ manusia bekerja atau berjoang ”seperti bukan manusia lagi".
(Ucapan Mazzini).
Umpama ada waktu, di dalam pidato ini saya sebenarnya ingin
sekali memberikan perincian-perincian yang lebih tegas lagi daripada semua
elemen-elemen Manifesto Politik itu. Sayang seribu sayang waktunya tidak ada.
Terpaksa nanti hanya beberapa hal saja dapat saya tegaskan. Tapi syukur Dewan
Pertimbangan Agung dalam sidangnya bulan September tahun yang lalu dengan suara
bulat berpendapat bahwa Manifesto Politik itu adalah garis-garis besar daripada
haluan Negara, dan telah membuat pula perincian daripada isi Manifesto Politik
itu. Malah keputusan dan perincian Dewan Pertimbangan Agung ini telah disetujui
pula oleh Kabinet dan Depernas. Baca dan pelajarilah perincian oleh Dewan
Pertimbangan Agung itu, yang telah diterbitkan pula oleh Departemen Penerangan.
Kalau Saudara ingin tahu lebih terang: Apakah Dasar/Tujuan
dan Kewajiban Revolusi Indonesia?, – bacalah perincian Dewan Pertimbangan
Agung.
Kalau ingin tahu lebih terang: Apakah kekuatan-kekuatan
sosial Revolusi Indonesia?,- bacalah perincian Dewan Pertimbangan Agung.
Kalau ingin tahu lebih terang: Apakah sifat Revolusi
Indonesia?, bacalah perincian Dewan Pertimbangan Agung.
Kalau ingin tahu lebih terang: Apakah Hari-Depan Revolusi
Indonesia?, – bacalah perincian Dewan Pertimbangan Agung.
Kalau ingin tahu lebih terang: Apakah musuh-musuh Revolusi
Indonesia?, – bacalah perincian Dewan Pertimbangan Agung.
Kulau ingin tahu lebih terang: Usaha-usaha Pokok yang
harus kita kerjakan, di bidang Politik, di bidang Ekonomi, di bidang Mental dan
Kebudayaan, di bidang Sosial, di bidang Keamanan, serta badan-badan baru yang
manakah yang harus dibentuk, – bacalah perincian Dewan Pertimbangan Agung.
Dengan tegas saya anjurkan penelaahan yang mendalam daripada
Manifesto Politik itu, karena ada gejala-gejala yang harus saya sinyalir. Pertama gejala penyalahgunaan Manifesto
Politik. Kedua gejala "main perténtang-perténténg"
dengan Manifesto Politik, tanpa mempelajari benar-benar akan isi dan
semangatnya. Dewan Pertimbangan Agung, – dan di dalam hal ini dibenarkan oleh
Kabinet, dan dibenarkan oleh Depernas -, dengan tandas berkata:
"Persoalan-persoalan Pokok Revolusi Indonesia harus
difahami oleh tiap warganegara Indonesia sejak ia di bangku sekolah dan apalagi
sesudah dewasa. Harus diadakan pendidikan secara luas, di sekolah-sekolah
maupun di luar sekolah, tentang Persoalan-persoalan Pokok Revolusi Indonesia.
Rakyat Indonesia harus bersatu fikiran mengenai Revolusinya
sendiri, karena hanya jika ada persatuan dalam fikiran, Rakyat Indonesia dapat
bersatu dalam kemauan dan dalam tindakan.
Program Revolusi harus menjadi program Pemerintah, program
Front Nasional, program semua partai, program semua organisasi massa, dan semua
warganegara Republik Indonesia.
Sudah tentu tiap partai, organisasi dan perseorangan boleh
mempunyai keyakinan politiknya sendiri, boleh mempunyai program sendiri, tetapi
apa yang sudah ditetapkan sebagai Program Revolusi harus juga
menjadi programnya, dan harus ambil bagian dalam melaksanakan program tersebut.
Dengan jelasnya Persoalan-persoalan Pokok Revolusi Indonesia
dan dengan jelasnya Program Revolusi berkat adanya Manifesto Politik, "maka
akan dapatlah ditarik garis antara Revolusi dan kontra-Revolusi, dan antara
sahabat-sahabat dan musuh-musuh Revolusi Indonesia".
Lihat! tegas-tandas anjuran Dewan Pertimbangan
Agung-Kabinet-Depernas tentang mempelajari dalam-dalam Manifesto Politik itu
agar mengetahui Persoalan-persoalan Pokok Revolusi dan Program Revolusi.
Memang! Tanpa theori revolusioner tiada gerakan revolusioner. Tanpa Program
Revolusi tiada Revolusi yang benar-benar "Revolusi-Bidan" untuk
lahirnya suatu Keadaan yang Baru. Tanpa Haluan Negara yang tegas revolusioner
tak mungkin Negara itu dijadikan alat penyelenggara segenap cita-cita Revolusi.
Saudara-saudara! Apa hakekat Revolusi? Revolusi adalah,
sebagai saya katakan di muka tadi: perombakan, penjebolan,
penghancuran, pembinasaan dari semua apa yang kita tidak sukai, dan membangun
segala apa yang kita sukai. Revolusi adalah perang melawan keadaan yang tua
untuk melahirkan keadaan yang baru. Tiap-tiap Revolusi mempunyai musuh, yaitu
orang-orang yang hendak mempertahankan atau mengembalikan keadaan yang tua.
Tiap-tiap Revolusi menghadapi orang-orang yang "kontra" kepadanya.
Karena itu baik sekali kita ketahui, dengan jelasnya Manifesto Politik dan
USDEK itu, siapa kawan siapa lawan, siapa sahabat siapa musuh, siapa pro siapa
kontra. Siapa pro Manifesto Politik dan USDEK adalah kawan.
Siapa kontra Manifesto Politik dan USDEK adalah lawan.
Di dalam tiap-tiap perjoangan, – apalagi dalam Revolusi!-, maka adalah
satu keharusan mengetahui siapa kawan dan
siapa lawan. Berbahaya sekali untuk tidak mengetahui
siapa-kawan-siapa-lawan itu. Berbahaya sekali untuk tidak mengetahui kutu-busuk-kutu-busuk
di dalam selimut!
Tetapi berbahaya sekali pula jika penetapan
siapa-kawan-siapa-lawan itu dilakukan secara subyektif. Sebab
penetapan secara subyektif itu mudah sekali "salah wissel", sehingga
menimbulkan pertentangan-pertentangan yang tidak perlu di kalangan Rakyat.
Tetapi dengan adanya Manifesto Politik-USDEK ini maka penetapan
siapa-kawan-siapa-lawan itu terjadi atas dasar pro dan kontra satu program yang
obyektif. Maka – demikian kata Dewan Pertimbangan Agung – "yang akan
timbul dan menonjol hanyalah pertentangan-pertentangan antara kekuatan
revolusioner dan kekuatan imperialis, dan
pertentangan-pertentangan ini harus diakhiri dengan kemenangan kekuatan
revolusioner".
Saudara-saudara! Pengalaman selama satu tahun dengan
Manifesto Politik-USDEK membuktikan, bahwa Manifesto Politik-USDEK itu sampai
batas-batas tertentu sudah dapat menyatukan fikiran Rakyat Indonesia mengenai
soal-soal-pokok Revolusi. Pula ia membuktikan, bahwa Manifesto Politik-USDEK
adalah senjata di tangan Rakyat untuk mengakhiri imperialisme dan feodalisme
sampai ke akar-akarnya, sebagai syarat pertama yang mutlak, untuk kemudian
mengakhiri exploitation de l'homme par l'homme, penghisapan atas manusia oleh
manusia, untuk SOSIALISME INDONESIA.
Itulah pengalaman tahun yang pertama. Tahun ke-II Manifesto
Politik-USDEK (tahun yang kita masuki sekarang ini) adalah tahun di mana kita
harus dengan lebih tegap melangkah untuk secara konsekwen melaksanakan Manifesto
Politik dan USDEK.
Salah satu soal penting dalam hubungan dengan pelaksanaan
ini ialah: retooling alat-alat-perjoangan, dan konsolidasi alat-alat itu
sesudah diretool. Mengenai retooling ini, sampai sekarang, berhubung dengan
keadaan, baru beberapa saja yang telah 100 % diretool:
D.P.R. – Liberal diretool menjadi D.P.R.G.R.
Pimpinan dari beberapa alat-alat-kekuasaan-Negara sebagian
diretool.
Pemerintah Daerah, sesuai dengan Peraturan Pemerintah No.6
1959 diretool.
Dunia kepartaian, yang multi-kompleksitasnya dulu
benar-benar merupakan bisul-kanker dalam tubuh masyarakat kita, sesuai dengan
Penetapan Presiden No.7 tahun 1959 dan Peraturan Presiden No. 13 tahun 1960,
diretool.
Di lain-lain lapangan, maka berhubung dengan keadaan,
retooling itu belum dilakukan, atau, jika sedang dilakukan, dilakukan dengan
secara sedikit demi sedikit. Hal yang demikian itu jauh dari memuaskan hati
saya. Saya sendiri dalam Manifesto Politik telah berkata, bahwa "semuanya
akan diretool, semuanya akan diordening dan diherordening". Saya tak
senang kepada uler-kambang-uler-kambangan, saya tak senang kepada
setengah-setengahan. Sayapun berkeyakinan, – sebagai pernah pula dikatakan oleh
seorang pemimpin-besar Revolusi lain bangsa -, bahwa tidak bisa
Revolusi berjalan dengan alat-alat yang lama. Alat-alat yang lama harus
diganti. Oleh karena itu mutlak perlunya retooling. Dengan alat-alat yang lama
saya maksudkan terutama lembaga-lembaga, aparat-aparat, orang-orang pengabdi
kolonialisme dan kapitalisme, orang-orang yang otak dan hatinya telah berdaki-berkarat
tak dapat menyesuaikan diri dengan Manifesto Politik-USDEK. Sungguh, alat-alat
yang lama itu harus kita retool! Dalam tahun ke-II Manifesto
Politik-USDEK ini kita harus sungguh-sungguh "aanpakken" soal
retooling ini benar-benar!
Mengenai retooling kepartaian, Saudara-saudara mengetahui
bahwa Penetapan Presiden No.7 1959 dan Peraturan Presiden No. 13 1960 sudah
berjalan. Penetapan Presiden No. 7 dan Peraturan Presiden itu pada pokoknya
tegas-tegas memberi hak-hidup (dengan tentunya syarat-syarat mengenai
organisasi dan sebagainya) kepada partai-partai yang ber-USDEK, dan melarang
partai-partai yang kontra-revolusioner. Ini bukan diktatur, ini bukan
penggunaan kekuasaan secara sewenang-wenang! Ini adalah pelaksanaan daripada
satu universal principle, satu prinsip umum di negeri manapun juga,
bahwa dari Penguasa yang memegang kekuasaan Negara, tidak dapat diharapkan
memberi hak-hidup kepada kekuatan-kekuatan yang mau merobohkan Negara, atau
memberikan senjata-senjata, baik materiil ataupun spirituil, kepada
kekuatan-kekuatan yang mau merobohkan Negara. Ketambahan lagi, berdasarkan
moral revolusioner dan moralnya Revolusi, maka Penguasa wajib membasmi
tiap-tiap kekuasaan, asing ataupun tidak asing, pribumi ataupun tidak pribumi,
yang membahayakan keselamatan atau berlangsungnya Revolusi.
Berdasarkan hal-hal ini, saya beritahukan sekarang kepada
Rakyat, bahwa saya sebagai Presiden Republik Indonesia, sesudah mendengar
pendapat Mahkamah Agung, beberapa hari yang lalu telah memerintahkan bubarnya
Masyumi dan P.S.I.! Jikalau satu bulan sesudah perintah
ini diberikan, Masyumi dan P.S.I. belum dibubarkan, maka Masyumi dan P.S.I.
adalah partai-partai yang terlarang!
Janganlah mengira, bahwa dengan ini Pemerintah memusuhi
Islam. Memang ada orang-orang yang dengan cara yang amat licin sekali
menghasut-hasut, bahwa "Islam berada dalam bahaya". Hasutan yang
demikian itu adalah hasutan yang jahat. Sebab Pemerintah tidak membahayakan
Islam, sebaliknya malah mengagungkan semua agama. Pemerintah bertindak
terhadap partai yang membahayakan Negara!
Saudara-saudara tahu, bahwa antara lain, dalam Penetapan
Presiden No.7 itu ada fasal No.9, yang berbunyi:
1. Presiden, sesudah mendengar Mahkamah Agung, dapat
melarang dan atau membubarkan partai, yang:
(1) bertentangan dengan azas dan tujuan Negara;
(2) programnya bermaksud merombak azas dan tujuan Negara;
(3) sedang melakukan pemberontakan karena
pemimpin-pemimpinnya turut-serta dalam pemberontakan-pemberontakan atau telah
jelas memberi-kan bantuan, sedangkan partai itu tidak dengan resmi menyalahkan
perbuatan anggota-anggotanya itu;
(4) tidak memenuhi syarat-syarat lain yang ditentukan dalam
Penetapan Presiden ini.
2. Partai yang dibubarkan berdasarkan ayat (1) pasal ini,
harus dibubarkan dalam waktu selama-lamanya tiga puluh kali dua puluh empat
jam, terhitung mulai tanggal berlakunya Keputusan Presiden yang menyatakan
pembubaran itu.
Berdasarkan atas alasan-alasan yang termaktub dalam fatsal 9
Penetapan Presiden No.7 1959 ini, maka Mahkamah Agungpun berpendapat bahwa
Masyumi dan P.S.I. "terkena" oleh fasal itu, dan saya beberapa hari
yang lalu memerintahkan bubarnya Masyumi dan P.S.I. itu. Dan Insya Allah segala
ketentuan-ketentuan dalam Penetapan Presiden No.7 '59, segala
ketentuan-ketentuan dalam Peraturan Presiden No. 13 '60, akan saya kerjakan
dalam tahun ini, sehingga misalnya partai-partai yang biasanya saya cap dengan
perkataan "partai gurém, tidak akan diakui, atau partai-partai lain yang
nyata kontra-revolusioner akan disapu bersih karena dikenakan kepadanya sapu
pembubaran. Dengan demikian maka segala keburukan sebagai akibat maklumat
Pemerintah 3 Nopember 1945, maklumat liberalisme itu, dapat dikikis. Dengan
demikian maka Dekrit 5 Juli 1959, yaitu Dekrit kembali kepada Undang-undang
Dasar '45, menjumpai kewajarannya. Dengan demikian maka akan tinggallah
partai-partai yang benar-benar mendukung Undang-undang Dasar '45, Manifesto
Politik dan USDEK. Dengan demikian maka retooling dalam alam kepartaian, yang
mutlak perlu untuk pelaksanaan Manifesto Politik dan USDEK, akan berjalan
sebagaimana mestinya. Dengan demikian pula akan terang-jelas ditarik garis
antara revolusioner dan kontra-revolusioner!
Saya ulangi lagi, bahwa dengan demikian akan tinggallah
partai-partai yang mendukung Undang-undang Dasar '45, Manifesto Politik dan
USDEK. Dengan tegas saya katakan disini, bahwa partai-partai itu, dengan
memenuhi semua syarat-syarat perundang-undangan kepartaian, diberi hak hidup,
diberi hak bergerak, diberi hak perwakilan, – sudah barang tentu dalam rangka
Demokrasi Terpimpin. Partai-partai yang demikian itu dapat memberi sumbangan
besar kepada terlaksananya Amanat Penderitaan Rakyat. Sebaliknya kita harus
berusaha jangan sampai ada partai yang tidak diakui tetapi juga tidak dilarang,
tapi bisa bergerak dalam segala bidang untuk secara sembunyi-sembunyian
menentang Manifesto Politik dan USDEK. Terhadap partai-partai yang demikian itu
kita harus waspada. Garis harus kita tarik dengan terang: pro Manifesto
Politik/ USDEK, atau anti Manifesto Politik/USDEK. Partai hanya bisa bersifat
satu diantara dua: atau dilarang, atau Pro Manifesto Politik/USDEK. Tidak boleh
ada partai yang main bulus-bulusan. Tidak boleh ada partai yang main
bunglon-bunglonan!
Sekali lagi saya katakan: tahun yang lalu belum memenuhi
harapan saya mengenai usaha retooling-disegala-bidang. Marilah kita tahun
sekarang ini mengerjakan retooling-retooling itu dengan cara yang lebih cepat
dan lebih tegas.
Malah bukan hanya dilapangan retooling-retooling kita harus
lebih cepat dan tegas. Dilapangan pengertian-pengertianpun, dilapangan
begrippen, kita juga harus lebih tegas dan jelas. Misalnya lebih jelas mengenai
arti penggunaan segala "funds and forces".
Lebih jelas dan tegas mengenai arti "Gotong
Royong". Lebih jelas dan tegas mengenai arti Front Nasional. Lebih jelas
dan tegas mengenai politik membasmi pemberontak. Lebih jelas dan tegas mengenai
arti ”politik luar negeri yang bebas". Lebih jelas dan tegas mengenai arti
bantuan massa Rakyat. Lebih jelas dan tegas mengenai arti "jalan
lain" dalam politik memperjoangkan Irian Barat. Dan lain-lain lagi, dan
lain-lain lagi.
Di sini lagi, saya kekurangan waktu untuk menjelaskan segala
sesuatu yang perlu dijelaskan.
Tetapi marilah saya terangkan sedikit mengenai "Gotong
Royong" dan "Front Nasional".
Telah masyhur dimana-mana, sampai diluar negeri sekalipun,
bahwa jiwa Gotong Royong adalah salah satu corak daripada Kepribadian Indonesia.
Tidak ada satu negeri dikolong langit ini yang disitu Gotong Royong adalah satu
kenyataan hidup didesa-desa, satu living reality, seperti di Indonesia ini.
Tidak ada satu bangsa yang didalam hidup-keigamaannya begitu toleran seperti
bangsa Indonesia ini. Tetapi juga tidak ada satu bangsa yang didalam
kehidupan politiknya kadang-kadang mendurhakai prinsip Gotong
Royong itu, seperti bangsa Indonesia!
Salah satu kejahatan daripada maklumat Pemerintah 3 Nopember
1945 ialah sebenarnya pendurhakaan jiwa Gotong Royong ini, karena dengan
didirikannya partai-partai laksana cendawan dimusim hujan, toleransi-politik
masuk kelobang kubur dan hantu kebencian pringas-pringis dimana-mana. Padahal
dilapangan perjoangan bangsa kita harus menggembléng dan menggempurkan persatuan daripada
segala kekuatan-kekuatan revolusioner, – menggembléng dan menggempurkan
"de samenbundeling van alle revolutionnaire krachten in de natie".
Gotong Royong bukan sekadar satu sifat kepribadian
Indonesia! Gotong Royong bukan sekadar corak daripada "Indonesian
Identity"! Gotong Royong adalah juga satu keharusan dalam
perjoangan melawan imperialisme dan kapitalisme, baik dizaman dulu maupun
dizaman sekarang. Tanpa mempraktekkan samenbundeling van alle revolutionnaire
krachten untuk digempurkan kepada imperialisme dan kapitalisme itu, janganlah
ada harapan perjoangan bisa menang!
Dan kita toh ingin menang? Dan kita toh harus menang? Karena
itu maka saya selalu menganjurkan Gotong Royong juga dilapangan politik. Karena
itu Manifesto Politik-USDEK bersemangat ke Gotong Royongan-bulat dilapangan
politik. Karena itu di Solo beberapa pekan yang lalu saya tegaskan perlunya
persatuan dan ke Gotong Royongan antara golongan Islam, Nasional, dan Komunis.
Ini adalah konsekwensi-politik yang terpenting bagi semua pendukung Manifesto
Politik dan USDEK, satu konsekwensi-politik yang tidak plintat-plintut atau
plungkar-plungker bagi semua orang yang setia kepada Revolusi Agustus 1945.
Jika tidak, maka semua omongan tentang Gotong Royong,
Manifesto Politik, USDEK, Front Nasional, "setia kepada Revolusi",
dan lain sebagainya, hanyalah omong-kosong belaka, lipservice belaka.
Salah satu ciri daripada orang yang betul-betul revolusioner ialah satunya kata
dengan perbuatan, satunya mulut dengan tindakan. Orang
"revolusioner" yang tidak bersatu kata dan perbuatan, orang
"revolusioner" yang demikian itu adalah orang revolusioner gadungan!
Di Indonesia ini memang telah ada tiga
golongan-besar "revolutionnaire krachten", yaitu Islam, Nasional, dan
Komunis. Senang atau tidak senang, ini tidak bisa dibantah lagi! Dewa-dewa dari
Kayanganpun tidak bisa membantah kenyataan ini! Jikalau benar-benar kita hendak
melaksanakan Manifesto Politik-USDEK, jikalau benar-benar kita setia kepada
Revolusi, jikalau benar-benar kita setia kepada jiwa Gotong Royong, jikalau
benar-benar kita tidak kekanak-kanakan tetapi sedar benar-benar bahwa Gotong
Royong, Persatuan, Samenbundeling adalah keharusan dalam perjoangan anti
imperialisme dan kapitalisme, maka kita harus mewujudkan persatuan antara
golongan Islam, golongan Nasional, dan golongan Komunis itu. Maka kita tidak
boleh menderita penyakit Islamo-phobi, atau Nationalisto-phobi, atau Komunisto-phobi!
Janganlah mengira bahwa saya ini orang yang sekarang ini
memberi "angin" kepada sesuatu fihak saja. Tidak! Saya akan bersyukur
kepada Tuhan kalau saya mendapat predikat revolusioner. Revolusioner dimasa
dulu, dan revolusioner dimasa sekarang. Justru oleh karena saya
revolusioner, maka saya ingin bangsaku menang. Dan justru oleh
karena saya ingin bangsaku menang, maka dulu dan sekarangpun saya membanting
tulang mempersatukan semua tenaga revolusioner, – Islamkah dia, Nasionalkah
dia, Komuniskah dia!
Bukalah tulisan-tulisan saya dari zaman penjajahan. Bacalah
tulisan saya panjang-lebar dalam majalah ”Suluh lndonesia Muda" tahun
1926, tahun gawat-gawatnya perjoangan menentang Belanda. Didalam tulisan itupun
saya telah menganjurkan, dan membuktikan dapatnya, persatuan antara Islam,
Nasionalisme, dan Marxisme. Saya membuka topi kepada Saudara Kiyai Haji
Muslich, tokoh alim-ulama Islam yang terkemuka, yang menyatakan beberapa pekan
yang lalu persetujuannya kepada persatuan Islam-Nasional-Komunis itu, oleh
karena persatuan itu memang perlu, memang mungkin, memang dapat.
Ya!, memang dapat! Kendati omong-kosong
orang tentang "tak mungkin"-nya persatuan itu, maka persatuan ini
telah ternyata berjalan dibeberapa badan. Di Dewan Nasional
ada orang-orang Islamnya, ada orang-orang Nasionalnya, ada orang-orang
Komunisnya, dan Dewan Nasional berjalan baik. Di Dewan Pertimbangan Agung malah
bukan "orang-orang" lagi, melainkan ada gembong-gembong Islam
dan gembong-gembong Nasional dan gembong-gembong Komunis,
dan Dewan Pertimbangan Agung berjalan baik. Di Depernas ada banyak sekali
wakil-wakil tiga golongan itu, dan Depernas berjalan baik. Di D.P.R.G.R. saya
himpunkan wakil-wakil dari tiga golongan itu, (bahkan dalam pembicaraan
pendahulunya di Tampaksiring saya hadapkan Saudara gembong Idham Chalid,
gembong Suwiryo, gembong Aidit berhadapan-muka satu-sama-lain), dan D.P.R.G.R.
saya percayapun akan berjalan baik. Di Panitia Persiapan Front Nasional yang
dipimpin oleh Saudara Aruji Kartawinata terhimpunlah pentol-pentol tiga
golongan ini, dan Panitia Persiapan Front Nasional itu berjalan baik, bahkan
berjalan amat-amat baik. Dan didalam Majelis Permusyawaratan Rakyat yang
susunan anggautanya telah saya umumkan beberapa hari yang lalu itu,
terhimpunlah wakil-wakil tiga golongan itu, dan Majelis Permusyawaratan
Rakyatpun, saya yakin, akan berjalan baik.
Tidakkah ini kesemuanya praktek daripada ke Gotong Royongan
yang jujur antara golongan-golongan yang berke-Tuhanan, Nasionalis dan Komunis,
yang semuanya dibakar oleh nyerinya siksaan penderitaan Rakyat, tetapi juga
dibakar oleh Apinya Idealisme ingin melaksanakan Amanat Pcnderitaan Rakyat? Dan
bukankah mereka itu, – itu golongan-golongan Islam, Nasionalis, Komunis,
yang kata orang tak mungkin dipersatukan sutu-sama-lain -,
didalam beberapa Lembaga, misalnya didalam DENAS, didalam D.P.A., selalu
berhasil mencapai mufakat dengan suara bulat diatas dasar musyawarah, – tanpa
cakar-cakaran satusamalain, tanpa ngotot-ngototan mencari kebenaran sendiri dan
menyalahkan pihak lain, tanpa setém-setéman pemungutan suara?
Saudara-saudara! Saya hendak pula menandaskan di sini bahwa
persatuan itu bukan harus diadakan hanya antara golongan-golongan Islam dan
Nasional dan Komunis saja, melainkan antara semua kekuatan-kekuatan
revolusioner. Semua partai yang pro Manipol dan pro USDEK
harus bersatu. Semua suku-bangsa harus bersatu. Semua warganegara, Jawakah ia,
Sundakah ia, Minangkabaukah ia, Minahasakah ia, Batakkah ia, Bugiskah ia, –
semua warganegara harus bersatu, dengan tidak pandang perbedaan suku-bangsa,
tidak pandang agama, tidak pandang keturunan asli atau tidak asli.
Pemberontakan P.R.R.I., pemberontakan Permesta, kegiatan subversif Manguni,
tidak boleh diartikan pemberontakan atau kegiatan subversif suku Minangkabau
atau suku Minahasa. Pemberontakan-pemberontakan itu adalah
perbuatan kaum imperialis yang mempergunakan orang-orang pengkhianat dan
budak-budak dari suku-suku itu atau suku-suku lain. Rakyat dari
semua suku dan dari semua keturunan, asli atau tidak asli, – si-petani,
si-buruh, si-tukang dokar, si-nelayan, si-pegawai-kecil, si-pedagang-kecil,
si-jembel, si-marhaen, -, adalah cinta kepada Republik Proklamasi, menyetujui
Manipol dan USDEK, gandrung kepada masyarakat adil dan makmur. Rakyat itu semua
harus digotongroyongkan dalam perjoangan raksasa ini!
Bergandengan dengan itu maka saya ulangi di sini apa yang
saya katakan tahun yang lalu mengenai pemersatuan (dus
penggotongroyongan) modal dan tenaga. Saya
berkata: "Amat perlu ialah supaya kita bisa mengikutsertakan segala modal
dan tenaga, segala "funds and forces" bagi usaha-usaha pembangunan
semesta kita. Tetapi dalam usaha-usaha mengorganisir dan menghimpun segala
"funds and forces" itu, haruslah kita letakkan satu syarat pokok,
yaitu: modal dan tenaga yang hendak kita
ikutsertakan itu, haruslah bercorak progresif. Segala modal dan segala
tenaga yang memenuhi syarat itu, akan kita sambut dengan kedua belah tangan.
Sebaliknya "funds and forces" yang tidak progresif
(yang dus hanya memikirkan keuntungan sendiri), tenaga-tenaga yang reaksioner
dan anti-revolusioner, akan kita tolak dan malahan kita tentang. Tenaga-tenaga
dan modal yang tidak memenuhi syarat pokok itu, hendaknya minggir saja, dan
sekali-kali janganlah menghalang-halangi kita. Sebab setiap penghalangan akan
kita terjang, setiap rintangan akan kita singkirkan, sesuai dengan semboyan
"rawé-rawé rantas, malang-malang putung".
"Sekali lagi, segala tenaga dan segala modal
yang terbukti progresif akan kita ajak dan akan kita ikutsertakan dalam
pembangunan Indonesia. Dus juga tenaga dan modal bukan-asli yang sudah menetap
di Indonesia dan yang menyetujui, lagi pula sanggup membantu terlaksananya
program Kabinet Kerja, akan mendapat tempat dan kesempatan yang wajar dalam
usaha-usaha kita untuk memperbesar produksi di lapangan perindustrian dan
pertanian. "Funds and forces" bukan-asli itu dapat disalurkan ke arah
pembangunan perindustrian, misalnya dalam sektor industri menengah, yang masih
terbuka bagi initiatif partikelir".
"Untuk melaksanakan maksud itu maka perlu adanya iklim
kerjasama yang baik. Oleh karena itu, semua yang berkepentingan
hendaknya menjauhi sesuatu tindakan yang dapat merugikan iklim
kerja-sama itu".
Ya!, dengan sepenuhnya saya punya jiwa, saya meminta: hendaklah
semua yang berkepentingan menjauhi sesuatu tindakan yang dapat merugikan iklim
kerja-sama itu!
Saudara-saudara!
Kabinet Kerja bekerja keras untuk melaksanakan programnya
yang termasyhur Sandang-Pangan, Keamanan, lrian Barat dan
perjoangan anti-imperialis. Program ini merupakan usaha jangka pendek dalam
rangka garis-besar Haluan Negara, dan karenanya tidak dapat dilepaskan dari
pelaksanaan Haluan Negara tersebut, yaitu Manifesto Politik-USDEK.
Harus diakui dengan terus-terang, bahwa pelaksanaan program
jangka-pendek itu belum selancar sebagai kita harapkan. Ada disebabkan karena
kekurangan pengertian tentang program itu sendiri dan tentang Manipol-USDEK
(tadi saya terangkan); ada karena anasir-anasir yang memang mau mensabot
pelaksanaan program itu dan Manipol dan USDEK; ada kemacetan-kemacetan di
sementara bidang produksi dan distribusi; ada karena tendensi-tendensi
inflantoir yang belum terkuasai sepenuhnya; ada karena kurang ketegasan kita
sendiri dalam uitvoeringnya program itu, dan sebagainya, dan sebagainya.
Semua kesalahan-kesalahan kita ini harus secara jantan kita
akui, dan harus secara jantan kita koreksi. Tidakkah salah satu ciri orang
Revolusioner, bahwa ia berani mengakui kesalahan dan berani mengkoreksi
kesalahan? Ambillah misalnya pimpinan-pimpinan perusahaan-perusahaan Negara dan
P.T.-P.T. Negara.
Pada tanggal 27 Januari permulaan tahun 1960 ini sudah saya
ucapkan, satu kritik atas pimpinan-pimpinan perusahaan dan P.T. Negara itu
dalam satu pidato di Istana Negara. Pokoknya pada waktu itu saya tandaskan
setandas-tandasnya, bahwa untuk Ekonomi Terpimpin haruslah ekonomi negara memegang posisi
Komando (ini adalah istilah D.P.A.). Dan ini akan gagal samasekali,
kataku, jika diteruskan "pencoléngan-pencoléngan di dalam
pimpinan-pimpinan P.T.-P.T. Negara", dan " pencoléngan-pencoléngan,
korupsi-korupsi, ketidaktegasan etc., etc., di semua bidang, daripada bidang
sipil sampai kepada militer". Pokoknya sekarang ialah, supaya diakhirilah
pensalahgunaan atau penggunaan kesempatan oleh siapapun juga adanya SOB (adanya
Keadaan Bahaya) untuk menggemukkan kantong sendiri. Untuk ini, saya kira baik
jika di semua perusahaan-perusahaan Negara, di semua P.T.-P.T. Negara,
dibentuk dewan-dewan, yang berkewajiban membantu pimpinan
perusahaan untuk mempertinggi kwantitas dan kwalitas produksi, dan
– untuk mengawasi kaum pencoléngan-pencoléng, kaum koruptor-koruptor, kaum
penipu-penipu, kaum pencuri-pencuri kekayaan Negara!
Di bidang distribusi – pun belum semuanja
berjalan diharumgandanya bunga mawar dan di bawah sinarnya bulan-purnama. Salah
satu kesulitan obyektif ialah belum lengkapnya kitapunya alat-alat-pengangkutan
di laut dan di darat. Tetapi kita berusaha keras untuk memperlengkapi
alat-alat-pengangkutan itu. Dan saya kira ada baiknya kita mempertimbangkan
inschakeling Rukun-Rukun-Kampung dan Rukun-Rukun Tetangga dalam lapangan
distribusi ini. Untuk lancarnya distribusi, maka R.K.-R.K.-R.T.-R.T. itu bisa
menunjuk warung yang dipercayainya. Banyak warung-warung Sandang-Pangan yang
sekarang ini ternyata hanya tempat pencarian untung saja bagi beberapa gelintir
orang. Syarat-mutlak bagi inschakelingnya R.K.-R.K.-R.T.-R.T. itu tentunya
ialah bahwa R.K.-R.K.-R.T.-R.T. itu sendiri harus benar-benar diretool lebih
dahulu. Sebab di lapangan ke-R.K.-R.T.-anpun masih banyak hal-hal yang busuk,
masih banyak "rotzooi" yang harus diretool!
Demikianlah beberapa cukilan mengenai kesulitan-kesulitan
kita di lapangan pelaksanaan program Sandang-Pangan. Saudara-saudara tentunyu
mengerti, bahwa persoalan Sandang-Pangan ini meliputi bidang persoalan yang
lebih luas, lebih terjalin-jalin, lebih kompleks. Soal tambahnya produksi
beras-garam-ikan asin etc., soal tambahnya produksi tekstil dan import tekstil
etc., etc., soal menu makanan Rakyat etc., etc., soal-soal yang demikian itu
semuanya menjadi challenge (tantangan) yang tanpa ampun harus dilayani.
Harus dilayani, oleh karena soal Sandang-Pangan
adalah satu soal "the stomach cannot wait" (perut tak bisa menunggu)
bukan saja, tetapi juga karena soal itu adalah satu bagian daripada Persoalan
Besar "menjelmakan masyarakat adil dan makmur" sesuai dengan Amanat
Penderitaan Rakyat.
Untuk melayani Persoalan Besar inilah, tempohari kita
membangunkan Depernas, – Dewan Perancang Nasional. Untuk melayani Persoalan
Besar inilah Depernas diwajibkan menyusun satu pola daripada pembangunan
semesta untuk membangun satu Masyarakat Adil dan Makmur berdasarkan Pancasila,
pola yang nanti harus kita karyakan secara Gotong Royong dengan bermandikan
keringat dan berkendarakan idealisme revolusioner yang menyala-nyala.
Perencanaan, Pola, atau Planning, adalah satu syarat mutlak
bagi pelaksanaan Sosialisme! Planning itu nanti dalam pengkaryaannya menjadilah
wahananya Ekonomi Terpimpin dan Demokrasi Terpimpin, itu dua penghela ke arah
Sosialisme atau Masyarakat Adil dan Makmur. "Planning is the technique of
foreseeing-ahead every step in a long series of separate operations", –
"perencanaan adalah teknik untuk telah melihat lebih dahulu setiap langkah
yang harus diambil, dalam satu rentetan-panjang dari tindakan-tindakan yang
berdiri sendiri-sendiri".
Depernas bekerja keras. Saya buka topi kepada Depernas itu.
Pada tanggal 13 Agustus yang baru lalu saya sudah menerima resmi dari Depernas
itu mereka punya blueprint tahapan pertama. Blueprint ini akan saya teruskan
kepada Majelis Permusyawaratan Rakyat, yang susunan anggautanyapun sudah
selesai saya bangun. Bahagialah Rakyat Indonesia, kalau ia nanti, dengan
diterimanya blueprint Depernas oleh M.P.R.S., telah mempunyai iapunya Pola
Pembangunan Tahapan Pertama. Bahagialah ia, karena ia, dengan adanya Pola
Pembangunan itu, merasakan adanya pimpinan ekonomis, – merasakan
adanya economisch leiderschap, di samping adanya politiek leiderschap
yang terpancar dalam Manifesto Politik dan USDEK.
Berantakanlah nanti zoogenaamd ramalannya P.R.R.I.-Permesta
yang berbunyi: "Betul mereka (P.R.R.I.-Permesta itu) kalah di bidang
militer, tetapi Republiknya Sukarno nanti akan hancur sendiri karena economic
mismanagement and misleadership". Dengan adanya blueprint Depernas itu
maka economisch leiderschap akan tergaris nyata. Dan Insya
Allah akan berantakan bukan saja ramalan kaum pemberontak itu bahwa kita akan
hancur, tetapi Insya Allah akan berantakan pula merekapunya harapan,
bahwa mereka akan tetap berdiri. Insya Allah, bukan Republik
Indonesia yang akan hancur, tetapi P.R.R.I.-Permestalah yang akan hancur!
Semangat "foreseeing-ahead", (semangat "telah
melihat lebih dahulu") tercermin pula dalam keputusan D.P.A. dan Kabinet
mengenai Landreform. D.P.A. telah mengusulkan kepada Pemerintah
tentang "Perombakan hak tanah dan penggunaan tanah",
"agar masyarakat adil dan makmur dapat terselenggara dan khususnya taraf
hidup tani meninggi dan taraf hidup seluruh rakyat jelata meningkat", –
Pemerintah telah memutuskan "Rancangan Undang-undang Pokok
Agraria", Rancangan Undang-undang yang mana telah saya teruskan kepada
D.P.R.G.R. agar lekas disidangkan.
Ini adalah satu kemajuan yang penting-maha-penting dalam
Revolusi Indonesia! Revolusi Indonesia tanpa Landreform adalah sama saja dengan
gedung tanpa alas, sama saja dengan pohon tanpa batang, sama saja dengan
omong-besar tanpa isi. Melaksanakan Landreform berarti melaksanakan satu
bagian yang mutlak dari Revolusi Indonesia. Gembar-gembor tentang Revolusi,
Sosialisme Indonesia, Masyarakat Adil dan Makmur, Amanat Penderitaan Rakyat,
tanpa melaksanakan Landreform adalah gembar-gembornya tukang penjual obat di
pasar Tanah Abang atau di Pasar Senen.
Pada taraf sekarang ini, demikianlah D.P.A., Landreform di
satu fihak berarti penghapusan segala hak-hak asing dan
konsesi-konsesi kolonial atas tanah, dan mengakhiri penghisapan feodal secara
berangsur-angsur, di lain fihak Landreform berarti memperkuat dan memperluas
pemilikan tanah untuk seluruh Rakyat Indonesia terutama kaum tani. Dan
Rancangan Undang-undang Pokok Agraria berkata: tanah tidak boleh
menjadi alat penghisapan, apalagi penghisapan dari modal asing terhadap
Rakyat Indonesia. Karena itu harus dihapuskan "hak eigendom",
"wet-wet agraris" bikinan Belanda, "Domeinverklaring", dan
lain sebagainya.
Kalau nanti Rancangan Undang-undang ini telah menjadi
Undang-undang, maka telah maju selangkah lagilah kita di atas jalan Revolusi.
Telah maju selangkah lagilah kita di atas jalan yang menuju kepada realisasi
Amanat Penderitaan Rakyat. Ya!, tanah tidak boleh menjadi alat penghisapan!
Tanah untuk Tani! Tanah untuk mereka yang betul-betul menggarap tanah!
Tanah tidak untuk mereka yang dengan duduk ongkang-ongkang
menjadi gemuk-gendut karena menghisap keringatnya orang-orang yang disuruh
menggarap tanah itu!
Toh!, – jangan mengira bahwa Landreform yang kita hendak
laksanakan itu adalah "Komunis"! Hak milik atas tanah masih
kita akui! Orang masih boleh mempunyai tanah turun-temurun!
Hanja luasnya milik itu diatur, baik maksimumnya maupun minimumnya,
dan hak milik atas tanah itu kita nyatakan berfungsi sosial, dan
Negara dan kesatuan-kesatuan masyarakat hukum mempunyai kekuasaan yang
lebih tinggi daripada hak milik perseorangan.
Ini bukan "Komunis"! Kecuali itu, apakah orang
tidak tahu bahwa negara-negara yang bukan Komunis pun banyak yang menjalankan
Landreform? Pakistan menjalankan Landreform, Mesir menjalankan Landreform, Iran
menjalankan Landreform! Dan P.B.B. sendiri tempohari menyatakan bahwa
"defects in Agrarian structure, and in particular systems of land tenure,
prevent a rise in the standard of living of small farmers and agricultural
labourers, and impede economic development". (Keburukan-keburukan dalam
susunan pertanahan, dan terutama sekali keburukan-keburukan dalam cara-cara
pengolahan tanah, menghalangi naiknya tingkat hidup si-tani-kecil dan si-buruh
pertanian, dan menghambat kemajuan ekonomis).
Karena itu, hadapilah persoalan Landreform ini secara
zakelijk-obyektif sebagai satu soal keharusan mutlak dalam melaksanakan Amanat
Penderitaan Rakyat dan Revolusi, dan jangan hadapi dia dengan komunisto-phobi!
Saudara-saudara! Sekarang bagian kedua daripada Program
Kabinet Kerja: Hal Keamanan.
Dalam Pidato 17 Agustus tahun yang lalu, saya berkata:
"Program Pemerintah adalah untuk melaksanakan keamanan Negara terhadap
gerombolan-gerombolan pemberontak dalam 2 á 3 tahun. Tetapi mengingat sifat
gerilya dan anti-gerilya yang berkembang sejak perang dunia yang lalu, maka
konsolidasi dan stabilisasi teritorial sepenuhnya bagi keamanan Rakyat yang
merata, mungkin masih memerlukan waktu yang lebih lama".
Demikianlah kataku tahun yang lalu.
Bagaimanakah keadaan sekarang?
Pengacau yang pokok terhadap keamanan Republik
Indonesia masihlah tetap gerombolan D.I.T.I.I., P.R.R.I.-Permesta, dan R.M.S.,
beserta aksi-aksi subversifnya yang mereka jalankan bersama dengan subversif
asing.
Saya peringatkan kembali bahwa sebab-sebab yang pokok dari
pengacauan itu ialah pertentangan-pertentangan dan petualangan-petualangan di
bidang politik-psychologis, dengan membawakan pula kesulitan-kesulitan Negara
di bidang sosial-ekonomis dan militer. Di samping itu saya peringatkan pula,
bahwa selama Belanda masih bercokol di Irian Barat, maka selama itu, sengketa
ini akan tetap merupakan sumber pengacauan terhadap Republik. Demikian pula
maka perang dingin antara blok Barat dan blok Timur akan tetap mengganggu
keamanan Indonesia.
Dan selalu harus diinsyafi, bahwa soal keamanan bukanlah
soal bagi tentara saja, bukan soal bagi tentara saja, bukan soal bagi polisi
saja, melainkan satu soal Rakyat seluruhnya. Oleh karena itu maka
dalam Manifesto Politik telah ditegaskan, bahwa Rakyat diikutsertakan dalam
penyelenggaraan keamanan, dengan mengintensifkan organisasi-organisasi keamanan
Rakyat, dengan wajib-latih bagi pemuda dan veteran, dengan milisi darurat di
seluruh Indonesia. Ya, soal seluruh Rakyat seumumnya! Malah sebagai tadi saya
katakan, soal keamanan ini adalah jalin-menjalin dengan bidang
politik-psychologis, bidang sosial-ekonomis, bidang subversi asing. Karena itu
maka dalam suksesnya pelaksanaan Manifesto Politik di segala bidang
terletaklah pula suksesnya pemulihan keamanan. Dalam suksesnya USDEK,
terletaklah pula suksesnya pemulihan keamanan.
Mengenai keamanan dalam arti khusus, maka kita harus:
Pertama: Melakukan operasi-operasi tempur yang
semakin hebat dan semakin sempurna, untuk dengan pukulan-pukulan yang dahsyat
menggempur menghancurkan gerombolan-gerombolan pengacau tadi.
Kedua: Melakukan operasi-operasi teritorial yang
semakin hebat dan semakin sempurna pula, untuk memisahkan gerombolan dari
dukungan masyarakat dan mengembalikan serta menegakkan-kembali kewibawaan
Ncgara, baik strukturil menegakkan kembali alat-alat
pemerintahan dari atas sampai ke bawah, maupun idiil meng-USDEK-kan
seluruh masyarakat, berbarengan dengan rehabilitasi sosial-ekonomis.
Ketiga: – inipun mutlak perlu –:
mengintensifkan operasi-operasi mental, dan khusus
penertiban dan penyehatan alat-alat Negara sipil dan mlliter, baik teknis
maupun ideologis, sebagai yang telah ditentukan dalam Manifesto Politik.
Keempat: Dengan makin hebatnya dan makin
sempurnanya operasi-operasi ke I, ke II, dan ke III tadi, maka akan lebih
banyak pula jumlah gerombolan yang "kembali ke pangkuan Republik"
sebagaimana dimungkinkan dan disyaratkan dalam Manifesto Politik.
Kelima: Semua usaha-usaha yang saya
sebutkan itu harus dirampungkan (dibulatkan) dengan tindakan-tindakan follow-up,
sebagai operasi-operasi lanjutan untuk rehabilitasi daerah dan
pembangunan di daerah, sehingga tercapailah konsolidasi dan stabilisasi
teritorial guna mencapai normalisasi dan pengakhiran Keadaan Bahaya.
Bagaimana hasil usaha kita dalam tahun yang
lalu? Dalam satu tahun yang lalu, maka luas daerah yang
dikuasai dahulunya oleh gerombolan-gerombolan, terutama di luar Jawa, telah
banyak berkurang. Terutama sekali di Sumatera Utara, di Sumatera Tengah, di
Kalimantan Selatan, di Sulawesi Selatan, dan di Sulawesi Utara. Jumlah gerombolan
yang dieliminir (ditewaskan) dalam pertempuran-pertempuran adalah ± 11.000
orang, dan jumlah yang kembali ke pangkuan Republik adalah ± 18.000 orang.
Kegiatan subversif mereka sebagian besar telah dipatahkan. Subversif
"Manguni" telah dipatahkan, subversif "Kobra" telah
digulung. Akan tetapi perlu tetap diingat, bahwa selama masih ada P.R.R.I.,
selama masih ada Permesta, selama masih ada D.I.-T.I.I., dan lain sebagainya,
selama itu, akan masih tetap ada subversifnya dan perang-urat-sarafnya, untuk
merusak kita dari dalam dan dari belakang.
Dengan hasil-hasil tersebut, saya mengucapkan penghargaan
dan terimakasih kepada alat-alat-Negara, dan Rakyat yang telah ikut
membantu usaha-usaha keamanan itu di berbagai bidang dan di berbagai daerah.
Penghargaan dan terimakasih saya itu adalah sungguh-sungguh! Sebab saya
mengetahui betapa banyaknya kesulitan-kesulitan yang telah diderita oleh
alat-alat-Negara dan Rakyat: kesulitan-kesulitan yang berupa penderitaan
pribadi yang pedih-pedih; kesulitan-kesulitan materiil-personil-finansiil;
kesulitan-kesulitan keluarga yang terpisah berbulan-bulan; kesulitan-kesulitan
perasramaan; kesulitan-kesulitan sosial; kesulitan-kesulitan kekurangan ini
kekurangan itu sehari-hari dan seribu-satu kesulitan-kesulitan lagi. Bahkan
prajurit-prajurit kita sejak saat Proklamasi limabelas tahun yang lalu sampai
sekarang masih belum pernah mengenal istirahat yang sebenarnya sedikitpun,
karena panggilan tugas yang terus-menerus dan tiada berhenti!
Namun, ya namun!, kita belum boleh puas dengan hasil-hasil
yang telah tercapai. Kita masih perlu mengerahkan segenap urat-urat dan segenap
otot-otot lagi, kita masih perlu lebih giat dan lebih hebat memaksimumkan semua
usaha, agar dalam waktu dua tahun lagi Insya Allah tercapailah
keamanan di seluruh wilayah Republik.
Ya! kita harus terus membantras
pengacau-pengacau itu! Mereka sekarang melansir apa yang mereka menamakan
"perdamaian nasional", sebagai yang dikemukakan oleh
kaki-tangan-kaki-tangan mereka Sam Karundeng, Daniel Maukar, Sukanda
Bratamenggala, dan lain-lain lagi. Saya tandaskan di sini sekali lagi dengan
suara yang setandas-tandasnya, sesuai dengan isi Manifesto Politik bab
keamanan:
Tiada kompromis dengan D.I.-T.I.I.!
Tiada kompromis dengan P.R.R.I.-Permesta!
Tiada kompromis dengan R.M.S.!
Terhadap yang tetap membangkang, akan kita teruskan operasi-operasi
militer dan polisionil yang semakin hebat lagi!
Terhadap yang tetap membangkang, penggempuran akan berjalan
terus!
Tetapi terhadap yang insyaf kembali, terhadap yang
benar-benar menyerah tanpa syarat, terhadap yang ingin kembali ke pangkuan
Republik dengan cara yang benar-benar ikhlas dan bukan untuk belakangan
menggarong Republik lagi, terhadap mereka itu diadakan "politik pintu
terbuka". Mereka akan diterima dengan baik, dan akan diperlakukan dengan
wajar. Setiap jalan yang mempercapat keamanan dan mengurangi korban-korbun,
harus kita pergunakan!
Saudara-saudara! Sekarang bagian ketiga daripada program
Kabinet Kerja: Perjoangan Anti-imperialisme, perjoangan Irian Barat.
Perjoangan menentang imperialisme adalah salah satu jiwa
pokok daripada Revolusi kita, dan malahan juga daripada pergerakan Nasional
sebelum kita mengadakan Proklamasi. Salah satu unsur daripada Amanat
Penderitaan Rakyat, – penderitaan yang telah berpuluh-puluh tahun, dan tidak
hanya 15 tahun saja – salah satu unsur itu ialah justru mengnyahkan
imperialisme dari seluruh wilayah tanah-air Indonesia. Maka sudah barang tentu,
juga sesudah kita memiliki Republik ini, perjoangan di dalam negeri melawan
imperialisme berjalan terus. Tetapi dalam hubungan kita dengan dunia luarpun
perjoangan ini kita teruskan.
Dalam hubungan Republik dengan dunia luarpun, tetap kita
memegang teguh kepada jiwa-pokok Revolusi, yaitu menghimpun segala kekuatan
Nasional dan Internasional untuk menentang, dan akhirnya membasmi menyapu
bersih imperialisme dan kolonialisme itu di manapun juga dan dalam bentuk
apapun juga. Secara khusus kita meletakkan titikberat kepada perjoangan
memerdekakan Irian Barat, karena di Irian Barat imperialisme-kolonialisme
menancap di tubuh darah-daging kita sendiri.
Alhamdulillah, di luar negeri itu perjoangan ini berjalan
sengit! Telah saya katakan sejak tahun yang lalu, bahwa ¾ umat manusia kini
berada dalam Revolusi, antara lain Revolusi menentang penjajahan. Jiwa
revolusioner merasa berhati-besar melihat Revolusi mondial itu. Jiwa
revolusioner berhati-besar melihat perjoangan menentang penjajahan berhasil
baik di beberapa negeri. Di Tunis, di Konakry, di Bukarest dan di Budapest saya
tempohari dengan semangat mengatakan, bahwa Afrika kini adalah laksana kancah yang
berkobar menyala-nyala, – bahwa "Africa is ablaze like a burning
fire"! Mesiu telah meledak di sana, kena cetusan "Semangat
Bandung"! Sekarang saya mengulangi lagi salam dan do'a selamat saya atas
nama bangsa Indonesia kepada para pemimpin dan bangsa-bangsa Afrika yang baru
saja hidup-kembali ke dalam alam Kemerdekaan. Salam-kemerdekaan dan salam
revolusioner kepadamu, hai Saudara-saudara di Afrika! Salam hangat dan do'a
selamat kepada Kamerun, kepada Togo, kepada Federasi Mali, kepada Konggo,
kepada Somali, kepada Malagasi, kepada Pantai Gading! Dan saya yakin: tidak
lama lagipun kepada bangsa-bangsa Afrika yang lain, yang juga pasti menang,
pasti menang, dalam perjoangan kemerdekaannya. Dan saya yakin pula, bahwa
seperti juga Bangsa Indonesia, dengan segala keteguhan, dengan segala ketabahan
hati, dengan segala kebulatan tekad untuk meneruskan perjoangan mati-matian,
Saudara-saudara kita di Afrika itu akhirnya akan dapat mematahkan segala
rintangan, menghancur-leburkan segala halangan, baik dari dalam maupun dari
luar. Berjoanglah terus, hai Saudara-saudara di Afrika, kemenanganmu pasti
nanti datang! Kami di Indonesia sendiri masih mengalami berbagai kesulitan,
tetapi secara sederhana kami bersedia memberi bantuan sedapat mungkin bilamana
dibutuhkan. Saudara-saudara tidak berdiri sendiri dalam perjoangan
Saudara-saudara menentang imperialisme dan kolonialisme! Kemenangan
Saudara-saudara adalah kemenangan kami, kemenangan kami adalah kemenangan
Saudara-saudara!
Dan bukan hanya untuk menghimpun segala kekuatan Nasional
dan Internasional menentang imperialisme dan kolonialisme sajalah politik luar
negeri kita itu. Politik luar negeri kita, juga kita tujukan kepada
persahabatan dengan semua bangsa, sesuai dengan ajaran Pancasila. Ia kita
tujukan kepada menyumbang kepada terwujudnya perdamaian dunia, sesuai pula
dengan ajaran Pancasila. Ia, sebagai semua orang telah mengetahui, berwujud
satu politik luar negeri yang di luar negeri orang manakan ”independent policy”
atau ”policy of non-alignment”. Kadang-kadang orang di luar negeri menamakannya
juga ”policy of neutralism”, – satu politik yang netral. Sebutan yang
belakangan itu adalah sebutan yang salah dan melését,
samasekali. Sebab kita tidak netral, kita tidak penonton-kosong
daripada kejadian-kejadian di dunia ini, kita tidak tanpa
prinsipe, kita tidak tanpa pendirian. Kita menjalankan politik
bebas itu tidak sekadar secara ”cuci tangan”, tidak sekadar
secara defensif, tidak sekadar secara apologetis. Kita aktif,
kita berprinsipe, kita berpendirian! Prinsipe kita ialah terang Pancasila,
pendirian kita ialah aktif menuju kepada perdamaian dan
kesejahteraan dunia, aktif menuju kepada persahabatan segala
bangsa, aktif menuju kepada lenyapnya exploitation de l’homme par
l’homme, aktif menentang dan menghantam segala macam
imperialisme dan kolonialisme di manapun ia berada.
Pendirian kita yang ”bebas dan aktif” itu, secara aktif pula
setapak demi setapak harus dicerminkan dalam hubungan ekonomi dengan
luar negeri, agar supaya tidak berat-sebelah ke Barat atau ke Timur. Manakala
pada saat sekarang ini keberatsebelahan itu nampaknya masih ada, maka usaha
kita ialah untuk menghilangkan keberatsebelahan itu. Hanya jikalau kita tidak
berat-sebelah, maka kita benar-benar boleh menuliskan Pancasila di atas dada
kita, dan kita dipercaya orang dalam usaha kita mendamaikan dunia. Hanya
jikalau kita benar-benar tidak ”pilih kasih”, maka kita bisa menghindarkan yang
tanah-air kita yang cantik-molek, kaya raya, strategis ini, dijadikan padang
perebutan pengaruh politik internasionalm dijadikan arena perang-dingin dan
mungkin arena perang-panas dari dunia luaran!
Sampai-sampai dalam hal memperjoangkan bebasnya Irian
Barat-pun kita menjalankan Pancasila! Bertahun-tahun lamanya kita sesuai dengan
Pancasila itu menjalankan politik "ajakan manis" kepada Belanda.
Bertahun-tahun lamanya kita mencoba meyakinkan Belanda bahwa tuntutan kita
adalah adil. Bertahun-tahun lamanya kita mencoba mempengaruhi public opinion di
negeri Belanda, dan juga public opinion di dunia, untuk memberi desakan kepada
Belanda. Sebenarnya sedari tadinya kita harus sudah mengerti bahwa politik
"ajakan manis" itu niscaya tidak akan berhasil. Juga dalam pergerakan
nasional kita dahulu, dalam mana pemimpin-pemimpin kita dua puluh tahun lamanya
menjalankan politik mohon-mohonan, rekés-rekésan, yakin-yakinan,
cooperatie-cooperatiean dengan Belanda, terbuktilah bahwa "politik ajakan
manis" itu tidak diréwés. Baru sesudah kita mendengungkan politik
non-cooperation, baru sesudah kita memformulir dengan tegas bahwa politik kita
harus berupa "'machtsvorming dan machtsaanwending", baru sesudah kita
menyemboyankan dengan cara yang menyundul-langit bahwa kita harus menuju kepada
Indonesia Merdeka 100% lepas dari Belanda dengan menggerakkan revolusionnaire
massa-actie yang tidak nyembah-nyembah dan tidak bercooperatie-cooperatiean
dengan Belanda, baru sesudah pergerakan nasional kita itu benar-benar berdiri
atas dasar belangentegenstellingen dan machtstegenstellingen dengan Belanda, –
baru sesudah itulah matahari-kejayaan kita mulai menyingsing.
Dan juga pengalaman kita sesudah Proklamasi, antara
1945-1950, yaitu pengalaman kita dalam physical revolution, bahwa dengan fihak
Belanda tak dapat dicapai kata-sepakat atas dasar "give and take",
sebenarnyapun harus telah memberi pengajaran kepada kita bahwa kita harus
menempuh jalan lain dalam usaha mengembalikan Irian Barat ke
dalam wilayah kekuasaan Republik. Tetapi tidak. "Jalan lain" itu
tidak segera kita ambil! Penyakit tidak mempunyai konsepsi yang tepat dan
tegas, juga merajalela di antara kita bertahun-tahun lagi mengenai persoalan
Irian Barat ini, sebagaimana penyakit ini juga menjadi kanker dalam
tubuh-fikiran kita bertahun-tahun sesudah physical revolution di bidang
lain-lain.
Tetapi akhirnya, eindelijk, e-i-n-d-e-l-i-j-k, beberapa
tahun yang lalu merantak-rantaklah fajar menyingsing dalam politik-Irian Barat
kita itu. Eindelijk, beberapa tahun yang lalu kita merobah sifat perjoangan
kita, dari "mengajak Belanda secara manis" untuk mengembalikan Irian
Barat kepada kita, menjadi satu politik konfrontasi antara segala
kekuatan nasional kita terhadap Belanda dalam mas'alah Irian Barat.
Saat itulah saat lahirnya istilah "jalan lain"
dalam politik-Irian Barat kita. Saat itu saatnya kita menemukan-kembali kesadaran,
bahwa perjoangan nasional adalah soal kekuatan, soal
"machtsvorming en machtsaanwending", soal perjoangan,
dan bukan soal pengemisan. Saat itu adalah saat "rediscovery
of our struggle", yang kemudian disusul samasekali oleh "rediscovery
of our Revolution". Ya!, kita sekarang tidak mau lagi meminta-minta
berunding dengan Belanda mengenal Irian Barat, kita akan terus menjalankan
politik "jalan lain" itu sampai Irian Barat masuk kembali ke dalam
wilayah kekuasaan Republik. "Man bettelt nicht um ein Recht, um ein Recht
kämpft Man!", – "Hak tak dapat diperoleh dengan mengemis, hak hanya
dapat diperoleh dengan perjoangan!", – demikianlah ajaran yang kita dapat
dari alam perjoangan.
Saya mengucap banyak terimakasih kepada Dewan Pertimbangan
Agung, bahwa Dewan ini pada tanggal 21 Juli beberapa pekan yang lalu telah
mengusulkan kepada Pemerintah tentang "Kebijaksanaan Politik Pembebasan
Irian Barat". Usul Dewan Pertimbangan Agung itu amat berharga sekali,
lebih-lebih lagi oleh karena usul Dewan Pertimbangan Agung pun berdiri di atas
prinsipe konfrontasi segenap kekuatan Nasional kita terhadap fihak
imperialis-kolonialis Belanda, konfrontasi antara nationale macht kita terhadap
imperialistis-koloniale macht Belanda. Maka Pemerintah akan memberikan
perhatian sepenuhnya kepada usul Dewan Pertimbangan Agung itu.
Di dalam pidato 17 Agustus tahun yang lalu saya berkata:
"Khusus mengenai perjoangan Irian Barat, saya menyatakan di sini bahwa
benar Pemerintah tidak akan memasukkan soal Irian Barat itu ke P.B.B. tahun
ini. Tetapi ini tidak berarti bahwa Pemerintah kendor dalam perjoangannya
mengenai Irian Barat. Tidak! Samasekali tidak! Sebaliknya! Pemerintah
memperhebat perjoangan Irian Barat itu di lapangan lain daripada P.B.B.
Pemerintah memperhebat perjoangannya itu di lapangan ekonomi. Pemerintah
mengakui bahwa perjoangan Irian Barat harus dilakukan di segala lapangan, ya di
dalam negeri ya di luar negeri, tetapi buat tahun ini Pemerintah mengkonsentrir
perjoangannya melawan Belanda itu di lapangan ekonomi. Ingatlah kepada
pemindahan pasar ke Bremen, Ingatlah kepada keputusan kita untuk tidak mengakui
ada hak eigendom Belanda lagi (sekarang semua hak-hak agraris Belanda
dihapuskan), ingatlah kepada ucapan saya bahwa jika Belanda tetap membandel
dalam persoalan Irian Barat, maka akan habis-tamatlah samasekali riwayat semua
modal Belanda di bumi Indonesia. Coba lihat nanti, fihak Belanda dan
konco-konconya imperialis tentu akan gégér-marah oleh keputusan-keputusan kita
ini, dan kegegeran mereka itupun harus dan akan kita layani di dunia
Internasional. Pemerintah berpendapat lebih baik mengkonsentrir enersinya di
luar negeri pada pelayanan kegégéran inilah, dan tidak memecah-mecah enersinya
itu antara pelayanan kegégéran ini + perjoangan di P.B.B. Dan bagi P.B.B.
sendiripun, sikap kita sekarang ini (untuk tidak memasukkan Irian Barat dalam
acara P.B.B.), harus diberi arti yang langsung mengenai P.B.B. Saya harap
P.B.B. dengan sikap kita sekarang ini mengerti, bagaimana perasaan kita
terhadap P.B.B.!"
Demikian tahun yang lalu. Bagaimana tahun yang sekarang?
Tahun yang sekarang, kita tetap mengambil "jalan lain" itu, malahan
memperkuat, memperhebat, memperdahsyat "jalan lain" itu. Dewan
Pertimbangan Agung sendiri dalam salah satu kalimat penjelasan usulnya itu
menulis: (boleh saya ungkap sedikit): "Berdasarkan pengalaman-pengalamnn
politik pembebasan Irian Barat dari Kabinet-Kabinet yang lalu, di samping
kenyataan sikap kepalabatu kolonialis Belanda yang makin memperkuat pendudukan
militernya di Irian Barat, dan berhubung dengan penemuan kembali Revolusi
Indonesia pada garis U.U.D. '45, maka adalah satu keharusan, bahwa
Kabinet Kerja melaksanakan politik pembebasan Irian Barat secara revolusioner
menurut bahasa tersendiri Revolusi Nasional Indonesia".
Ya!, pengalaman-pengalaman Kabinet-kabinet yang lalu sudah
jelas. Ya!, kolonialis Belanda makin bersikap kepalabatu! Ya!, Belanda malahan
mengirim Karel Doorman ke Irian Barat. Tetapi juga ya!, kita
sekarang sudah benar-benar menemu-kembali perjoangan kita dan menemu-kembali
Revolusi! Karena itu, ya!, benar sekali anjuran Dewan Pertimbangan Agung supaya
kita melaksanakan politik pembebasan Irian Barat secara Revolusioner,
menurut bahasa tersendiri Revolusi Nasional Indonesia! Belanda makin
berkepalabatu.
Belanda malahan mengirimkan Karel Doorman-nya. Satu negara
rentenier kecil yang sebenarnya sudah jatuh seperti Nederland itu, yang masih
bernafsu kolonialisme, sekarang mencoba mengirimkan deurwaardernya, yang bemama
Karel Doorman!
Sekarang dengarkan Saudara-saudara! Dalam keadaan yang
demikian itu, tidak ada gunanya lagi hubungan diplomatik dengan negeri Belanda.
Tadi pagi telah saya perintahkan Departemen Luar Negeri memutuskan hubungan
diplomatik dengan negeri Belanda.
Itu negatifnya! Positifnya kita mempertinggi
kekuatan Nasional kita yang kita harus konfrontir dengan kekuatan
imperialis Belanda itu. Sekali lagi dengan tegas saya katakan di sini,
bahwa kekuatan Nasional itulah yang menentukan, kekuatan Nasional
yang berupa satu totalitas daripada semua tenaga politik,
ekonomis, sosial, sipil, militer dalam bangsa dan Negara yang dalam
ketotalannya kita konfrontir dengan kekuatan imperialis
Belanda! Sebab di dalam konfrontasi itulah nanti akan ternyata siapa yang kuat,
siapa yang menang!
Dalam mempertinggi kekuatan Nasional itu, Front
Nasional menduduki salah satu tempat yang penting. Dalam usul Dewan
Pertimbangan Agung tadi itu antara lain diusulkan: (saya ungkapkan lagi
sedikit): "menggalang persatuan rakyat revolusioner berupa Front Nasional
anti imperialis di bawah pimpinan Bung Karno, sebagai landasan untuk
membangkitkan aksi-aksi massa".
Dan di dalam Manifesto Politik tempohari saya berkata:
"Ide Front Nasional sebenarnya keluar daripada prinsip Gotong Royong
"Ho-lopis Kuntul-baris". Seluruh tenaga Rakyat harus digalang dan
dijadikan satu gelombang-tenaga yang mahasyakti, menuju
kepada terbangunnya satu masyarakat adil dan makmur, – menuju kepada
penyelesaian Revolusi. Dan penggalangan itulah tugasnya Front Nasional. Menjadi
Front Nasional itu adalah satu hal yang prinsipiil-fundamentil: sebab
pembangunan semesta tak mungkin berhasil tanpa mobilisasi tenaga semesta pula.
Revolusi tak mungkin berjalan penuh tanpa ikut-ber-Revolusinya seluruh Rakyat.
Front Nasional nanti diadakan untuk menggalang seluruh tenaga daripada seluruh
Rakyat. Ia harus menggalang seluruh kegotongroyongan Rakyat. Front Nasional
itulah dus yang harus menggalang semangat dan tenaga latent dikalangan Rakyat,
dijadikan satu gelombang "ke-ho-lopis-kuntul-barisan" untuk
menyelesai-kan Revolusi".
Saya mengulangi bagian pidato Manifesto Politik yang
mengenai penggalangan tenaga dan semangat massa Rakyat ini in extense (dengan
lengkap), oleh karena masih banyak orang-orang dalam kalangan aparatur Negara,
orang-orang kwalitas ndoro-ndoro dan juragan-juragan, wanita-wanita yang
kwalitet dén-ajeng dén-ajeng dan dén-ayu dén-ayu -, yang tidak mengerti artinya
tenaga massa dan semangat massa, bahkan menderita penyakit massa-phobi dan Rakyat-phobi,
yaitu takut kepada massa dan takut kepada Rakyat. Jiwa ndoro dan jiwa dén-ayu
itu harus kita cuci samasekali dan harus kita kikis samasekali, agar supaya
Revolusi dapat berjalan benar-benar sebagai Revolusi Rakyat, dan oleh karenanya
berjalan seefisien-efisiennya pula!
Sebagai di muka telah saya katakan, beberapa hari yang lalu
sudah selesai saya bentuk pucuk pimpinan daripada Front Nasional itu. Tinggal
sebentar lagi benar-benar kita menggerakkan Front Nasional itu:
Ho-lopis-kuntul-baris!, – menuju pembangunan semesta, menuju pembebasan Irian
Barat, menuju lenyapnya imperialisme dari bumi Indonesia, menuju kemerdekaan
penuh, menuju sosialisme Indonesia, menuju pelaksanaan Amanat Penderitaan
Rakyat!
Saudara-saudara!
Lambat-laun datanglah saatnya saya harus mengakhiri pidato
saya ini. Tetapi saya tidak mau mengakhirinya, sebelum saya menandaskan
beberapa hal kepada Saudara-saudara.
Banyak telah kita kerjakan dalam tahun yang lalu. Kita telah
meretool badan legislatif dan membentuk D.P.R.G.R. Kita sedang meretool
dunia-kepartaian, dan telah memerintahkan pembubaran partai-partai yang
anti-revolusioner. Kita telah mempersiapkan Landreform, salah satu bagian
mutlak daripada Revolusi. Kita telah menyusun Majelis Permusyawaratan Rakyat.
Kita telah menyusun pimpinannya Front Nasional. Kita telah memecahkan sedikit
persoalan Sandang-Pangan. Kita telah memutuskan hubungan diplomatik dengan Belanda.
Kita telah membasmi sebagian yang lumayan daripada gerombolan-gerombolan
pengacau. Kita telah membangun Bank Pembangunan, sedang membangun Bank
Koperasi, Tani dan Nelayan, sedang membangun Bank-bank Pembangunan Daerah. Kita
telah mulai membangun beberapa industri-dasar, dan lain sebagainya dan lain
sebagainya. Pendek-kata: kita telah ini, kita telah itu! Tetapi sekali-kali
janganlah menjadi puas karena kita telah-ini telah-itu. Banyak sekali hal-hal
investment yang masih harus kita kerjakan. Misalnya belum semua warganegara
bisa membaca dan menulis, meski jumlah yang melek-huruf sekarang sudah lebih
dari 60%, padahal di masa penjajahan hanya 6%.
Dapatkah sosialisme diselenggarakan oleh bangsa yang
buta-huruf? Saya komandokan sekarang, supaya buta-huruf itu habis
samasekali pada akhir tahun 1964! Dan saya komandokan kepada semua
sekolah-sekolah dan Universitas-universitas, supaya semua murid mahasiswa
di-USDEK-kan dan di-Manipol-kan!
Sekali lagi saya tandaskan di sini, bahwa masih banyak
sekali hal-hal investment yang masih harus kita kerjakan. Dan percayalah: bulan
purnama masih beratus-ratus kali lagi harus bersinar, tahun masih harus
berkali-kali lagi berganti tahun, sebelum kita boleh berkata bahwa sebagian
besar karya investment telah kinarya. Masih lama lagi kita harus
membanting-tulang, masih lama lagi kita harus memeras keringat, masih lama lagi
kita harus berjoang habis-habisan, kalau perlu berjoang mati-matian. Apa yang
sudah kita kerjakan itu barulah sekadar pucuk dari permulaan saja, sekadar
"the beginning of the beginning", paling-paling "the end of the
beginning"! Tetapi masih tetap the beginning, masih
tetap permulaan! Ya tentu, kita bangga telah mempunyai Manifesto
Politik.
Tetapi Manifesto Politik hanyalah satu Manifesto, satu
pernyataan, satu Konsepsi, satu ideologi, – katakanlah satu pembakar semangat.
Sebagai pembakar semangat ia boleh ditempatkan dalam trilogi kita yang
termasyhur: semangat nasional – kemauan nasional – perbuatan nasional, sehingga
trilogi itu menjadi caturlogi yang berbunyi:
Semangat nasional
Konsepsi nasional
Kemauan nasional
Perbuatan nasional
Tetapi program atau pernyataan, konsepsi atau ideologi, –
yang menentukan ialah pelaksanaannya. Mengenai pelaksanaan ini,
Dewan Pertimbangan Agung dengan tepat berkata: "Walaupun Manifesto Politik
adalah sangat penting karena telah menjawab persoalan-persoalan pokok Revolusi,
dan telah mengemukakan usaha-usaha-pokok untuk menyelesaikan Revolusi
Indonesia, tetapi realisasinya sangat tergantung pada orang-orang yang diberi
tugas untuk melaksanakannya".
Benar sekali: tergantung pada orang-orang yang harus
melaksanakan! Khususnya orang-orang yang diberi tugas, umumnya orang-orang
90.000.000 jiwa yang bernama Rakyat Indonesia, dari Sabang sampai Merauke.
"Ten slotte beslist de mens", inilah sitat dari Fritz Sternberg yang
saya gemar sekali mensitirkannya. "Pada akhirnya, manusialah yang
menentukan".
Oleh karena itulah maka orang-orang yang diberi tugas tapi
tidak berhati-penuh atau tidak becus untuk melaksanakan Manifesto
Politik-USDEK, harus diretool! Tetapi Saudara-saudara juga, Saudara-saudara
dari kalangan Rakyat, Saudara-saudara pun tak luput dari
memikul kewajiban! Saudara-saudara yang sudah sadar, harus aktif menyumbangkan
tenaga kepada realisasi Manipol-USDEK itu. Saudara-saudara yang belum sadar,
yang tidak mengerti sedikitpun tentang Manipol-USDEK, apalagi pelaksanaan Manipol-USDEK,
Saudara-saudara yang demikian itu harus diindoktrinasi, harus disadarkan, harus
dikocok-dihoyag-hoyag, ditempa, di-gemblèng, sampai betul-betul mereka menjadi
sadar, dan menjadi orang-orang yang menyumbang secara aktif, menyumbang secara
dinamis-revolusioner!
Hari ini adalah hari memperingati Proklamasi. Pantas kita
bangga atas Proklamasi itu. Pantas kita merasa mongkok kitapunya hati kalau
ingat kepada 17 Agustus 1945 oleh karena kita pada hari itu menunjukkan kepada
seluruh dunia bahwa kita bukan bangsa budak yang berjiwa tempe yang mau terus
ditindas dan dihisap beratus-ratus tahun, melainkan bangsa jantan yang berjiwa
banténg. Pantas kita bangga atas Proklamasi itu, karena kita telah menjadi
pengambil inisiatif (initiatiefnemer) daripada pernyataan-pernyataan
kemerdekaan di lain-lain negeri di Asia, seperti di India, di Pakistan, di
Burma, di Vietnam, di Philipina dan lain-lain, yang semuanya menyatakan
kemerdekaannya sesudah Proklamasi kitn itu.
Namun demikian, janganlah sekali-kali kita hanya bangga
saja, janganlah sekali-kali kita hanya mengagul-agulkan kejantanan
kita saja! Sepertinya juga dengan halnya konferensi Asia-Afrika lima tahun yang
lalu. Benar kita salah-satu initiatiefnemer dari konferensi itu, benar kita
motor daripada Konferensi itu, benar Konferensi itu diadakan di kota Bandung
kota Indonesia, tetapi jangan sekali-kali kita selalu menonjol-nonjolkan
"Bandung" itu seolah-olah kita ingin melanggengkan jasa.
Tidak! Kita bangsa Indonesia, kita pemimpin-pemimpin Indonesia, tidak boleh
berhenti, tidak boleh duduk diam bersenyum-simpul di atas damparnya kemasyhuran
dan damparnya jasa-jasa di masa yang lampau. Kita tidak boleh "teren op
oud roem", tidak boleh hidup dari kemasyhuran yang liwat, oleh karena jika
kita "teren op oud roem", kita nanti akan menjadi satu bangsa yang
"ngglenggem", satu bangsa yang gila-kemuktian, satu bangsa yang
berkarat.
Janganlah kita "ngglenggem" atas kemasyhurannya
Proklamasi '45! Dinamikanya Revolusi menuntut, bahwa kemasyhuran dan jasa-jasa
yang lampau itu hanyalah merupakan pancatan-pancatan pertama saja dan batu-loncatan-batu-loncatan-pertama
saja daripada jasa-jasa dan kemusyhuran-kemasyhuran yang baru.
Jasa-jasa baru itu kita butuhkan demi kemajuan nasional, demi progresnya
Revolusi, tetapi juga untuk menambah kepercayaan kepada diri sendiri.
Selanjutnya terserahlah kepada Sejarah nanti, menonjolkan atau
tidak, jasa-jasa atau kemasyhuran-kemasyhuran itu!
Terus-terang saja, saya persoonlijkpun berfalsafah demikian!
Siang dan malam kegandrungan saya hanyalah ingin mengabdi kepada Tuhan,
mengabdi kepada tanah-air dan bangsa, menyumbang kepada Revolusi, menyumbang
kepada pelaksanaan Amanat Penderitaan Rakyat. Dicacimaki musuh saya tidak ambil
perduli, diagul-agulkan kawan saya tidak membusungkan dada. Saya berjalan terus
dengan tenang jika diserang musuh dari kiri dan dari kanan, saya berjalan terus
tanpa meminta sanjungan kawan. Saya menolak orang spesial membuat biografi
(riwayat-hidup) dari saya, saya menolak orang membuat patung Sukarno atau
monumen Sukarno.
Oleh tindakan-tindakan saya di waktu yang akhir-akhir ini,
ada orang yang mengatakan bahwa saya telah melakukan satu "coup
d'état". Apakah benar saya melakukan "coup d'état"? Ambui, saya dikatakan
melakukan "coup d'état"! Siapa orang-orang yang mengatakan demikian
itu? Orang-orang yang mengatakan saya melakukan "coup d'état" itu
adalah orang-orang yang menentang Konsepsi Presiden dan menentang Manifesto
Politik, atau dalam kata-kata "menerima" Manifesto
Politik itu, tetapi dalam perbuatannya menentang. Orang-orang yang demikian itu
sekadar berlagak!, – berlagak revolusioner, dan berlagak membela
demokrasi. Mereka berlagak revolusioner, karena mereka hanya menyebut kata
"Revolusi", tetapi menentang Revolusi-Komplit yang kita lakukan,
yaitu Revolusi penuh dari atas dan dari bawah, sebagai yang kita
lakukan sekarang ini. Dari atas, dengan adanya retooling terhadap aparat
dan sistim; dari bawah, karena retooling aparat dan sistim itu
dilakukan sesuai dengan desakan Rakyat dan didukung pula oleh Rakyat. Kalau
hanya dari atas saja, maka itu bukan revolusinya massa, dus bukan Revolusi;
kalau hanya dari bawah saja, maka itu adalah semacam rebelli.
Mereka berlagak membela demokrasi,
oleh karena yang mereka bela itu sebenarnya adalah bukan … demokrasi, melainkan
sistim liberalisme semata-mata. Mereka berlagak membela
demokrasi, oleh karena sebagai yang saya katakan di Tokyo tempohari, justru di
kalangan mereka itulah banyak simpatisan-simpatisan dan makelar-makelar-gelap
daripada D.I.-T.I.I., P.R.R.I.-Permesta, yang malahan selalu mendurhakai
demokrasi, dan selalu mencoba untuk mengadakan "coup d'état" dengan
kekerasan senjata. Mereka berlagak membela demokrasi, oleh
karena mereka tak pernah dengan terang-terangan menghukum atau mengutuk
perbuatan-perbuatan itu yang menyalahi demokrasi.
Dan sekarang mereka mengatakan bahwa saya melakukan
coup d'état"? Mereka, yang selalu hendak mencoba mengadakan
coup d'état? Mereka, yang selalu menghambat dan merem Revolusi?
Mereka, yang berkata bahwa Revolusi sudah selesai, dus tidak boleh ada
Revolusi lagi? Saya kok ingat kepada cerita pencuri yang berteriak
"maling! Maling! Bangunlah, ada maling!" Alangkah bedanya dengan
mereka itu pendapat Mahkamah Agung Republik Indonesia, yang misalnya berkata
bahwa Penpres No. 7/1959 (mengenai kepartaian) adalah syah karena
"dalam keadaan yang bersifat memaksa ini, maka Kepala Negara berwenang
mengambil tindakan yang menyimpang dari segala peraturan yang ada, termasuk
juga Undang-Undang Dasar".
Sekali lagi saya bertanya: siapa yang melakukan coup d'état,
– sayakah, atau mereka? Sejarah akan menjawab, bahkan Rakyat sekarang telah
menjawab, bahwa saya tidak melakukan coup d'état dengan tindakan-tindakan saya
yang akhir-akhir ini. Sejarah dan Rakyat itu akan menjawab, bahwa saya bersama
dengan kawan-kawan revolusioner malahan telah melakukan penyelamatan daripada
Negara, penyelamatan daripada Revolusi. Zonder
tindakan-tindakan kami-bersama itu, zonder pembasmian free-fight-liberalism,
zonder mengadakan demokrasi terpimpin, zonder pembubaran Konstituante, zonder
dekrit 5 Juli 1959 untuk kembali kepada U.U.D, '45, zonder pembubaran
D.P.R.-liberal, zonder pembentukan D.P.R.G.R., zonder Manifesto Politik dan
USDEK, zonder Pen. Pres. No, 7 yang menyederhana-kan kepartaian, zonder
penggempuran habis-habisan kepada kaum pemberontak serta
makelar-makelar-gelapnya kaum pemberontak, maka Negara kita sudah lama akan
pecah, sudah lama akan berantakan, sudah lama Revolusi akan kandas, Apa yang
kami-bersama telah perbuat, bukanlah perebutan kekuasaan, bukanlah coup d'état,
melainkan penyelamatan Negara dan penyelamatan Revolusi:
Apa yang kami bersama telah perbuat bukanlah coup d'état, melainkan sauvetage d'état, sauvetage de
la Revolution!
Saya ulangi lagi: Insya Allah saya berjalan terus. Insya
Allah kita-semua berjalan terus tanpa membusungkan dada atas jasa-jasa yang
lalu, sekadar sebagai memenuhi kewajiban kita dalam Revolusi, meratakan
jalan bagi lanjutnya Revolusi itu, meratakan jalan dan ikut
menarik Kereta, agar supaya Kereta itu akhirnya mencapai apa yang
menjadi tujuan Revolusi dan kewajiban Revolusi, yaitu (saya mengambil perincian
Dewan Pertimbangan Agung):
"Membentuk satu Republik Kesatuan yang demokratis, di
mana Irian Barat juga termasuk di dalamnya, di mana Kedaulatan ada di tangan
Rakyat dan dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat, di mana
hak-hak-azasi dan hak-hak-warganegara dijunjung tinggi, dan membentuk
masyarakat adil dan makmur, cinta damai, dan bersahabat dengan semua negara di
dunia, guna membentuk satu Dunia yang Baru".
Ya!, Saudara-saudara!, panjanglah definisi daripada tujuan
dan kewajiban Revolusi kita itu! Revolusi kita memang bukan Revolusi témpé!
Revolusi kita, demikian kataku di muka, adalah Revolusi Besar yang lebih Besar
daripada revolusi-revolusi lain di lain negeri. Dasar dan jiwanyapun lebih
besar daripada dasar dan jiwa revolusi di lain-lain negeri itu. Pancasila adalah
lebih memenuhi kebutuhan manusia dan lebih menyelamatkan manusia, daripada
Declaration of Independencenya Amerika, atau Manifesto Komunis. Pancasila adalah
satu "pengangkatan ke taraf yang lebih tinggi",
satu "hogere optrekking", daripada Declaration of
Independence dan Manifesto Komunis.
Apa yang ditulis dalam Declaration of Independence, dan apa
yang ditulis dalam Manifesto Komunis? Declaration of Independence menuntut
"life, liberty, and the pursuit of happiness", yaitu “hak hidup, hak
kebebasan, dan hak mengejar kebahagiaan" bagi semua manusia, padahal
pursuit of happiness (pengejaran kebahagiaan) belum berarti reality of
happiness (kenyataan kebahagiaan), – dan Manifesto Komunis menulis,
bahwa jikalau kaum proletar di seluruh dunia bersatu-padu dan menghancurkan
kapitalisme, mereka "tak akan kehilangan barang lain daripada
rantai-belenggunya sendiri", dan "sebaliknya akan memperoleh satu
dunia yang baru".
Kita bangsa Indonesia melihat apa yang terjadi di bawah
kolong langit ini dengan Declaration of Independence saja, atau
Manifesto Komunis saja. Kita bangsa Indonesia melihat bahwa
Declaration of Independence itu tidak mengandung keadilan sosial atas
sosialisme, dan kita melihat bahwa Manifesto Komunis itu masih harus disublimir
(dipertinggi jiwanya) dengan Ketuhanan Yang Maha-Esa. Duaratus tahun yang lalu,
hampir, Declaration of Independence itu dicetuskan oleh penanya Thomas
Jefferson, seratus tahun yang lalu, hampir, Manifesto Komunis dicetuskan oleh
genialitasnya Karl Marx dan Friedrich Engels. Kedua-duanya adalah umat
progresif bagi zamannya masing-masing. Kedua-duanya adalah amat
berharga bagi pembebasan nasional di zaman itu, atau pembebasan
proletar di zaman itu. Tetapi kita sekarang sudah berada di bagian
kedua dari abad ke-XX. Dengan Declaration of Independence saja dan
Manifesto Komunis saja, maka kenyataannya sekarang ialah, bahwa
dunia-manusia sekarang ini terpecah-belah menjadi dua blok yang
hintai-menghintai satu-samalain, “lir angkasa kang hangemu dahana",
sebagai juga digambarkan oleh Bertrand Russell tempo hari.
Karena itulah, maka kita bangsa Indonesia merasa bangga
mempunyai Pancasila, dan menganjurkan Pancasila itu pada semua bangsa.
Pancasila adalah satu dasar yang universil, satu dasar yang dapat
dipakai oleh semua bangsa, satu dasar yang dapat menjamin kesejahteraan-dunia,
perdamaian-dunia, persaudaraan-dunia. Pancasila, tidak salah lagi, adalah
satu hogere optrekking daripada Declaration of Independence
dan Manifesto Komunis. Dan Manifesto Politik Republik Indonesia dan USDEK
adalah refleksi daripada Pancasila itu, sehingga benarlah konklusi Dewan
Pertimbangan Agung, bahwa Revolusi Indonesia "bukanlah Revolusi borjuis
model tahun 1789 di Perancis, dan bukan pula Revolusi proletar model tahun 1917
di Rusia". Revolusi Indonesia adalah satu Revolusi yang dasar dan
tujuannya "kongruèn dengan Social Conscience of Man",
kongruèn dengan Budi Nurani Manusia, sebagai kukatakan setahun yang
lalu.
Dan kamu, hai bangsa Indonesia yang sedang dalam Revolusi,
kamu yang sedang bekerja keras dan membanting-tulang dibèngkèl-bèngkèl dan
diladang-ladang, kamu yang sedang bertempur dan menderita segala kekurangan,
kamu yang sedang ditinggalkan suami atau kehilangan suami, kamu hai bangsa
Indonesia tua-muda laki-perempuan dari Sabang sampai Merauke, tidakkah kamu –
kendati segala kesulitan dan penderitaan itu – merasa hatimu mongkok bahwa
Revolusimu adalah mengambil inspirasinya dari Pancasila, bahkan mendasarkan
diri kepada Pancasila itu, sehingga sebagai kukatakan tadi Revolusimu itu
adalah lebih besar dan lebih luas dan lebih benar daripada revolusi-revolusi
bangsa lain, Revolusi Manusia, Revolusi Sejati, yang hendak
mendatangkan satu Dunia Baru yang benar-benar berisikan kebahagiaan jasmaniah
dan rokhaniah dan Tuhaniah bagi Umat Indonesia, bahkan juga bagi Umat
Manusia di seluruh muka bumi?
Sekarang Revolusi kita sudah 15 tahun usianya. Banyak
kesalahan-kesalahan yang kita lakukan, banyak penyeléwéngan dan pendurhakaan
yang kita derita, tetapi koreksipun kemudian kita adakan. Banyak jasa-jasa yang
telah kita kerjakan, dan program Revolusipun kini terpapar dalam Manifesto
Politik dan USDEK, tetapi jasa-jasa itu sebagai kukatakan tadi adalah sekadar
batu-loncatan saja kepada jasa-jasa yang masih harus berdentam-dentam kita
usulkan. Atau hendakkah kamu menjadi bangsa yang "ngglenggem?" Bangsa
yang tidak bergerak, tetapi adem-anteng ”teren op oud roem?" Bangsa yang
zelfgenoegzaam? Bangsa yang anglér memetèti burung perkutut dan minum tèh
nasgitel? Bangsa yang demikian itu pasti nanti hancur lebur terhimpit dalam
desak-mendesaknya bangsa-bangsa lain yang berebut-rebutan hidup!, – "verpletterd
in het gedrang van mensen en volken, die vechten om het bestaan",
sebagai yang dikatakan oleh pemuda-pemuda kita 40 tahun yang lalu.
Ya!, kalau mau hancur lebur, buat apa mengadakan Proklamasi!
Kalau mau hancur lebur, buat apa mengadakan Revolusi! Kalau mau hancur lebur,
buat apa tidak tunduk saja kepada D.I.-T.I.I., dan kepada P.R.R.I. dan
Permesta! Kalau mau hancur lebur, buat apa tidak nurut saja kepada kehendaknya
makelar-gelap-makelar-gelap dari mereka itu, yang mau meneruskan sistim bejat
liberalisme etc. etc. dalam Negara kita ini?
Saudara-saudara menjawab: "Tidak! Kita tidak mau hancur
lebur! Malah kita mau dengan cepat melaksanakan USDEK!"
Benar!, Saudara-saudara, benar! Tetapi Saudara-saudara tahu
siapa tidak mau hancur lebur, harus berjoang mati-matian, atau harus
membanting-tulang habis-habisan! Karena itu, janganlah setengah-setengah,
berjoang membanting-tulanglah seperti "bukan manusia lagi" kata
Mazzini, – berjoanglah mati-matian dan membanting-tulanglah habis-habisan
seolah-olah kita ini malaekat-malaekat yang menyerbu dari langit!
Bahagialah Dr. Cipto Mangunkusumo dan Dr. Setiabudi,
pejoang-pejoang kemerdekaan Indonesia yang sudah mangkat, yang pada waktu
berjoangnya bersemboyan dan memesan:
"Serahkanlah jiwa-ragamu mutlak! Sekali lagi
serahkanlah jiwa-ragamu mutlak! Sebab Tuhan benci kepada orang yang
setengah-setengah!"
"Men moet zich geheel geven: geheel! De hemel
verwerpt het gesjacher met meer of minder!"
Ya! Hayo!, marilah kita serahkan jiwa raga kita mutlak!
Moga-moga Tuhan meridhoi kita, karena kita tidak
setengah-setengah!
Terima kasih!