Ada satu hal
yang jarang kita renungkan dengan sungguh-sungguh: Bahwa sebuah
bangsa pun bisa berjalan… tanpa benar-benar mengetahui ke mana ia sedang
menuju.
Kita hidup di dalam Indonesia. Kita tumbuh dengan identitas sebagai warga negara. Kita mengenal sejarahnya, menghafal dasar negaranya, dan merayakan hari kemerdekaannya.
Namun di balik semua itu, ada satu pertanyaan yang nyaris tak pernah benar-benar kita ajukan:
Apakah Indonesia hanya sebuah negara… atau sebuah perjalanan?
Di dalam
kehidupan beragama, kita mengenal satu arah yang pasti: kiblat. Setiap hari,
kita menghadapkan wajah ke satu titik yang sama—sebuah bangunan sederhana yang
disebut Ka‘bah. Tetapi pernahkah kita bertanya:
Mengapa manusia
harus memiliki satu arah? Mengapa tidak dibiarkan bebas ke mana saja?
Ka‘bah, dalam pandangan lahir, hanyalah bangunan batu. Namun dalam kedalaman makna, ia adalah pusat orientasi. Ia mengajarkan bahwa hidup ini tidak bisa dijalani tanpa arah. Bahwa kebebasan tanpa orientasi… pada akhirnya hanya melahirkan kebingungan.
Ka‘bah, dalam pandangan lahir, hanyalah bangunan batu. Namun dalam kedalaman makna, ia adalah pusat orientasi. Ia mengajarkan bahwa hidup ini tidak bisa dijalani tanpa arah. Bahwa kebebasan tanpa orientasi… pada akhirnya hanya melahirkan kebingungan.
Dan mungkin,
tanpa kita sadari, inilah yang sedang terjadi pada kehidupan kita hari ini.
Kita telah memiliki arah dalam ibadah, tetapi belum tentu memiliki arah dalam kehidupan. Kita tahu ke mana harus menghadap saat shalat, tetapi belum tentu tahu ke mana harus mengarahkan bangsa ini.
Kita telah memiliki arah dalam ibadah, tetapi belum tentu memiliki arah dalam kehidupan. Kita tahu ke mana harus menghadap saat shalat, tetapi belum tentu tahu ke mana harus mengarahkan bangsa ini.
Di sisi lain,
kita hidup dalam sebuah negeri yang unik. Sebuah negeri yang tidak dibangun di
atas satu suku, tidak berdiri di atas satu golongan, dan tidak dipaksakan oleh
satu keyakinan.
Namun justru di tengah keberagaman itu, Indonesia berdiri dengan satu fondasi: Ketuhanan. Kemanusiaan. Persatuan. Musyawarah. Keadilan.
Namun justru di tengah keberagaman itu, Indonesia berdiri dengan satu fondasi: Ketuhanan. Kemanusiaan. Persatuan. Musyawarah. Keadilan.
Nilai-nilai
yang, jika direnungkan lebih dalam, tidak asing bagi siapa pun yang mengenal
ajaran Ilahi. Lalu, sebuah pertanyaan mulai muncul secara perlahan…
Apakah mungkin—bahwa
ada hubungan yang belum kita sadari antara arah yang kita hadapi dalam ibadah dengan
arah yang seharusnya kita bangun dalam kehidupan berbangsa?
Apakah mungkin—bahwa Ka‘bah bukan hanya pusat ritual, tetapi juga simbol dari sebuah tatanan hidup?
Apakah mungkin—bahwa Ka‘bah bukan hanya pusat ritual, tetapi juga simbol dari sebuah tatanan hidup?
Dan jika itu
benar, maka di manakah tatanan itu diwujudkan?
Buku ini tidak
ditulis untuk memberikan jawaban yang instan. Ia juga tidak dimaksudkan untuk
membenarkan sesuatu secara sepihak. Buku ini adalah sebuah perjalanan—perjalanan
untuk melihat kembali dengan jernih: tentang apa itu Baitullah, tentang apa itu
peradaban, dan tentang apa itu Indonesia.
Kita akan
berjalan dari simbol menuju makna, dari wahyu menuju realitas, dari kiblat
ibadah menuju arah kehidupan.
Dan mungkin, di
ujung perjalanan ini, kita tidak hanya akan memahami Indonesia dengan cara yang
baru… tetapi juga memahami diri kita sendiri sebagai bagian dari perjalanan itu.
Sebab bisa
jadi… kita tidak sedang hidup di sebuah negara biasa. Tetapi sedang berada di
tengah sebuah perjalanan besar menuju tatanan yang diridhai-Nya.