Sebelum segala
nama disematkan,
sebelum dunia memanggilmu dengan sebutan-sebutan,
sebelum engkau belajar menjadi “seseorang”—
pernahkah
engkau diam sejenak
dan bertanya:
Siapakah
aku… sebenarnya?
Bukan siapa aku
di hadapan manusia,
bukan siapa aku dalam peran dan cerita,
bukan siapa aku dalam ingatan dan luka—
tetapi aku…
yang ada sebelum semua itu ada.
Kita lahir,
lalu perlahan diajari untuk menjadi sesuatu.
Menjadi anak
yang baik.
Menjadi pribadi yang kuat.
Menjadi seseorang yang diakui.
Dan tanpa kita
sadari,
dalam perjalanan menjadi itu semua,
kita justru semakin jauh
dari apa yang sejatinya kita adalah.
Kita
mengumpulkan banyak hal—
nama, pencapaian, keyakinan, bahkan luka—
lalu menyebutnya sebagai “diri”.
Padahal
mungkin…
itu semua hanyalah lapisan.
Lapisan yang
menutupi,
bukan yang menunjukkan.
Dan di balik
semua lapisan itu,
ada sesuatu yang tetap diam,
tetap utuh,
tidak berubah sejak awal—
sesuatu yang
tidak bisa rusak oleh dunia,
tidak bisa ditambah oleh pujian,
tidak bisa dikurangi oleh kehilangan.
Namun kita
jarang menoleh ke sana.
Kita sibuk
mengejar keluar,
mencari arti di tempat-tempat yang ramai,
mengisi kekosongan dengan segala yang fana,
tanpa pernah benar-benar masuk
ke dalam diri sendiri.
Buku ini tidak
hadir untuk memberimu jawaban.
Ia tidak akan
mengatakan
siapa dirimu.
Ia hanya akan
mengajakmu berjalan—
menelusuri jejak yang mungkin pernah kau lalui,
menghadirkan kembali rasa yang pernah kau lupa,
dan perlahan…
membawamu
pulang.
Pulang bukan ke
tempat,
tetapi ke keadaan.
Ke keadaan di
mana engkau tidak lagi mencari,
karena engkau telah menyadari—
bahwa yang
selama ini kau cari,
tidak pernah benar-benar hilang.
Ia hanya
tertutup.
Dan perjalanan
ini…
adalah perjalanan untuk menyingkapnya.
Bukan dengan
menjadi sesuatu yang baru,
melainkan dengan melepaskan
segala yang bukan dirimu.
Maka jika suatu
saat,
di tengah bait-bait yang kau baca,
engkau merasa tersentuh tanpa alasan,
atau tiba-tiba hening tanpa sebab—
jangan
buru-buru memahaminya.
Biarkan saja.