BLANTERORIONv101

#1 PENDAHULUAN

24 April 2022

Kajian kita kali ini adalah tentang khilafah. Dimana kajian kita ini bersentral kepada sebuah hadits tentang Lima Fase Zaman riwayat Ahmad yang banyak menjadi rujukan para pengusung khilafah. Berikut isi dari pada hadits tersebut:

Adalah masa Kenabian itu ada di tengah-tengah kamu sekalian, adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa Khilafah ‘ala minhajin Nubuwwah (Pemerintahan yang mengikuti jejak kenabian) adanya atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa Mulkan ‘Adlon (Kerajaan yang menggigit), adanya atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa Mulkan Jabbariyah (Kerajaan yang zalim), adanya atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya, apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah (Pemerintahan yang mengikuti jejak kenabian).” Kemudian beliau diam.”  (HR. Ahmad)

Nah jika benar akan datang satu era dimana khilafah ala minhajin nubuwwah akan hadir di tengah-tengah kita sebagaimana dikabarkan oleh hadits di atas, pertanyaan pentingnya adalah: siapakah yang dimaksud dan dengan ukuran apa kita mesti mengukur kebenarannya?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut kita memang hanya memiliki dua alat ukur. Yaitu Al-Qur'an dan As Sunnah. Namun begitu terkait As-Sunnah ini tentu tidak boleh disempitkan menjadi hanya sebatas teks yang tertera pada buku-buku hadits saja. Tapi harus bersifat luas meliputi totalitas jejak atau sejarah dari pada perjalanan hidup Rasulullah itu sendiri.

Kajian terhadap hadits 5 fase zaman tersebut memang menjadi hal yang sangat menarik. Menariknya karena ini membuat kita mau tidak mau harus mengkaji totalitas zaman. Mengkaji keseluruhan zaman dari zaman kenabian; yang berarti dari zaman Nabi Adam sampai dengan zaman Nabi Muhammad, dan terus sampai ke zaman kita hari ini.

Dan sebenarnya, memang untuk memahami Islam secara benar dan utuh itu, kita tidak bisa hanya mengkajinya dari sepotong zaman saja. Karena kita tahu bahwa Islam itu sendiri bukan agama yang ada baru kemarin. Islam adalah agama yang sudah ada bahkan sejak peradaban pertama umat manusia. Sejak zaman Nabi Adam. Hal ini turut diperkuat dengan keterangan hadits riwayat Bukhari dan Muslim yang menjelaskan:

“Para nabi bagaikan saudara seayah, agama mereka satu yaitu agama Islam, dan ibu-ibu (syari’at-syari’at) mereka berbeda-beda”

Begitu juga halnya kalau kita bermaksud mengkaji tentang khilafah yang oleh beberapa kelompok dipandang sebagai representatif dari pada tegaknya Islam ini. Tentu kita tidak bisa mengkajinya hanya dari zaman dinasti-dinasti Islam seperti zamannya bani Ummayah, Abasiyah dan Utsmaniyah saja – sekalipun memang sejarah gilang-gemilangnya Islam dapat dikatakan ada di masa-masa itu. Tapi tentu kita tidak bisa mendasari kebenaran sesuatu hanya dari karena di sanalah gilang gemilangnya Islam itu. Dan kita juga tidak bisa mendasari keputusan tindakan kita sebatas hanya karena dorongan romantisme kejayaan dan kemegahan di masa lalu itu.

Jadi, selain perlunya kita menarik pelajaran-pelajaran penting dari masa dinasti-dinasti Islam, kita juga tentu harus mundur kebelakang untuk mengkaji secara mendasar era Khulafaur Rasyidin yang oleh hadits tersebut di atas justru disebut sebagai Khilafah ala minhajin nubuwah itu.

Dan jika kita cermati baik-baik, kunci untuk memahami hadits tersebut ada terletak pada istilah “Khilafah Ala Minhajin Nubuwah” itu sendiri. Istilah khilafah ala minhajin nubuwah yang bermakna pemerintahan yang mengikuti jejak kenabian, telah menempatkan ukuran kebenaran dari pada khilafah yang dimakasud terletak pada ikut atau tidak ikutnya dengan jejak kenabian. Dengan kata lain, rahasia kebenaran yang kita cari sebenarnya adanya justru di dalam jejak kenabian itu sendiri.

Artinya, yang harus kita temukan justru adalah jejak kenabian mana yang dimaksud. Yang dalam konteks ini tentu terkait dengan sistem pemerintahan atau syariat bernegara. Jadi, syariat bernegara seperti apakah sebenarnya yang pernah Rasulullah contohkan untuk kita. Inilah yang harus kita temukan.

Terkait dengan itu, pada dasarnya kita bisa saja langsung masuk kepada kajian di zaman Nabi Muhammad untuk melihat sistem pemerintahan atau syariat bernegara seperti apa yang beliau contohkan kepada kita. Terlebih-lebih nabi Muhammad sendiri adalah seorang nabi yang berada di puncak estafeta peradaban yang dibangun di sepanjang garis peradaban para nabi. Dan nabi Muhammad juga adalah nabi akhir zaman atau penutup dari para nabi.

Namun dari itu, jika kita bermaksud untuk sampai kepada titik keteguhan hati tentang perkara ini; sampai kepada titik tidak ada keraguan kepadanya; sampai pada titik mengerti sepenuhnya seperti apa sistem pemerintahan yang digariskan para nabi untuk kita itu, maka kita memang harus mengkajinya dari keseluruhan zaman kenabian. Artinya kita harus melakukan kajian dari zaman Nabi Adam sampai dengan zaman Nabi Muhammad.

Hal penting yang juga harus kita pahami, para nabi itu meski satu dengan yang lainnya dibatasi oleh jarak waktu yang jauh, tapi sebenarnya mereka tidaklah berada dalam misi yang terputus. Mereka berada dalam satu garis misi yang sama. Sehingga setiap kisah dan peninggalan yang diwariskan para nabi kepada kita hari ini sebenarnya satu kesatuan rangkaian pesan dan pengajaran untuk kita. Tentang hal ini kita dapat melihat penjelasan QS. Hud [11] ayat 120:

وَكُلًّا نَّقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ اَنْۢبَاۤءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهٖ فُؤَادَكَ وَجَاۤءَكَ فِيْ هٰذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَّذِكْرٰى لِلْمُؤْمِنِيْنَ

Dan semua kisah rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu, agar dengan kisah itu Kami teguhkan hatimu; dan di dalamnya telah diberikan kepadamu kebenaran, pelajaran dan peringatan bagi orang yang beriman.

Jadi, lantaran apa Qur’an mengabadikan kisah para pembawa risalah itu untuk kita yang hidup di hari ini, tidak lain adalah agar kita dapat melihat kebenaran dengan utuh melalui rangkaian kisah tersebut. Dan agar dengan itu menjadi teguh hatilah kita. Menjadi yakinlah kita akan konstruksi kebenaran yang dimaksud oleh para pembawa risalah itu.

Setiap kisah para nabi yang Allah ceritakan kepada kita melalui Qur’an seumpama kepingan-kepingan puzzle yang harus kita rangkai dan satukan agar kita dapat melihat gambar kebenaran secara utuh dan menjadi teguh hati karenanya. Di dalam setiap kisah para nabi itulah terkandung kebenaran, pelajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.

Para nabi Allah yang diutus kepada kita dari zaman ke zaman itu sesunguhnya berada dalam satu wasiat yang sama dan untuk menegakkan satu syariat yang sama. Para nabi Allah itu berada dalam satu rangkaian estafeta untuk mewujudkan satu bangunan peradaban yang disebut dengan din yang tidak terdapat ruang perpecahan di dalamnya sebagaimana dijelaskan oleh QS. Asy-Syura [42] ayat 13 berikut:

۞ شَرَعَ لَكُمْ مِّنَ الدِّيْنِ مَا وَصّٰى بِهٖ نُوْحًا وَّالَّذِيْٓ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهٖٓ اِبْرٰهِيْمَ وَمُوْسٰى وَعِيْسٰٓى اَنْ اَقِيْمُوا الدِّيْنَ وَلَا تَتَفَرَّقُوْا فِيْهِۗ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِيْنَ مَا تَدْعُوْهُمْ اِلَيْهِۗ اَللّٰهُ يَجْتَبِيْٓ اِلَيْهِ مَنْ يَّشَاۤءُ وَيَهْدِيْٓ اِلَيْهِ مَنْ يُّنِيْبُۗ

Dia (Allah) telah mensyariatkan kepadamu agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya. Sangat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu serukan kepada mereka. Allah memilih orang yang Dia kehendaki kepada agama tauhid dan memberi petunjuk kepada-Nya bagi orang yang kembali.

Keterangan pada ayat tersebut menjadi sebuah catatan yang sangat penting buat kita untuk mengerti bahwa pada nabi Allah itu berada dalam satu garis misi yang sama. Bahwa Allah mewasiatkan hal yang sama kepada para nabi-Nya, yaitu untuk menegakkan din atau sistem hidup yang tidak ada perpecahan padanya.

Dan sistem hidup yang demikian itu hanya bisa diwujudkan dengan mengacu kepada fitrah Allah yang menciptakan manusia menurut fitrah itu. Bersentral kepada fitrah Allah inilah satu-satunya jalan untuk mewujudkan sistem hidup yang tidak ada perpecahan di dalamnya sebagaimana dapat kita pahami melalui QS. Ar-Rum [30] ayat 30-32:

فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ ۞ مُنِيْبِيْنَ اِلَيْهِ وَاتَّقُوْهُ وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَلَا تَكُوْنُوْا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَۙ مِنَ الَّذِيْنَ فَرَّقُوْا دِيْنَهُمْ وَكَانُوْا شِيَعًا ۗ كُلُّ حِزْبٍۢ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُوْنَ

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama; (selaras) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, dengan kembali bertobat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta laksanakanlah salat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.

Jadi, jangan sampai apa yang kita lakukan malah justru menegakkan yang sebaliknya. Jangan sampai kita terjebak dalam satu pola perpecah belahan; pola hidup bergolong-golongan dimana satu sama lain saling bangga membanggakan golonganya masing-masing. Karena sesungguhnya itulah hakekat dari kemusyirikan itu.

Berapa banyaknya hari ini kita saksikan orang-orang dan kelompok-kelompok yang berdiri atas nama agama dan mengaku menegakkan agama, padahal mereka hanya memecah belah umat saja. Maka benarlah apa yang Allah firmankan pada ayat di atas bahwa tentang agama yang lurus itu kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. Termasuk mereka yang menutupi dirinya dengan berbagai atribut dan gelar-gelar agamis itu kebanyakan mereka pun sebenarnya tidak mengetahuinya.

Maka, penting bagi kita untuk tidak tergesa-gesa dan tanpa pengetahuan yang cukup menarik kesimpulan serta membenarkan orang-orang atau kelompok-kelompok yang mengaku sebagai penegak agama Allah, seperti halnya kelompok-kelompok pengusung khilafah itu. Terimalah sesuatu atau tolaklah sesuatu itu dengan berdasar pada pengetahuan yang kuat.

Artinya, jika datang satu kelompok mengaku sebagai penegak agama Allah atau mengaku sebagai representatif dari kembalinya Khilafah ala minhajin nubuwah misalnya, jangan kita tergesa-gesa membenarkannya hanya lantaran mereka membawa ayat-ayat dan hadits-hadits yang banyak. Teliti dan kajilah dengan seksama.

Komentar