KEPUTUSAN DEWAN PERTIMBANGAN AGUNG TENTANG PERINTJIAN PEDOMAN PELAKSANAAN MANIFESTO POLITIK REPUBLIK INDONESIA
No.1 /Kpts /Sd / 1 /61
No.1 /Kpts /Sd / 1 /61
DEWAN PERTIMBANGAN AGUNG DALAM SIDANG I TANGGAL 19 DJANUARI 1961
MEMPERHATIKAN a. Isi keseluruhan „ DJALANNJA RE VOLUSI KITA " .
b. Ketetapan M.P.R.S. tanggal 19 Nop. 1960 No. I tentang „ DJALANNJA REVOLUSI KITA " .
c. Pendapat- pendapat dan saran-saran anggauta Dewan Pertimbangan Agung.
MENIMBANG : Perlu adanja perintjian daripada „ DJA LANNJA REVOLUSI KITA " tersebut ;
BERPENDAPAT : Perlu disusun sistematika perintjian jang merupakan kesatuan tafsiran dari pada „ DJALANNJA REVOLUSI KITA " .
MEMUTUSKAN :: Perintjian „ DJALANNJA REVOLUSI KITA ” sebagai berikut:
I. PREAMBULE.
II. PENEGASAN BERBAGAI SEGI POKOK REVOLUSI INDONESIA :
1. Hakekat Daripada Tiap- tiap Revolusi;
2. Revolusi Indonesia adalah Bagian Daripada Revolusi Dunia ;
3. Satu Pimpinan Dan Satu Konsepsi Revolusi;
4. Landreform adalah Bagian Mutlak dari Revolusi Indonesia.
III . PENEGASAN TENTANG TJARA-TJARA MELAKSANA KAN MANIPOL :
1. Gotong-Rojong ;
2. Front Nasional ;
3. Retooling ;
4. Irian - Barat;
5. Keamanan ;
6. Politik Luar Negeri ;
7. Mempertinggi peradaban dan indoktrinasi Manipol;
8. Tanah untuk Tani ;
9. Pelaksana.
Perintjian tentang I , II , III dilampirkan bersama ini.
Djakarta, 19 Djanuari 1961.
LAMPIRAN
KEPUTUSAN DEWAN PERTIMBANGAN AGUNG TENTANG PERINTJIAN „ DJALANNJA REVOLUSI KITA ” JANG DI. UTJAPKAN OLEH PRESIDEN SOEKARNO PADA TANGGAL 17 AGUSTUS 1960
I. PRE A M B U L E
Dengan berkat Rachmat Tuhan Jang Maha Kuasa, bangsa Indone sia jang berevolusi untuk melaksanakan Amanat Penderitaan Rakjat, amatlah berbahagia, karena memiliki Ideologi Nasional jaitu Pantja Sila jang kemudian mendjadi Dasar Negara Republik Indonesia. Pantja Sila adalah sublimasi daripada Declaration of Indepen dence Piagam Kemerdekaan Amerika dan Manifesto Komunis, serta bersifat Universil, dapat dipergunakan segala bangsa untuk mendjamin kesed jahteraan, perdamaian dan persaudaraan dunia. Revolusi Indonesia adalah lebih besar dan lebih luas dan lebih benar daripada revolusi-revolusi bangsa lain, -- Revolusi Manusia, Revolusi Sedjati, jang hendak mendatangkan satu Dunia Baru jang benar -benar berisikan kebahagiaan djasmaniah dan rochaniah dan Tuhaniah bagi Ummat Indonesia , bahkan djuga bagi Ummat Manusia diseluruh muka bumi. ( Djarek halaman 243) .
Dalam melaksanakan Pantja Sila dan menjelesaikan Revolusinja, pernah bangsa Indonesia terseleweng kedjalan jang tidak benar dan bertentangan dengan logika dan hukum Revolusi, oleh karena pengaruh liberalisme, jang menimbulkan dualisme dan kompromi: dualisme antara pimpinan Pemerintah dengan pimpinan Revolusi, kompromi antara golongan- golongan jang progressif-revolusioner dengan golongan- golongan jang konservatif, reaksioner, bahkan kontra revolusioner.
Setelah pengalaman-pengalaman jang pedih dan pahit, dan berkat pandai menarik peladjaran-peladjaran jang bermanfaat dari pengalaman -pengalaman jang pedih dan pahit itu, maka pada tahun 1959 bangsa Indonesia menemukan kembali revolusinja, dan dengan demikian djuga djalan jang benar untuk menjelesaikan Revolusi itu . Penemuan kembali Revolusi itu diutjapkan oleh Pemimpin Besar Revolusi/ Presiden / Panglima Tertinggi Soekarno dalam Pidato Negara pada 17 Agustus 1959, jang terkenal dengan nama Manifesto Politik, jang telah ditetapkan oleh Pemerintah dan diterima oleh Rakjat diseluruh tanah air sebagai Haluan Negara dan telah diper. kuat pula oleh MPRS dalam sidangnja 19 Nopember 1960.
Untuk mendjaga supaja pelaksanaan daripada Manipol itu tetap bergerak didjalan revolusioner, maka pada tanggal 17 Agustus 1960 Pemimpin Besar Revolusi /Presiden / Panglima Tertinggi Soekarno mengutjapkan pidato Negara jang berdjudul „ DJALANNJA REVOLUSI KITA” jang oleh MPRS djuga telah ditetapkan sebagai pedoman pelaksanaan Manipol dalam sidangnja pada tanggal 19 Nopember 1960.
Pedoman Pelaksanaan itu adalah amat penting untuk mendjaga supaja Manipol dilaksanakan dengan tjara konsekwen revolusioner dan supaja djangan sekali lagi Revolusi tersimpang kedjalan jang salah .
„Tahun ke-II Manipol-Usdek ( tahun jang kita masuki sekarang ini ) adalah tahun dimana kita harus dengan lebih tetap melangkah untuk setjara konsekwen melaksanakan Manifesto Politik - Usdek ” demikianlah Presiden Soekarno dalam „ DJA - REK ” ( pada halaman 210 ).
Pedoman Pelaksanaan ini memuat dua pokok :
Pertama: Penegasan tentang berbagai segi pokok daripada Revolusi Indonesia .
Kedua : Penegasan tentang tjara -tjara melaksanakan Manipol.
Dengan perintjian ini diharapkan supaja pelaksanaan Manipol dan demikian pelaksanaan Pantja Sila dan penjelesaian Revolusi akan terhindar dari usaha -usaha orang- orang dan golongan LO golongan jang berusaha dan mentjoba membureng-burengkan dan menjalah -tafsirkan Manipol dengan maksud menghambat atau menjelewengkan Revolusi untuk kepentingan diri sendiri.
II. PENEGASAN BERBAGAI SEGI POKOK REVOLUSI INDONESIA
Tentang penegasan berbagai segi pokok Revolusi Indonesia , Djarek dengan djelas mengemukakan tentang :
1. Hakekat daripada tiap- tiap Revolusi;
2. Revolusi Indonesia adalah bagian daripada Revolusi Dunia ;
3. Satu pimpinan dan satu konsepsi Revolusi;
4. Landreform adalah bagian mutlak Revolusi Indonesia.
1. HAKEKAT DARIPADA TIAP- TIAP REVOLUSI
Mengenai Hakekat Revolusi, Djarek menjatakan, bahwa Revolusi adalah „Perombakan, pendjebolan, penghantjuran, pembinasaan dari semua apa jang kita tidak sukai, dan membangun segala apa jang kita sukai. Revolusi adalah perang melawan keadaan jang tua untuk melahirkan keadaan jang baru. Tiap-tiap Revolusi mempunjai musuh jaitu orang -orang jang hendak mempertahankan atau mengembalikan keadaan jang tua ” . (Djarek halaman 209 ).
„ Kita merombak, tetapi djuga membangun ! Kita membangun, dan untuk itu kita merombak. Kita membongkar, kita mentjabut, kita mendjebol ! Semua itu untuk dapat membangun ”. ( Djarek halaman 191 ).
2. REVOLUSI INDONESIA ADALAH BAGIAN DARIPADA REVOLUSI DUNIA
„Tiga- perempat dari seluruh ummat manusia dimuka bumi ini ............ berada dalam alam revolusi. Belum pernah sedjarah ummat manusia mengalami suatu revolusi seperti sekarang ini , maha-hebat dan maha- dahsjat, maha - luas dan universil, satu Revolusi Kemanusiaan jang setjara serentak-simultan menggelora menggeledek -mengguntur dihampir tiap pelosok dari permukaan bumi”. ( Djarek halaman 196).
„ Apalagi djika kita insjafi, bahwa Revolusi Indonesia ini adalah merupakan bagian daripada Revolusi Besar jang menghikmati 34 daripada ummat manusia itu !"
„ Lihat dan perhatikan ! Suatu Negara jang tidak bertumbuh setjara revolusioner, tidak sadja akan digilas oleh Rakjatnja sendiri, tetapi djuga nanti akan disapu oleh Taufan Revolusi Universil jang merupakan phenomena terpenting daripada dunia dewasa ini. Ini tidak hanja mengenai Indonesia , ini djuga tidak hanja mengenai bangsa-bangsa lain jang sedang berada dalam masa peralihan dan pertumbuhan, ini mengenai segala bangsa. Djuga negara-negara dan bangsa- bangsa jang sudah kawakan, djuga negara-negara dan bangsa -bangsa jang merasa dirinja sudah „ gesettled ", achirnja nanti digempur oleh Taufan Revolusi Universil itu , djika mereka tidak menjesuaikan dirinja dengan perobahan - perobahan dan pergolak an- pergolakan kearah pembentukan satu Dunia Baru, jang tiada kolonialisme didalamnja, tiada exploitation de l'homme par l'homme, tiada penindasan , tiada penghisapan, tiada diskriminasi warna kulit, tiada dingkik -mendingkik satu sama lain dengan bom atom dan sendjata thermonuclear didalam tangan” . ( Djarek halaman 197-198).
Zaman sekarang adalah zaman menghantjurnja sistim kolo nialis-imperialis, zaman sekarang adalah peralihan-ke sosialisme.
Karena itu djalannja revolusi kita harus seirama dan serasi dengan tuntutan zaman . Dalam hubungan ini sesuai dengan Djarek kita harus membebaskan diri dari pengaruh negatif perang dingin , jaitu „ kiri.phobi dan komunisto-phobi” jang banjak sekali mem pengaruhi fikiran orang-orang, terutama orang-orang jang memang berdjiwa kintel, karena hal itu merugikan revolusi . Bagi orang orang revolusioner sedjati tidak perduli bila ada jang meng-tjap „ kiri ” atau meng- tjap „ komunis ” , asal sadja baik bagi Rakjat Indonesia kita laksanakan . Dan semua orang revolusioner adalah zaman orang kiri .
Sesuai dengan hakekat revolusi jang mendjebol dan membangun, apakah jang harus kita djebol dan bangun dewasa ini dan dimasa 12 datang ! Djarek mendjawab bahwa apa jang kita djebol sekarang adalah imperialisme dan feodalisme untuk membangun Indonesia Merdeka penuh jang demokratis. Dan ini merupakan sjarat pertama jang mutlak guna selandjutnja mendjebol penghisapan atas manusia oleh manusia untuk membangunkan Sosialisme-Indonesia.
„ Pula ia membuktikan, bahwa Manifesto Politik -Usdek adalah sendjata ditangan Rakjat untuk mengachiri imperialisme dan feodalisme sampai keakar-akarnja, sebagai sjarat pertama jang mutlak, untuk kemudian mengachiri exploitation de l'homme par l'homme, penghisapan atas manusia oleh manusia, untuk SOSIAL ISME INDONESIA" . ( Djarek halaman 210).
Manipol dengan djelas menjatakan, bahwa tudjuan djangka pendek ialah pelaksanaan Program Kabinet Kerdja, jaitu . sandang pangan, keamanan , melandjutkan perdjoangan anti- imperialisme. Sedangkan tudjuan djangka -pandjang ialah : masjarakat jang adil dan makmur, melenjapkan imperialisme dimana-mana, dan men tjapai dasar -dasar bagi perdamaian dunia jang kekal dan abadi.
Djelaslah ada dua tudjuan dan dua tahap Revolusi Indonesia :
Pertama, tahap mentjapai Indonesia jang merdeka penuh, bersih dari imperialisme dan jang demokratis bersih dari sisa-sisa feodalisme. Tahap ini masih harus diselesaikan dan disempurnakan.
Tri-program Kabinet Kerdja terutama untuk menjelesaikan tahap pertama sebagai sarat mutlak untuk dengan sepenuhnja dapat masuk ke- tahap kedua.
Kedua, tahap mentjapai Indonesia ber- Sosialisme Indonesia, bersih dari kapitalisme dan dari „ exploitation de l'homme par l'homme” . Tahap ini hanja bisa dilaksanakan dengan sempuma setelah tahap pertama sudah diselesaikan seluruhnja .
Perentjanaan, Pola, atau Planning, adalah sjarat mutlak bagi pelaksanaan Sosialisme ! Planning itu nanti dalam pengkarjaannja mendjadilah wahananja Ekonomi Terpimpin dan Demokrasi Terpimpin , itu dua penghela kearah Sosialisme atau Masjarakat Adil dan Makmur. ( Djarek halaman 222) .
SATU PIMPINAN DAN SATU KONSEPSI REVOLUSI
„ Suatu Revolusi hanja dapat berlangsung dan berachir setjara baik , djika ada :
Satu Pimpinan Revolusi jang revolusioner,
Satu Ideologi dan Konsepsi Nasional jang revolusioner, djelas, tegas, terperintji.
Tanpa itu, djangan harap Revolusi bisa berdjalan baik. Tanpa itu, Revolusi pasti kandas ditengah djalan. Tanpa itu , malah mungkin Revolusi lantas kembali kepada keadaan -keadaan sebelum Revolusi ” (Djarek halaman 202 - 203).
Logika revolusioner ialah, bahwa : sekali kita mentjetuskan Revolusi, kita harus meneruskan Revolusi itu , sampai segala tjita t jitanja terlaksana. Ini setjara mutlak merupakan Hukum Revolusi, jang ta' dapat dielakkan lagi dan ta' dapat ditawar- tawar lagi! ” ( Djarek halaman 193).
Dengan pimpinan orang-orang revolusioner sedjati” jang bermanipol dalam kata -kata dan perbuatan, Revolusi Indonesia akan terus pasang menggelora untuk memperdjoangkan mati matian tudjuan Revolusi,
Manifesto Politik - Usdek itu benar-benar mentjerminkan tekad revolusionernja Rakjat.
Manifesto Politik - Usdek adalah progressif-kiri. Manifesto Politik-Usdek adalah mengabdi kepada kepentingan masjarakat banjak.
Manifesto Politik -Usdek mengabdi kepada panggilan abad ke-XX, jang sebagai saja katakan tadi penuh menggeletar dengan aliran listrik ! ( Djarek halaman 203-204).
4. LANDREFORM ADALAH BAGIAN MUTLAK REVOLUSI INDONESIA
„ Revolusi Indonesia tanpa landreform adalah sama sadja dengan gedung tanpa alas, sama sadja dengan puhun tanpa batang sama sadja dengan omong besar tanpa isi . Melaksanakan landre form berarti melaksanakan satu bagian jang mutlak dari Revolusi Indonesia",
„ Perombakan hak tanah dan penggunaan tanah ” , magar masjarakat adil dan makmur dapat terselenggara dan chususnja taraf hidup tani meninggi dan taraf hidup seluruh rakjat djelata meningkat".
Tanah tidak boleh mend jadi alat penghisapan , apalagi peng hisapan dari modal-asing terhadap Rakjat Indonesia (Djarek halaman 224).
III. PENEGASAN TENTANG TJARA - TJARA MELAKSANAKAN MANIPOL
Untuk mentjapai maksud dan tudjuan Revolusi, pidato Pemimpin Besar Revolusi /Presiden /Panglima Tertinggi pada tanggal 17 Agustus 1960, telah memberikan beberapa penegasan tentang tjara- tjara melaksanakan Manipol.
1. GOTONG - ROJONG „ Gotong- rojong bukan sekedar satu sifat kepribadian Indo nesia ! Gotong-Rojong bukan sekedar tjorak daripada Indonesian Identity ! Gotong-Rojong adalah djuga satu keharusan dalam perdjoangan melawan imperialisme dan kapitalisme, baik dizaman dulu maupun dizaman sekarang !
Tanpa mempraktekkan samenbundeling van alle revolutionaire krachten untuk digempurkan kepada imperialisme dan kapitalisme itu, djanganlah ada harapan perdjoangan bisa menang ! "
Karena itu Manifesto Politik -Usdek bersemangat ke Gotong Rojongan -bulat dilapangan politik. Karena itu di Solo beberapa pekan jang lalu saja tegaskan perlunja persatuan dan ke Gotong Rojongan antara golongan Islam, Nasional, dan Komunis. Ini adalah konsekwensi-politik jang terpenting bagi semua pendukung Manifesto Politik dan Usdek, satu konsekwensi-politik jang tidak plintat-plintut atau plungkar-plungker bagi semua orang jang setia kepada Revolusi Agustus 1945 .
Djika tidak, maka semua omongan tentang Gotong-Rojong, Manifesto Politik, Usdek, Front Nasional, „ Setia kepada Revolusi”, dan lain sebagainja, hanjalah omong- kosong belaka, lipservice belaka . Salah satu tjiri daripada orang jang betul-betul revolusioner ialah satun ja kata dengan perbuatan, satun ja mulut dengan tindakan, 15 Orang „ revolusioner ” jang tidak bersatu kata dan perbuatan, orang „ revolusioner” jang demikian itu adalah orang revolusioner gadungan !" ( Djarek halaman 213-216) .
„ Di Indonesia ini memang telah ada tiga golongan besar „revolutionaire krachten” , jaitu Islam, Nasional, dan Komunis. Senang atau tidak senang, ini tidak bisa dibantah lagi! Dewa- dewa dari Kajanganpun tidak bisa membantah kenjataan ini !
Djikalau benar-benar kita hendak melaksanakan Manifesto Politik - Usdek,
djikalau benar-benar kita setia kepada Revolusi,
djikalau benar-benar kita setia kepada djiwa Gotong- Rojong,
djikalau kita benar-benar tidak kekanak-kanakan tetapi sedar benar-benar bahwa Gotong -Rojong, Persatuan , Samenbundeling adalah keharusan dalam perdjoangan anti imperialisme dan kapitalisme, maka kita harus mewudjudkan persatuan antara golongan Islam, golongan Nasional, dan golongan Komunis itu .
,,Maka kita tidak boleh menderita penjakit Islamo-phobi, Nasionalisto- phobi, atau Komunisto-phobi! ” ( Djarek halaman 216) .
„ Persatuan itu bukan harus diadakan hanja antara golongan golongan Islam, Nasional dan Komunis sadja melainkan antara semua kekuatan-kekuatan revolusioner.
„ Di Dewan Nasional ada orang-orang Islamnja, ada orang -orang Nasionalnja, ada orang- orang Komunisnja, dan Dewan Nasional berdjalan baik. Di Dewan Pertimbangan Agung malah bukan „ orang -orang ” lagi , melainkan ada gembong -gembong Islam dan gembong -gembong Nasional dan gembong-gembong Komunis, dan Dewan Pertimbangan Agung berdjalan baik. Di Depernas ada banjak sekali wakil-wakil tiga golongan itu , dan Depernas berdjalan baik . Di DPR -GR saja himpunkan wakil-wakil dari tiga golongan itu, ( bahkan dalam pembitjaraan -pendahuluannja di Tampaksiring saja hadapkan Saudara gembong Idham Chalid, gembong Suwirjo, gembong Aidit berhadapan -muka satu sama lain ), dan DPR GRsaja pertjaja pun akan berdjalan baik . Di Panitia Persiapan Front Nasional jang dipimpin oleh Saudara Arudji Kartawinata terhim punlah pentol-pentol tiga golongan ini, dan Panitia Persiapan 16 Front Nasional itu berd jalan baik, bahkan berdjalan amat- amat baik. Dan didalam Madjelis Permusjawaratan Rakjat jang susunan anggautanja telah saja umumkan beberapa hari jang lalu itu, terhimpunlah wakil-wakil tiga golongan itu, dan Madjelis Permu sjawaratan Rakjat pun, saja jakin, akan berdjalan baik.
Tidakkah ini kesemuanja praktek daripada ke-Gotong-Rojong -an jang djudjur antara golongan-golongan jang berke-Tuhanan, Nasionalis dan Komunis, jang semuanja dibakar oleh njerinja siksaan penderitaan Rakjat, tetapi djuga dibakar oleh Apinja Idealisme ingin melaksanakan Amanat Penderitaan Rakjat ? Dan bukankah mereka itu, — itu golongan -golongan Islam, Nasionalis, Komunis, jang kata orang ta' mungkin dipersatukan satu sama lain didalam beberapa Lembaga, misalnja dalam DENAS, didalam D.P.A., selalu berhasil mentjapai mufakat dengan suara bulat diatas dasar musjawarah, tanpa tjakar- tjakaran satu-sama lain, tanpa ngotot-ngototan mentjari kebenaran sendiri dan menjalahkan pihak lain, tanpa setèm-setèman pemungutan suara ?” ( Djarek halaman 217-218) .
„ Semua partai jang pro Manipol dan pro Usdek harus bersatu .
Semua suku-bangsa harus bersatu .
Semua warga-negara, Djawakah ia, Sundakah ia, Minangka baukah ia, Minahasakah ia, Batakkah ia, Bugiskah ia, warganegara harus bersatu , dengan tidak pandang perbedaan sukubangsa, tidak pandang perbedaan agama, tidak pandang ke turunan asli atau tidak asli ” ( Djarek halaman 218).
Ke- gotong- rojongan seluruh potensi nasional supaja diprak tekkan dibidang ekonomi, sosial, kebudajaan dan politik.
Hanja musuh- musuh Revolusi, kaum imperialis dan kaum kontra revolusioner PRRI-Permesta-DI- TII, hanja mereka jang anti Manipol, kita tempatkan diluar -ke -gotong -rojongan nasional.
Ke-gotong-rojongan seluruh potensi nasional merupakan sen djata jang ampuh untuk mengatasi segala kesulitan Negara dan Rakjat dewasa ini, serta akan dapat menunaikan tugas tuntutan Revolusi.
2. FRONT NASIONAL
„Dalam mempertinggi kekuatan nasional itu, Front Nasional menduduki salah satu tempat jang penting. Dalam usul Dewan Pertimbangan Agung tadi itu antara lain diusulkan ( saja ung kapkan lagi sedikit) „ menggalang persatuan Rakjat Revolusioner berupa Front Nasional anti imperialis dibawah pimpinan Bung Karno, sebagai landasan untuk membangkitkan aksi-aksi massa ” ( Djarek halaman 236).
„Mendjadi Front Nasional itu adalah satu hal jang prinsipil fundamentil : sebab pembangunan semesta ta ' mungkin berhasil tanpa mobilisasi tenaga semesta pula. Revolusi ta' mungkin berdja lan penuh tanpa ikut berevolusinja seluruh Rakjat”. ( Djarek halaman 236). Dilapangan perdjoangan bangsa kita harus menggembleng dan menggempurkan persatuan daripada segala kekuatan -kekuatan revolusioner, menggembleng dan menggempurkan " de samen bundeling van alle revolutionaire krachten in de natie " . (Djarek halaman 213).
„ Front Nasional itulah dus jang harus menggalang semangat dan tenaga latent dikalangan Rakjat, didjadikan satu gelombang ke-holopis-kuntul-barisan untuk menjelesaikan Revolusi”. (Djarek halaman 236)
3. RETOOLING
A. Alat - alat Nega r a .
„Alat- alat jang lama harus diganti. Oleh karena itu mutlak perlunja retooling. Dengan alat- alat jang lama saja maksudkan terutama lembaga -lembaga, aparat-aparat, orang -orang pengabdi kolonialisme dan kapitalisme, orang- orang jang otak dan hatinja telah berdaki-berkarat ta ” dapat menjesuaikan diri dengan Mani festo Politik -Usdek . Sungguh, alat-alat jang lama itu harus kita retool! Dalam tahun ke-II Manifesto Politik -Usdek ini kita harus sungguh -sungguh " aanpakken” soal retooling ini benar-benar ” . ( Djarek halaman 211).
Masih banjak orang - orang dalam kalangan apparatur Nega ra, orang -orang kwalitet ndoro -ndoro dan djuragan-djuragan, wanita-wanita jang kwalitet dèn -adjeng dèn-adjeng dan dèn-aju dèn -aju — , jang tidak mengerti artinja tenaga massa dan semangat massa , bahkan menderita penjakit massa phobi, dan Rakjat-phobi, jaitu takut kepada massa dan takut kepada Rakjat. Djiwa ndoro dan djiwa dén aju itu harus kita tjutji sama sekali, dan harus kita kikis sama sekali, agar supaja Revolusi dapat berdjalan benar-benar sebagai Revolusi Rakjat, dan oleh karenanja berdjalan se-effisien effisiennja pula ”. ( Djarek halaman 236 - 237).
Pelaksanaan retooling ini sebagai salah satu prinsip pelak sanaan Revolusi dari atas dan dari bawah mempunjai peranan jang menentukan.
„ Dari atas, dengan adanja retooling terhadap apparat dan sistim , dari bawah , karena retooling apparat dan sistim itu dilakukan sesuai dengan desakan Rakjat dan didukung pula oleh Rakjat. Kalau hanja dari atas sadja, maka itu bukan revolusinja massa , dus bukan Revolusi ; kalau hanja dari bawah sadja maka itu sematjam rebelli ” . ( Djarek halaman 241).
Tentu sadja pelaksanaan retooling ini tidak boleh menjimpang dari Program Revolusi. Ini perlu diperingatkan karena retooling ini bisa disalah- gunakan oleh fihak-fihak tertentu.
Retooling sesuai dengan Manifesto Politik-Usdek, tidak bisa lain bahwa badan-badan perdjuangan dan badan-badan pemerintah atau badan-badan ekonomi jang tidak sesuai dengan Undang -Undang Dasar '45 dan bertentangan dengan Program Revolusi harus diganti, demikian pula sesuai dengan Djarek hala man 70, bahwa orang-orang jang diberi tugas, tapi tidak berhati penuh atau tidak betjus untuk melaksanakan Manipol harus diretool dan diganti dengan orang-orang jang benar-benar mau melaksanakan Manipol.
Semua peralatan lama jang korup, jang birokratis, jang tidak mampu, jang tidak seirama dengan tuntutan zaman harus diganti dengan peralatan baru jang membela kepentingan nasional Rakjat Indonesia .
B. Lembaga - lembaga Nega r a .
Dibentuknja DPAS, retooling dan dibangunkannja MPRS adalah sesuai dengan Undang-Undang Dasar '45. Lembaga-lembaga ini merupakan alat demokrasi dan sekaligus merupakan alat revolusi .
C. Kepartaia n dan Organis a si-Orga nisa si m assa.
Dibentuknja Front Nasional anti imperialis sebagai landasan untuk membangkitkan aksi-aksi massa adalah sesuai dengan Manipol-Usdek.
Retooling dalam bidang kepartaian dengan dibubarkannja partai-partai Masjumi-PSI jang membahajakan Negara adalah sesuai dengan perasaan dan pikiran Rakjat dan sesuai dengan tuntutan revolusi dewasa ini.
„ Djanganlah mengira, bahwa dengan ini Pemerintah memu suhi Islam. Memang ada orang-orang jang dengan tjara jang amat litjin sekali menghasut-hasut, bahwa „ Islam berada dalam baha ja”. Hasutan jang demikian itu adalah hasutan jang djahat. Sebab Pemerintah tidak membahajakan Islam, sebaliknja malah menga gungkan semua agama. Pemerintah bertindak terhadap partai jang membahajakan Negara ! ( Djarek halaman 212 ).
„ Akan tinggallah partai- partai jang mendukung Undang- undang Dasar 45, Manipol dan Usdek . Dengan tegas saja katakan disini, bahwa partai-partai itu, dengan memenuhi semua sjarat-sjarat per undang-undangan kepartaian, diberi hak hidup, diberi hak bergerak, diberi hak perwakilan, - sudah barang tentu dalam rangka Demokrasi Terpimpin. Partai-partai jang demikian itu dapat memberi sumbangan besar kepada terlaksananja Amanat Penderi taan Rakjat” . ( Djarek halaman 213 ).
D. Ekonomi, produksi dan distribusi.
Retooling dibidang ekonomi dengan mendjadikan ekonomi sektor negara memegang posisi komando, adalah sesuai dengan Ekonomi Terpimpin. Retooling ini perlu terus dilandjutkan supaja 20 dalam praktek sungguh -sungguh ekonomi sektor negara dapat memimpin ekonomi sektor partikelir ” . ( Djarek halaman 213).
Maksud retooling diperusahaan -perusahaan Negara dan disemua PT- PT Negara dengan membentuk dewan -dewan jang berkewadjiban membantu pimpinan perusahaan untuk memper. tinggi kwantitet dan kwalitet produksi dan untuk mengawasi kaum pentjoleng-pentjoleng, kaum koruptor-koruptor, kaum penipu-. penipu, kaum pentjuri-pentjuri kekajaan Negara, adalah sesuai dengan tuntutan kaum buruh dan seluruh rakjat serta sesuai pula dengan tugas nasional daripada perusahaan -perusahaan Negara. ( Djarek halaman 220-221).
Tentang perlu segera adanja retooling RK -RT sebagai sjarat untuk melantjarkan distribusi barang-barang konsumsi ada. lah sesuai pula dengan harapan Rakjat banjak ( Djarek halaman 221).
Soalnja sekarang ialah retooling sesuai dengan maksud Manipol perlu segera didjalankan dan ditjegah pensalahgunaan wewenang Keadaan Perang.
4. IRIAN.B A R A T
„Berdasarkan pengalaman-pengalaman politik pembebasan Irian Barat dari Kabinet- kabinet jang lalu, disamping kenjataan sikap kepalabatu kolonialis Belanda jang makin memperkuat pendudukan militernja di Irian-Barat, dan berhubung dengan penemuan kembali Revolusi Indonesia pada garis Undang- undang Dasar 45, maka adalah satu keharusan, bahwa Kabinet Kerdja melaksanakan politik pembebasan Irian - Barat setjara revolusioner menurut bahasa tersen diri Revolusi Nasional Indonesia ” . ( Djarek halaman 233) .
Politik kita dalam mas'alah Irian - Barat adalah „politik konfrontasi antara segala kekuatan nasional kita terhadap Belanda " . ( Djarek halaman 233) .
Dengan demikian bila dianggap perlu sesuai dengan iklim politik pada satu saat, Pemerintah bersama dengan seluruh Rakjat Indonesia dapat melakukan tindakan setjara sepihak terhadap Belanda mengenai soal Irian-Barat .
„ Dalam keadaan jang demikian itu , tidak ada gunanja lagi hubungan diplomatik dengan negeri Belanda. Tadi pagi telah saja perintahkan Departemen Luar Negeri memutuskan hubungan diplomatik dengan negeri Belanda ” . ( Djarek halaman 233).
Dengan garis politik diatas, mendjadi djelas sikap politik R.I. dan Rakjat Indonesia mengenai Irian-Barat. Ini berarti bahwa di dalam dan diluar negeri kita harus menggalang segala kekuatan menghadapi segala kemungkinan „ djalan lain ” dan melakukan tindakan-tindakan dalam bidang ekonomi terhadap kepentingan Belanda dan kaum imperialis lainnja jang membantu Belanda dalam soal Irian-Barat.
5. KEAMANAN
„ Mengenai keamanan dalam arti chusus maka kita harus:
Pertama : Melakukan operasi-operasi tempur jang semakin hebat dan semakin sempurna, untuk dengan pukulan-pukulan jang dahsjat menggempur-menghantjurkan gerombolan-gerombolan pengatjau tadi.
Kedua : Melakukan operasi-operasi territorial jang semakin hebat dan semakin sempurna pula, untuk memisahkan gerombolan dari dukungan masjarakat dan mengembalikan serta menegakkan kembali kewibawaan Negara, baik strukturil menegakkan kembali alat- alat pemerintahan dari atas sampai kebawah, maupun idiil meng- Usdek -kan seluruh masjarakat, berbarengan dengan rehabili. tagi sosial-ekonomis.
Ketiga : inipun mutlak perlu - mengintensifkan opera si-operasi mental, dan chusus penertiban dan penjehatan alat- alat Negara sipil dan militer, baik teknis maupun ideologis, sebagai jang telah ditentukan dalam Manifesto Politik.
Keempat : Dengan makin hebatnja dan makin sempurnanja operasi -operasi ke I, ke II, dan ke III tadi, maka akan lebih banjak pula djumlah gerombolan jang „ kembali kepangkuan Republik ” sebagaimana dimungkinkan dan disjaratkan dalam Manifesto Politik.
Kelima : Semua usaha- usaha jang saja sebutkan itu harus dirampungkan ( dibulatkan ) dengan tindakan-tindakan follow -up 22 sebagai operasi-operasi landjutan untuk rehabilitasi daerah dan pembangunan didaerah, sehingga tertjapailah konsolidasi dan stabilisasi territorial, guna mentjapai normalisasi dan pengachiran Keadaan Bahaja”. ( Djarek halaman 227) .
„ Pokoknja sekarang ialah, supaja diachirilah pensalah -gunaan alau penggunaan kesempatan oleh siapapun djuga adanja SOB ( adanja Keadaan Bahaja ) untuk menggemukkan kantong sendiri ” . ( Djarek halaman 226 ).
„ Dan selalu harus diinsjafi, bahwa soal keamanan bukanlah soal bagi tentara sadja, bukanlah soal bagi polisi sadja, melainkan satu soal Rakjat seluruhnja ”. ( Djarek halaman 226 ).
„Kita belum boleh puas dengan hasil-hasil jang telah tertjapai. Kita masih perlu mengerahkan segenap urat-urat dan segenap otot-otot lagi, kita masih perlu lebih giat dan lebih hebat memak simumkan semua usaha, agar dalam waktu dua tahun lagi ( sampai 17 Agustus 1962 ) Insja Allah tertjapailah keamanan diseluruh wilajah Republik ”. ( Djarek halaman 228 ).
6. POLITIK LUAR NEGERI
„ Kita tidak netral, kita tidak penonton-kosong daripada kedjadian -kedjadian didunia ini, kita tidak tanpa prinsipe, kita tidak tanpa pendirian. Kita mendjalankan politik bebas itu tidak sekedar setjara „tjutji tangan ", tidak sekedar setjara defensif, tidak sekedar apologetis. Kita aktif, kita berprinsipe, kita berpendirian ! Prinsipe kita ialah terang Pantja Sila, pendirian kita ialah aktif menudju kepada perdamaian dan kesedjahteraan dunia, aktif menudju kepada persahabatan segala bangsa, aktif menudju kepada lenjapnja exploitation de l'homme par l'homme, aktif menentang dan menghantam segala matjam imperialisme dan kolonialisme dimanapun dia berada.
Pendirian kita jang „ bebas dan aktif” itu, setjara aktif pula setapak demi setapak harus ditjerminkan dalam hubungan ekonomi dengan luar negeri, agar supaja tidak berat sebelah ke Barat atau ke Timur" . (Djarek halaman 231).
7. MEMPERTINGGI PERADABAN DAN INDOKTRINASI MANIPOL
Dalam Djarek, Presiden menanja : „Dapatkah sosialisme diselenggarakan oleh bangsa jang buta-huruf” ?
Saja komandokan sekarang, supaja buta -huruf itu habis sama sekali pada achir tahun 1964 ! Dan saja komandokan kepada semua sekolah - sekolah dan universitas-universitas, supa ja semua murid mahasiswa di Usdek -kan dan di Manipol-kan ! (Djarek halaman 238).
8. TANAH UNTUK TANI "
„ Landreform disatu fihak berarti penghapusan segala hak-hak asing dan konsesi-konsesi kolonial atas tanah, dan mengachiri penghisapan feodal setjara berangsur-angsur, dilain fihak Landre form berarti memperkuat dan memperluas pemilikan tanah untuk seluruh Rakjat Indonesia terutama kaum tani. ( Djarek halaman 224 ).
„ Ja! tanah tidak boleh mendjadi alat penghisapan ! Tanah untuk Tani ! Tanah untuk mereka jang betul- betul menggarap tanah ! Tanah tidak untuk mereka jang dengan duduk ongkang ongkang mendjadi gemuk.gendut karena menghisap keringatnja orang-orang jang disuruh menggarap tanah itu ! ( Djarek halaman 224 ) .
Melupakan tugas melawan keterbelakangan feodal, berarti tidak membebaskan kaum tani dari penghisapan kaum lintah -darat dan tuan - tanah , berarti tidak menarik sebagian besar dari Rakjat Indonesia kedalam geloranja revolusi. Djalan ini adalah djalan jang salah, ibarat orang bertarung memakai satu tangan.
Membebaskan kaum tani dari beban beban feodal dan mem berikan kepada mereka sebidang tanah garapan, menghapuskan sistim tuan tanah akan menimbulkan elan revolusioner dikalangan kaum tani serta dapat membawa mereka kedalam arus revolusi untuk menjelesaikan tuntutan - tuntutan Revolusi Agustus 1945.
Dengan mendjalankan Landreform setjara konsekwen dan menguntungkan massa luas daripada kaum tani , Revolusi akan terus menaik dan kemenangan Revolusi berarti diambang pintu .
9. PELAKSANA
„Oleh karena itulah maka orang- orang jang diberi tugas, tapi tidak berhati penuh atau tidak betjus untuk melaksanakan Mani festo Politik-Usdek harus diretool ! Tetapi Saudara- saudara djuga, Saudara- saudara dari kalangan Rakjat, Saudara - saudarapun ta' luput dari memikul kewadjiban ! Saudara-saudara jang sudah sedar, harus aktif menjumbangkan tenaga kepada realisasi Manipol-Usdek itu. Saudara- saudara jang belum sedar jang tidak mengerti sedikit pun tentang Manipol-Usdek, apalagi pelaksanaan Manipol-Usdek, Saudara-saudara jang demikian itu harus di-indoktrinasi, harus disedarkan , harus dikotjok -dihojag -hojag, ditempa, digembleng, sampai betul-betul mereka mendjadi sedar, dan mendjadi orang. orang jang menjumbang setjara aktif, menjumbang setjara dinamis -revolusioner" . (Djarek halaman 239).
„ Serahkanlah djiwa -ragamu mutlak ! Sekali lagi serahkanlah djiwa-ragamu mutlak ! Sebab Tuhan bentji kepada orang jang setengah-setengah”. (Djarek halaman 246 ).
„Benar sekali : tergantung pada orang -orang jang harus me laksanakan ! Chususnja orang -orang jang diberi tugas, umumnja orang-orang 90.000.000 djiwa jang bernama Rakjat Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. „ Tenslotte beslist de mens”, inilah sifat dari Fristz Sternberg jang saja gemar sekali mensitirkannja. Pada achirnja manusialah jang menentukan " . ( Djarek halaman 239).
„ Manusia jang betul-betul revolusioner, jang salah satu tjirinja ialah satunja kata dengan perbuatan, satunja . mulut dengan tindakan !” ( Djarek halaman 216).
Djakarta, 19 Djanuari 1961 .