edysuryadi.link

Berilmu Berbudi Berbakti

Menu Utama
Beranda Koleksi Buku Tentang Kami Kontak
Kategori
Sejarah Indonesia Sejarah Dunia Spiritual Agama Islam Psikologi Kesehatan Kajian Qur'an Filsafat Pancasila

edyuryadi.link

Berilmu Berbudi Berbakti

  • Home
  • Koleksi
  • Tentang
  • Kontak

PROLOG – PERTANYAAN YANG MENENTUKAN ARAH ZAMAN

Ada satu pertanyaan yang jarang benar-benar kita renungkan dengan jernih:

Apa yang sebenarnya dimaksud dengan Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah?

Di tengah hiruk-pikuk wacana, seruan, dan klaim yang saling bersahutan, istilah ini sering kali diangkat dengan penuh semangat—namun tidak selalu dengan kedalaman pemahaman.

Sebagian menjadikannya cita-cita. Sebagian menjadikannya slogan. Sebagian lagi menjadikannya alat perjuangan. Namun sedikit yang benar-benar berhenti… untuk bertanya.

Apakah yang kita maksud, benar-benar sama dengan apa yang Rasulullah maksudkan

Pembahasan tentang khilafah tidak bisa dilepaskan dari sebuah hadits yang sangat masyhur, yaitu hadits tentang Lima Fase Zaman riwayat Imam Ahmad. Hadits inilah yang kerap dijadikan landasan utama bagi mereka yang meyakini akan kembalinya khilafah di akhir zaman.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Adalah masa Kenabian itu ada di tengah-tengah kamu sekalian, adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa Khilafah ‘ala minhajin Nubuwwah (Pemerintahan yang mengikuti jejak kenabian) adanya atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa Mulkan ‘Adlon (Kerajaan yang menggigit), adanya atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa Mulkan Jabbariyah (Kerajaan yang zalim), adanya atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya, apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah (Pemerintahan yang mengikuti jejak kenabian).” Kemudian beliau diam.”  

(HR. Ahmad)

 

Hadits ini bukan sekadar kabar. Ia adalah peta. Namun peta tidak akan bermakna tanpa pemahaman arah.

Jika benar bahwa suatu masa akan datang—di mana Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah kembali hadir di tengah umat manusia—maka pertanyaan mendasarnya adalah:

Bagaimana kita mengenalinya? Dengan ukuran apa kita menilainya sebagai kebenaran?

Sebab sejarah telah berulang kali menunjukkan: tidak semua yang mengaku membawa kebenaran, benar-benar berada di atas kebenaran.

 

Dalam mencari jawabannya, kita hanya memiliki dua kompas: Al-Qur’an dan As-Sunnah. Namun di sinilah sering terjadi kekeliruan yang halus namun mendasar.

As-Sunnah tidak boleh dipersempit hanya sebagai kumpulan teks hadits. Ia adalah totalitas jejak hidup Rasulullah ﷺ—cara beliau memimpin, mengambil keputusan, membangun masyarakat, dan menegakkan keadilan. Dengan kata lain, Sunnah bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk dipahami dalam konteks kehidupan yang utuh.

Karena itu, memahami hadits ini tidak cukup dengan melihat satu potongan sejarah. Ia menuntut kita untuk menelusuri keseluruhan perjalanan zaman.

Dari Nabi Adam… ke Nuh… ke Ibrahim… ke Musa… ke Isa… hingga Nabi Muhammad ﷺ…dan berlanjut sampai kepada kita hari ini.

Sebab Islam bukanlah agama yang lahir dalam satu zaman tertentu. Ia adalah arus panjang peradaban tauhid yang mengalir sejak awal penciptaan manusia.

Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

“Para nabi bagaikan saudara seayah, agama mereka satu yaitu agama Islam, dan ibu-ibu (syari’at-syari’at) mereka berbeda-beda”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Maka memahami Islam secara utuh berarti memahami kesatuan risalah para nabi. Di titik inilah, kita menyadari sesuatu yang sangat penting: Khilafah yang dimaksud dalam hadits tersebut tidak bisa diukur dari kejayaan sejarah semata.

Ia tidak cukup dilihat dari kemegahan dinasti, luas wilayah, atau kekuatan politik. Karena kebenaran tidak selalu berdiri di atas puncak kekuasaan. Dan kejayaan tidak selalu identik dengan kemurnian jalan.

Kunci dari semuanya terletak pada satu frasa: “‘ala minhajin nubuwwah” — di atas jalan kenabian.

Inilah inti. Inilah ukuran. Inilah pembeda.

Bukan pada nama. Bukan pada simbol. Bukan pada klaim. Tetapi pada kesesuaian dengan jejak kenabian itu sendiri.

Maka pertanyaan kita pun berubah:

Bukan lagi “siapa yang menegakkan khilafah?” tetapi “apakah ia benar-benar berjalan di atas jejak kenabian?”

Untuk menjawabnya, kita harus kembali kepada sumber yang paling jernih: Kisah para nabi.

Allah berfirman:

“Dan semua kisah para rasul itu Kami ceritakan kepadamu agar dengannya Kami teguhkan hatimu; dan di dalamnya terdapat kebenaran, pelajaran, dan peringatan bagi orang-orang beriman.”
(QS. Hud: 120)

Setiap kisah adalah petunjuk. Setiap nabi adalah cermin. Setiap perjalanan adalah arah.

Jika disatukan, semuanya membentuk satu gambaran utuh tentang bagaimana kehidupan seharusnya dijalankan. Dan di atas semua itu, Al-Qur’an menegaskan satu prinsip yang tak boleh dilupakan:

“Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya.”
(QS. Asy-Syura: 13)

Artinya, setiap upaya menegakkan agama—termasuk khilafah—harus mengarah pada kesatuan, bukan perpecahan. Harus menghidupkan fitrah, bukan mematikan nurani. Harus melahirkan rahmat, bukan konflik yang tak berkesudahan.

Hari ini, banyak yang berbicara atas nama agama. Banyak yang mengutip ayat dan hadits. Banyak yang mengklaim sebagai pembawa kebenaran.

Namun tidak semua yang bersuara lantang, berjalan di jalan yang benar. Maka buku ini tidak hadir untuk membenarkan siapa pun. Dan tidak pula untuk menolak tanpa dasar. Buku ini hadir untuk mengajak kembali melihat dengan jernih.

Menelusuri jejak kenabian secara utuh. Menyusun kembali kepingan-kepingan kebenaran. Dan menemukan makna sejati dari: Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah.

Sebab pada akhirnya, kebenaran tidak ditentukan oleh siapa yang mengklaimnya. Tetapi oleh siapa yang paling setia… mengikuti jalan para nabi.

edysuryadi.link

Berilmulah untuk berbudi, berbudilah untuk berbakti, dan berbaktilah untuk hidup yang penuh.

Tautan Cepat

  • Beranda
  • Koleksi Buku
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami

Kontak

  • Pondok Aren, Tangerang Selatan, Indonesia
  • +62 21 1234 5678
  • edysuryadi@live.com

Ikuti Kami

Bergabunglah dengan komunitas pecinta sejarah kami

© 2026 edysuryadi.link . Hak Cipta Dilindungi.