BLANTERORIONv101

#15 IBRAHIM, MUHAMMAD DAN NUSANTARA

17 Juni 2022
Terungkapnya realitas sejarah yang membuktikan bahwa ajaran Islam telah masuk ke bumi Nusantara pada masa Rasulullah masih hidup, tentu menghadirkan cakrawala baru bagi kita dalam melihat perjalanan panjang garis peradaban para nabi Allah. Sebagaimana yang telah kita bahas dalam kajian kita yang telah lalu tentang “garis perjanjian Allah Ibrahim”, dimana dari itu kita memahami bahwa sebenarnya perjalanan panjang peradaban umat manusia tidaklah lepas dari garis perjanjian tersebut. Maka, peradaban yang muncul dari tanah Nusantara ini menjadi nampak bukanlah peradaban yang terputus dari garis perjanjian tersebut. Terlebih-lebih lagi telah banyaknya pernyataan dan pengungkapan dari para ulama, ilmuan dan sejarawan yang menyebutkan bahwa di tanah Nusantara inilah garis keturunan ketiga Nabi Ibrahim dari istri ketiganya yang bernama Qanturah itu berada.
 
Kemunculan peradaban Islam di tanah Arab yang dibawa oleh Nabi Muhammad itu, kita tahu sebenarnya adalah hal yang kedatanganya sudah diketahui oleh Nabi Ibrahim dan bahkan telah dipersiapkannya jauh-jauh hari. Jadi meski jarak Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad sejauh 2800 tahun, titik kebangkitan peradaban Baitullah di tanah Arab itu sudah Nabi Ibrahim siapkan pada masa hidupnya. Ditempatkannya Siti Hajar bersama Ismail di tanah Arab adalah bagian dari skenario peradaban yang memang akan berjalan mengikuti pola perjanjian itu. Jadi meski di satu sisi Nabi Ibrahim harus mempersiapkan kebangkitan peradaban di tanah Yerusalem dari garis keturunan Ishaq, namun titik kemunculan peradaban berikutnya di tanah Arab dari garis keturunan Ismail pun telah Nabi Ibrahim persiapkan pada masanya itu.
 
“Dan sungguh, Kami telah mempergilirkan itu di antara mereka agar mereka mengambil pelajaran; tetapi kebanyakan manusia tidak mau (bersyukur), bahkan mereka mengingkari. Dan sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami utus seorang pemberi peringatan pada setiap negeri.” (QS. Al-Furqan [25]:50-51)
 
Prihal keberadaan garis keturunan ketiga Nabi Ibrahim yang berasal dari Qanturah, adalah hal telah disepakati para ulama dan sejarawan. Terdapat banyak buku dan kitab yang dapat menjadi rujukan tentang perkara ini. Selain dari kitab Perjanjian Lama milik umat Yahudi dan Nasrani, hal ini juga tertulis di dalam kitab Al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir, kitab At-Ta'rif wal I’lam karya Abu Qasim As-Suhaili, Tafsir Al-Azhar karya Abuya Hamka, Al-Qur’an Terjemahan dan Tafsir karya Maulana Muhammad Ali, buku Salib di Bulan Sabil karya Ahmad Suhelmi, kitab Al-Kamil fi Al-Tarikh karya Ibnu Atsir dan kitab-kitab lainnya. Berikut ini adalah kutipan dari kitab Al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir (774 H):
 
أول من ولد له إسماعيل من هاجر القبطية المصرية ، ثم ولد له إسحاق من سارة بنت عم الخليل ، ثم تزوج بعدها قنطورا بنت يقطن الكنعانية فولدت له ستة ؛ مدين ، وزمران ، وسرج ، ويقشان ، ونشق ، ولم يسم السادس . ثم تزوج بعدها حجون بنت أمين فولدت له خمسة ؛ كيسان ، وسورج ، وأميم ، ولوطان ، ونافس . هكذا ذكره أبو القاسم السهيلي في كتابه ” التعريف والإعلام
 
”Anak pertama dari Nabi Ibrahim adalah Nabi Ismail dari istri beliau bernama Hajar Al-Qibtiyah Al-Misriyyah. Kemudian lahirlah Nabi Ishaq dari istri beliau Sarah Binti ‘Am Al-Khalil, kemudian beliau menikah setelahnya dengan istri Qanturah binti Yaqthan Al-Kan’aniyah, Maka Qanturah melahirkan 6 orang anak, bernama Madyan, Zimran, Suraj, Yuqsan, Nusyaq dan anak yang ke-6 tidak diketahui namanya. Sedangkan Istri ke-4 beliau adalah Hajun binti Amin, kemudian ia melahirkan anak sebanyak 5 orang, yaitu Kisan, Suraj, Amim, Luthan, Nafis. Semua penjelasan ini telah disebutkan oleh Abu Qasim As-Suhaili didalam kitabnya At-Ta'rif wal I’lam.”
 
Adapun prihal pandangan Bani Jawi atau Bangsa Melayu atau penghuni tanah Nusantara ini adalah keturunan dari Qanturah istri ketiga Nabi Ibrahim itu, selain dari pada ada dituliskan dalam berberapa kitab para ulama, seperti halnya diceritakan dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir dan kitab “Al-Kamil Fi Al-Tarikh” karya Ibnu Atsir, hal ini juga diperkuat dengan riset yang dilakukan oleh sejumlah Profesor dari Universitas Kebangsaan Malaysia dimana hasil riset tersebut menyebutkan bahwa data tes DNA antara bangsa Melayu atau umumnya Bani Jawi dengan DNA yang dimiliki bangsa Euro-Semetik yang selama ini diakui sebagai keturunan Nabi ibrahim, keduanya punya kesamaan pada 27% varian Mediternanian. 
Variant Mediterranaen sendiri terdapat juga di dalam DNA keturunan Nabi Ibrahim yang lain, seperti pada bangsa Arab dan Bani IsrailDan pada Kongres Sejarawan Melayu Dunia yang diadakan pada tahun 1995, dengan memperimbangkan bukti-bukti yang ada disimpulkan bahwa Qanturah adalah nenek moyang Bangsa Melayu.

Dan berikut ini adalah kisah yang diceritakan dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir dan Kitab Al-Kamil Fi Al-Tarikh:
 
Anak-anak Nabi Ibrahim dari Qanturah datang kepada bapaknya Ibrahim dengan perasaan sedih dan berkata: "Wahai bapak kami, tidak adakah dari kalangan kami yang menjadi seorang Rasul pun yang di utus? Kalau begitu derajat kedudukan kami jauh di bawah derajat bapak kami, tidak kah kami seperti saudara-saudara kami dari Nabi Ishaq yang dijanjikan kemenangan atas mereka dengan diangkatnya banyak rasul dari kalangan mereka."
 
Nabi Ibrahim hanya bisa diam karena Jibril masih belum menurunkan wahyu mengenai anak-anaknya dari kalangan anak-anak Qanturah yang digelar Jawi itu. Perasaan sedih dan rendah diri anak-anak Jawi itu berlarut begitu lama karena semua berita dari Suhuf Ibrahim banyak mengisahkan tentang Ishaq, Yakub dan anak cucu mereka yang memiliki martabat Rasul Pilihan. Begitu juga mengenai Ismail yang akan lahir dari keturunannya seorang Nabi dan Rasul Pilihan Allah, penutup segala Nabi dan Rasul yang teragung dan bangsanya yang dimuliakan.
 
Nabi Ibrahim sering berdoa demi mendengar pengaduan anak-anak Jawi-nya sambil diaminkan oleh mereka: "Ya Tuhan kami, utuslah di kalangan mereka seorang Rasul yang membacakan atas mereka ayat-ayat Engkau dan mengajar mereka kitab dan hikmah dan menyucikan mereka, sesungguhnya Engkau Maha Mulia lagi Maha Bijaksana. Ya Tuhan kami kurniakanlah dari isteri-isteri kami dan zuriat keturunan kami seorang penyejuk mata dan jadikanlah kami pemimpin dari orang-orang yang bertakwa."
 
Begitu sayu doa Nabi Ibrahim sehingga Jibril datang dan memberi kabar berita: "Wahai Ibrahim, kabarkanlah berita gembira ini kepada anak-anakmu dari Qanturah bahwa mereka memperoleh satu derajat di sisimu di dalam Firdaus dan perintahkan kepada mereka untuk pergi ke Timur dan sempurnakanlah agama Islam yang engkau sampaikan yang belum sempat menyempurnakannya. Mereka akan kembali di akhirat kelak cahaya mereka seperti cahaya anbiya dan rasul sedangkan mereka bukanlah anbiya atau pun rasul."
 
Perasaan gembira Nabi Ibrahim jelas kelihatan dengan wajahnya yang bercahaya gilang gemilang dan memanggil semua anak-anaknya dari Qanturah, yakni: Zimran, Jokhsan, Medan, Midian, Ishbak, Shuah, anak-anak Jokhsan: Sheba Dan Dedan. Kata Ibrahim: "Wahai anak-anakku, bergembiralah bahwa kamu semua akan memperoleh cahaya para anbiya dan para rasul dan pergilah kamu ke timur. Aku telah meninggalkan satu kaum di sana semasa diperintahkan oleh Allah meninggalkan Hajar dan Ismail dan kemudian aku diperintahkan untuk kembali ke Palestine. Selama 9 tahun kaum itu aku seru kepada agama Allah dan belum sempat aku sempurnakan, maka di atas pundak kalian kuserahkan tugasku ini."
 
Dari kisah di atas, kita mendapati bahwa keturunan dari Qanturah ini; khusunya yang diutus ke timur, tidaklah dari mereka akan menjadi Nabi dan Rasul tapi Allah menjanjikan cahaya mereka seperti cahaya para Nabi dan Rasul. Memang dari kisah yang lain ada menyebutkan bahwa salah satu keturunan dari Qanturah yang bernama Midian; yang tidak termasuk mereka yang diutus ke timur itu, dari keturunannya lahir seorang Nabi yang bernama Syuaib yang menjadi nabi bagi kaum Madyan. Maka dari pada ini kita melihat bahwa memang masa kejayaan yang dijanjikan kepada garis keturunan Qanturah ini akan berada di luar masa kenabian atau berada di masa setelah Nabi Muhammad yang kita tahu adalah penutup dari para nabi itu.
 
Dari kisah tersebut pula kita mendapati bahwa pada masa hidupnya Nabi Ibrahim, rupanya ia bukan saja hanya mempersiapkan kebangkitan peradaban di tanah Palestina dan tanah Arab, tapi juga telah mempersiapkan kebangkitan peradaban di tanah Nusantara. Nabi Ibrahim disebutkan datang memberi seruan tentang ajaran agama Ibrahim selama 9 tahun lamanya di tanah Nusantara ini. Dan setelah turunnya keterangan yang dibawa oleh Jibril kepada Ibrahim tentang janji bagi keturunannya dari garis Qanturan, kemudian dikirimlah anak-anak Qanturah itu ke tanah peradaban Bani Jawi untuk menyempurnakan apa yang telah Nabi Ibrahim ajarkan kepada mereka. Dan dari pada itu, maka kita dapat mengerti bahwa datangnya utusan Nabi Muhammad ke tanah Nusantara di masa hidup Nabi Muhammad itu, hal ini bukan saja lantaran karena kebetulan tanah Nusantara adalah jalur ekpedisi perdagangan antara negeri Arab dan negeri Cina, tapi terlebih lagi dari itu hal ini juga adalah karena Nabi Muhammad hendak mempersiapkan estafeta titik kebangkitan peradaban selanjutnya.
 
Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya. (QS. Al-Araf [7]:34)
 
Dan perkara ini juga membuat kita menjadi mengerti akan kenyataan bagaimana mudahnya ajaran Islam itu diterima oleh penduduk Indonesia ini. Kedekatan kita dengan ajaran Ibrahim; dengan ajaran tauhidnya itu; dengan ajaran perserahan diri kepada Tuhan Semesta Alam-nya itu, membuat kehadiran Islam di tanah ini menjadi sangat kompatibel dengan jiwa kita yang memang telah mengesakan Tuhan sejak lama. Terlalu berpanjang lebar memang untuk dijelaskan di sini perihal ajaran-ajaran leluhur Bani Jawi yang memang telah mengenal ajaran tunduk patuh kepada Tuhan Semesta Alam; kepada Tuhan Yang Esa itu sejak lama. Dan bahkan tidak sedikit naskah-naskah kuno peninggalan para leluruh Nusantara ini yang mengisahkan kisah-kisah yang menunjukan kesamaan kisah dengan kisah Ibrahim yang kita kenal dalam kitab-kitab Islam.
 
Hal terpentingnya buat kita saat ini, dalam menanggapi realitas bahwa kita orang-orang Indonesia ini merupakan kumpulan terbesar keturunan Ibrahim dari garis keturunan Qanturah dan bahwa kita terkoneksi dengan garis perjanjian Allah Ibrahim itu, adalah kita harus berada dalam mode sadar sepenuhnya akan kehadiran peradaban yang menjadi penggenapan dari syariat peradaban yang di bawa oleh Nabi Muhammad itu. Kita harus sadar betul bahwa hari ini peradaban luhur yang berpijak kepada Milatul Ibrahim dan berdiri di atas Minhaj Nubuwwah itu telah hadir dan hidup di negeri kita ini. Bahwa peradaban Madinah yang terjeda penggenapannya oleh kehadiran maklumat surat At-Taubah itu, telah bermanifestasi menjadi peradaban negeri Indonesia ini. Jadi jangan sampai karena kepicikan berpikir dan sempitnya wawasan kita, membuat kita tidak mengenali kehadirannya dan bahkan menolaknya. Tentang perkara itu kita akan bahas pada kajian kita berikutnya.
 
Sebagai penutup, berikut ini adalah pernyataan Ali bin Abi Thalib yang dikutip dari kitab “Al-Jifr A’zham” tentang keterangan akhir zaman yang diperolehnya dari Nabi Muhammad, yang menyebutkan keberadaan sebuah negeri yang akan membawa kejayaan Islam di akhir zaman. Dimana ciri-ciri dari negeri tersebut sangatlah bertautan dengan negeri yang kita pijak hari ini. Dan delapan ciri dari negeri yang disebut akan membawa kejayaan Islam di akhir zaman tersebut adalah sebagai berikut:
 
1. Mayoritas penduduk negeri itu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.
2. Penduduk negeri itu berasal dari golongan ‘Ajam yakni orang-orang non Arab.
3. Penduduk negeri itu baik-baik dan banyak yang dapat membaca Al-Quran.
4. Negeri itu memiliki tanah yang sangat luas dan banyak orang yang hijrah ke negeri itu.
5. Negeri itu memiliki pulau yang jumlahnya lebih dari ratusan dan di negeri itu tinggal keturunan-keturunan Rasulullah (para habib dan sayyid).
6. Negeri itu banyak dinaungi oleh gunung-gunung yang besar dan di negeri itu sering terjadi gempa.
7. Negeri itu menjalin hubungan luar negeri dengan negeri-negeri yang ada di sekitarnya, yakni Negeri China yang berada di Timur Jauh dan Negeri yang berada di belakang Laut Kuning yang namanya sesuai dengan nama rajanya yang dahulu, yang bernama Koreo (Korea).
8. Di akhir zaman, negeri ini akan menjadi Jaya, dimana semua pulau-pulau yang dimilikinya akan dibuka dan terbuka pada masa Imam Mahdi dan Nabi Isa as.

Komentar